Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
Pauline meninggal dunia


__ADS_3

"Elizabeth putriku, maafkan ibu jika selama ini ibu bersalah padamu nak. ada rahasia besar yang tak pernah ibu ceritakan padamu. ku harap setelah kau mengetahuinya kau tak benci pada ibu.


Ell, sebenarnya kau bukan putri kandungku. kau putri dari sahabatku yang bernama Helene. kami sama sama berkebangsaan Belanda, dan kami bersahabat sejak di negeri kami. dia menikah dengan orang Pribumi. tapi dia kecelakaan saat saat dia hamil besar dan bersamaan dengan itu kau lahir. hari kematian ibumu adalah hari dimana kau dilahirkan. ibumu menitipkan pesan dan wasiat agar kelak jika kau sudah dewasa, keturunanmulah yang akan meneruskan bisnis kerajaan butik milik ibumu. tapi aku tak bersikap adil padamu. Maria serakah, dia ingin mengambil apa yang menjadi hakmu. aku tau, tapi aku diam saja. karena aku terlalu menyayangi Maria.


maafkan aku Ell. maafkan karena aku tak adil untukmu. aku akan menyerahkan semua ini kembali padamu Ell. aku tak ingin menanggung beban, jika kelak aku sudah berpulang, aku tidak mau sahabatku Helene akan memarahi aku. aku tidak mau rasa bersalah ini terbawa sampai aku mati. sekali lagi aku minta maaf"


Elizabeth berkaca kaca saat membaca surat dari Pauline. ia kemudian memeluk sang ibu yang tubuhnya mulai melemah. Pauline menatap sendu Elizabeth. "jangan iringi kematianku dengan tangisan nak. jika aku tiada, tolong jaga Caroline selama maria ada di penjara. ia tak punya siapa-siapa. aku tak yakin ayahnya bisa menjaga Caroline dengan baik"


"Ell, di mana putrimu? aku ingin menemuinya, aku ingin meminta maaf padanya" terdengar suara Pauline semakin berat.


Elizabeth hanya mengangguk, kemudian ia meminta putranya Erick agar membawa Queen kepada neneknya. dia memberikan isyaroh pada putranya dengan menganggukkan kepalanya.


beberapa saat kemudian, Erick datang bersama Queen. Queen berdiri di samping Pauline yang terbaring lemah.


Pauline menatap cucu Helene dengan tersenyum.


"maafkan oma nak" hanya kata itu yang keluar dari mulut Pauline. tatapan matanya semakin meredup. tangannya menggenggam tangan Queen.


Queen mencium punggung tangan Pauline yang sudah mengeriput karena usia.


"jangan minta maaf padaku oma, oma yang kuat ya, oma pasti sembuh" ucap Queen dengan lembut.


Pauline hanya tersenyum. ia sangat bahagia menatap Queen. wajah Queen sangat mirip dengan wajah Helene sahabatnya. sungguh bagaikan pinang dibelah dua.


"Helene sahabatku" ucap Pauline seraya memegang pipi Queen dengan lembut. terasa kulit Pauline sangat dingin di pipi Queen. Queen memegang tangan Pauline yang masih menempel di pipi kiri Queen.

__ADS_1


"Erick... tolong jaga adikmu" kata Pauline dengan lirih, bahkan suaranya nyaris tak terdengar. Erick mendekat pada Pauline dan menggenggam tangan Pauline dengan hangat.


Pauline tersenyum. satu persatu ia menatap bergantian pada semua orang yang ada di sana. Elizabeth, Smith, Erick dan suster Siska, kemudian beralih pada Queen.


"sahabatku, Helene. tunggu aku" katanya seraya memandangi Queen. nafasnya terasa berat dan bahkan tercekat ditenggorokan. kemudian dia menarik nafasnya dalam tanpa menghembuskannya kembali. matanya terpejam.dan saat itu pula nafasnya terhenti. tak ada lagi pergerakan disana. jantungnya tak lagi memompakan udara. sekujur tubuh pun terasa dingin. dan saat itu pula Pauline menghembuskan nafas terakhir nya. meninggalkan semua cerita suka dan dukanya dan menyisakan cerita hanya untuk dikenang.


tangisan pun pecah. tak kuasa melihat kepergian wanita yang banyak berjasa dalam kehidupan Elizabeth. tangis haru kini mengiringi kepergian sang noni Belanda.


meskipun Pauline bukan ibu kandung Elizabeth, tapi bagi Elizabeth ia adalah ibu yang hebat. dia tak pernah membeda bedakan dirinya dengan Maria.


"ibu, semoga kau tenang di alam sana" gumam Elizabeth saat proses pemakaman Pauline di gelar.


 semua keluarga hadir dengan membawa doa dan rangkaian bunga untuk mengucapkan selamat jalan pada sang noni Belanda.


Sementara Bramana sekarang tengah menyusun rencana untuk menyingkirkan Dimas. ia tak mau jika nanti harta Aresh akan jatuh ke tangan Dimas. apalagi sekarang Dimas sudah bisa berjalan lagi. seperti perkataan Aresh bahwa perusahaan akan kembali diberikan kepada Dimas jika Dimas sudah sembuh.


Rayyan membuntuti Dimas yang ada di restaurant. Dimas sedang memesan makanan. namun Rayyan menyabotase pesanan yang sedang di bawa pelayan.


"maaf mas, di panggil temannya" kata Rayyan dengan menepuk lengan pelayan itu. pelayan itupun reflek menoleh ke samping. kesempatan yang baik untuk Rayyan. dengan sengaja ia menyelupkan sebutir pil beracun ke minuman yang dibawa pelayan itu.


"mana mas? " tanya pelayan itu kebingungan.


"oh maaf, mas salah orang kayaknya" jawab Rayyan tersenyum. lalu ia segera meninggalkan tempat itu. ia mengintai dari jarak jauh, memastikan jika minuman itu beneran diminum Dimas.


sementara Dimas duduk seorang diri, dia sedang menunggu seseorang. Andi. Dimas sedang menunggu andi. sahabatnya saat dulu ia mengejar cinta sejatinya. Andi pergi ke kota karena ia sangat merindukan Dimas sahabatnya.

__ADS_1


"Hai Dimas, lama ya menunggunya" sapa Andi Seraya tersenyum.


"lumayan.aku nunggunya sampek karatan" jawab Dimas tertawa lebar.


"wah.. sudah ada minuman nih. kesempatan banget, aku barusan kesini sambil lari. uangku gak cukup untuk naik ojek. aku haus. aku minum ya pak bos. ntar pak bos pesen lagi yang baru" kata Andi sambil nyeruput minuman Dimas yang ada di atas meja.


Dimas hanya menggeleng geleng kan kepalanya melihat sikap Andi. Mereka memang sudah biasa seperti itu saat mereka satu kos dulu. Andi ke kota ingin mencari pekerjaan. dia minta bantuan Dimas karena Andi tau Dimas adalah seorang bos.


"ahhh.... seger" kata Andi. "lumayan hausnya jadi hilang" sambungnya lagi.


kemudian diapun duduk di samping kursi Dimas. dia ingin menyampaikan niat kedatangannya pada sahabat lamanya.


belum sempat ia berkata, tiba-tiba ia merasakan aneh di sekujur tubuhnya. badannya gemetar. suhu badannya tiba-tiba terasa panas. badannya terasa lemas. sekujur tubuh terasa ngilu. seketika Andi ambruk di hadapan Dimas.


"brughh.. " Andi terkulai tak berdaya di hadapan Dimas. Seketika Dimas panik. Dia berteriak minta tolong pada orang orang yang ada di sana. Manager restaurant segera datang menghampiri dan memberikan pertolongan pada Andi. Dimas adalah tamu istimewa di restaurant itu. karena itulah manager hotel langsung membawa Andi kerumah sakit untuk mendapat pertolongan.


" teman anda keracunan mas Dimas, untung saja racun yang dikonsumsi tak terlalu banyak. sehingga nyawa pasien bisa diselamatkan. kalau melebihi dosis, bisa saja nyawa pasien tidak bisa diselamatkan" ujar dokter menjelaskan.


manager restaurant yang juga masih ada disitu terheran. ia mendapatkan tatapan mengintimidasi dari Dimas. ia tak menyangka jika minuman di restaurant miliknya beracun. manager itu menggeleng geleng kepala pertanda ia tak tau apa apa.


Dimas menarik krah kemeja manager itu. "kenapa diminumanku terdapat racun. apa kau ingin membunuh ku?, minuman itu seharusnya aku yang minum. tapi temanku yang menjadi korban. aku akan melaporkan mu ke polisi dan kupastikan restaurant milikmu akan tutup selamanya" gertak Dimas dengan suara meninggi. tampak sekali gurat wajah kemarahan.


"ampun mas Dimas, aku tidak tau apapun. jangan tutup restaurant kami. kami akan bertanggung jawab atas peristiwa ini. kami akan memberikan ganti rugi" ucap manager itu ketakutan.


"kalau sampai Terjadi sesuatu pada temanku, bersiaplah kau akan di penjara" ancam Dimas.

__ADS_1


__ADS_2