
Elizabeth remaja sangatlah cantik, ia sangat sempurna sebagai seorang perempuan. Bahkan sikapnya pun sangat lemah lembut, dan itu membuat Pauline dan suaminya sangat menyayangi Elizabeth. Berbeda dengan Maria putri kandungnya, ia sangat nakal dan sering membangkang kepada orang tuanya.
pernah suatu hari Elizabeth dan Maria bertengkar hebat, dan membuat Elizabeth tidak pulang ke rumah. Tentu saja itu membuat Pauline dan suaminya marah kepada Maria. mereka sangat mengkhawatirkan Elizabeth karena Elizabeth tak pulang hingga malam. Karena larut malam akhirnya suami Pauline mencarinya, namun di jalan, Suami Pauline dikeroyok preman karena berusaha menyelamatkan Elizabeth dari gangguan para preman jalanan. tapi sayang, nasib nahas menimpa suami Pauline, ia babak belur di tangan preman jalanan, hingga akhirnya mobil patroli polisi datang menyelamatkan Elizabeth dan membawa suami Pauline kerumah sakit. Dirumah sakit suami Pauline akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Namun suami Pauline tidak pernah menyesali pengorbanannya, sebelum ia meninggal, ia berpesan kepada Pauline agar selalu menyayangi Elizabeth dan jangan pernah menyalahkan kejadian itu pada Elizabeth. Meskipun berat hati Pauline berusaha ikhlas dan menjaga wasiat suaminya agar selalu menyayangi Elizabeth. Namun itu tak berlaku untuk maria. sepanjang hidup Maria akan selalu menyalahkan Elizabeth sebagai orang yang menyebabkan ayahnya meninggal dunia.
Saat lulus kuliah, Elizabeth dinikahi oleh seorang pengusaha kaya raya. Dan keberuntungan Elizabeth lagi membuat Maria semakin cemburu. Dengan segala cara ia berusaha merebut calon suami kakak angkatnya itu namun selalu gagal.
William Smith, pengusaha berkebangsaan Inggris yang menetap di Surabaya itu terlalu mencintai Elizabeth, sehingga Maria sangat sulit untuk memisahkan keduanya. Hingga akhirnya Elizabeth dikaruniai seorang putra bernama Erick.
Setelah mendengar pembicaraan Pauline bersama pengacara. Akhirnya Maria berniat untuk menyingkirkan putri Elizabeth yang meskipun masih ada di dalam kandungan, putri Elizabeth sudah dituliskan dalam wasiat ia adalah penerus kerajaan butik milik Helene neneknya.
"sayang, kamu tau? kelak jika kau lahir kau akan meneruskan bisnis oma Pauline di kerajaan butiknya" kata Smith sambil mengelus ngelus perut Elizabeth yang sudah hamil besar. Pauline dan suaminya tak pernah tau jika kerajaan butik adalah milik Helene yang sebenarnya.
"pa, kenapa harus di berikan pada dedek bayi pa? bukankah Erick juga bisa? Erick kan kakak? " tanya erick kecil yang waktu itu berumur enam tahun.
"Dengar nak, kamu kelak akan mewarisi pekerjaan papa, sedangkan dedek bayi kelak yang akan mewarisi butik oma, Erick kan cowok, jadi Erick tidak akan bisa mengurus butik" jawab Smith seraya memberikan pengertian kepada putra sulungnya.
__ADS_1
" mas, ini adalah gelang pemberian ibu Pauline. beliau memberiku warna biru sedangkan Maria warna merah. Dan ini adalah kalung berliontin kunci🔑. ibu memberikannya padaku, katanya kelak anak perempuan kita yang akan memegang kekuasaan penuh di kerajaan butik ibu" kata Elizabeth seraya menunjukkan gelang dan kalung yang diberikan Pauline kepadanya. Erick memperhatikan dengan seksama rupa dan bentuk perhiasan yang di tunjukkan sang ibu kepada ayahnya. meskipun masih kecil, Erick juga menyukai liontin itu.
"kalungnya cantik ma, ada gambar bunga melatinya" kata Erick seraya tertawa. sambil memegangi liontin itu. "oma, pilih kasih, lalu untuk Erick mana?" tanya bocah itu seraya mengerucutkan bibirnya kedepan.
"sayang..., Erick kan anak cowok, jadi Erick tidak boleh iri sama dedek bayi. Kakak Erick harus selalu sayang dan melindungi dedek bayi, oke? " bujuk Elizabeth yang kala itu melihat anak sulungnya murung. Dan Erick pun hanya mengangguk saja mendengar nasihat sang ibu.
"lalu bagaimana dengan Maria? apakah dia tak akan marah jika kelak putri kita yang akan mengendalikan bisnis itu? " tanya Smith penuh kekhawatiran.
"entahlah mas, tapi itu yang ibu katakan. Mungkin karena aku putri tertuanya. Dan sekarang Maria belum di karuniai anak. Dan lagi ibu juga bilang, bahwa penerus butik harus anak perempuan, bukan anak laki-laki" kata Elizabeth dengan wajah serius. sambil sesekali ia mengelus perutnya yang membesar. "aku sendiri juga tak tahu mas, apa maksud ibu dengan semua ini. aku nurut saja selama itu tidak menyakiti putri kita" lanjutnya.
tanpa menunggu orang tuanya memberikan ide sebuah nama pada dedek bayi yang masih dalam kandungan ibunya itu, buru buru Erick mengusulkan sebuah nama yang menurutnya cantik.
"aku mau adikku diberi nama Queen" ujar Erick seraya berteriak seolah ia takut perkataannya di dahului orang tuanya.
Smith dan Elizabeth pun berpandangan, lalu keduanya tersenyum. " boleh, itu nama yang cantik " kata Elizabeth seraya mengusap kepala putranya.
__ADS_1
ditempat lain, Maria semakin memantapkan rencananya. ia berniat untuk melenyapkan Elizabeth dan juga bayinya. saat itu Smith sedang keluar kota. ia ada keperluan mendadak yang tak bisa dihindari, meskipun itu hanyalah dua hari, Tapi tetap saja itu seolah memberikan kesempatan besar bagi Maria untuk menjalankan aksinya.
sore itu Smith bersiap pergi ke Semarang, ia sudah memastikan bahwa prediksi kelahiran putrinya masih kurang duapuluh hari, karena itulah Smith pergi meninggalkan sang istri. ia menugaskan seorang perawat untuk menjaga sang istri dirumah takut terjadi sesuatu yang diluar prediksi. Dirumah juga ada bi Asih seorang asisten rumah tangga yang setia kurang lebih lima tahun bekerja pada keluarga Smith. Smith juga menitipkan istrinya pada mertuanya agar selama dua hari di semarang ia menemani Elizabeth dirumahnya.
setelah Smith pergi, entah mengapa Elizabeth mengalami kontraksi. sepertinya ia mau melahirkan lebih awal dari prediksi dokter. Dengan segera suster Yanti membawa Elizabeth kerumah sakit. sementara bi Asih membawa Erick ke rumah Pauline Karena ia bermaksud akan menjaga Majikannya semalaman dirumah sakit.
malam itu juga Elizabeth melahirkan bayi perempuan dengan cara normal. pasca melahirkan, Elizabeth segera menghubungi sang suami di semarang dan memberitahu bahwa ia dan bayinya baik baik saja.
setelah membersihkannya tubuh Elizabeth dan memberikan Asi pada bayi perempuan yang diberi nama Queenzha Smith itu, bayi itupun di bawa ke ruang perawatan bayi, dikumpulkan bersama bayi bayi yang lain.
malam itu, Elizabeth diruang perawatan di temani oleh suster Yanti, sementara bi Asih ke luar untuk mencari makan, Elizabeth memintanya untuk membelikan nasi goreng. ia sangat ingin memakan nasi goreng malam itu. setibanya diluar tepatnya diparkiran rumah sakit, tak sengaja bi Asih mendengarkan percakapan dua orang pria berbadan tegap besar sedang mendapatkan perintah dari seseorang dari dalam mobil. Bi Asih tak bisa menebak siapa orang didalam mobil itu.
"kau siapkan penculikan bayi queen sebaik mungkin, jangan sampai mencurigakan. lakukan nanti pas jam sembilan malam. Juga jangan meninggalkan jejak. kalau perlu kalian matikan CCTV, bawa bayi itu ketempat yang sudah direncanakan, sementara ibunya biar aku yang akan urus" terdengar suara seorang wanita dari dalam mobil. bi Asih segera membekap mulutnya dengan tangan kanannya lalu ia berlari masuk kembali kerumah sakit, tak jadi membeli nasi goreng.
Dengan segera bi Asih memberi tahu majikannya, apa yang telah ia dengar di parkiran mobil tadi, sekarang masih jam 8:30 malam, kurang setengah jam lagi.
__ADS_1