
Di rumah sakit semuanya hanya terdiam, bahkan Arnold pun yang penuh dengan darah di pakaiannya hanya diam menunduk. Tak jauh dari situ ada Chariq yang juga sedang duduk melihat ke depan dengan tatapan kosong, Arnorld sama sekali tidak menghiraukan Chariq. Bukannya Arnold tidak ingin bertengkar, tapi ia lebih fokus untuk mendoakan Chami.
Sudah 2 jam mereka menunggu, tapi dokter belum juga keluar dari UGD. Tak lama itu, Angel dan Zeroun tergesa-gesa datang ke rumah sakit. Mereka sangat mengkhawatirkan menantunya, mendapat kabar dari Arnold tadi membuat mereka langsung datang ke rumah sakit.
"Sayang, katakan sama Mom dan Dad. Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa menantuku sampai masuk rumah sakit? astaga Arnold kenapa kamu berlumuran darah begini?" tanya Angel panik, ia menangis melihat anaknya yang penuh dengan luka di sekujur tubuh.
"Tenanglah Mom, aku tidak apa-apa." Arnold menjawab dengan malas.
"Bagaimana Mommy kamu bisa tenang, kamu lihat seluruh tubuh mu penuh dengan darah. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Zeroun yang mulai hendak marah.
"Arnold hanya terluka sedikit, ini semua darah Chami. Arnold minta maaf, Arnold tidak mampu menjaga istri Arnold hiks... hiks..." Arnold memeluk paha Angel yang tengah berdiri di depannya, kali ini ia sungguh lemah.
"Tenanglah, Nak. Menantu Mom itu sangat kuat, Mom tau jika Chami adalah wanita yang terkuat." Angel mencoba menenangkan.
"Dimana kembaran ku?" tiba-tiba Chasi datang dengan keadaan yang gontai, ia di beritahu semuanya oleh Surti tentang kejadian tadi. Chasi berjalan mendekati Chariq dan menangis bersujud di kaki Chariq.
"Kenapa? kenapa kau melakukan itu kepadanya? aku bahagia karena tahu jika kembaran ku masih hidup, tapi kenapa kau tega melakukannya? Aku saja, kau bisa menghukum ku sekarang dan berbuatlah sesukamu. Kau bilang mencintainya, tapi kenapa kau begitu jahat kepadanya? Siksa saja aku, kau bisa menyiksaku setiap hari sampai kau puas." Chasi mengambil tangan Chariq, ia memberi pisau lipat yang di bawanya dari rumah.
__ADS_1
"Kau bisa menyayat kulitku secara perlahan, aku bersedia untuk itu. Kau bisa menyiksaku tanpa ampun mulai sekarang, tapi aku mohon jangan siksa kembaran ku. Dia dari kecil sudah menderita, kenapa harus menderita lagi sekarang. Lukai aku cepat, kau sangat ingin melihat darah kan, jadi ayo cepat lakukan!!"
Srett..
Chasi menangis, ia ingin melukai dirinya sendiri tapi di hadang oleh Chariq dengan tangannya. Telapak tangan Chariq kini terluka menahan pisau agar tidak melukai Chasi. Chariq sudah menyakiti Chami ia tidak ingin menyakiti Chasi, baginya sudah cukup tindakan konyolnya itu.
"Kenapa? kenapa kau begitu tega?"
Chasi membiarkan tetesan darah dari tangan Chariq yang terluka, ia menangis merutuki dirinya karena tidak keluar kamar saat ada orang yang berteriak tadi.
"Maafkan aku," ucap Chariq lirih.
Ceklek...
Semua mata memandang ke arah pintu UGD yang terbuka, Arnold langsung berdiri begitu pula dengan Chariq. Mereka kira dokter yang akan keluar, tapi suster lah yang keluar. Suster itu nampak tergesa-gesa keluar, tak lama itu ia kembali lagi dengan membawa dua kantung darah. Arnold merasa jantungnya hendak berhenti saat itu juga, ia tahu jika dokter bersusah payah di dalam sana. Tak lama itu yang membuatnya makin panik dan juga yang lainnya panik adalah beberapa suster masuk ke dalam UGD, mereka tampak cepat sekali membuat Arnold tidak dapat melihat istrinya yang terbaring di dalam.
"Bertahanlah, aku tahu kamu kuat, Istriku. Aku tahu kamu wanita hebat, maafkan aku yang pernah melukai hati dan perasaanmu. Aku mohon bertahanlah, demi apapun bertahanlah. Istriku, jika kau pergi maka aku juga akan pergi. Aku akan mengikuti mu kemanapun kau pergi, biarpun itu untuk selamanya."
__ADS_1
Arnold tertunduk sambil meneteskan air matanya, ia tak kuat saat ini. Arnold ingin merengkuh Chami yang terbaring di sana, ia melihat Chariq dengan kebencian. Tapi baginya saat ini bukan salah Chariq, tapi salah dirinya karena tidak dapat menjaga Chami dengan baik.
Arnold berjalan mendekati Chariq, ia melihat Chasi masih menangis di bawah kaki Chariq. Sementara Angel dan Zeroun hanya melihat anaknya saja.
"Aku tidak tahu apa salah kami, jika kami bersalah maka maafkan kami. Aku mendengar jika kau menyukai istriku tadi, tapi kenapa kau menyakitinya? mungkin kau tidak tahu jika aku merekayasa semua tentang kematian Chami, aku hanya tidak ingin ayahnya melukainya lagi. Chami sedang lupa ingatan saat ini, aku tidak tahu dia bisa bertahan atau tidak." Arnold mengatakan itu sambil mengeluarkan air matanya, sedangkan Chariq yang mendengar itu hanya terpaku.
"Aku tidak mengenalmu, tapi jika kau mencintai istriku maka kau pasti mengetahui bagaimana Chami di perlakukan oleh keluarganya sendiri. Aku bertemunya di lampu merah, saat itu ia tampak bersemangat berjualan rokok seperti tidak ada beban di hidupnya. Aku membawanya pulang karena aku menyukainya sejak pertemuan pertama itu, semuanya berlalu dengan sangat cepat sampai aku menemukan Chami terkapar bersimbah darah di dapur. Aku takut jika terjadi apa-apa dengan gadis itu, aku makin sakit saat mengetahui jika Chami mendapatkan kekerasan fisik selama hidupnya dan itu mengganggu psikologisnya. Tapi tidak apa-apa, jika Chami pergi saat ini juga pasti sakit yang di deritanya akan berakhir, bukan?" Arnold menggigit bibirnya kuat, ia tak tahan lagi sat itu juga.
"Tidak! Chami tidak akan meninggal, aku tak bisa lagi kehilangan kembaran ku. Tolong, tolong beri yang terbaik untuknya. Aku adalah saudara terburuk yang ia miliki, aku akan mendonorkan semua yang ada di tubuhku jika ia memerlukannya. Kau bisa mengambil jantungku, ambillah dan berikan kepada kembaran ku itu. Mohon katakan padanya, seribu maaf pun tak akan mampu menghapus dosaku kepadanya. Maafkan aku Chami hikss..."
Chariq memegang pundak Chasi, ia dengan cepat duduk di lantai dan langsung memeluk Chasi.
"Maafkan aku, kau bisa membunuhku sekarang juga. Aku memang lelaki terburuk, aku memang tak pantas mendapatkan siapapun termasuk dirimu. Bunuh saja aku Chasi, jangan maafkan aku biarlah aku berdosa atas apa yang sedang aku lakukan ini." Chariq berbicara sambil memeluk Chasi, sedangkan wanita itu terus menangis apalagi saat Chariq mengatakan itu.
"Aww.. perutku sakit."
Chariq langsung melepaskan pelukannya, ia melihat Chasi yang menganggap perutnya dengan kuat karena menahan kesakitan.
__ADS_1
"Kau tidak apa-apa, Sayang?" tanya Chariq dengan panik.
Bersambung