
Rendra sangat kaget mendengar itu, wanita yang di cintai seumur hidupnya kini sudah meninggal dan dia tidak tahu kapan Zira meninggal. Rendra memasang wajah marah ke Gani yang sedang menyunggingkan senyum kepadanya.
"Kau bercanda kan? kau pasti berbohong kan?" tanya Rendra masih tak percaya dengan apa yang di katakan Gani tadi.
"Aku tidak berbohong, mana mungkin aku berbohong tentang kematian istriku sendiri," jawab Gani santai.
"Sial! aku bertanya sekali lagi, kau berbohong kan? dimana Zira sekarang?!" tanya Rendra, kini dengan suara yang keras.
Rendra berdiri ia menunjuk Gani dengan nyalang, Gani mengerutkan keningnya melihat Rendra yang tiba-tiba marah setelah mendengar kematian istrinya.
"Ada apa denganmu? Zira sudah meninggal dan tak akan kembali lagi,"
Rendra dengan nafas ngos-ngosan dan mata sudah memerah ia begitu ingin membunuh Gani saat itu juga.
"Kau pria sial! Kau membunuh istri dan anakmu, kau biadab Gani!"
"Apa maksudmu membunuh? mereka mati begitu saja tanpa aku tembak atau aku tusuk."
"Setelah ini kau lah yang akan menyusul mereka! Baguslah dulu aku mengatakan kebohongan, aku suka jika kau menyakiti anakmu yang tak berdosa itu, sayangnya Zira tak dapat ku miliki dan kau harus menyusulnya,"
"Apa maksudmu kebohongan? kau mengatakan kebohongan apa? kenapa aku harus menyusul Zira? aku harus menjaga hartaku ini agar tidak ada siapapun yang mengambilnya."
"Hahaha, harta apa? kau menikmati ini semua atas penderitaan anakmu. Kau tahu, aku mencintai Zira, aku ingin merebut Zira. Aku ingin keluargamu hancur, aku membohongi pikiranmu yang bodoh itu. Aku berbohong tentang Chami pembawa sial, kau ayah yang terkutuk dan kau suami biadab. Aku akan membunuhmu sekarang juga, kau harus mati di tanganku!"
__ADS_1
Rendra sudah berapi-api, dengan cepat ia mengambil cangkir teh yang di minumnya tadi dan melemparkannya tepat di kening depan Gani. Gani merasakan sakit di keningnya, ia tengah termenung memutar kembali memori penyiksaan ya terhadap Chami, anaknya yang tak bersalah. Gani melihat jika keningnya mengeluarkan banyak darah, bahkan darah mengalir deras menyusuri hidung dan menetes ke lantai.
Gani marah, ia langsung mengambil pot bunga kaca dan melempar tepat di depan wajah Rendra. Pipi Rendra terluka, dengan cepat ia sudah berada di depan Gani dan menghantamkan satu pukulan yang keras di pipi Gani. Gani juga membalas, kini sudah terjadi baku hantam sampai para pelayan wanita berteriak kencang, tak lama itu anak buah Gani langsung memisahkan mereka yang kini sudah babak belur.
"Ikat dia! bakar dia hidup-hidup di belakang rumah! aku ingin lihat langsung dia mati, menyusul istriku hahaha..." Gani tertawa keras, walaupun wajahnya sakit-sakit dan babak belur tapi ia masih bisa tertawa dengan keras.
Kedua anak buah Gani kaget atas perintah Tuannya, mereka sedang memegang Rendra dengan kuat karena Rendra terus memberontak.
"Tuan, apa yang Anda perintahkan itu benar?" tanya salah satu anak buahnya yang sedang memegang Rendra.
"Laksanakan, Sekarang!" teriak Gani, anak buahnya langsung menganggukkan kepala mengikuti perintah.
Baik, Bos." Jawab merek kompak.
"Lepaskan aku Gani! kau tidak bisa membunuhku, aku yang akan membunuhmu nanti. Lepaskan aku!!"
Para pelayan menutup mulut mereka rapat, mereka takut, tuan mereka kini makin kejam. Gani melihat para pelayan dengan tatapan tajam, membuat para pelayan langsung tegang karena takut menjadi sasaran kemarahan Gani.
"Tutup mulut kalian! Jika ada yang bersuara sedikitpun maka kalian yang akan aku bakar!" kata Gani lantang, para pelayan langsung menggelengkan kepala cepat.
Rendra mengamuk di halaman belakang rumah Gani, ia di ikat dengan kencang oleh anak buah Gani. Mulut Rendra di plaster agar tidak berisik, badannya pun di siram dengan bensin. Rendra mengamuk tetapi tak dapat bergerak karena ia juga di ikat di kursi, setelah berusaha dengan kuat ia hanya dapat menjatuhkan kursi dan dirinya ke tanah.
Gani yang baru datang dengan wajah yang sudah bersih dari darah, walaupun wajahnya babak belur tapi ia sangat senang melihat Rendra yang tersiksa.
__ADS_1
"Siram lagi bensin ketubuhnya, aku ingin ia benar-benar hangus!" Gani berkata dengan keras, ia langsung tertawa saat Rendra memberontak dan menatapnya marah.
Anak buah Gani menyiram bensin kembali ke tubuh Rendra, mereka sebenarnya tidak ingin mengikuti perintah Tuannya, tapi karena tidak ingin menjadi seperti Rendra jadi mereka pun menurut.
Gani menyuruh anak buahnya menjauh dari Rendra, dia sudah memegang korek api. Gani menyeringai melihatkan korek api itu di depan Rendra, Gani mundur sedikit kemudian ia menghidupkan api.
"Selamat tinggal, Pembohong!" setelah berucap Gani langsung membakar Rendra hidup-hidup, dia tertawa saat tubuh Rendra kini sudah di lahap dengan api.
"Dengar semua, aku tidak suka pembohong. Jika kalian ada yang berbohong, maka kalian yang akan seperti dia," ucap Gani dan menunjuk ke arah Rendra yang begitu menyedihkan.
Para pelayan mengintai dari kejauhan, mereka menangis dan ketakutan. Tak ada yang berani bersuara sedikitpun. Melihat tuannya yang tertawa keras membuat mereka perlahan masuk ke dalam rumah, mereka takut ketahuan.
"Apa kita harus berhenti dari sini?" tanya salah satu pelayan.
Mereka semua sudah lama bekerja di rumah Gani, mereka tahu jika Gani terus menyakiti Chami tapi setelah melihat Gani membunuh orang dengan cara di bakar membuat mereka takut dan ingin pergi dari rumah besar itu.
"Jangan, jika kita pergi maka kita yang akan mati. Kita harus pura-pura tidak tahu saja masalah ini, jika kita terus membahasnya maka nyawa kita akan benar-benar melayang," Surti menjawab dengan cepat, ia takut jika terdengar oleh Gani.
Semua pelayan mengangguk, mereka tidak ingin mati sia-sia dan mereka memilih untuk bungkam.
Rendra yang malang kini hangus di bakar api, ia benar-benar menyusul Zira menuju keabadian. Gani tertawa keras, tawanya seperti jeritan kesakitan di telinga anak buahnya. Gani tidak sadar jika ada dua orang yang merekam semua aksinya secara diam-diam satu orang wanita dan satu orang pria. Setelah semuanya selesai mereka melapor kepada bosnya masing-masing.
"Rendra sudah mati, dia di bakar hidup-hidup oleh Gani. Saya akan mengirim videonya untuk Anda, Bos." Wanita itu langsung mengirim video yang di rekamnya tadi kepada orang yang di teleponnya. Setelah tugasnya selesai, ia kembali ke dalam rumah.
__ADS_1
"Saya mau lapor, ada satu laki-laki di ikat dan di bakar. Saya tidak mengenalnya, jika saya sudah mendapatkan informasi, saya akan segera memberitahu kepada Anda. Saya juga sudah merekam video pembakaran itu, secepatnya saya akan kirimkan pada Anda," ucap laki-laki itu di balik telepon, ia langsung kembali ke halaman depan untuk bekerja saat Gani sudah membalikkan badan dan hendak masuk rumah.
Bersambung