TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Zira Sudah Tenang


__ADS_3

Setelah sekian lama tidak pulang kerumahnya akhirnya Rendra pulang, tak lupa dengan Carli dan Dira. Rumah itu masih tampak seperti dulu, untung saja tak berdebu karena ada satu pelayan wanita yang di suruh menjaga dan membersihkan rumah. Carli dan Dira langsung masuk ke kamar Carli, sedangkan Rendra juga masuk ke dalam kamarnya.


Rendra masuk dengan senang hati, sebab di dalam kamarnya ada foto Zira yang besar terpampang di dinding saat Zira masih muda, tepatnya saat mereka masih menjalin kasih. Rendra tersenyum sendiri melihat foto Zira, ia tak sabar untuk mengunjungi Zira besok pagi.


Pagi harinya, saat semua orang sibuk dengan hal masing-masing Rendra sibuk dengan bergaya, ia memakai pakaian rapi dan bersih karena ingin menemui Zira. Walaupun tidak muda lagi, namun apalah daya jika cinta masih terus bersemi di hati.


"Walaupun kau menjadi miliknya, tapi hatiku tetap padamu," ucap Rendra di depan kaca, lalu ia tertawa sendiri.


Hari baru menunjukkan pukul delapan lewat, tetapi Rendra sudah berada di depan rumah Gani. Ia menekan bel dan tak lama itu salah satu pelayan membukakan pintu.


"Ada keperluan apa, Pak?" tanya pelayan wanita itu dengan ramah.


"Saya ingin bertemu sahabat saya, Gani. Apa dia ada di rumah?" jawab Rendra dengan senyuman yang menawan dan ramah, namun di dalam hatinya sangat bertolak belakang.


Pelayan itu diam sejenak, ada keraguan di wajahnya lalu ia menjawab, "Tuan Gani ada, tapi rasanya saat ini beliau tidak bisa di ganggu, Pak."


"Bilang saja jika Rendra datang, pasti dia akan senang." Suasana hati Rendra makin tidak senang, ia celingukan melihat ke dalam rumah mencari keberadaan Zira.


"Baiklah, tunggu di sini sebentar ya, saya akan kembali lagi nanti," ucap pelayan itu, ia langsung menutup pintu membuat Rendra menggertakkan giginya.


"Sial!" umpat Rendra kesal.


Pelayan wanita itu dengan hati-hati mengetuk pintu kamar Chami, pagi ini Gani memang tidak berteriak mungkin tuannya belum bangun tidur, pikir para pelayan di rumah itu.


Tok Tok Tok


"Permisi Tuan, ada yang mencari Tuan. Katanya dia sahabat Tuan, namanya Rendra. Apa Tuan mau bertemu dengannya atau saya suruh dia pulang, Tuan?" tanya pelayan itu dari balik pintu.

__ADS_1


Ceklek


Gani keluar dengan wajah yang agak segar, walaupun jauh dari kondisi yang dulu.


"Suruh dia masuk, beri minum dan makanan untuknya!" jawab Gani dengan datar, ia langsung berjalan naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Sebelum masuk Gani memejamkan matanya cukup lama, kamar itu adalah kamarnya dengan Zira. Namun sejak Zira sakit bahkan sampai istrinya itu meninggal ia tak pernah memijakkan kakinya di kamar Zira, Gani bingung harus bilang apa nanti dengan Rendra jika istrinya sudah meninggal. Gani tahu jika Rendra mantan kekasih istrinya bahkan mereka berteman dengan baik, Gani membuka matanya dan membuka pintu kamarnya dengan gemetar.


Semua memori tentang mereka terulang kembali, kebahagiaan dulu saat mereka berdua memadu kasih di ingatnya dengan jelas. Gani berjalan gontai memasuki menuju tempat tidur, ia duduk dengan tak bersemangat di atas tempat tidur. Tepat di hadapannya, Gani melihat foto pengantinnya, foto itu saat cinta benar-benar menyatu dan adalah hari bahagia buat mereka. Gani ingat betul saat mengetahui jika Zira hamil, ia sampai berjingkrak senang dan memeluk istrinya erat. Gani tambah bahagia saat tahu jika Zira mengandung anak kembar, anak kembar perempuan. Sayangnya, kabar buruk datang saat anak mereka Chami dan Chasi berumur tujuh tahun, Rendra mengabarkan suatu kebohongan yang di percayai Gani.


Gani hancur mendengar itu, tapi semuanya karena uang. Uang lebih penting dalam hidup Gani, ia rela menyakiti anaknya demi kekuasaan dan kebahagiaannya. Kebangkrutannya saat itu membuat ia benar-benar menyiksa Chami, setelah anak menjadi korban semua harta dan tahta kembali lagi ke tempat asalnya. Perusahaan Gani makin meningkat saat ia terus menyakiti anaknya yang malang, Gani makin serakah, namun ia melupakan kebenaran jika anaknya, Chami terluka. Chami meratapi dirinya bertahun-tahun, iri dengan kebahagiaan orang lain dan begitu benci dengan nasibnya sendiri. Chami menjadi anak yang tak penurut, anak yang nakal di depan orangtuanya. Gani benar-benar menganggap Chami pembawa sial, hanya Chasi yang menjadi anak kesayangannya.


Gani menganggap dirinya adalah raja, ialah pemilik istananya bahkan tak boleh ada yang menganggunya. Gani tak merasa bersalah mendengar jika Chami meninggal, sebab dialah raja. Sang penguasa keluarganya. Menurutnya, jika raja bersalah maka tidak ada yang berani menghukum raja, begitulah dia. Gani diam saat Zira pergi, pergi jauh tak kembali, bahkan dirinya yang di anggap raja tak becus mengurus keluarganya sendiri.


Gani tertawa sendiri di dalam kamar, ia bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Mandi dengan air dingin untuk menyegarkan diri, mengingat masa lalu yang tak terulang kembali. Membayangkan anak kesayangannya yang di gauli laki-laki, hidupnya hancur, tapi dialah sang penguasa raja di rumah itu bahkan hanya dia sendiri yang tersisa.


"Apa kabar, Tuan Gani?" tanya Rendra setelah melepas pelukan, ia menyembunyikan kebenciannya di dalam hati.


"Tentu baik, kau apa kabar?" tanya Gani kembali, tentu saja ia berbesar hati saat di panggil Tuan oleh Rendra.


"Aku baik," jawab Rendra sambil kembali duduk di sofa tempat di dudukinya tadi.


Gani duduk di depan Rendra, ia menyilangkan kaki dan menatap Rendra angkuh. Rendra hanya menyunggingkan senyumnya saja, ia merasa begitu jijik melihat sikap Gani yang sok berkuasa.


"Apa kau sudah mendapatkan wanita?" tanya Gani sambil tertawa.


"Wanita apanya, aku mana ada kepikiran seperti itu,"

__ADS_1


"Hahaha.. aku kira kau sudah mendapatkannya,"


"Aku akan mendapatkannya sebentar lagi, mendapatkan Zira," ucap Rendra dalam hati.


"Tidak, oh iya apa perusahaanmu makin berkembang, sepertinya iya." Rendra minum kembali teh yang di suguhkan.


"Aku tidak perlu mengurusnya, ada anak buahku yang mengurus. Aku tidak bekerja untuk uang, tapi uanglah yang bekerja untukku." Gani menepuk dadanya, ia bangga dengan dirinya sendiri.


"Hahaha... kau memang yang terbaik, setelah menyiksa anakmu kau masih bisa berbangga diri!" ucap Rendra menyinggung, padahal semua terjadi karena ulahnya.


"Anakku sudah meninggal dan pemakamannya saja aku tak tahu hahaha," Gani tertawa keras, sedangakan Rendra melototkan matanya mendengar itu.


"Kau membunuhnya?" tanya Rendra dengan cepat, ia sangat ingin tahu.


"Mana mungkin, dia mati sendiri. Aku tidak tahu apa-apa," Gani mengangkat bahunya.


"Pasti Zira bersedih, jadi bagaimana keadaan Zira sekarang?" Rendra makin ingin tahu, kekasih hatinya itu pasti sangat bersedih, pikirnya.


"Dia sudah tenang, bahkan dia sangat bahagia saat ini," Gani menyunggingkan senyumnya.


"Apa dia setenang engkau? mana mungkin Zira seperti itu," Rendra tidak percaya yang di katakan Gani, ia tahu betul jika ibu pasti bersedih kalau anaknya meninggal.


"Zira sudah tengah, di juga sudah meninggal!"


"APA?!"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2