Terpaut Cinta Abang Kurir

Terpaut Cinta Abang Kurir
Penjemputan


__ADS_3

siang itu Zahra sudah berkemas bersiap siap hendak meninggalkan panti asuhan tempat ia di besarkan. Semua orang sudah berkumpul. Anak anak panti, Yulia, ambar, Aisyah dan tak ketinggalan juga pak RT dan bu RT.


Satu persatu anak anak panti menyalami Zahra dengan raut kesedihan. Bagaimana mereka tidak sedih, Zahra sangat dekatn dan menyayangi anak anak panti asuhan itu yang sudah ia anggap seperti saudara kandung sendiri.


" kak Zahra jangan pergi, icha gak mau disini jika gak ada Kaka" tangis anak usia lima tahun itu pecah. tangannya tak mau melepas pelukannya pada pinggang Zahra. Dia sesegukan. Ya, Icha memang salah satu anak panti yang paling dekat dengan Zahra. Zahra sangat menyayangi anak itu. " icha mau ikut kaka", katanya lagi.


Zahra merasa terharu, airmatanya pun ikut berjatuhan di pipi mulusnya. Dia menjongkokkan lututnya berusaha mensejajarkan diri dengan anak kecil itu. " gak apa apa sayang. kakak hanya pergi sebentar saja. Nanti kakak akan kembali kesini lagi. dan icha bisa ikut kakak setelah itu. kalau sekarang kakak belum bisa membawa icha. okay. udah jangan menangis ya sayang. entar cantiknya ilang lhoh" Bujuk Zahra agar anak itu tak menangis lagi. bukan maksud Zahra untuk tak membawa icha ikut pergi. masalahnya ia sendiri tak tau sepertinya apa nantinya keadaan di rumah barunya. Berharap suatu hari nanti ia bisa mengajak Icha ikut bersamanya.


setelah dari anak panti ia beralih menuju Tiara. Gadis yang selama ini selalu bersikap iri dan selalu julid kepadanya. Namun bagi Zahra ia tetaplah saudara, tak ada bedanya dengan yang lain.


Tiara menatap tajam ke arah Zahra. didalam manik matanya terlihat bahwa ia sangat marah. sesaat ia membeku. mereka saling tatap. entah apa yang ada dalam pikiran mereka.Tiba-tiba saja Tiara memeluk Zahra , dadanya terasa sesak. entah apa yang membuat ia merasa marah kepada gadis yang selama ini selalu ia anggap musuh. Tapi kali ini terasa berbeda. ia seakan tak rela jika Zahra pergi. Tanpa terasa airmatanya jatuh.


" Ra, maafkan aku. maafkan aku yang selama ini selalu berbuat jahat padamu. Sumpah, aku menyesalinya Ra.

__ADS_1


" Tiara, aku selalu memaafkan mu. aku tidak pernah dendam padamu. Biar bagaimanapun kita ini saudara ya kan? " Zahra menanggapi dengan senyuman. seburuk apapun Tiara, ia tak pernah menganggap Tiara sebagai musuh. " Kita saling mendoakan supaya kita selalu bahagia. setelah ini aku akan pergi, aku titip Bu Yulia dan bu Ambar ya? , juga tolong jagain adik adik kita selama aku tidak ada" Zahra tersenyum sambil memegang lembut pipi Tiara.


kemudian ia beralih pada Yulia dan Ambar, wanita yang dengan ikhlas telah merawatnya. kasih sayangnya bahkan melebihi kasih sayang orang tua kandung. Mungkin tanpa mereka, Zahra tidak akan seperti ini. mengingat cerita dari Yulia bahwa ada orang yang ingin mencelakai nya sewaktu ia masih bayi. Hutang budi yang tak akan bisa dibayar dengan apapun. Kasih sayang, kehangatan dan budi pekerti yang mereka tanamkan pada diri Zahra, sungguh merupakan jasa yang tak ternilai.


ia mendekati Yulia, memeluk wanita yang sudah tak lagi muda itu. tangis Zahra seketika pecah. "maafkan Zahra bu jika selama ini, aku banyak menyusahkan ibu. jika aku punya salah. maafkan aku juga karena aku tak bisa membalas semua kebaikan ibu padaku"


" ibu tak pernah minta kau membalas semua yang ibu lakukan padamu, ibu ikhlas. ibu akan bahagia jika dirimu bahagia. karena itulah kau harus selalu bahagia bersama suamimu. Jangan sungkan jika ada waktu, kau berkunjunglah kemari. kami akan selalu merindukanmu" kata Yulia yang membalas pelukan Zahra seraya menepuk-nepuk bahu gadis yang selama ini dia asuh. Zahra melepas pelukannya dan beralih pada Ambar dan memeluknya. Ambar juga sangat berjasa bagi Zahra sama seperti Yulia.


" hati hati ya Ra, aku percaya Dimas akan membahagiakan mu. jangan lupa, aku tunggu undangan resepsi pernikahan kalian" goda Aisyah sambil mencubit gemas pipi Zahra. seperti cubitan seorang ibu pada anak kecil.


" maafkan aku jika aku punya salah ya Sya? " kata Zahra.


" ah, apaan sih, gak usah lebay deh. kamu gak pernah punya salah sama aku" goda Aisyah sambil tersenyum. " oh ya jangan lupa, aku tunggu kabar baiknya kalau kalian sudah memberikan aku seorang keponakan " Aisyah tertawa lebar.

__ADS_1


Zahra hanya tersenyum malu mendengar ucapan Aisyah. jangankan mau punya anak, malam pertama aja dia belum. hadeh... ada ada aja ulah si Aisyah.


setelah itu Zahra kembali mendekati suaminya. giliran Dimas yang kini menghampiri satu persatu dari keluarga panti asuhan tempat istrinya di besarkan. semua tampak harus melepas kepergian seorang Zahra. wanita yang sangat baik dan berbudi luhur, serta penyayang. Tangis anak anak panti pecah karena harus melepas kepergian kak Zahra mereka. Dimas dan Zahra melangkah ke luar menuju halaman. Dimas menderek tas koper kecil milik Zahra tempat untuk menyimpan barang barang Zahra.


Di luar pagar sudah menunggu sebuah mobil SUV warna hitam dengan dikemudian oleh Alex anak buah papanya Dimas. ia diminta Arumi untuk menjemput Dimas dan istrinya.


Zahra terdiam sejenak sebelum ia masuk mobil dan membalikkan badan, kembali menatap panti asuhan itu. Diteras panti sudah berjejer orang orang yang selama ini telah menjadi keluarga nya. Airmata Zahra berderai. tak kuasa menahan haru. memorinya kembali mengenang ke masa silam, dimana ia beraktivitas bersama mereka. suka duka yang ia lalui. Menatap bangunan sederhana yang telah banyak memberikan kenangan. ia takut untuk melangkah pergi takut tak bisa kembali.


Dimas menghampiri Zahra, merengkuh pundak Istrinya. ia sangat mengerti perasaan wanita cantik itu " jangan khawatir. kalau ada waktu kita bisa setiap saat berkunjung kesini" kata Dimas lirih.


Buru buru Zahra mengusap airmatanya setelah Dimas membukakan pintu mobil. sebelum masuk ia menyempatkan melambaikan tangan pada mereka yang masih berdiri di teras panti. mereka pun membalas lambaian tangan Zahra penuh haru. Zahra melangkah masuk ke dalam mobil setelah Dimas menyimpan koper miliknya kedalam bagasi mobil. pintu ditutup. Dimas dan Zahra duduk di kursi belakang penumpang. Alex menyalakan mobil dan perlahan mobil itu pun meninggalkan panti asuhan itu.


pandangan Zahra masih saja menatap ke samping menembus jendela kaca mobil, seolah penglihatannya tak mau lepas dari panti asuhan yang sudah menjadi rumahnya. perlahan panti itu pun tak terlihat seiring laju mobil yang kian meninggalkan panti itu.

__ADS_1


__ADS_2