TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
MY WIFE


__ADS_3

Arnold mengendarai mobil dengan laju, ia ingin segera sampai ke rumah Gani untuk melihat semua yang terjadi di sana. Arnold menepikan mobilnya di kiri jalan, ia melihat anak kecil yang berusia sepuluh tahun sedang berjualan di tepi jalan dengan gerobaknya. Anak kecil itu berjualan jamur krispi dan dengan gerobak yang menarik perhatian untuk orang yang melihatnya, gerobak itu di desain semenarik mungkin dengan gambar dan kata-kata yang pas. Arnold yakin jika hasil jualan anak kecil itu laku keras.


"Hai, kau masih ingat denganku?" tanya Arnold menghampiri anak kecil yang tengah membungkus jamur krispi itu untuk orang yang membelinya, setelah anak itu memberi kepada sang pembeli ia langsung melihat ke arah Arnold yang sedang tersenyum padanya.


"Om yang bersama kak Caca?" tanya anak itu memastikan.


"Iya, Ikbal. Sepertinya kau sudah berubah, apa yang membuatmu berubah jadi seperti ini yang beberapa bulan yang lalu hanya anak gelandangan dan sekarang jadi seorang anak yang punya usaha?" Arnold melihat ke gerobak, ia melihat hanya tinggal sedikit bahan-bahan yang tersisa.


"Tidak ada yang berubah, hanya sekedar keberanian dan keyakinan. Bagaimana kabar kak Caca? aku sudah lama tidak melihatnya," Ikbal menggorengkan jamur krispi untuk Chasi, ia yakin jika kakaknya itu akan menyukainya.


"Dia baik. Kau cocok untuk menjadi pengusaha, tapi tidak untuk berbisnis, aku rasa!"


"Kita lihat saja nanti, mimpi ku terlalu tinggi untuk di ceritakan. Aku takut jika om akan tersenyum meremehkan jika aku menceritakannya!" Ikbal menjawab tanpa melihat Arnold, ia fokus dengan gorengannya.


Arnold menyunggingkan senyumnya, ia tahu jika anak di depannya ini bukanlah anak yang biasa lagi seperti saat mereka bertemu.


"Buktikan saja! beri hadiah terbaik untuk kakakmu itu setelah kau sukses nanti."


"Dengan senang hati,"


"Good, nikmati setiap perjuanganmu! aku akan pergi dulu,"


"Tunggu! bawalah ini untuk kak Caca. Katakan kepadanya bahwa aku akan menemuinya setalah aku sukses nanti." Ikbal memberikan jamur krispi itu ke tangan Arnold.


"Kau yakin jika kau akan sukses nanti?" tanya Arnold melihat tajam ke mata Ikbal dan di balas Ikbal dengan tatapan yang semangat membara.


"Jangan tunggu kabar dariku, jika aku sukses nanti aku yang akan datang kepadamu."

__ADS_1


"Oke, kau akan datang kepadaku dengan cara yang sulit."


"Benarkah?"


"Tentu saja."


"Aku tak yakin,"


"Aku yakin pasti itu akan terjadi."


Arnold menepuk pundak Ikbal untuk mengakhiri percakapan, ia menyunggingkan senyumnya dan berjalan menuju mobil. Ikbal melihat mobil itu, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam ia ingin mempunyai itu dan memilikinya dengan hasil kerja kerasnya.


Arnold melajukan mobilnya kembali menuju rumah Gani, ia mencium aroma yang enak dari dalam kantong plastik yang di berikan Ikbal tadi kepadanya. Arnold ingat pesan Ikbal jika makanan itu di berikan untuk Chami, namun lidahnya terasa gatal jika tidak mencicipi jamur krispi buatan Ikbal. Arnold mengambil satu untuk di cicipi, setelah makanan itu masuk ke dalam mulutnya ia benar-benar merasakan makanan yang enak. Dari bumbu yang pas, krispi dan renyah. Arnold benar-benar menyukainya, ia ingin membeli lagi saat pulang dari rumah Gani nanti untuk di berikannya kepada orangtuanya dan pastinya akan di belikan lebih untuk Chami.


"Aku yakin jika dia akan sukses nanti," gumam Arnold sambil tetap mengunyah makanan itu di mulutnya.


Arnold masuk ke halaman rumah Gani, tampak sangat sepi seperti tidak ada kehidupan di sana. Arnold melihat rumah Gani dengan pintu yang terbuka lebar, ia langsung melangkahkan kakinya menuju pintu.


"Sepi," ucap Arnold dengan lirih.


Arnold berjalan masuk ke rumah dengan langkah tanpa suara, ia mengendap-endap seperti maling celingukan sana-sini.


Bughh..


Pundak belakang Arnold di pukul dari belakang dengan kayu yang cukup keras, Arnold terkapar di lantai dan pingsan. Chariq bersedekap dada berjalan menuju Arnold yang sudah terkapar, ia memerintahkan para pekerja di rumah itu khususnya anak buah Gani untuk mengikat Arnold.


"Ikat dia di kursi dengan ikatan yang kuat, buat dia segera sadar agar tidak menyusahkan ku!" Chariq memerintahkan mereka dengan tatapan yang penuh amarah melihat Arnold yang tak sadarkan diri itu.

__ADS_1


"Si pecundang telah datang tanpa di undang, akhirnya yang merebut Chami dariku sudah di tanganku. Terimalah kematianmu sebentar lagi!" kata Chariq dalam hati.


Chariq merasa puas, ia telah mengubur Gani di halaman belakang rumah dan Chasi sudah berada di kamar tamu rumah itu sedang istirahat. Chariq mengetahui jika orang suruhan Arnold memberi informasi untuk Arnold, ia menyunggingkan senyumnya saat tahu ternyata yang memata-matai Gani adalah laki-laki yang membuat Chami meninggal.


Chariq mengambil handphone yang berbunyi di kantong celana Arnold, ia membuka pesan yang masuk.


My Wife : "Sayang, aku suka dengan kamarnya." ❀️


"My Wife, Ck... bahkan setelah Chami meninggal dia masih bisa menikah, hahaha jika aku kehilangan Chami maka kau juga harus kehilangan istrimu." Chariq menyeringai setelah mengatakan itu, ia akan membuat Arnold menyesal dulu melihat istrinya meninggal di depan matanya.


Chariq mengeluarkan handphone di kantong celananya dan ia langsung menghubungi anak buahnya.


"Aku akan mengirim mu nomor telepon, kau harus melacak dimana dia sekarang. Setelah itu culik dia, dia memberontak bawa dia dengan paksa. Apa kau mengerti! beri wanita itu sedikit luka agar ada yang menyesal nantinya." Chariq langsung tertawa dengan keras, ia tak sabar melihat Arnold menangis melihat sang istri menderita.


***


Chami memanyunkan mulutnya karena Arnold hanya membaca pesannya, padahal yang membaca pesannya adalah Chariq. Chami menyukai kamar yang di tempatnya sekarang, ia memilih keluar kamar untuk melihat-lihat sekeliling rumah.


Chami menyusuri rumah dengan rasa yang kagum, ia menyukai semua tentang rumah itu. Chami melihat ada pintu kamar yang lain, ia yakin itu kamar mertuanya. Chami memilih berjalan keluar, ia melihat kolam renang yang sangat jernih dan berbentuk bulat. Chami berdiri di samping kolam renang itu, ia melepaskan kedua sendalnya. Saat Chami ingin mencelupkan satu kakinya ke air ia langsung tertarik ke belakang dengan kasar. Orang itu tiba-tiba menutup mulutnya dengan tangan yang kuat, Chami ingin memberontak tapi dua orang itu malah membawanya dengan cepat dan masuk ke dalam mobil.


"Diam, jika kamu tidak ingin kami berlaku kasar!" ancam laki-laki itu saat ia sudah memasuki Chami ke dalam mobil.


"Lepaskan aku!!" Chami berteriak kencang.


PLAK...


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2