TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Malaikat Maut


__ADS_3

Pukul 11 Arnold benar-benar bangun, ia sudah merasa puas dengan tidurnya. Arnold langsung ke kamar mandi dan mandi dengan air panas, cuaca sangat dingin membuatnya merasa nyaman mandi dengan air panas. Setelah mandi Arnold segera berpakaian dan turun untuk sarapan, sarapan sekaligus dengan makan siang menurutnya.


Arnold tahu jika hari ini orang tuanya akan pergi ke rumah sakit untuk melihat sepupunya yang melahirkan jadi ia tidak menghiraukan sepinya rumah, Arnold pergi ke dapur dan melihat banyak makanan yang tersaji di atas meja makan. Arnold duduk dan makan dengan lahap karena ia lapar, Arnold merasa ada yang kurang ia melihat di atas meja lalu melihat sekeliling. Arnold baru sadar jika ia tidak melihat istrinya dari tadi, Arnold meninggalkan makanannya dan pergi mencari Chami di sekitar rumah.


"Kemana dia pergi ya?" Arnold mencari keseluruh ruang tapi tidak menemukan Chami, akhirnya ia mengambil handphonenya dan menghubungi Chami tetapi Chami tidak mengangkat teleponnya. Arnold yang gelisah langsung menelpon Angel, ia ingin menanyakan ke ibunya di mana Chami takut istrinya itu pergi bersama orangtuanya tanpa mengabarinya.


"Halo Mom, apa kalian pergi bersama istriku?" tanya Arnold dengan cepat saat Angel mengangkat teleponnya.


"Tidak, Chami tidak ikut kami, memangnya dia tidak ada di rumah?" tanya Angel sambil melihat Zeroun yang duduk di kursi tunggu menunggu keponakannya melahirkan di depan ruang bersalin.


"Dia tidak ada Mom, ya sudah Arnold mau mencari Chami dulu ya." Arnold langsung menutup teleponnya tanpa mendengar apa yang di katakan ibunya lagi, ia khawatir jika Chami keluar rumah. Arnold yakin jika Chami merajuk karena semalam, dengan cepat ia memakai jaket dan keluar rumah untuk mencari istrinya dengan jalan kaki.


***


Chasi berjualan rokok dengan memaksakan diri, jika tidak di awasi Chariq ia ingin segera kabur. Hari sudah mulai sore dan rokok pun masih tersisa banyak di dalam tas yang di berikan Chariq pagi tadi, tangan dan kaki Chasi bergetar karena belum makan. Chasi merasa tenggorokannya sangat kering ia khawatir akan dehidrasi, akhirnya Chasi menuju mobil Chariq yang yang terparkir tidak jauh darinya untuk meminta izin membeli air minum, sebab Chariq tidak mengizinkan Chasi untuk makan dan minum selama bekerja.


Tok Tok Tok


Chasi mengetok kaca pintu mobil Chariq, dengan malas Chariq menurunkan kaca pintu mobilnya dan melihat Chasi dengan malas.


"Kau belum menjual semuanya, pergi sana jualan lagi!" Chariq ingin menutup kaca jendela, tetapi di tahan oleh Chasi dengan cepat.


"Aku haus, apa aku boleh minum?" tanya Chasi dengan suara yang parau.

__ADS_1


"Hahaha... minum saja keringatmu sendiri!" Chasi menutup matanya sekejap, lalu membukanya dan menatap Chariq tajam.


"Terserah kau saja, Sial! Aku sudah capek, aku mau pergi!" Chasi melempar tas yang berisi rokok ke wajah Chariq, ia sangat kesal dan ia tidak peduli lagi jika Chariq membunuhnya saat itu juga karena ia sudah lelah.


"Sial!! Kau berani macam-macam denganku?!" Ucap Chariq dengan geram, ia langsung membuka pintu dengan kasar membuat Chasi terbanting ke belakang dan jatuh akibat pintu mobil yang di buka secara mendadak oleh Chariq.


Chariq melihat Chasi dengan bengis, ia langsung menarik tangan Chasi dan memasukkan Chasi ke dalam mobilnya dengan kasar. Chariq juga langsung masuk ke dalam mobil dan menarik rambut Chasi kuat.


"Kau berani melawanku hah?!" Chariq semakin menarik kuat rambut panjang Chasi, tetapi bukannya menangis kali ini Chasi mencakar-cakar tangan Chariq sampai berdarah.


"Arggh, sialan!" Chariq melepaskan cengkramannya dan melihat tangannya berdarah karena cakaran Chasi dan terasa pedih.


"Belum puas kau menyiksa ku? aku tahu kau mencintai kembaranku, tapi kenapa harus aku yang kau siksa? Dasar brengsek! kau kira aku tidak menyesal dengan kepergian Chami. Jika kau belum puas menyiksaku, kau bisa langsung saja membunuhku. Aku ingin menyusul Chami dan ibuku, aku tahu aku bersalah tapi aku hiks... aku minta maaf, aku sungguh menyayanginya. Aku menyesal pernah melukai hatinya, aku tahu aku yang menginginkan dia mati saat itu, tapi aku benar-benar menyesal sekarang hiks..."


Chasi menangis tersedu-sedu ia bahkan menarik-narik rambutnya sendiri, Chariq terdiam melihat Chasi yang menangis menyesal.


"Diamlah!" Ucap Chariq karena ia tidak ingin mendengarkan itu, ia tahu jika wanitanya selama ini tersiksa dan ia tidak ingin mendengarkan itu lagi.


Chasi melihat Chariq tanpa menghapus air matanya, "bantu aku menyusul Chami dan ibuku, kau mafia kan dan kau terbiasa membunuh. Sekarang aku minta tolong bunuh aku, aku ingin bertemu dengan Chami dan meminta maaf secara langsung." Chasi berkata tanpa jeda, ia benar-benar sudah tidak tahan lagi untuk hidup.


"Jangan mengada-ada, kita akan pulang sekarang!" Chariq ingin menghidupkan mesin mobilnya, tetapi tidak jadi karena Chasi merogoh kantong celananya. Chasi mengambil pistol di kantong celana Chariq, setelah mendapatnya ia langsung menarik pelatuk pistol itu dan mengarahkan ke pelipisnya.


"Kau gila?!" Chariq dengan cepat merebut pistol itu dari tangan Chasi, ia langsung melempar pistol itu ke kursi belakang.

__ADS_1


"Jangan, aku mau mati saja. Aku tahu kau malaikat maut yang di kirim Tuhan untukku, makanya tolong bunuh aku!" Chasi menarik tangan Chariq dan meletakkannya di lehernya agar Chariq mencekiknya.


Chariq melihat Chasi dengan diam, wajah Chasi sudah benar-benar berantakan, air matanya sudah kemana-mana dan membasahi rambutnya dan jatuh ke tangan Chariq. Terasa dingin tangan Chariq akibat tetesan air mata Chasi mengenai tangannya, sedangkan tangan Chasi memegang kuat tangan Chariq agar mencekik lehernya, tetapi Chariq tidak melakukan itu ia malah terfokus dengan air mata Chasi.


"Kau bebas membunuhku, lakukanlah! setelah ini kirim mayat ku ke rumahku. Tolong tuliskan surat kepadanya, bahwa saat ini dan detik ini aku menyesal mempunyai ayah seperti dia!" Chasi menutup matanya dalam, ia baru sadar jika selama ini semuanya salah.


Chariq mendengar semuanya, ia menatap Chasi dalam.


"Tutuplah matamu, dan bersiaplah!" Chasi menurut apa yang di katakan Chariq, ia menarik nafas dan di keluarnya perlahan. Chasi melihat dulu mata Chariq yang tengah memandangnya lekat, perlahan ia menutup matanya dan gelap.


"Selamat datang kematian." Ucap Chasi dalam hati.


Chariq melihat wajah Chasi lama, wanita di depannya sekarang ini benar-benar seperti wanita yang di cintainya.


"Jadilah Chami ku!" Chasi mendengar itu langsung membuka matanya, belum bicara mulutnya sudah di bungkam oleh mulut Chariq.


Chasi mendorong dan memukul-mukul tubuh Chariq yang kekar, ia ingin lepas dari Chariq tetapi badannya yang kecil tak sebanding dengan kekuatan Chariq.


"Jadilah Chami ku, berusahalah untuk menjadi Chami!" Ucap Chariq setelah ia melakukan aksinya.


Chasi menggelengkan kepalanya kuat, ia tidak mau melakukan apa yang di suruh Chariq.


"Aku bukan Chami, jangan suruh aku menjadi Chami!" Tolak Chasi.

__ADS_1


"Kau tidak bisa menolak, jadilah pengganti Chami. Tebuslah dosamu dengan melakukan itu!"


Bersambung


__ADS_2