TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Ibu


__ADS_3

Sudah seminggu Chami terbaring di rumah sakit dan belum sadar dari komanya, Arnold dengan setia menunggu sang istri sampai ia lupa untuk mengurus diri. Angel dan Zeroun setiap hari memarahi Arnold karena anaknya suka menyiksa diri, Arnold jarang makan dan mandi. Walaupun Angel membawa makanan dan pakaian Arnold enggan untuk memakainya, hanya tiga kali dalam seminggu ini dan itupun karena terpaksa.


Hari ini tepat jam 5 subuh Arnold tertidur sambil duduk di samping ranjang Chami sambil memegang tangan istrinya itu, ia terus berjaga sepanjang malam karena ingin melihat Chami membuka mata. Namun, kali ini mata Arnold tak kuat, ia tertidur dengan lelapnya subuh ini.


Setelah bermimpi indah mata Chami perlahan terbuka, walaupun ia merasa pusing namun karena mimpi itu ia mengukir senyum di wajahnya. Perlahan Chami mengusap perutnya dengan lembut, ia seperti mendapatkan kebahagiaan kali ini.


Anak perempuan kecil yang berusia lima tahun tampak sedang bernyanyi sambil menari, taman itu di hiasi beragam macam bunga. Chami duduk di bangku taman seorang diri dan sambil melihat anak tersebut sambil tertawa.


"Ibu." panggil anak itu dan melambaikan tangannya ke Chami.


Chami sangat kaget karena di panggil ibu, tapi ia membalas lambaian tangan anak itu. Mendapat tanggapan dari Chami anak itu langsung berlari dan memeluk Chami. Ia sangat senang melihat wajah Chami, padahal Chami saat itu benar-benar bingung .


"Nama kamu siapa, Sayang?" tanya Chami setelah pelukan itu lepas, Chami segera memangku anak itu di pahanya.


"Namaku Chelsea, Ibu." jawab anak itu dengan gembira.


"Nama yang bagus, tapi kenapa kamu memanggil ku Ibu?"


"Bukankah wajah kita mirip?" tanya Chelsea sambil menunjukkan senyumnya.


Chami mengamati wajah anak itu, sangat mirip dengannya saat masih kecil.


"Aunty....."


Chami menoleh ke arah suara, tampak anak perempuan dan anak laki-laki sedang berlari menujunya. Usia mereka sama dengan Chelsea, wajah anak perempuan itu juga cukup mirip dengan Chelsea.


"Aunty, kami merindukanmu!" ujar anak perempuan itu.


Chami mengerutkan keningnya ia tidak kenal dengan anak-anak itu, ia melihat anak laki-laki itu yang melihat ke arah Chelsea dengan senyum malu-malu.


"Saaaayyyaaannngggg..."


Chami tersentak karena ada yang berteriak, ia menoleh kesana kemari melihat siapa yang berteriak. Namun, ia tak melihat siapapun.


"Selamat berbahagia, Ibu."

__ADS_1


***


Arnold merasa risih karena kepalanya di usap oleh seseorang, Arnold mengira jika ayahnya yang mengusap. Karena merasa tidurnya di ganggu dengan kuat Arnold menepis tangan itu.


"Awww..."


Chami memekik karena ia merasakan tangannya sakit, selang infus sampai lepas gara-gara tepisan Arnold yang kasar tadi. Chami melihat tangannya berdarah, sungguh ini yang ia takutkan dengan dokter dan rumah sakit. Selang yang menancap di tangannya dan terlepas membuat ia makin ketakutan.


Arnold mendengar suara itu langsung terbangun, ia kaget saat melihat tangan Chami yang berdarah.


"Sayang, kamu sudah sadar? Tangan kamu kenapa berdarah? bertahanlah aku akan memanggil dokter." Tanpa aba-aba lagi Arnold langsung berlari keluar dan menjerit memanggil dokter.


Chami geleng kepala mendengar suara Arnold yang menggema di rumah sakit, ia berusaha tidak melihat tangannya agar ia tidak ketakutan.


Mendengar keributan yang di buat Arnold dengan cepat sekuriti di rumah sakit itu mengamankan Arnold, mereka geram melihat Arnold yang berteriak memanggil dokter seenak jidatnya.


"Lepasin!! istriku sudah sadar, tangannya berdarah. Tolong dia sekarang juga, kalau tidak aku tuntut rumah sakit ini!!"


Arnold berteriak dan memberontak, sekuriti itu melepaskan Arnold setelah mengatakan akan menuntut rumah sakit. Walaupun Arnorld tak mandi beberapa hari, tapi pesona orang kayanya masih terpancar.


Melihat dokter dan suster masuk ke dalam kamar inap dengan cepat Arnold berlari mengikuti mereka, Arnold begitu khawatir dengan keadaan Chami apalagi saat melihat tangan Chami berdarah.


Dokter dan suster tampak lega dan tersenyum senang karena pasien yang sudah seminggu jika akhirnya sadar dan keadaannya makin membaik. Chami meminta tidak memakai infus karena ia takut, dokter memberinya asalkan Chami makan dengan banyak. Chami menyetujuinya karena baginya lebih baik makan banyak daripada di infus.


"Kamu harus makan yang banyak, jika tidak kandunganku akan bermasalah bahkan tidak bisa di selamatkan. Ja...."


"Saya hamil, Dok?" tanya Chami tak menyangka.


"Iya kamu hamil, jadi sebaiknya makan makanan yang bernutrisi dan bergizi. Demi keselamatan dan kesehatan anakmu sebaiknya kamu menuruti perkataan saya."


"Chelsea." gumam Chami pelan sambil memegang perutnya.


"Baiklah, Dok. Saya akan makan sebanyak mungkin, terimakasih telah mengabarkan kabar bahagia ini." ucap Chami dengan senang, ia begitu gembira mendapatkan kabar tentang kehamilannya.


"Sayang, kamu tidak apa-apa? Katakan pada suamimu ini, apanya yang sakit?" tanya Arnold berlebihan sampai ia begitu panik melihat infus Chami yang tak terpasang lagi.

__ADS_1


"Dokternya infusnya kenapa tidak terpasang?" tanya Arnold melihat dokter dan suster bergantian, ia ingin marah sekarang juga karena merasa jika istrinya tidak dirawat dengan baik.


"Kondisinya saat ini baik-baik saja, sungguh ini adalah keajaiban. Nona Chami sebaiknya di beri makan makanan yang sehat dan yang baik untuk janinnya, jika ia makan dengan baik dan banyak maka ia tidak akan kenapa-kenapa." jelas dokter itu.


Arnold bernafas lega, ia melihat Chami dengan begitu sayang. Chami hanya melihat Arnold sambil menyunggingkan senyumnya kecil, suaminya itu terlalu berlebihan.


"Saya akan memberikan resep obat khusus untuk ibu hamil, silahkan di tebus nanti ya! Kalau begitu saya pamit dulu, jaga kesehatan Nona Chami."


"Terimakasih, Dok."


Dokter itu keluar dan di susul dengan suster. Arnold melihat Chami sambil tersenyum ia mengecup pelan kening Chami karena benar-benar bahagia.


"Kamu benarkan gak apa-apa?" tanya Arnold lembut.


Chami mengangguk, "aku hamil." kata Chami pelan namun ia begitu bahagia.


"Aku tahu kamu hamil, Sayang. Apa kamu bahagia?" tanya Arnold sambil mengusap perut Chami lembut.


"Pastinya, kita harus mengabarkan ini ke Mami dan Papi."


Arnold langsung terdiam. Ingatan Chami sudah kembali, ia ingin mengungkapkan semuanya. Tapi, sungguh Arnold terlalu takut jika Chami kambuh lagi.


Melihat Arnold terdiam Chami yakin jika suaminya itu menyimpan rahasia, ia melihat Arnold menundukkan wajah.


"Apa ada sesuatu yang terjadi? Maaf aku tidak jujur denganmu dulu, tapi aku se..." Chami ingat jika ia belum memberitahu tentang dirinya dengan Arnold.


"Aku sudah tahu semuanya, Sayang. Kamu jangan khawatir soal itu, sebaiknya kita fokus menjaga anak kita ini." kata Arnold sambil mencium perut Chami.


"Aku ingin bertemu Mami, bolehkah?"


Chami membutuhkan ibunya, ia tidak tahu apa saja pantangan untuk wanita hamil. Baginya, ibu adalah orang yang tepat untuk membantunya selama hamil dan mengurus anak.


"Bolehkah?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2