
Yulia dan Ambar lekas segera kerumah sakit, mereka tak menunggu pesta usai atau meminta izin dulu pada Dimas dan Zahra khawatir akan menggangu acara mereka. sesampainya dirumah sakit mereka berpapasan dengan perawat yang baru saja keluar dari ruang ICU.
" bagaimana dengan anak saya sus? " tanya Yulia pada wanita berseragam putih itu. sementara Ambar segera masuk mencari keberadaan Tiara yang tidak ada di ranjang ICU.
" pasien sudah sadarkan diri dan sekarang sudah dipindahkan ke ruang perawatan". kata suster itu tersenyum ramah.
" Alhamdulilah... lalu dimana kami bisa menemuinya sus?" tanya Ambar setelah mengucapkan syukur atas Tiara yang sudah sadarkan diri.
" itu di lantai atas bu, ruang kelas satu" kata suster itu lalu pergi.
buru buru mereka segera ke lantai atas. setelah bertanya akhirnya mereka mendapati ruang rawat Tiara. tampak disana berdiri seorang polisi dan juga beberapa bodyguard sudah berjaga di depan pintu. ya polisi masih mengusut kasus jatuhnya Tiara dari rooftop gedung. sementara Abimana juga menyuruh bodyguard nya untuk menjaga Tiara sekedar berjaga-jaga hal buruk akan kembali menimpanya.
" permisi pak polisi, boleh saya masuk menemui pasien? " tanya Yulia pada dua polisi yang sedang berjaga.
polisi itu menatap dua wanita paruh baya di depannya. " ibu siapanya pasien ?" tanya salah satu polisi itu.
" saya ibunya pak" jawab Yulia.
" baiklah silakan masuk" kata polisi itu lagi.
sesampainya didalam ruangan, Yulia dan Ambar segera menghampiri Tiara yang terbaring lemah. Yulia duduk dikursi pengunjung sementara Ambar hanya berdiri di dekat ranjang pasien.
" bagaimana keadaan mu Tiara?, ibu senang akhirnya kamu sadar" tanya Yulia penuh perhatian.
Tiara hanya mengangguk lemah. dia masih berat rasanya untuk menjawab.
__ADS_1
"yasudah kamu istirahat saja, jangan dipaksakan bicara. ibu dan bu Ambar akan menjaga kamu disini. jadi kamu tak perlu merasa sendiri" kata Yulia seraya mengusap kepala Tiara penuh sayang.
kemudian Yulia dan Ambar beranjak ke sofa yang ada di sudut ruang rawat Tiara. Terasa sangat lelah sekali setelah seharian menghadirkan acara pesta pernikahan Zahra. Abimana telah meminta rumah sakit untuk menempatkan Tiara di kamar VIP kelas 1. tujuannya agar nanti Dimas dan Zahra lebih mudah untuk menjenguknya.
" mbak, apa nanti kita sanggup buat bayar rumah sakit Tiara? kamar nya saja sebagus ini. malah lebih bagus dari kamar kita di panti " dengus Ambar seraya menaruh punggungnya di sofa.
" hmmmm, ini pasti Ayahnya Dimas yang memesankan. kita tak bisa apa, biar nanti blitar bicara supaya dipindahkan ke ruang rawat biasa saja seperti yang lain" kata Yulia seraya menarik nafas.
" mungkin besok pak Abimana kesini. kita bisa meminta nya untuk dipindahkan saja, soalnya kalau disini takutnya kita gak bisa bayar" kata Ambar lagi.
" ia, mending sekarang kita istirahat saja, aku capek banget mbar, ngantuk sekali" kata Yulia seraya memejamkan kelopak matanya sambil bersandar di sofa.
sementara pesta pernikahan Dimas dan Zahra sudah usai semua tamu undangan sudah pulang tinggal beberapa orang terdekat saja dan beberapa pelayan yang membereskan tempat setelah pesta.
Dimas memang sengaja tak pulang kerumah, dia menyewa kamar VVIP di hotel tempat ia mengadakan pesta.
" papa dan mama pulang dulu ya. selamat unboxing ya putra papa yang ganteng, segera buatin papa cucu" kata Abimana seraya berbisik ditelinga putranya menggoda. Dimas hanya cengar cengir saja digoda sang papa.
sementara tuan Aresh dan Shella menghampiri Dimas dan Zahra. " selamat ya cucu omah. ini omah ada hadiah untuk kalian" shella mengeluarkan bungkusan tipis dan panjang dari tasnya kepada Zahra.
" apa ini omah? " tanya Zahra heran.
" nanti dibuka pas lagi berdua" kata omah lagi.
"opa dan oma juga pulang dulu" selamat bermalam pengantin. jangan lupa buatkan opa dan oma cicit" kata Aresh seraya tersenyum terkekeh. Ternyata dibalik ketegasan sang kakek, ada sisi lembut nya juga.
__ADS_1
Dimas dan Zahra menuju kamar hotel yang sudah dipesankan dengan bergandengan tangan. Jantung Zahra berdenyut lebih kencang dari biasanya. ia tampak gugup sekali. meskipun sudah berhari-hari berstatus istri namun ia belum sama sekali tersentuh.
saat memasuki kamar, ruang kamar dalam suasana gelap hanya ada sinar lampu lilin yang menyala di atas nakas samping kasur. Dimas lantas memencet saklar menyalakan lampu. saat lampu menyala keduanya menatap ke arah ranjang pengantin yang sudah dihias. kain sprei rumbai berwarna putih menutupi ranjang empuk dengan taburan bunga mawar merah diatasnya. tercium aroma terapi lilin yang menambah suasana romantis di kamar pengantin itu.
Dimas masuk dan mendekati ranjang dengan diikuti Zahra dari belakang.
" bagaimana dek, kamu suka kamarnya? " kata Dimas seraya mengerlingkan mata menggoda.
" siapa yang menghiasinya mas? " kata Zahra tersenyum malu. wajahnya memerah tangannya pun mulai dingin, sedingin es.
" kurasa mama yang membuatnya untuk kita, dengan imbalan dia mau cucu" kata Dimas mulai jail.
Zahra kembali memucat. meskipun dibilang sudah mulai mencintai suaminya tapi perasaan takut masih juga belum hilang. jantungnya berdegup lebih cepat, aliran darahnya pun serasa mengalir deras, keringat dingin pun merembes di keningnya.
Dimas melihat sang istri seperti sedang tak biasa, "kamu baik baik saja kan sayang?, apakah kamu belum siap? jika belum siap akupun tak akan memaksa" kata Dimas.
" Tidak mas, bukan begitu. aku adalah milikmu. kapanpun mas mau, aku akan selalu siap mas. hanya saja aku sedikit gugup mas, bukan berarti aku menolak " kata Zahra menjelaskan.
"baiklah sini mendekatlah" kata Dimas.
Zahra pun mendekati suaminya. kata orang mau melakukan unboxing malam pengantin. Dimas segera melepas aksesoris pengantin yang terpasang di tubuh istrinya satu persatu. mulai dari anting, kalung dan hijab serta berbagai hiasan kepala yang lain. kemudian terakhir dia melepas baju pengantin sang istri sehingga baju itu terlepas di lantai. Dimas mendapati istrinya hanya dibalut pakaian dalam saja. tampak kulit putih mulus itu kembali ia lihat setelah dulu pada saat Zahra terpengaruh obat perangsang. Dimas menelan ludahnya tak sabar. Dia memeluk tubuh mungil istrinya dan membawanya ke ranjang. saat Dimas hendak mendaratnya ciuman tiba tiba Zahra menaruh ibu jari tangannya ke mulut Dimas sambil menggeleng" sabar mas, sebaiknya kita sholat Isyak dulu ya, setelah itu sholat sunnah baru setelah itu kita unboxing, biar hasilnya bagus, dan jadi anak yang sholeh dan sholehah " kata Zahra seraya tersenyum.
Dimas menarik nafas dalam dan menghembuskannya kasar. " astaghfirullah, maaf dek aku hampir lupa, saking terlalu bernafsunya sampai aku lupa pada Alloh" katanya kemudian.
kemudian mereka pun kekamar mandi, berwudlu dan sholat berjamaah. setelah selesai sholat baru mereka melakukan hubungan suami istri.
__ADS_1