TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Jangan Istriku


__ADS_3

Chami merasa pipinya sangat sakit karena mendapatkan tamparan keras dari pria itu, sementara pria yang satunya lagi langsung melajukan mobil. Chami memasang wajah marah, dengan cepat ia melayangkan pukulan keras dari kepalan tangannya ke wajah pria itu sampai kepala pria itu termundur ke belakang.


"Wanita sial!!"


Pria itu memukul Chami kembali, kali ini ia memukul tanpa ampun. Bukan hanya sekedar menampar tapi Chami mendapatkan tonjokkan, pria itu memukul wajah Chami sampai berulang kali membuat Chami merasakan amat pusing di kepalanya. Darah segar mengalir dari hidung dan mulutnya, ia merasa wajahnya telah hancur di hantam lelaki itu.


Pria itu tertawa senang saat Chami tak berkutik lagi, baru kali ini ia memukul wanita sampai tak berdaya. Laki-laki itu tidak merasa bersalah, sebab itu memang yang di suruh oleh bosnya.


"Kau hanya wanita sial, jangan berlagak melawan laki-laki yang bukan tandingan mu!" ucap laki-laki itu dengan sombong, setelah itu ia menampar Chami lagi dengan kuat.


Chami hanya dapat melihat pria itu dengan mata yang setengah terbuka, pandangannya kabur dan darah di hidungnya tak berhenti keluar. Chami merasa pusing karena ia mendengar suara-suara yang membuatnya makin kesakitan.


"Kau anak sial, kau itu adalah pelac*r, dasar pembawa sial!!" kata-kata itu terdengar jelas oleh telinga Chami, bahkan membuat ia sangat kesakitan.


Pria itu hanya tertawa melihat Chami yang meremas rambutnya sendiri dan memukul kepalanya sendiri, darah dari hidung tak berhenti untuk keluar bahkan kini sudah membasahi bajunya. Pria yang menyetir mobil makin cepat melajukan mobilnya agar sampai ke tujuan dengan cepat sementara pria yang satunya mengabadikan Chami yang kesakitan dengan memvideokan dengan ponselnya.


Sementara di rumah Gani, Arnold di siram pakai air agar segera bangun. Chariq langsung tertawa keras saat Arnold mulai sadar dari pingsannya. Mereka tepat di ruang tamu, Chariq sengaja meletakkan Arnold di situ agar ia dapat melihat istri tercintanya datang.


"Siapa kau?" tanya Arnold yang sudah mengerjapkan matanya berkali-kali.


"Kau tidak akan mengenaliku, jangan banyak tanya. Kau harus menerima hukuman dariku, brengsek!!"

__ADS_1


Arnold tidak mengerti apa yang di katakan Chariq, ia mengerutkan keningnya. Sampai ia merasakan sakit di punggung belakangnya, Arnold mendapatkan cambukan dari anak buah Chariq.


"Akh.. siapa kau? aku tidak punya urusan denganmu!" kata Arnold menahan sakit di di punggung belakangnya.


"Aku adalah malaikat maut untuk pasangan yang tidak tahu diri, aku akan menyiksamu sampai kau benar-benar menyesal telah membuat kekasih ku pergi jauh."


Arnold menerima cambukan lagi, kali ini makin keras ia sungguh merasa kesakitan. Kaki tangan Arnold di ikat seperti Rendra waktu itu, ia tak dapat kemanapun dan akhirnya ia mendapatkan cambukan lagi.


"Cukup!! aku tidak ada urusan denganmu, jangan membuat ulah, brengsek!!" teriak Arnold sambil meringis.


Chariq melayangkan tinjunya ke wajah Arnold sampai bibir laki-laki itu pecah, ia ingin menghajar Arnold lagi namun di tahannya. Chariq ingin menyakiti suami istri itu bersamaan, ia ingin rumah Gani menjadi saksi kematian orang-orang yang tidak berguna.


Chasi bangun mendengar teriakan orang, ia tidur di kamar bawah makanya ia terdengar. Chasi ingin bangun tapi badannya terlalu sakit, akibat benturan di meja membuat kepalanya sangat sakit.


"Apa yang terjadi di luar? tidak mungkin itu papi, aku tahu dia sudah meninggal. Tapi, kenapa aku merasa ada yang janggal dengan perasaan ku. Chami, kenapa aku memikirkannya? apakah aku yang akan menyusul kembaran ku itu?"


Chasi pusing sendiri sampai ia merasakan kepalanya berdenyut-denyut, ia memilih untuk tidak bergerak kemanapun sampai ia merasa baikkan.


Mobil yang membawa Chami telah sampai ke halaman rumah Gani, Chami di keluarkan dengan paksa. Ia tak kuat berbicara karena badannya begitu lemah, Chami di dorong agar terus berjalan menuju pintu rumah besar itu.


"Kau anak pembawa sial, dasar ********r!!"

__ADS_1


Chami merasakan ada yang berteriak di dalam rumah itu, bukan teriakan Arnold yang di dengarnya. Chami mendengar teriakan suara pria yang tengah memaki seseorang, mata Chami terbuka lebar saat ia memijak beranda rumah Gani. Chami merasakan pernah duduk di situ, di depan pintu itu tapi ia hanya dapat pandangan yang sekilas.


Chami menolak saat hendak masuk ke rumah itu, ia melihat foto keluarga yang terpajang di sana. Ia melihat wajah gadis yang serupa dengannya, saat ia ingin melangkahkan keluar ia malah di dorong masuk ke dalam. Kepala Chami makin sakit karena mendengar suara teriakan demi teriakan dari rumah itu, ia menatap buram di sekitarnya. Sampai akhirnya Chami di dorong maju kedepan, ia melihat punggung pria yang membelakanginya.


"Boss, kami membawanya." Pria yang menculik Chami tadi mengatakannya dengan sombong.


"Beri dia di hadapanku dan pastikan jika suaminya akan menyesali yang terjadi ini," ucap Chariq sambil menyunggingkan senyumnya ke arah Arnold yang sedang tertunduk lemah karena cambukan dari anak buah Chariq.


Chami di dorong dengan kuat sampai ia tersungkur di kaki Arnold dan bersimpuh di sana, ia tak kuat lagi. Kepalanya makin pusing apalagi saat melihat suaminya sudah tak berdaya, Chami merasakan ada gejolak di tubuhnya dan dengan cepat ia memuntahkan darah yang hendak kuat dari tadi di tubuhnya. Arnold membuka matanya melihat darah segar membasahi celana dan bajunya, Chami tengah bersimpuh di pahanya dan tak lama kemudian Chami tumbang.


Chariq yang ingin tertawa karena melihat istri Arnold tumbang langsung terpaku, ia melihat wajah Chami yang sudah bonyok dan bahkan lebam di mana-mana. Darah segar membasahi baju Chami karena muntahan tadi di tambah kuat dari hidung Chami.


"Argggghhhh... Sayaaaaaang!! lepaskan aku brengsek!!" Arnold berusaha melepaskan diri, ia tak laut melihat istrinya berlumuran darah apalagi saat darah istrinya membasahi baju dan celananya. Arnold berusaha melepaskan diri dengan kuat sampai tangannya terluka, ia tak bisa akhirnya ia tumbang di samping Chami. Arnold menangis ketakutan karena ia takut jika Chami pergi meninggalkannya.


"Kau sangat kejam, apa salah kami. Aku tidak mengenalmu, tolong bantu istriku!" Arnold memohon kepada Chariq, ia tak kuat melihat Chami yang tidak bergerak sama sekali.


Badan Chariq seketika langsung lemas, ia melihat Chami dengan gemetaran. Chariq merasa berdosa dan ia merasa amat bodoh karena tidak mengenal Chami dari belakang. Chariq meneteskan air matanya, ia tak kuat bicara sedikitpun.


"Bunuh saja aku, jangan istriku. Dia sudah terlalu menderita, huuuu.... hiks..." Arnold tak kuat, ia bahkan tak mampu untuk memegang tangan Chami.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2