
Sakti sedang menyusuri jalan sekiranya ia bisa menemukan Chami, ia memilih memakai motor agar memudahkan perjalanan. Sakti celingukan sana sini ia menatap kiri kanan jalan dengan teliti agar dapat menemukan Chami, matanya tertuju dengan warung sate yang berada di pinggir jalan. Sakti langsung memutar haluan dan menyebrang dengan menyalip kendaraan yang lain dengan cepat dan tanpa rasa takut, ia melihat Chami tengah memberi uang kepada anak kecil dan berpenampilan lusuh. Walaupun Chami dan Chasi kembar Sakti tetap bisa membedakan mereka karena ia suka dengan Chami dan tak ada wanita yang lain yang di sukainya.
"Chami." Panggil Sakti saat ia telah masuk ke dalam warung tersebut.
"Bang Sakti." Chami kaget dan ia langsung berdiri dan memeluk Sakti karena ia sangat merindukan Sakti yang sudah di anggapnya sebagai kakak laki-lakinya sendiri.
Jantung Sakti berdetak kencang akibat Chami memeluknya bahkan secara tiba-tiba, bau harum dari rambut Chami membuat ia melayang merasakan cinta yang teramat tinggi.
"Abang apa kabar?" Chami melepaskan pelukannya dan melihat wajah Sakti yang memerah seperti tomat.
"A..bang baik-baik saja, kamu apa kabar?" Sumpah demi apapun Sakti begitu grogi tubuhnya terasa lemas karena pelukan Chami tadi.
"Syukurlah kalau Abang baik-baik saja, aku sangat baik bang jangan mengkhawatirkan aku.
Bagaimana keadaan mami dan papi?" Chami sungguh rindu dengan orang tuanya.
__ADS_1
"Tuan dan Nyonya baik, Cham pulang ya ke rumah. Tuan dan Nyonya memerintahkan kami untuk mencari kamu." Chami sangat senang mendengar itu dan ia langsung melompat-lompat karena bahagianya, Chami merasa orang tuanya akan berubah dan akan menyayanginya seperti ia masih kecil saat Rendra belum datang merubah semuanya.
"Jadi kamu maukan kembali?" Sakti senang tetapi saat melihat Chami yang sangat gembira mendengar kabar itu langsung bersedih saat mengingat perlakuan Gani kepada Chami.
"Aku mau lah, aku tak sabar untuk berjumpa dengan mami dan papi." Chami membayangkan bagaimana nanti saat ia kembali kerumah, Gani yang menyambutnya dengan senang dan maminya yang langsung memeluknya dengan bahagia.
"Kalau begitu ayo kita pulang." Sakti memegang tangan Chami tetapi langsung di lepas Chami.
"Kenapa?"
"Aku mau pamit dengan Ikbal dulu, tunggu ya!" Chami menghampiri Ikbal yang yang sedang memperhatikannya.
"Kakak pamit ya."
Ikbal menatap Chami yang tengah berboncengan dengan Sakti dan berlalu dari pandangannya, ia segera membayar makanan yang di makannya bersama Chami tadi dan saat mendapatkan kembalian Arnold baru kembali dari perginya.
__ADS_1
"Hai bocil, dimana Chami?" Arnold melihat sekeliling ia tidak menemukan Chami.
"Kak Caca sudah pergi om." Ikbal melindungi uang di dalam kantongnya agar tidak di ambil Arnold.
"Kemana dia pergi? dan kenapa kau bertingkah seperti itu?" Arnold pikir Chami hanya pergi sebentar dan ia bingung dengan tingkah Ikbal yang melindungi kantong celananya.
"Dia pergi bersama om-om juga, tidak apa-apa aku pergi dulu om." Ikbal langsung berlari meninggalkan Arnold yang benar-benar merasa bingung, ia langsung sadar jika Ikbal mengatakan Chami pergi bersama om-om tadi.
"Siapa om-om? Apa Chasi sudah kembali ke rumah Pak Gani?" Arnold meremas kepalanya, ia sungguh bingung harus apa. Arnold ingin ke rumah Gani tetapi di urungkannya karena ia ingin berbicara dengan Gani secara langsung besok di kantor.
***
Motor yang di bawa Sakti memasuki halaman rumah Gani yang besar, sebelum itu sekuriti yang membuka pagar tampak senang saat Chami sudah pulang. Motor Sakti berhenti di depan beranda rumah dan Chami dengan senang hati turun dari motor tersebut.
"Cham." Sakti melepaskan helmnya, Chami menoleh ke arah Sakti ia tersenyum dengan senang karena akan kembali ke rumah itu lagi.
__ADS_1
Pintu rumah itu terbuka lebar Gani, Zira dan Chasi berada di pintu. Chami sangat bahagia karena ia pikir orangtuanya menyambut kedatangannya, tetapi wajahnya murung saat melihat Gani yang menatapnya tak suka bahkan juga dengan Chasi.
πΊπΊπΊ