TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Tetangga Sebelah


__ADS_3

Chami tidak keluar kamar sama sekali sejak sore kemarin padahal hari sudah pukul sepuluh pagi, Zira mengetok pintu kamar Chami sejak pagi tetapi hanya kata nanti yang di jawab Chami. Chami mengurung diri ia menyembunyikan wajahnya yang bengkak, Chami tidak ingin ada yang tahu jika ia menangis biarlah ia mengurung diri dan di katakan pemalas tetapi jangan sampai orang mengetahui jika ia tengah bersedih.


Chasi yang hendak ke dapur mengambil air putih hanya menoleh malas ke arah kamar Chami, ia begitu tidak suka dengan kembarannya itu. Sebelum ia mendapatkan Carli ia tidak ingin memaafkan Chami, Zira yang berada di dapur melihat Chasi datang langsung tersenyum ia sedang memantau jikalau pintu kamar Chami terbuka.


"Mami kenapa duduk di sini?" Chasi mengambil cangkir dan menuangkan air yang tersedia di teko.


"Mami nungguin Chami keluar sayang, kamu pujuk dong Chami biar mau keluar." Chasi yang sedang meminum air sungguh kesal mendengar itu, dia menggangguk setelah mendengar itu dan itu terpaksa baginya.


"Baiklah Chasi akan mencoba." Zira senang mendengar itu ia yakin jika Chasi bisa membujuk Chami keluar.


Chasi dengan malas mengetok pintu kamar Chami, tetapi ia tetap melakukannya karena Zira memperhatikannya dari dapur.

__ADS_1


"Cham, ini aku Chasi." Chami yang sedang merenung di depan jendela langsung sadar saat mendengarkan suara kembarannya. Chami bangkit dan berjalan untuk membuka pintu, wajah Chami sudah tidak membengkak lagi dengan itu ia akan percaya diri untuk bertemu dengan orang lain.


"Ada apa chas?" Tanya Chami dengan lembut, Chasi melihat wajah Chami dengan malas. Tanpa menjawab Chasi langsung masuk ke dalam kamar Chami. Chasi duduk ditempat tidur Chami dan langsung bersedekap dada. Chami menghela nafas melihat tingkah laku Chasi.


"Kenapa kau kembali lagi? " Tanya Chasi tidak suka, ia sangat benci melihat wajah Chami dan pasti akan teringat dengan cari lagi.


"Kau tidak menyukai jika aku pulang? "Chami memilih duduk di samping dekat Chasi tetapi Chasi malah berdiri karena tidak sudi berdekatan dengan Chami.


"Kenapa kau menginginkan kematian ku Chasi? aku sangat menyayangimu Chasi. Kau adalah kembaranku, kau adalah sahabatku dan kau adalah saudaraku segalanya untukku. Kenapa kau tega mengatakan itu?" Hidup bersama dan memiliki wajah yang hampir sama, Chami sungguh tak sanggup mendengar itu. Kembarannya dengan tega mengatakan jika dia lebih baik mati saja. Chasi sedikit tersentuh mendengar perkataan Chami tadi tetapi rasa cintanya jauh lebih besar untuk Carli.


"Kau harus pergi!! Aku tidak ingin kau di sini pergi saja jauh sana, Aku mencintai kak Carli lebih dari apapun tetapi dia menyukaimu. Kau sungguh tega, aku tidak ingin melihatmu! Aku mencintai kak Carli tapi kenapa dia mencintaimu kau sungguh tega Chami kau adalah kembaranku tetapi kenapa kau membuatku sakit aku tidak ingin kau ada di dunia ini. Kau hanya mengganggu perasaanku saja kau hancurkan cintaku." Chasi menangis ia sungguh tidak tahan jika tidak mendapatkan cinta Carli, Chami sungguh bingung dengan apa yang di katakan Chasi ia merasa tidak asing dengan nama Carli tetapi ia sungguh lupa siapa pria itu.

__ADS_1


"Siapa Carli? Apa aku mengenalnya?" Chasi menghapus air matanya ia menatap Chami dengan bingung, "Apa Chami tidak mengenal kak Carli." Pikir Chasi.


"Kau tidak mengenalnya?" Tanya Chasi bersungguh-sungguh.


"Ntahlah, mungkin aku lupa." Chami mengangkatkan kedua bahunya seraya menggelengkan kepala.


"Kak Carli tetangga sebelah, anak Om Rendra. Apa kau benar-benar lupa?" Chami baru ingat, ia sungguh lupa karena ia sangat jarang bergaul dengan tetangga sebelah tidak seperti Chasi yang sedari SMP suka bermain di rumah Rendra.


"Oh.. aku baru ingat tetapi aku rasa aku hanya beberapa kali melihatnya dan itupun terakhir waktu SMP." Chasi mencari kebohongan dari mata Chami tetapi ia tidak menemukan itu.


"Jadi kenapa dia menyukai mu?"

__ADS_1


"Mana aku tahu."


__ADS_2