TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Jalan-jalan


__ADS_3

"Kau sudah bangun?" Arnold yang baru keluar dari kamar mandi karena mandi sore langsung melihat ke arah tempat tidur di mana Chami terbaring, ia melihat Chami baru mengerjapkan mata dan memegang kepalanya sendiri.


Arnold mendekat ke arah Chami ia hanya memakai celana boxer dan bertelanjang dada, Chami tidak melihat ke arah Arnold sebab ia fokus memandang langit-langit kamar dan meremas kepalanya sendiri.


"Kau tidak apa-apa?" Chami langsung terduduk karena kaget mendengar suara laki-laki yaitu Arnold.


"Jangan kaget, kau sudah merasa baikkan?" Chami mengangguk walaupun ia merasa kepalanya agak pusing.


"Maafkan aku yang merepotkanmu Super."


"Tidak masalah, bagaimana dengan kepalamu apa sudah baikkan?" Tanya Arnold lagi karena tadi ia tidak mendapatkan jawaban.


"Ntahlah rasanya baik, tapi kepalaku terasa sumpek saja." Chami memukul kepalanya pelan.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan keluar? jika kau tidak keberatan."


"Tapi keluar kemana?" Chami bertanya dulu takutnya Arnold hanya mengajaknya keluar kamar dan jalan-jalan mengelilingi rumah.


"Kita jalan-jalan, misalnya makan hmm seperti orang kebanyakan jalan-jalan." Arnold bingung harus mengatakan apa sebab ia juga tidak tahu harus menyebut apa.


Chami berpikir sejenak, ia mengangguk setuju karena ia butuh refreshing juga.


"Baiklah tapi biarkan aku mengganti baju dulu."


"Pakai dress yang merah jambu yang aku beli kemarin!"


"Tapi aku tidak suka memakai dress."

__ADS_1


"Daripada tidak jadi, sebaiknya ayo cepat. Kau mau aku bantu ke kamar bawah?" Chami mengangguk karena kepalanya masih sedikit pusing tetapi ia mencoba menahan.


Arnold membimbing Chami turun ke lantai bawah dan langsung menuju sebelum dapur tempat kamar Chami. Gara-gara Arnold tidak memakai baju alhasil membuat Chami berdebar karena menyentuh kulit tangan Arnold, sedangkan Arnold yang sudah melihat tubuh Chami saat ia pingsan tadi tampak biasa karena ia kasihan dengan wanita itu.


"Kau bisa sendiri?" Arnold membukakan pintu kamar Chami.


"Aku bisa sendiri, terimakasih ya! Kau bersiaplah dulu Super, aku juga akan bersiap!"


"Baiklah, hati-hati." Chami mengangguk dan menutup pintu perlahan.


Arnold kembali ke kamar ia berpakaian hanya menggunakan kemeja dan celana jins, Arnold kurang menyukai gaya ia lebih suka berpenampilan sederhana karena mengingat umur yang sudah hampir kepala tiga jadi ia sadar diri.


Apa yang di suruh Arnold itulah yang di pakai Chami tetapi ia memilih memakai kets daripada heels, Chami masih pusing jika Arnold menanyakan kenapa tidak memakai heels maka dia akan bilang jika dia masih pusing dan ia yakin jika Arnold memakluminya.


Arnold berada di depan pintu kamar Chami, tak lama menunggu Chami keluar membuat Arnold tersenyum. Arnold melihat Chami dari atas sampai bawah ia mengagumi kecantikan Chami walaupun Chami tidak berdandan tetapi Chami kelihatan cantik ia menyerngitkan keningnya saat melihat sepatu yang di gunakan Chami tetapi langsung mengangguk mengerti.


"Kau tidak menanyakan sepatu ku Super?"


"Tidak."


"Kenapa?"


"Aku tahu kau masih pusing Dekil, jadi ayo kita berangkat." Arnold langsung menggandeng tangan Chami membawanya keluar dan membantunya masuk dalam mobil.


Mobil Arnold berjalan dengan lancar menembus jalan raya sore itu, sesekali mereka saling lirik. Tetapi kebanyakan fokus dengan hal masing-masing. Arnold yang fokus menyetir sedangkan Chami hanya memandang jendela, melihat kesunyian Arnold membuka suara.


"Mulai sekarang tidurlah di kamarku?" Arnold menoleh sebentar kemudian fokus dengan menyetirnya lagi.

__ADS_1


"Kenapa aku harus tidur di kamar mu?"


"Karena nanti kau akan kepanasan jika tidur di kamar itu." Arnold merasakan panas jika di kamar Chami dan ia akan mengusulkan hal itu.


"Apa itu boleh?" Tanya Chami meyakinkan.


"Tentu boleh."


"Yeay."


"Kau senang?" Arnold tersenyum senang karena Chami juga menyutujuinya.


"Tentu saja aku senang, tapi bagaimana dengan kau Super?" Chami pikir Arnold akan tidur di kamarnya, jadi ia akan leluasa di kamar Arnold.


"Tentu saja kita tidur bersama."


"Eh tidak bisa dong, kalau terjadi apa-apa bagaimana?"


"Apa-apa bagaimana?" Arnold pura-pura tidak mengerti apa yang di katakan Chami, padahal ia tahu betul jika Chami berpikiran buruk.


"Itu..."


"Aku tidak akan macam-macam." Ucap Arnold meyakinkan.


"Aku akan macam-macam selagi kau tidur Chasi." Batin Arnold, dan ia menyunggingkan bibirnya.


Arnold terus beranggapan nama Chami adalah Chasi, entah apa yang akan di lakukan Arnold jika tahu Chami dan Chasi kembar. Arnold mulai memiliki rasa dengan Chami, dari pandangan pertama saat Chami menyapa Arnold ia sudah jatuh hati.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2