
Di pagi hari saat subuh Zahra sudah mandi dan tampak sekali ia sudah segar. setelah selesai sholat subuh berjamaah, Zahra mengambil ponselnya, berniat mau menelpon Ibu Yulia karena semalaman ia tak menanyakan kabar Tiara.
" assalamu'alaikum bu, ibu masih dirumah sakit? "
bagaimana kabar Tiara bu? "
"Alhamdulillah, aku ikut senang bu, nanti kami akan kesana bu" kata Zahra kemudian menutup sambungan telponnya.
" telpon siapa Yang?" tanya Dimas saat baru keluar dari kamar mandi.
" ibu mas, katanya Tiara sudah siuman " kata Tiara tersenyum lembut pada sang suami.
Dimas mendekati sang istri. Duduk di bibir ranjang disamping sang istri. Meraih puncak kepalanya dan menciumnya hangat. " masih sakit Yang? maafkan mas ya? kata orang buat yang pertama memang sakit, tapi nanti kalau sudah terbiasa, gak akan sakit lagi" ujar Dimas seraya mengerlingkan mata nakal.
Zahra tersenyum malu. tak berani menatap mata sang suami. Dimas segera mengangkat dagu sang istri yang tertunduk. " kata orang kalau yang pertama memang sakit tapi kalau yang kedua, rasanya pasti akan nikmat. Bisa kan kita membuktikan nya sekarang? " tanya Dimas dengan senyum nakalnya. Dia pun meraih pinggang wanita mungil itu sedekat mungkin hingga tak ada jarak antar keduanya.
wajah Zahra memerah, ia memang terdiam tanpa kata. tapi di balik diamnya itu tersirat rasa bahagia yang begitu dalam. Rasa damai dan nyaman yang pasti akan menjadi semua impian kaum hawa. Dia pasrah dengan kondisinya saat ini. jiwa dan raganya sepenuhnya sudah milik sang suami. tak ada penolakan disana. hanya terlihat anggukan saja.
Dimas mendekatkan wajahnya pada sang istri, menatap lekat bibir merah muda alami tanpa polesan pewarna itu. menelan salivanya dan beralih menatap manik coklat sang istri. pandangan mata mereka bertemu. terasa teduh dan damai disana. Dimas menautkan ciumannya pada bibi sexy itu. dan melahapnya. tangannya menggenggam erat tangan sang istri dan perlahan merebahkan nya.
***
" bagaimana keadaanmu Tiara? " tanya Zahra saat ia sampai di rumah sakit. Tangannya memegang salah satu tangan Tiara.
" aku baik" jawab Tiara seraya tersenyum. Kondisinya memang sudah membaik. sungguh sangat beruntung ia jatuh dari ketinggian rooftop gedung namun masih diberikan kesempatan hidup oleh sang pencipta. " maafkan aku ya tidak bisa menghadiri pernikahan mu" katanya lagi dengan suara agak melemah"
__ADS_1
" tidak usah bicara seperti itu, kesembuhan mu itu lebih utama" ujar Zahra tersenyum.
" Ra, maafkan aku ya, aku tak bisa menjaga gelangmu. karena aku kau harus kehilangan gelang peninggalan orang tuamu " sesal Tiara dengan wajah murung.
" tidak apa apa, yang penting kau selamat itu lebih penting daripada apapun. soal gelang, kan masih ada kalung peninggalan orang tuaku yang bisa mengantarkan aku padanya. kamu jangan khawatir " kata Zahra lagi.
Beberapa saat kemudian datanglah dua polisi masuk dan ingin menginterogasi masalah Tiara, tentunya dengan izin dokter karena kondisi pasien sudah bener bener sudah membaik.
" bagaimana kabarnya mbak Tiara? " tanya polisi cantik itu.
" Alhamdulillah sudah baik bu polisi " katanya seraya tersenyum.
" bisa saya sedikit bertanya mengenai kejadian yang menimpa Anda?, kalau belum bisa, jangan dipaksakan. kami bisa datang lain waktu" kata polwan itu ramah.
Semua yang ada di sana mendengarkan dengan seksama dari sofa tunggu diruang rawat Tiara, tak terlebih Dimas. dia juga ingin tau cerita sebenarnya karena ini menyangkut keselamatan sang istri. lagipula kejadian itu pas bersamaan dengan pesta penyambutan dirinya di perusahaan. banyak wartawan yang mengejarnya hanya untuk mengorek informasi tentang peristiwa itu untuk dijadikan bahan konsumsi publik. Dicetak di surat kabar, majalah maupun televisi.
" ceritakan bagaimana kronologi kejadian hari itu" tanya Polwan itu seraya memegang bolpoin dengan buku kecil yang mungkin akan ia tulis jika diperlukan. sedangkan polisi di sebelahnya merekam pernyataan Tiara dengan ponsel.
"waktu itu saya diminta pacar saya untuk menghadiri pesta yang di selenggarakan di gedung itu, saya tidak tau kalau pesta itu ternyata diadakan oleh Tuan Abimana. Saya hanya menemani pacar saya yang ternyata dia adalah rekan bisnis Dimas suami saudara saya Zahra. saat saya hendak ke toilet saya bertemu seseorang yang mengatakan. kalau saya ditunggu pacar saya di rooftop gedung. saya merasa aneh dan penasaran, akhirnya saya dengan tergesa-gesa menuju rooftop gedung itu. anehnya saya tak menemukan siapapun disana. karena merasa tak ada orang, saya pun berniat turun kembali. tapi saat saya mau turun seorang lelaki berbadan tegap dengan mengenakan masker dan kacamata hitam menghampiri saya. " serahkan gelang itu pada saya" itu yang lelaki itu katakan. aku tak mau menyerahkan gelang itu karena aku hanya meminjamnya dari Zahra sebelum acara itu.
" tidak, ini gelang ku, kenapa aku harus menyerahkan gelang ini padamu? " tanya Tiara dengan raut penuh ketakutan.
Karena aku tak memberikan gelang itu, ia pun mendekat dan merebut gelang itu dengan paksa. setelah mendapatkan gelang itu dia mendorong ku hingga aku terjatuh dari atas gedung itu" Cerita Tiara dengan nafas berat. dadanya naik turun berusaha menetralkan emosinya.
lekas Zahra segera mengambillan segelas air putih yang ada di atas nakas samping ranjang dan menyuruh Tiara meminumnya.
__ADS_1
" pelan pelan mbak, jangan terlalu dipaksakan " kata polisi itu lagi.
"lalu, dimana pacarmu itu? kenapa dia tidak menemuimu? "
" selama aku dirawat disini, aku tidak tau dia kesini apa tidak. tapi kemaren aku mendapat pesan chat darinya katanya dia mendadak ke Jakarta ada urusan mendadak. itu kata nya" kata Tiara sambil menunjukkan chatingan di ponselnya.
" itu artinya ini bisa jadi kasus Perampokan" kata polisi wanita itu seraya menatap polisi di sebelahnya.
" baiklah mbak Tiara, sudah dulu informasi nya, nanti kalau diperlukan kami akan menghubungi anda lagi. mbak Zahra, bisa kami Minta waktunya sebentar? "
Zahra pun mengangguk seraya menatap sang suami meminta persetujuan.
"kita bicara diluar" kata polisi itu seraya meninggalkan ruangan itu. dan diikuti Zahra dan Dimas pun ikut menemani sang istri di luar.
" ada keistimewaan apa di gelang anda itu mbak Zahra, kenapa pria yang tadi disebutkan menginginkan gelang itu? apakah ini murni karena perampokan, atau karena ada sesuatu di gelang itu?
" saya wanita yang dibesarkan di panti asuhan pak, dan kata ibu pengasuh saya, itu gelang adalah warisan dari orang tua saya saat saya diserahkan di panti asuhan" jawab Zahra jujur.
kedua polisi itu berpandangan saling memberi isyarat. Baiklah kalau begitu, saya akan kembali lagi. Terima kasih atas kerjasama" kata polisi itu seraya pergi meninggalkan Zahra dan Dimas.
Zahra menarik nafas dalam dalam, kemudian menyandarkan punggungnya ke dinding rumah sakit. tampak lelah rasanya pikirannya kali ini. "jangan terlalu di fikirkan sayang. santai saja. kita akan melewati ini bersama" kata Dimas mencoba meringankan beban pikiran sang istri. kemudian ia meraih tangan sang istri dan menarik tubuh mungil itu bersandar di dada bidang Dimas. " bukan Dinding tempat bersandar mu sayang, tapi aku" kata Dimas tertawa lebar. Zahra pun ikut tertawa.
Beberapa saat kemudian datanglah dua lelaki berseragam polisi menghampiri mereka.
" selamat pagi mbak Zahra dan mas Dimas. bagaimana kondisi saudara anda Tiara sekarang? kami dari tim penyidik, bisakah kami memintainya keterangan? " Dimas dan Zahra saling berpandangan tak percaya.
__ADS_1