TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Darah!


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Arnold sudah bangun, ia tidak beranjak dari tempat tidur karena asik melihat wajah Chami yang terlelap. Arnold sangat senang karena setiap bangun tidur ia akan melihat bidadarinya, ia juga bersyukur karena di pertemukan dengan Chami.


Arnold tertawa kecil saat mengingat kejadian malam tadi, Chami sangat menggemaskan jika sedang merajuk. Arnold membayangkan jika ia menikah dengan Chami dan ia akan melihat sifat Chami yang lain. Arnold saat ini tidak ingin menanyakan dulu perihal Chami yang mengalami kekerasan fisik yang selama ini mengganggu psikologisnya.


"Aku akan menjagamu Chami dan aku akan melindungi mu, aku berjanji!" Arnold mengelus pipi Chami dan membuat Chami terusik tidurnya, perlahan Chami mengerjapkan matanya.


"Sudah bangun sayang!" Chami kaget dan langsung duduk.


"Kenapa kau ada di sini?" Chami melihat sekeliling ia baru teringat jika ia tidur di kamar Arnold.


"Kau tidur di kamarku, sayang!"


Chami memegang perutnya karena terasa kram, ia langsung menyibakkan selimut dan bangkit dengan pelan karena kram di perutnya membuat ia bergerak dengan lamban. Chami berjalan menuju kamar mandi dengan berjalan pelan, mata Arnold membulat karena melihat ada sesuatu di belakang celana tidur Chami yang berwarna biru muda.


"Dekil, itu di belakang mu ada darah!"


Chami baru sadar jika perutnya kram karena ia sedang datang bulan, pantas saja ia sangat bernafsu dengan makanan. Chami langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi, Arnold dengan cepat menyibakkan selimut yang masih menutupi sebagian kasur tempat Chami tidur tadi.


"Darah!!"


"Arnold menutupi mulutnya karena benar-benar kaget, ia melihat darah yang cukup banyak di spray berwarna putih itu. Arnold segera berlari menuju kamar mandi ia mengetuk pintu kamar mandi cukup kuat karena khawatir dengan Chami.


"Dekil, kamu tidak apa-apa? Sayang aku mohon keluarlah, apanya yang sakit ayo bicara denganku." Arnold takut jika Chami kambuh lagi, sedangkan Chami di dalam kamar mandi sedang menahan malu dan merutuki dirinya sendiri karena hari pertama datang bulan selalu mengeluarkan banyak darah. Chami benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi dan ia benar-benar sangat malu.


Arnold teringat jika Chami kambuh maka darah yang akan keluar dari hidung, Arnold kembali lagi ke tempat tidur ia mengamati darah di spray putih itu baik-baik.


"Tidak! kami tidak melakukan apapun tadi malam, kenapa sampai ada darah? apa aku melakukannya tanpa sadar? Astaga, kamu belum menikah dan aku sudah mengambil perasannya!!" Arnold pusing sendiri dengan pikirannya, ia memperhatikan baju dan celananya yang masih utuh.


"Super."

__ADS_1


"Iya sayang." Dengan cepat Arnold kembali lagi ke depan pintu kamar mandi.


"Tolong panggilkan kak Ayu, Super."


Arnold mendengar dengan baik, ia bingung kenapa Chami menyuruhnya memanggil Ayu. Arnold berpikir sejenak dan langsung mengiyakan apa yang di suruh Chami.


"Iya baiklah, tunggu sebentar ya. Jaga diri dulu, nanti aku akan kembali."


Arnold dengan cepat dan sedikit tergesa-gesa menuruni tangga dan meneriaki nama Ayu cukup kencang, Arnold mencari sekeliling rumah tetapi ia tidak menemukan Ayu maupun Beni. Arnold memilih keluar rumah dan ia tidak melihat mobil yang biasa Beni bawa untuk pergi ke pasar, Arnold yakin jika Beni dan Ayu sedang berbelanja.


Arnold kembali masuk dan berjalan menuju tangga dan langsung masuk ke kamar, ia mengetuk pintu kamar mandi pelan.


"Sayang, Ayu sedang ke pasar dengan Beni. Kamu butuh bantuan sayang?"


Chami memegang kepalanya sendiri, ia berdiri di depan wastafel dari tadi sambil berkaca untuk mengutuki dirinya sendiri. Chami Dnegan terpaksa menyuruh Arnold membeli pembalutnya jika tidak ia akan menunggu lama di kamar mandi.


Chami membuka pintu dan mengeluarkan kepalanya, Arnold langsung melihat Chami penuh kekhawatiran.


"Oke baiklah, tapi apa aku harus membelinya di apotek?"


"Tidak Super, kau bisa membelinya di minimarket terdekat."


Arnold mengangguk mengerti. "Baiklah, kau akan pergi sekarang. Aku akan pulang secepatnya dan aku mohon bertahanlah dulu." Arnold langsung berjalan menuju pintu kamar, saat hendak keluar Chami mencegatnya dulu.


"Tunggu, belikan pembalut yang bersayap ya!"


Arnold menyerngitkan keningnya kemudian ia mengangguk dengan cepat dan langsung menghilang dari pandangan Chami.


Arnold masuk ke dalam minimarket dengan tergesa-gesa ia langsung menuju pelayan minimarket itu dan langsung mengatakan apa yang ingin di belinya.

__ADS_1


"Mbak, tolong ambilkan pembalut banyak-banyak dan yang bersayap!" Pelayanan minimarket itu tertawa terbahak-bahak dan para pengunjung lainnya juga tertawa.


Arnold bingung dengan apa yang terjadi, ia melihat orang-orang tertawa melihatnya. Arnold melihat pelayan yang di tanyanya tadi dan langsung menyuruh agar wanita itu segera mengambilnya. Arnold masih bingung dengan keadaan karena ibu-ibu di sana menatapnya genit, ia geli sendiri melihat tingkah ibu-ibu yang tebar pesona kepadanya.


"Pembalutnya buat siapa, Ganteng?" Ucap wanita paruh baya dan memakai pakaian yang seksi dan berdandan melebihi batas.


"Buat istri saya!" Arnold memang ingin Chami menjadi istrinya jadi apa salahnya jika ia mengatakan jika Chami adalah istrinya.


"Oh.. sudah menikah toh, jadi bagaimana dengan malam panjang kalian. Apa kau menikmatinya, ganteng?" Goda wanita itu.


"Iya aku menikmatinya!" Jawab Arnold berbohong.


"Ingin coba sama Tante, sayang?" Wanita itu mengedipkan matanya dan selalu membusungkan dadanya membuat Arnold jijik.


"Maaf Tante, aku lebih suka wanita muda!" Arnold langsung mengambil pembalut yang di sodorkan lumayan banyak kepadanya oleh pelayan minimarket itu. Dengan cepat Arnold ke kasir dan langsung membayar, saat hendak pulang ia melihat kembali wanita menor tadi yang menatapnya kesal.


Arnold melajukan mobilnya dan segera pulang, ia sampai di rumah dan langsung naik ke kamar. Arnold masuk ke dalam kamar dan melihat spray kamarnya sudah di ganti dengan motif bunga-bunga dan itu perkerjaanmu Chami, Arnold langsung mengetok pintu kamar mandi.


"Sayang aku sudah membeli pembalutnya!"


Arnold memegang kantong besar yang berisi banyak pembalut, Chami membuka pintu sedikit dan langsung melihat ke arah kantong besar yang di pegang Arnold.


"Ini sayang pembalutnya, maaf ya jika aku membelinya sedikit." Chami ingin tertawa tetapi ia tahan.


"Terimakasih Super, maaf jika merepotkan mu." Chami membuka pintu kamar mandi cukup lebar dan langsung mengambil kantong besar yang di tangan Arnold dan menutup pintu kembali, Arnold menelan ludah sebab ia melihat Chami hanya untuk memakai handuk dan menampakkan bahu dan paha Chami yang mulus.


"Jangan berpikiran kotor Arnold!!" Arnold menepuk kepalanya pelan agar mengusir pikiran kotor tersebut.


"Kenapa kau sangat menggoda, Chami!"

__ADS_1


🌺🌺🌺🌺


Maaf jika banyak typo, mohon dukungannya ya 😊


__ADS_2