
"Super, tolong keluarkan aku dari sini cepat. Aku mohon Super, aku takut di rumah sakit."
Pagi-pagi Arnold sudah terbangun ia langsung mencuci muka di kamar mandi, saat keluar ia kaget melihat Chami sudah duduk dan merengek minta pulang. Chami mengeluarkan air matanya saat tahu jika tangannya di infus, ia sangat takut dengan jarum dan ia langsung menangis saat tahu jika jarum telah menusuk tangannya.
"Bagaimana keadaan mu dekil? Bagian mana yang sakit? Bagaimana dengan hidungmu? Bagaimana..." Arnold mendekati Chami, ia sungguh khawatir dengan keadaan wanita yang di cintainya.
"Berisik Super, tolong lepaskan ini dari tubuhku aku sangat takut. Super ayo kita pergi dari sini, aku baik-baik saja sekarang." Chami takut melihat selang infus berada di tangannya, Chami ingin mencabutnya tetapi ia terlalu takut untuk melakukan itu.
"Tenanglah, aku panggilkan dokter dulu ya?"
"Jangan Super, aku takut dengan dokter. Cepat bantu aku keluar dari sini." Chami melihat ke arah pintu masuk, ia sangat takut jika dokter tiba-tiba datang dan menancapkan jarum di tubuhnya.
Ceklek
Chami ingin meraung saat ada pria berjas putih masuk ke ruangan itu, dokter itu tersenyum devil menurut Chami. Chami langsung memeluk Arnold meminta perlindungan, dia benar sungguh takut dengan jarum dan dokter menurutnya itulah malaikat maut.
__ADS_1
"Selamat pagi, nona Chami." Sapa dokter Irwan.
"Super, ayo kita pergi dari sini aku sungguh takut." Chami memeluk Arnold sangat erat.
"Saya akan memeriksa kondisi Anda pagi ini nona."
"Tidak!!! Aku mau pergi, cepat lepaskan selang ini dari tanganku!" Chami tetap memeluk Arnold dengan kuat membuat lelaki itu sesak nafas.
"Dekil, aku susah bernafas tolong lepaskan aku sebentar." Chami langsung melepaskan pelukannya, Chami menangis membuat Arnold panik.
"Baiklah, jika itu mau Anda nona tetapi jika Anda memiliki keluhan Anda bisa segera datang ke sini atau Anda bisa memanggil saya untuk datang ke rumah Anda."
"Tidak, saya tidak sakit apapun. Ayo Super kita keluar dari sini sekarang."
Dokter Irwan menuruti permintaan Chami sebab ia takut jika masalah psikologi Chami bertambah karena ia takut dengan jarum, Arnold dengan sabar membantu memegang Chami yang meraung histeris saat selang infus di lepaskan.
__ADS_1
***
Zira dan Gani tidak bertegur sapa, Chasi bingung melihat orangtuanya yang tidak biasa pagi ini.
"Sarapannya cuma roti mi?" Tanya Chasi saat melihat yang di sajikan di atas meja hanya roti tawar dan beberapa selai.
"Kita tidak tahu apakah Chami sudah makan atau belum, jadi makanlah seadanya ini." Zira mengoleskan selai nanas di rotinya, ia melihat Gani dengan malas dan langsung melahap rotinya dengan kesal.
Gani pagi ini hanya diam dan tak mengeluarkan suara sedikitpun, ia terkenang saat Arnold mengatakan jika Chami masuk rumah sakit. Entah kenapa malam itu saat ia tidur di kamar Chami yang telah di rusaknya ia bermimpi tentang keluarganya saat Chami masih kecil, semua berjalan dengan jelas seperti kaset. Gani ingat dengan jelas perbincangan dia dan Chami kecil, "Jika raja bersalah, siapa yang akan menghukum raja?" sampai detik ini pun ia tidak tahu jawaban itu, jika ia bersalah siapa yang akan menghukumnya.
Gani pergi meninggalkan meja makan, ia berjalan dengan kesunyian. Zira yang melihatnya malas sedangkan Chasi melihatnya dengan bingung. Gani berjalan hendak ke teras rumah hendak melihat halaman rumahnya, sebelum itu langkahnya terhenti saat melihat poto keluarga yang terpajang di dinding ruang tamu. Poto mereka bertiga, Gani, Zira dan Chasi yang tengah tersenyum.
"Jika raja bersalah, siapa yang akan menghukumnya?" Gumam Gani.
πΊπΊπΊπΊπΊ
__ADS_1
πππ