
Di pusat kota Surabaya dekat dengan pusat perbelanjaan ada sebuah rumah mewah bernuansa Eropa klasik. dengan pilar pilar besar nan tinggi menjulang dengan dipadu warna putih. Dengan halaman luas ditengahnya terdapat air terjun kecil dengan dikelilingi hamparan rumput hijau. Di salah satu pojok halaman terdapat gazebo yang rindang karena dikelilingi pohon mangga yang besar.
Alex melajukan mobilnya menuju gerbang besar rumah itu. Seorang satpam segera membukakan gerbang besar itu seolah sudah paham bahwa mobil itu milik majikannya. Alex menghentikan mobil SUV itu di depan rumah setelah menyusuri jalan berpaving menuju halaman rumah besar itu.
Dimas turun kemudian membukakan pintu untuk Istrinya.
Setelah keluar dari mobil, Zahra tampak tertegun dengan pemandangan rumah besar yang ada di hadapannya. Seumur hidup ini baru pertama kalinya ia melihat rumah besar dan mewah. Netranya menatap ke sekeliling halaman rumah besar itu. ia tak percaya dengan apa yang kini sedang ia lihat " ini beneran rumah mas Dimas? "
Dimas tersenyum seraya merangkul pundak istrinya. " tidak, ini bukan rumahku. melainkan rumah kakek yang diwariskan kepada kedua orang tuaku" jawab Dimas.
Di halaman rumah sudah berdiri Abimana dan istrinya yang sedang menunggu kehadiran putra semata wayangnya yang pulang membawakan menantu.
Dimas dan Zahra menghampiri mereka dan mencium punggung tangan keduanya secara bergantian.
" Selamat datang di kediaman kami" Abimana melebarkan kedua tangannya seraya menunjukkan rumah besarnya pada sang menantu. Arumi pun tersenyum hangat menyambut kedatangan sang menantu.
" ayo masuk nak" Ajak Arumi pada menantunya.
Sesampainya di dalam rumah itu pun Zahra tak hentinya mengagumi betapa indahnya rumah itu. Dari luar hingga sampai dalam pun, kekaguman itu justru semakin bertambah kala memasuki rumah besar itu.
" sampai kapan kau akan menelisik ruangan ini dek, ayo kita ke atas. kamar kita ada di atas sana" Dimas menggandeng lengan istrinya dan membawa gadis itu ke lantai atas. Arumi dan Abimana tersenyum melihat putranya menaiki tangga bersama istrinya. "Ma, menurut mama apakah mereka sudah melakukan malam pertama? " goda Abimana pada istrinya. " aku juga mau dong ma" Ujar Abimana seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
__ADS_1
" apaan sih pa? kita sudah tua. emang papa gak capek tiap malam selalu minta gituan " Arumi merasa kesal dengan sikap suaminya yang menurutnya selalu kekanakan.
" ih mama kok gitu sih ma" Abimana pura pura kesal melihat istrinya cemberut. Sebenarnya ia sangat senang menggoda istrinya itu. Karena baginya istrinya sangat lucu disaat ia sedang cemberut.
" ia pa, tapi nanti ya, sekarang masih siang. nanti lah, aku mau kedapur dulu mau nyiapin menu makan malam" ujar Arumi.
" ngapain capek capek masak ma, kan ada pembantu yang masak", Ucap Abimana.
Arumi memang tipe wanita yang tak bisa diam. meskipun sudah ada tiga pembantu di rumah itu, namun Arumi tetap saja masih sibuk bekerja bersama para pembantunya. Baginya bekerja di dapur merupakan interaksi hubungan baik antara majikan dan pembantu.
" ia pa, mama tau, tapi tetap saja mama mau kedapur untuk memastikan masakan apa nanti yang akan dimasak untuk penyambutan menantu kita"
Sontak Arumi terkejut merasakan dua tangan merengkuhnya dari belakang.
" ih, lepasin pa. udah tua. malu entar dilihat sama anak dan menantu kita" Arumi berusaha melepas tangan suaminya yang melingkar di perutnya. Sedangkan Abimana hanya tertawa terbahak bahak.
Sementara dikamar Dimas melentangkan tubuhnya di kasur besarnya dengan kedua tangan telentang. Sudah beberapa hari ini ia tak merasakan empuknya kasur kesayangannya. Terakhir saat dia pulang karena menjenguk ibunya yang sedang sakit.
" mas, Sebaiknya mas Dimas mandi dulu gih. bentar lagi maghrib mas, kita sholat berjamaah dulu ya? " ajak Zahra pada suaminya takut nanti malah keburu terlelap malah susah ngebangunin nya.
" ia sayang ". Dimas segera berdiri dan mendekati istrinya yang tengah membereskan baju baju yang ia bawa untuk disimpan kan di lemari.
__ADS_1
"cup... " Dimas mencuri kecupan di pipi mulus istrinya seraya tertawa jumawa dan langsung menuju kamera mandi.
" ih... dasar mas Dimas. main kecup kecup tak bilang. aku kan belum mandi mas" Zahra tersipu malu pada suaminya yang sudah masuk ke kamar mandi.
Segera ia membereskan baju bajunya dan segera mandi setelah suaminya selesai mandi tentunya.
kemudian mereka sholat maghrib berjamaah di kamar itu.
" Dek, apakah kau akan menolak jika aku menginginkan malam pertama kita di kamar ini? " Dimas memeluk istrinya dari belakang yang tengah duduk di meja rias. ia memandangi dirinya dan juga Zahra di cermin. sepasang suami istri yang sangat serasi. suami yang tampan.dan juga istri yang sangat cantik. Dimas tersenyum melihat sang istri yang tengah memoles wajah cantik itu dengan make-up. sementara wajahnya ia dusel dusel menciumi rambut hitam istrinya yang dikuncir. Ya, Zahra sudah melepaskan hijabnya karena memang ia hanya berdua dengan suaminya yang kini sudah sah untuk melihat auratnya. Menciumi aroma wangi rambut itu dan menghirupnya dalam dalam.
Zahra merasa gugup dengan perlakuan suaminya. tubuhnya memanas. aliran darahnya berdesir deras. Degup jantungnya pun terpompa lebih cepat dari biasanya. Tak bisa berkata apapun. matanya terpejam seolah menikmati hangatnya sentuhan yang suaminya berikan.
Tanpa bertanya pun Dimas mengambil tangan istrinya dan meremas nya. Melihat istrinya tengah terpejam, Dimas tau istrinya tengah merasakan dan menikmati sentuhan hangat darinya. Dimas kembali mendaratkan bibirnya di sela sela bawah telinganya sambil berbisik " malam ini kau sangat cantik dek, bahkan tanpa riasan ini pun kau juga tetap cantik" hembusan nafas Dimas terasa hangat di telinga Zahra. kecupan demi kecupan ia daratkan di leher jenjang Zahra. Nafas Dimas terdengar memburu. seperti seekor singa yang tengah kelaparan di tengah hutan dan kini mendapatkan seekor kelinci untuk dijadikan santapan. Meskipun Dimas adalah seorang mantan playboy tapi ia tak pernah sekalipun tidur dengan mantan mantannya. sudah menjadi prinsipnya bahwa ia akan menyerahkan keperjakaan ny hanya kepada istrinya. Karena itulah mantan mantan Dimas menyebut dirinya lemah dalam hal ranjang karena di selalu menolak jika mantannya mengajak berhubungan ranjang.
Keduanya sudah tenggelam dalam asmara yang menggelora tanpa mereka sadari mereka sudah ditunggu di ruang makan oleh Abimana dan Arumi.
Disaat keduanya sedang asyik bercumbu, tiba-tiba..
"tok.. tok... tok..." terdengar suara pintu diketuk dari luar. "permisi Den, nyonya sudah menunggu diruang makan untuk makan malam Den" lagi terdengar suara parau seseorang dari luar. ia adalah bi sumi salah satu pelayan di rumah besar itu.
Sontak keduanya terperanjat kaget, lalu saling melepas pelukan satu sama lain. untuk sesaat mereka saling pandang sebelum akhirnya mereka tersenyum malu malu.
__ADS_1