
Arnold tidak lagi menjadikan Chami sebagai pembantu ataupun pekerja untuknya, Chami di jadikannya sebagai nona di rumahnya. Ayu sebenarnya jengkel tetapi apalah daya itu atas perintah Arnold, Beni pun ikut mengiyakan apa yang dikatakan oleh Arnold.
Setelah pulang dari rumah sakit Chami kurang berselera makan ia selalu memperhatikan tangan kirinya yang ada bekas infus, Chami merasa bersalah dengan tangannya sendiri karena tidak sadar jika tangannya di tembus oleh benda yang mematikan menurutnya. Arnold menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Chami yang terus meratapi tangannya.
"Tangan mu itu baik-baik saja Dekil, dia tidak akan lepas jika di tusuk dengan jarum kecil." Chami memandang tajam ke arah Arnold, ia kesal karena Arnold mengatakan itu.
"Kau berbicara apa tadi hah, kau bilang tangan ku tidak akan lepas!! Jika terjadi apa-apa dengan tanganku ini, maka tanganmu yang akan aku korbankan." Chami menunjuk tangan Arnold dengan kesal.
"Huh.. Ayo bangunlah dari tempat tidur, jika lama-lama di situ kau bisa-bisa terbenam di sana!" Arnold berdiri di samping tempat tidur, ia ingin mengajak Chami makan karena hari sudah petang.
"Kau yang akan aku benamkan nanti! Kau kenapa sangat cerewet Super? kau kurang kerjaan hah, sampai-sampai tak habis mengoceh dari tadi." Arnold sangat sebal melihat Chami yang makin menjadi.
"Ayo turun makan dulu! Kau harus makan Dekil jika tidak aku yang akan memakan mu sekarang."
"Apanya yang akan kau makan, daging ku sudah habis semua." Arnold sudah terpancing emosi, tidak ada cara lain yang harus di gunakannya untuk membuat Chami patuh selain dengan cara menggoda.
__ADS_1
"Kau mau benar-benar aku makan hemm...?" Arnold menjilat-jilat bibirnya sendiri membuat Chami geli melihatnya, kemudian Arnold melepaskan kaos hitamnya dan langsung memperlihatkan dada bidang dan perut kotak-kotak membuat Chami menelan ludahnya.
"Kau mau makan atau aku makan, Dekil?" Arnold merangkak naik ke atas tempat tidur membuat Chami langsung melemparkan bantal tepat di wajah Arnold yang tengah menjilat bibir sendiri.
"Kau gila Super? Kau memang Super mesum kelas jalanan! Kau seperti anjing liar di luar sana, ishhh pergi kau pria mesum!!" Sumpah serapah telah di keluarkan Chami, Arnold menutupi wajahnya dengan bantal yang di lempar Chami tadi. Arnold tertawa di balik bantal itu, kata-kata yang keluar dari mulut Chami membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak.
"Dasar Super gila, lama-lama aku tinggal denganmu maka aku juga akan menjadi gila."
"Ada saatnya kau gila nanti karena tergila-gila dengan cintaku." Arnold meletakkan bantal di sampingnya.
"Kita lihat saja nanti, aku yakin kau akan klepek-klepek karena mencintaiku."
Chami melihat wajah Arnold dengan malas tetapi perutnya merasa lapar saat itu, Chami melihat Arnold dengan lekat ia ingin meminta sesuatu tetapi ia takut tidak di beri dan akhirnya ia mencoba itu.
"Super, tolong belikan aku bakso yang seperti kemarin waktu kita makan itu! Aku sangat ingin makan itu sekarang." Chami mengelus perutnya sambil memanyunkan bibirnya agar imut, kata orang-orang laki-laki sangat menyukai wanita yang berperilaku lucu. Katanya!
__ADS_1
Arnold geram melihat Chami yang manja di tambah lagi bibir wanita yang di sukainya di manyun imut, sungguh Arnold ingin segera menikahi Chami.
"Mau makan di sana atau aku suruh Beni membelinya?"
"Aku mau makan di sini dan kau yang membelinya." Chami memanyunkan bibirnya dan ini tambah makin imut di mata Arnold.
"Hm.. baiklah, sesuai permintaanmu aku akan pergi sekarang." Arnold sebenarnya sangat malu dan gengsi karena ia tidak pernah melakukan itu, biasanya ia menyuruh Beni.
"Oke. Aku aku dua bungkus ya?"
"Kau kuat sekali makan!"
"Aku lapar, Super."
Arnold bangkit dari kasur dengan malas dan ia memasang kembali baju kaos hitam tadi dan langsung pergi dari kamar itu menyisakan Chami yang sedang menjulurkan lidahnya dari belakang.
__ADS_1
"Super mesum!"