
"Kau mau makan apa Dekil?" Arnold merasa lapar ia pun yakin jika Chami juga merasa lapar.
"Aku tidak tahu Super, aku tidak berselera makan." Chami teringat film yang di tontonnya tadi, anak perempuan itu di pukul saat sedang makan. Sama seperti kisahnya saat ia menjatuhkan sendok saat makan dan Gani langsung memukulnya, Chami selalu di pukul saat melakukan kesalahan sedikit saja.
"Perutmu harus di isi, kau hanya makan pagi tadi."
"Tapi..."
"Jangan membantah, ikuti saja perintahku!"
"Hmm baiklah."
"Mungkin kau tidak tahu Super, aku sudah terbiasa lapar dari aku kecil. Sampai saat ini pun aku terbiasa lapar, terimakasih sudah menerimaku menjadi pembantu mu." Ucap Chami dalam hati.
Arnold menepikan mobilnya untuk membeli sate karena itu yang di inginkan Chami, waktu menjual rokok Chami suka sekali mencium aroma saat orang membakar sate. Setiap rokoknya habis terjual pasti Chami mentraktir anak-anak jalanan lainnya untuk berbagi makanan, jadi Chami tidak pernah memegang uang karena habis untuk makan anak-anak jalanan.
"Kak Caca." Pekik anak kecil laki-laki yang sangat lusuh dan berpakaian compang-camping, anak itu takut-takut melihat Chami tetapi ia tetap mendekati Chami karena ia begitu merindukan sosok kakak baginya.
"Ikbal. Hai aku merindukanmu." Chami memeluk Ikbal dengan amat rindu walaupun anak itu sangat bau tetapi Chami sudah terbiasa bersama Ikbal dan anak-anak jalanan lainnya.
"Hey jangan asal peluk aja, sana pergi!" Arnold melihat Ikbal dengan jijik, Chami langsung menatap tajam ke arah Arnold.
"Kenapa kau begitu kasar, Super? Jika kau tidak menyukainya tolong diam saja, kau bisa menyinggung perasaannya." Ikbal menatap takut ke arah Arnold, Chami sadar akan itu langsung ia mengalihkan wajah Ikbal agar tetap memandangnya.
__ADS_1
"Kak Caca." Panggil Ikbal dengan suara serak-seraknya seperti tidak minum beberapa hari.
"Iya sayang." Chami merapikan rambut Ikbal yang berkeringat, Arnold melihat Chami yang bersikap lembut terhadap anak kecil itu langsung luluh.
"Kak Caca kok kemarin jahat sama Ikbal dan Ipang sih?" Chami menyerngitkan keningnya tidak mengerti apa yang di katakan Ikbal, Arnold ikut menyimak.
"Kemarin? Tapi kakak gak bertemu kalian berdua deh."
"Astaga dia pasti Chasi," Chami menoleh ke arah Arnold yang terus memandangnya.
"Sepertinya kakak gak keluar rumah deh, kamu salah orang mungkin." Ikbal mengangguk cepat karena ia melihat Chami memberi kode lewat kedipan mata.
"Ikbal sudah makan belum? Kita makan sate yuk biar kakak yang traktir, kakak ada banyak uang semuanya tiga juta. Banyak kan?" Chami menepuk tas sandang kecil yang dipakainya, yaitu tas pemberian Arnold saat mereka berbelanja di mall.
"Wah... benarkah kak? tapi uang kakak banyak sekali, penampilan kakak pun berbeda sekarang. Kakak sudah menikah dengan om ini?" Tanya Ikbal yang berumur 10 tahun itu, ia melihat banyak perubahan dari penampilan Chami apalagi saat Chami keluar dari dalam mobil tadi.
"Eh sudahlah, ayo kita makan kakak sangat lapar." Chami menuntun tangan Ikbal masuk ke dalam warung sate pinggir jalan itu, ia memesan dua porsi untuknya, dua porsi untuk Ikbal dan satu porsi untuk Arnold.
"Kau ini makan banyak sekali?" Arnold melihat porsi makan Chami, ia ingat saat makan pagi tadi Chami juga banyak makan.
"Aku sudah terbiasa lapar, dan aku ingin banyak makan." Chami langsung menyantap makanannya begitu juga dengan Ikbal, mereka berdua sangat kelaparan sedangkan Arnold yang melihat mereka makan seperti itu tiba-tiba sakit perut.
"Dekil dimana toilet di sini? Aku tiba-tiba sakit perut." Arnold memegang perutnya yang tiba-tiba sakit.
__ADS_1
"Mana ada di sini toilet, kau cari saja toilet umum di sekitar sini. Dekat depan persimpangan sana ada tuh." Chami menunjuk ke arah persimpangan jalan dan langsung di angguki Arnold.
"Baiklah aku pergi ke sana dulu."
"Iya pergilah." Chami dan Ikbal tertawa melihat Arnold yang berlari cepat menuju mobil, Arnold seperti orang yang tidak tahan menahan buang air jadi itulah yang di tertawakan Chami dan Ikbal.
"Ayo kita makan yang banyak."
"Siap. Ayo kak."
Lima belas menit sudah bahkan sate milik Arnold pun di habiskan Chami dan Ikbal karena Arnold belum kunjung datang juga.
"Ikbal suka?"
"Suka kak." Ikbal mengelus perutnya yang kekenyangan.
Chami mengeluarkan uang di tas kecilnya, ia mengeluarkan uang satu juta dan memberikannya kepada Ikbal.
"Simpan dengan baik uang ini, dan ajaklah yang lain makan ya. Maaf ya kakak tidak bisa bersama kalian karena kakak sudah bekerja dengan om tadi, Ikbal untuk masalah kemarin kakak minta maaf ya soalnya yang kamu temui itu pasti kembaran kakak. Tapi tolong rahasiakan ini dari siapapun oke." Ikbal menerima uang itu dan masukkan nya di dalam kantong celananya dengan baik, Ikbal mengangguk mengerti ia baru tahu bahwa Chami mempunyai kembaran.
"Chami."
"Bang Sakti."
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊ
Selamat Membaca maaf jika banyak typo, jangan lupa like dan coment ya serta vote jika suka dengan ceritanya. Jangan lupa kasih rate 5 ya, karena rate ku turun jadi 3,.. π