
**Up-nya siang nih soalnya malam banyak yang ganggu π
Selamat Membaca
πΉπΉπΉπ**
Arnold menggendong Chami sampai masuk ke kamar kemudian ia mendudukkan Chami di atas ranjang, Arnold menahan tawa melihat wajah Chami yang memerah. Arnold berjalan ke arah pintu kamar dan menguncinya, sedangkan Chami yang sedang duduk di tepi ranjang sedang menggigit bibirnya pelan karena ia berpikir inilah saatnya memberikan sepenuh cintanya kepada Arnold.
Arnold berjalan kembali mendekati Chami, ia jongkok di hadapan istrinya yang tengah gugup. Arnold mengambil kedua tangan Chami dan mencium kedua punggung tangan istrinya yang putih bergantian.
"Kamu gugup, Sayang?" tanya Arnold yang melihat Chami makin gugup.
Chami menggelengkan kepalanya, ia sedang berpura-pura padahal ia sedang gugup setengah mati, "aku mencintaimu, Suamiku!" Chami menghindari kegugupannya dengan mengucapkan kata cinta kepada Arnold.
Arnold tersenyum, "aku tahu kamu mencintaiku, Sayang. Jadi, apa kamu sudah siap?" Arnold bertanya dulu, ia ingin kesiapan dari istrinya itu.
"Aku akan menjadi istrimu seutuhnya, Sayang." Ucap Chami yakin, ia ingin menyerahkan segala cintanya kepada suaminya itu.
Arnold tersenyum, ia bangkit dan duduk di samping Chami di tepi ranjang. Arnold memegang dagu Chami dan membuat wajah Chami menghadapnya, Chami tersenyum saat melihat Arnold yang memperlakukannya dengan lembut. Arnold mendekatkan wajahnya ke Chami dan ia mengecup bibir Chami pelan lalu melihat ke istrinya lagi, tatapan Arnold membuat Chami berdebar, ia sungguh ingin memiliki Arnold selamanya dan begitu juga Arnold.
"Aku siap, Sayang!" Ucap Chami dengan mantap, ia mengalungkan tangannya ke leher Arnold dan perlahan mendekatkan bibirnya ke Arnold dan Arnold langsung menyambutnya dengan penuh cinta.
Chami memberikan kesuciannya dengan orang yang di cintainya, Arnold benar-benar melakukanya dengan hati-hati dan dengan kasih sayang. Dunia terasa indah saat ini saat mereka tengah memadu kasih. Ini yang di tunggu Arnold ia ingin memiliki Chami seutuhnya mencintai gadis yang ia temui di lampu merah dulu, menyukai Chami saat pandangan pertama, dan sekarang menjadi ratu di hidupnya.
"Ah..." Arnold tumbang di atas badan Chami, ia begitu bahagia karena telah memberikan kenikmatan kepada istrinya, benar kata orang-orang jika inilah kenikmatan dunia sebenarnya apalagi bersama dengan orang yang tercinta.
__ADS_1
"Terimakasih, Sayang!"
***
Gani dan Zira tetap pisah kamar, selama dua bulan ini Gani terus tidur di kamar Chami yang masih berantakan dan tidak pernah di masuki orang lain kecuali dirinya. Kondisi Zira makin parah tidak seperti dulu lagi yang masih mau makan, sekarang ia hanya makan dua hari sekali dan itupun di paksa oleh Chasi. Tubuh Zira kini makin kurus bahkan ia semakin pucat, Zira tidak mau ke rumah sakit sebelum bertemu dengan Chami. Ia menghukum dirinya sendiri dengan penyakit-penyakit yang di buatnya sendiri, sedangkan Gani sejak kejadian itu ia terus bermimpi saat ia menyiksa Chami. Berbeda dengan kenyataan dulu saat ia memukul Chami maka anaknya itu tertawa, sekarang ia bermimpi memukul Chami sampai anaknya itu memohon ampun kepadanya, Chami benar-benar kesakitan di dalam mimpi Gani tetapi Gani tetap menghajar anaknya.
Gani sekarang jarang ke kantor, tetapi perusahaannya di tangani oleh tangan kanannya. Sakti memberhentikan diri dari pekerjaannya karena ingin mencari Chami lagi, ia kaget saat tahu Chami pergi lagi. Bagi Sakti, bekerja dengan orang yang terus menyiksa orang yang di sukainya akan membuatnya terus menahan amarah kepada Gani.
Tok Tok Tok
Gani tersadar dari lamunannya saat pintu kamar Chami di ketuk, ia bangkit dari duduknya dan membuka pintu.
"Papi, kita harus mencari Chami! Kondisi mami sekarang tambah memburuk, Pi!" Kata Chasi langsung tanpa menunggu apa yang hendak Gani katakan.
"Suruh mami mu minum obat!" Gani hendak menutup pintu kembali, ia sungguh bosan mendengar tentang Zira yang sengaja mencari penyakit sendiri.
"Huh, cepatlah ajak mami mu masuk ke dalam mobil papi! Kita akan bertemu dengan Chami segera." Ucap Gani dengan malas.
Chasi kaget mendengar apa yang di katakan Gani, ia tidak menyangka jika ayahnya selama ini mengetahui di mana keberadaan kembarannya. Dengan cepat Chasi berlari menaiki tangga menuju kamar ibunya, ia langsung membuka kamar Zira tanpa mengetuk pintu. Zira yang sedang termenung di atas kasur kaget karena Chasi masuk tiba-tiba.
"Ada apa, Sayang?" tanya Zira pelan, tenggorokannya sakit dan badannya pun sakit-sakit semua.
"Mi, kita harus bersiap-siap sekarang mi. Papi akan mengajak kita bertemu Chami sekarang!" Kata Chasi sambil mengambil jaket untuk Zira agar di pakai ibunya itu.
"Benarkah? tapi darimana papi kamu tahu?" tanya Zira yang ikutan beberes melihat Chasi yang sibuk sendiri.
__ADS_1
"Ayo mi kita pergi sekarang, mami gak sabarkan mau ketemu Chami?" Chasi membantu Zira keluar kamar dan menuruni tangga.
Zira sangat senang saat ingin bertemu Chami, ia tambah bersemangat saat melihat wajah Chasi ia ingin segera bertemu anaknya perempuannya yang satu itu.
Gani sudah menunggu di depan rumah dengan mobilnya, ia melihat Zira yang pucat lalu dengan cepat memalingkan wajahnya saat Zira melihatnya.
"Ayo kita berangkat sekarang!" Gani membukakan pintu untuk istri dan anaknya, ia sengaja tidak menyuruh supir mengantar karena baginya saat ini adalah urusan keluarganya yang tidak perlu di campuri orang lain.
Di mobil semuanya hening, Zira duduk di belakang bersama Chasi. Zira menggenggam tangan Chasi erat karena ia tak sabar bertemu Chami, sedangkan Gani fokus dengan melajukan mobilnya karena ia juga tidak sabar untuk mempertemukan Arnold dengan Chasi ia ingin menunjukkan jika Chasi lebih baik dari Chami.
Mereka sudah sampai di depan rumah Arnold, seperti awal datang Gani menekan bell rumah itu dan tak lama kemudian Beni yang sedang memakai baju santai membukakan pintu.
"Eh... ada pak Gani, ada apa bapak kemari?" tanya Beni melihat tamu yang datang, ia tahu betul siapa Gani pemilik perusahaan dimana bosnya dulu berkerja, Beni juga melihat Chasi ia tau jika Chami mempunyai kembaran jadi ia tidak perlu kaget.
"Dimana Arnold?" tanya Gani tanpa basa-basi, ia tidak suka berbicara dengan orang rendahan seperti Beni. Ayu yang mendengar bell tadi ia juga keluar, Ayu tersenyum melihat siapa yang datang walaupun ia tidak pernah melihat mereka tetapi ia mengetahui siapa mereka, ia ingat yang di katakan Arnold sebelum berangkat ke Australia.
"Maaf pak Gani, bos Arnold sudah kembali ke Australia. Bos memberikan kami rumah ini dan semua hartanya," jawab Beni jujur, Gani menyerngitkan keningnya karena ia baru tahu jika Arnold sudah pergi ke Australia, ia juga tidak mendapatkan kabar dari perusahaan jika Arnold sudah berhenti.
"Maaf pak, tapi bagaimana dengan anak saya, Chami?" tanya Zira karena ia tidak sabar untuk melihat anaknya.
"Mohon maaf Bu, Nona Chami sudah meninggal dua bulan yang lalu makanya bos kami kembali pulang ke negaranya, Australia."
Zira langsung terduduk di lantai nafasnya sesak mendengar kabar jika anaknya sudah meninggal, Chasi tidak percaya dengan apa yang di katakan Beni baginya Chami adalah wanita terkuat yang ia temui. Sedangkan Gani tercengang, anak yang selama ini di siksanya kini sudah meninggal.
"Mami!" Chasi berteriak karena Zira tiba-tiba tak sadarkan diri.
__ADS_1
Bersambung