
Sungguh pandangan itu membuat Chami sakit, harapannya kalah dari realita. Chami berjalan menuju kedua orangtuanya dan dengan cepat Zira memeluk anaknya, Gani dan Chasi hanya melihat kemudian dengan terpaksa Chasi juga ikut memeluk Chami saat Zira melepaskan pelukannya.
"Mami sangat merindukanmu sayang, kamu baik-baik saja kan?" Chasi mundur ke samping Gani dan Zira memegang tangan Chami yang meminta jawaban.
Kepala Chami pengap, air matanya ingin jatuh tetapi ia tahan dan dadanya terasa sesak. Tatapan Gani membuatnya sakit, tatapan ayah yang membenci kepada anak perempuannya. Chami ingin menggapai Gani, memeluk sang ayah dengan kasih. Kemudian perkataan Gani makin membuatnya sakit, Chami ingin pergi dan tidak akan kembali tetapi harapan mendapat kasih sayang dari sang ayah membuatnya bertahan.
"Dia tidak akan menjawab dan ayo kita masuk, dia sudah terbiasa di jalanan dan akan menjadi anak jalanan." Gani masuk ke rumah dan di susul dengan Chasi.
Chami mematung melihat punggung Gani dan Chasi, bibirnya bergetar menahan sakit. Chami menghempas tangan Zira yang memegangnya dan langsung berlari masuk ke kamarnya di bagian dapur sama dengan kamarnya di rumah Arnold, tetapi kamar itu jauh lebih besar dan barang-barangnya lebih lengkap karena Zira yang mengisinya.
__ADS_1
Gani meletakkan Chami di kamar dekat dapur karena ia tidak ingin di ganggu, jika terus melihat Chami membuat kebenciannya meningkat. Kamar tidur Chasi di lantai atas di samping kamar Gani dan Zira dan fasilitasnya jauh berbeda dengan kamar Chami.
Zira memandang Chami yang berlari masuk ke dalam rumah dengan sedih, Gani telah membuatnya kecewa. Ia pikir setelah Gani mengatakan tidak terlalu menyakiti Chami dia akan berubah nyatanya tidak perbuatannya sama saja hanya tidak atau belum memukul Chami.
Chami masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci kamarnya, ia telah kembali ke dalam duka lama. Chami menangis pilu di dalam kamar itu, tatapan kebencian Gani selalu membuatnya sakit seperti mendarah daging. Ayah yang selalu ia inginkan, kasih sayang yang selalu ia damba hanya bisa ia lihat saat Gani memberikan kepada Chasi. Chami menangis meratapi sakit, ia ingin pergi dari dunia ini tetapi ia tak mampu ia belum mampu pergi tanpa kebahagiaan.
Chami menangis sesenggukan di dalam kamar, Zira mendengar semuanya ia sangat sakit mendengar anak gadisnya menangis. Chami baru mendengar Chami menangis seperti itu, hatinya sungguh merasa hancur. Dulu saat Gani memukul Chami sungguh ia tak pernah melihat Chami menangis, ia selalu melihat Chami tertawa saat di pukul. Gani menambah pukulannya karena mendengar tawa Chami, dan tawa itu makin besar. Chami menangis di dalam hati, perasaannya sudah hancur dan mereka tidak tahu yang Gani dan Zira tahu Chami adalah anak kurang ajar.
Zira bersandar di balik pintu kamar Chami ia menangis dalam diam, ia menyembunyikan tangisnya agar tidak di dengar orang. Zira merasa gagal menjadi ibu dan ia salah terlalu mengejar harta dan salah satu anak gadisnya menjadi korban, Zira mengutuki dirinya sendiri ia ingin memberitahu Gani untuk tidak lagi serakah dengan uang ia juga ingin bahagia tanpa beban di hati Chami.
__ADS_1
***
Arnold kembali ke rumahnya, ia merasa kesepian bahkan sangat sepi. Arnold masuk ke dalam kamar Chami, ia berbaring di ruangan panas itu.
"Aku akan menikahimu Chasi, kau akan menjadi milikku. Aku berjanji."
🌺Maaf jika banyak typo, selamat membaca jangan lupa like, coment, vote dan ⭐5 🌺
Bagaimana perasaan kalian, aku nulisnya nangis 😁
__ADS_1