TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Om?


__ADS_3

Arnold berjaga sepanjang malam, walaupun ia tidak kuat begadang tetapi ia tetap berjaga agar Chami tidak melakukan hal-hal yang berbahaya. Hari sudah menunjukkan pukul 5 pagi, Arnold dengan mata memerah meletakkan tangannya di kening Chami mengecek apakah badan Chami masih panas atau tidak, sebab saat Chami mulai tertidur tadi ia merasakan jika tubuh Chami sangat panas. Arnold hendak membawa Chami ke rumah sakit tetapi ia tidak jadi melakukan itu karena ia ingat jika Chami takut dengan dokter dan jarum.


Arnold mengambil handphonenya di sampingnya dan menghubungi dokter Irwan yang merawat Chami saat masuk rumah sakit, malam tadi ia hendak menyuruh dokter datang tetapi ia urungkan karena sudah tengah malam. Arnold menyuruh dokter Irwan datang sebelum pukul 7 pagi, ia yakin jika Chami belum bangun saat itu.


Dokter Irwan datang tepat jam 6 pagi, ia memeriksa Chami dan memberikan resep obat untuk Chami. Arnold menerimanya dan sebelum itu ia menceritakan semuanya tentang kejadian semalam, Arnold sangat kaget saat dokter Irwan bilang jika Chami terus merasakan stress maka ia akan benar-benar menjadi gila. Penyakit yang Chami alami ini sama seperti mengonsumsi narkoba dan bisa sering menyakiti diri sendiri bahkan bisa bunuh diri, Arnold tegang mendengar itu ia bingung harus bagaimana.


"Dok, jika terus begini dia akan benar-benar gila dok! Apa yang harus saya lakukan?"


"Kamu bisa memanjakannya, dia tidak memiliki masa kanak-kanak yang bahagia dan juga kurang kasih sayang. Saya anjurkan kamu untuk bisa menemaninya sepanjang waktu dan mengajaknya bermain, walaupun terdengar seperti kekanakan tetapi saya anjurkan seperti itu agar pikiran nona Chami segera pulih."


"Terimakasih dok, maaf sudah mengganggu waktu dokter."


"Tidak masalah, saya akan pamit dulu."


Setelah mengantarkan dokter Irwan keluar, Arnold langsung mengemas benda-benda yang dia anggapnya tajam. Arnold menyembunyikan semuanya agar tidak terlihat oleh Chami, setelah semua selesai Arnold langsung baring di samping Chami ia ingin tidur sebentar karena matanya tidak terkontrol lagi.


Pukul 9 pagi Chami terbangun dari tidurnya sedangkan Arnold masih terlelap, Arnold begitu mengantuk sampai-sampai ia yang ingin tidur sebentar tadi sudah terlewat waktu. Chami merasakan sakit-sakit di badannya terutama di kening dan di lengannya, Chami melihat luka di tubuhnya dengan bingung karena ia lupa apa yang terjadi semalam dan kenapa kening dan lengannya terluka.


Chami beranjak dari tempat tidur, ia lupa di mana ia berada dan ia melihat Arnold yang tertidur pulas. Chami hanya mengingat sekilas itu pun tentang ikan koi yang di beri nama olehnya menjadi Bubu, Chami turun ke bawah ia hendak menuju pintu luar tetapi matanya tertuju ke arah dapur dan ia melihat dua orang yang sedang bercanda. Beni dan Ayu yang sedang bercanda sambil memasak nasi goreng terdiam langsung saat Chami menatap mereka dengan bingung.


Chami tidak memperdulikan mereka, ia terus melanjutkan jalannya sampai ke pintu luar dan membukanya. Tubuh Chami terkena hembusan dengan angin yang lumayan kuat pagi ini, awan yang mendung pun akan membasahi bumi.


Chami berjalan menuju kuburan tempat Bubu di tanam, ia bingung kenapa ia melangkahkan kakinya ke situ. Setelah melihat kuburan Bubu Chami kemudian berjalan mengelilingi halaman depan rumah Arnold yang luas, Chami berlarian dan melompat saat hujan mulai turun dan membasahi tubuhnya.

__ADS_1


"Senang sekali!"


Chami seakan tidak merasakan sakitnya lagi, ia sibuk dengan hujan yang turun begitu lebat.


"Chami, jangan hujan-hujanan nanti sakit!" Teriak Beni, Ayu pun ikut berseru tetapi Chami tidak menghiraukan mereka.


"Ini tidak bisa di biarkan, Bang cepat bilang bos bang!" Ayu sangat panik karena ia baru melihat Chami terluka dan perbannya sudah terlepas.


Arnold terbangun karena mendengar ketokan di pintu kamarnya sangat kuat, ia langsung bangkit karena tidak mendapati Chami di sampingnya.


"Bos, tolong Chami bos!" Beni langsung berbicara saat Arnold membuka pintu kamarnya.


"Dimana Chami?" Arnold langsung berlari kebawah tanpa menunggu jawaban dari Beni, ia ingin menuju ke dapur tetapi ia tidak jadi karena ia mendengar jika Ayu memanggil nama Chami di pintu luar.


"Lepasin saya, saya mau bermain hujan!" Chami memukul-mukul pundak Arnold yang sedang menggendongnya.


Arnold membawa Chami sampai ke kamar mandi, ia sebenarnya tidak ingin membuka baju Chami untuk di ganti karena Chami sedang menstruasi, tetapi saat melihat luka di lengan Chami membuat ia tetap menggantikan Chami baju dan memakaikan semua pakaian Chami.


"Apa kamu tidak malu menggantikan pakaian perempuan?" Arnold menyerngitkan keningnya setelah mendengarkan apa yang dikatakan Chami tadi.


"Chami, ayo kita ke duduk di kasur ya sambil menghangatkan tubuh!". Chami mengangguk, ia melingkarkan tangannya di leher Arnold seraya meminta gendong, Arnold dengan senang hati menggendong Chami dari depan dan dia langsung membawa Chami di atas kasur dan mendudukkannya di sana.


"Tunggu di sini sebentar ya, aku mau mengambil kotak P3K dan mengobati lukamu." Arnold berjalan ke meja dan mengambil kotak itu karena semalam ia menyimpan kotak P3K itu di laci.

__ADS_1


"Apa saya tidak boleh bermain hujan, om?" Arnold tertawa pelan saat Chami memanggilnya om, sama seperti awal mereka bertemu. Benar kata dokter Irwan jika Chami akan kembali seperti anak-anak, sebenarnya dokter Irwan ingin melakukan terapi khusus tetapi ia urungkan karena Chami takut dengan dokter dan jarum.


"Kamu masih terluka, jika kamu bermain hujan maka luka kamu tidak akan sembuh!" Jelas Arnold.


"Huh... padahal saya mau bermain hujan, om rumah om besar sekali pasti anak-anak om suka bermain di halaman dan rumah ini?" Arnold menggelengkan kepalanya sebab Chami menanyakan pertanyaan yang sama seperti pertama kali ia datang ke rumah Arnold.


"Aku belum menikah dan aku belum punya anak!"


"Hmm, sayang sekali padahalkan kalau ada anak-anakkan pasti seru!"


Arnold selesai melilitkan perban di tangan Chami, ia menatap Chami yang sedang duduk di tepi ranjang. Chami di tatap seperti itu jadi tersipu malu, Arnold tertawa melihat Chami yang malu-malu.


"Kamu suka sama anak-anak?" Tanya Arnold sambil mengelus tangan Chami yang putih.


"Iya aku suka, om!"


"Jika kamu suka kita bisa membuat anak, tapi untuk beberapa hari ke depan ya?"


"Sekarang aja, om!"


"Kita belum bisa melakukannya sekarang, tetapi kalau mau kita bisa belajar dari atas dulu. Apa kamu mau?" Chami mengangguk semangat.


"Maafkan aku Chami, aku mengambil kesempatan ini agar kau tetap bersamaku. Aku yakin jika ada bayi di perutmu pasti kau tidak akan meninggalkanku, maafkan aku sebab beberapa hari kedepan kau benar-benar akan menjadi milikku." Arnold segera membaringkan Chami yang menatapnya dalam, Chami tersenyum melihat Arnold dan tak lama itu Arnold langsung menjamah Chami sampai bagian dada. Arnold meninggalkan kepemilikan Chami sampai gadis itu selesai datang bulan.

__ADS_1


🌺🌺🌺


__ADS_2