
🌺Selamat Membaca🌺
Keberangkatan pagi dari Canberra, Australia membuat Arnold, Chami, Angel dan Zeroun baru sampai siang ini di Jakarta. Mereka sedang dalam perjalanan menuju rumah baru, Beni menjemput Arnold dan Chami, sedangkan Angel dan Zeroun di jemput oleh Tino supir baru mereka. Di dalam mobil Chami terus bersandar di samping Arnold karena merasa tidak enak badan, tiba-tiba saja Chami merasa aneh dengan perasaannya. Arnold menyuruh Chami istirahat di dalam mobil, ia tahu mengapa istrinya merasa begitu. Arnold mendapat kabar bahwa Gani meninggal di bunuh oleh Chasi, sesampai di rumah baru nanti Arnold akan ke rumah Gani untuk melihatnya secara langsung.
"Sampai di rumah nanti kamu langsung tidur ya, mungkin gara-gara naik pesawat jadi kamu kurang enak badan." Arnold mengatakannya sambil mengusap rambut Chami.
"Tapi kok beda ya?" tanya Chami yang masih tak mengerti dengan perasaannya.
"Mungkin kamu lapar kali, biasanya kan kalau lapar pasti badan jadi lemas,"
"Mana mungkin, aku tidak lapar. Mm.. lapar sih, tapi cuma sedikit."
"Tuh kan, apa kita cari makan dulu baru sampai rumah?"
"Nggak mau ah, aku mau tidur dulu. Nanti bangunin ya kalo sudah sampai!"
"Siap, istriku."
Arnold merasa lega jika Chami mengatakan lapar tadi, ia tidak ingin perasaan Chami itu bisa mengingatnya tentang semua masalahku Chami. Arnold melihat Chami memejamkan mata, ia mengusap kepala istrinya dengan sayang.
"Orangtuamu sudah meninggal, apa aku harus mempertemukanmu dengan Chasi. Tidak, aku takut saat kalian bertemu kamu akan mengingat semuanya. Tapi, aku merasa berdosa menutupi semuanya, aku tidak ingin kamu menyalahkanku nanti saat kamu ingat semuanya. Entah itu kapan!" Arnold merasa resah dalam hatinya.
Setengah jam dalam perjalanan akhirnya Arnold sampai di perumahan elite. Arnold sebenarnya tidak mau tinggal di perumahan, namun apalah daya jika Angel dan Zeroun yang menginginkan itu jadi Arnold menyetujuinya.
__ADS_1
Angel dan Zeroun sampai terlebih dahulu, kemudian di susul Arnold dan Chami. Arnold mendesah berat saat melihat rumah itu, ia kecewa karena rumah itu jauh lebih kecil di banding rumahnya yang di berikan kepada Beni. Arnold mengendong Chami keluar karena tidak ingin membangunkan istrinya, Angel dan Zeroun hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anak laki-lakinya itu.
"Romantis sekali kalian!" puji Angel melihat Arnold mengendong Chami, mendengar itu dengan cepat Zeroun merangkul pinggang Angel.
"Awas dong Mom, Dad. Arnold mau bawa Chami kedalam dulu, dia gak enak badan." Arnold sedikit kesal karena orangtuanya berdiri menghadang jalannya.
Melihat Arnold terburu-buru dengan cepat Zeroun membukakan pintu untuk mereka, Angel yang mendengar Chami tak enak badan langsung ikut menyusul.
Arnold memasang wajah masam saat melihat kamar mereka, ia berdecak kesal karena kamar itu kecil dan pasti akan mengecewakan untuk Chami. Arnold ingat betul saat Chami menyukai kamarnya yang dulu, ia membaringkan Chami di atas tempat tidur. Arnold langsung memasang wajah tak suka saat Zeroun dan Angel masuk ke dalam kamarnya yang baru itu.
"Ada apa kamu melihat kami begitu?" tanya Angel yang tak mengerti dengan raut wajah anaknya.
"Mom, Dad. Rumah ini sangat kecil, lagian lihat kamar ini jauh lebih kecil dari kamar ku sebelumnya. Apa kata istriku jika bangun nanti, pokoknya aku akan mencari rumah baru nanti."
"Tapi, Nak. Rumah ini cukup besar untuk kalian berdua!" kali ini Zeroun yang berbicara.
"Tidak, Dad. Chami akan hamil nanti dan kami akan memiliki banyak anak, mana mungkin kami harus tinggal di rumah sekecil ini. Lagian kolam berenangnya juga kecil, ishh... pasti Chami tidak akan suka di sini!" Arnold berbicara dengan kesal, ia mendorong orangtuanya pelan keluar kamar karena takut menganggu tidur istrinya.
"Kalau mau rumah yang besar Dad akan kasih, tapi untuk sementara tinggallah di sini dulu. Kamu itu harus sukses dulu baru ingin ini ingin itu, jangan nyusahin orangtua. Mom dan Dad nggak masalah kamu minta ini itu, tapi kami mohon dewasalah dan urus perusahaan yang baru ini dengan baik. Belajarlah untuk bertanggungjawab!" Zeroun berbicara panjang lebar agar anaknya itu mengerti, Angel mendukung apa yang di katakan suaminya karena itu memang untuk kebaikan Arnold.
"Hmm... Arnold akan urus semuanya, tapi beri kami rumah yang jauh lebih besar dari ini. Mom, Dad ini juga demi cucu kalian nanti, apa kalian gak malu jika cucu-cucu kalian tinggal di rumah kecil ini?"
Angel dan Zeroun kompak menggelengkan kepala mereka, Arnold memutar bola matanya tak suka.
__ADS_1
"Baiklah, rumah yang besar akan tiba jika Chami hamil. Tapi, setelah rumah di beri kami mohon agar kamu bisa menjadi orang yang bertanggungjawab untuk perusahaan nanti." Zeroun mengatakan itu karena ia ingin Arnold benar-benar bertanggungjawab atas perusahaan baru yang dia buat di Indonesia, sebenarnya Zeroun tidak percaya dengan anaknya sendiri sebab Arnold pernah membakar dapur restoran saat ia benar-benar ingin menjadi chef.
"Soal itu tenang saja, Arnold akan memiliki anak yang banyak nanti. Kami akan membuatnya setiap malam, soal perusahaan pasti akan aman di tangan Arnold." Arnold mengucapkannya sambil menepuk dada berbangga diri, ia akan membuat Chami segera hamil dan menjadi ayah yang perkasa. Begitulah pikiran Arnold, soal perusahaan ia akan tetap memprioritaskan juga.
"Kalau yang begituan paling lancar, sudah dua bulan lebih nikah tapi belum hamil-hamil juga. Kamu tidak akan menjadi laki-laki sejati jika istrimu tidak hamil, jangan banyak gaya dong!" kali ini Angel yang bicara, Arnold hanya cuek bebek mendengarnya. Mungkin orangtuanya tidak tahu jika Chami selalu hampir pingsan di buat kelakuannya malam-malam.
"Sssttt... istriku itu selalu hampir pingsan akibat permainan ku, sebaiknya kalian istirahat. Arnorld mau belikan sesuatu dulu untuk Chami. Bye!"
Arnold langsung berlalu, ia meninggalkan Angel dan Zeroun yang sedang menatap punggung belakangnya.
"Honey, ayo kita ke kamar! suamimu yang tercinta ini akan membuatmu hampir pingsan nanti," ucap Zeroun mengedipkan sebelah matanya.
"Sudah tua sok-sokan mau membuat sampai pingsan, pinggang yang encok ada mungkin!"
Angel berlalu meninggalkan Zeroun yang menyunggingkan senyumnya, ia tahu jika Angel sudah bertingkah seperti itu maka hal itu akan terjadi.
"Honey, kamu menginginkannya kan?" Zeroun berjalan menyusul Angel, ia mencolek pinggang Angel untuk menggoda istrinya.
"Aduh lelahnya, enak istirahat nih." Angel berjalan di depan Zeroun, ia senyum-senyum sendiri saat Zeroun mulai menggodanya.
"Iya, yuk kita istirahat. Istirahat setelah pertempuran."
Bersambung
__ADS_1