TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Masam


__ADS_3

Hening di dalam kamar itu saat Chami sudah terlelap, sedangkan Arnold sibuk menatap Chami dengan tangisnya. Ia menangis tanpa suara, hatinya begitu pedih mendengar apa yang di katakan istrinya tadi. Ia mengira malam itu Chami akan menjual harga diri, tapi kenyataannya berbeda. Ia benar-benar menyesal karena telah menampar pipi istrinya yang lembut itu, Arnod melihat pipi Chami yang putih hanya dapat menangis. Ia ingin merengkuh istrinya dan tak akan melepaskannya lagi, ia merasa berdosa telah menyakiti wanita yang begitu ia damba dulu. Arnold merasa sangat bodoh, ia telah mengingkari janjinya saat di atas altar dulu, berjanji untuk selalu setia dan menyayangi istrinya. Nyatanya, ia telah memberikan bibirnya kepada wanita lain dan ia telah melukai hati dan perasaan Chami.


"Aku memang tak pantas untukmu, Sayang. Namun, aku tak bisa hidup tanpamu," gumam Arnold sambil menelusuri wajah Chami dengan pandangan matanya.


Memegang tangan Chami dengan lembut, ia kaget saat merasakan dinginnya tangan istrinya. Tangan Arnold beranjak ke kening dan pipi Chami, semuanya terasa dingin. Ia khawatir jika istrinya kenapa-kenapa, tapi saat mendengar Chami tidur dengan dengkuran halus ia agak tenang.


"Apa kamu memang tidak kuat dingin?" Arnold menutup matanya, ia ingat betul jika Chami akan nyatakan jika dia tidak kuat dingin.


"Jika kita pulang ke Indonesia aku khawatir sayang, aku khawatir jika kamu akan kembali dengan ingatanmu dan itu akan membahayakan dirimu sendiri."


Arnold diam melihat Chami tertidur, kata-kata Chami tadi saat ia berpura-pura pingsan sangat di dengarnya dengan baik. Arnold tahu betul siapa Rendra, Chami pernah memberitahu perihal itu saat Rendra yang memberitahu kebohongan yang tidak masuk akal.


"Akan aku beri pelajaran kau Rendra, malam ini kau pulang ke Indonesia kan? maka aku akan mencaritahu semuanya, aku akan memberikan kau pelajaran yang sangat berarti. Lewat identitas mu akan aku hancurkan kau tanpa ampun!" Arnold benar-benar ingin membalas perbuatan Rendra, karena dialah Chami dan keluarganya hancur. Tak lupa pula Arnold akan menghancurkan kedua orang yang telah membuat istrinya tersiksa, Gani dan Rendra.


Chami merasakan ada yang menyentuh tangannya, ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Arnold kaget saat Chami hendak bangun, ia mengutuk dirinya karena terlalu berisik. Arnold langsung pura-pura tidur, Chami duduk dengan wajah yang kusut. Padahal baru sebentar tidur, tapi sudah bangun lagi. Chami melihat ke arah Arnold yang pura-pura tidur, ia mendekat dan mengecup dahi Arnold sebentar, kemudian berbisik.


"Cepat sembuh, Sayang."


Dalam hati Arnold ia ingin sekali menerkam istrinya saat itu juga, tapi ia mencoba bertahan agar terus di manja dan di sayang dengan Chami. Arnold merasakan ada pergerakan di kasur, dan tangan sebelah kanannya di angkat dan di letakkan ke samping atas. Arnold ingin mengintai apa yang di kerjakan istrinya, tapi tiba-tiba ia merasa istrinya meletakkan kepala di lengannya dan berbaring memeluknya.


"Oh.. istriku yang manis," ucap Arnold dalam hati.


Saat Chami mengendus ketiak Arnold ia terbatuk dan langsung menutup hidung.


"Huekkk... masam," Chami kembali duduk ia kesal dengan Arnold yang bau.


"Busuk, dasar bau! jangan-jangan dari kemarin gak mandi, ihhh dasar jorok." Chami menutup lagi lengan Arnold dan di letakkan di atas dada dengan cukup kasar.

__ADS_1


"Apa aku begitu bau? perasaan walaupun tidak mandi pasti aku tidak bau, apa aku benar-benar bau?" tanya Arnold dalam hati.


Karena Arnold merasa tidak terima dengan bau badannya akhirnya ia memilih untuk bangun, Arnold mengerjapkan matanya beberapa kali agar istrinya percaya. Ia melihat Chami yang tengah duduk di sampingnya dan tengah memandang kakinya yang panjang.


"Ada apa dengan dia?" gumam Arnold pelan.


"Umhh... aww...," Arnold meringis memegang perutnya, Chami langsung menoleh melihat Arnold yang pura-pura kesakitan.


"Kamu sudah bangun? apa begitu sangat sakit?" tanya Chami hati-hati, ia menyentuh perut Arnold pelan.


"Aw... ini sakit sekali, aku tidak kuat sayang," Arnold memegang tangan Chami yang di atas perutnya dan menggenggam erat tangan Chami seolah-olah begitu merasakan kesakitan.


"Apa perlu di panggil dokter? apa perlu di bawa ke rumah sakit?" tanya Chami panik.


"Aww... sayang, aku tidak kuat," Arnold makin meringis, sedangkan Chami makin gelisah dan panik.


"Jangan sayang, suamimu ini minta maaf. Mungkin ini yang terakhir, aku benar-benar minta maaf sayang soal itu, Akhh....," Chami kaget melihat Arnold yang tak sadarkan diri, ia memeriksa hidung Arnold tapi ia tidak merasakan jika Arnold bernafas karena Arnold menahan nafas. Tubuh Chami merasakan getaran yang hebat, ia pikir suaminya akan meninggalkannya selamanya.


"Tidaaaaakkk, bangun huuu... jangan tinggalkan aku haaa... ini tidak lucu Arnold, bangunlah hikss..."


Chami menangis histeris di atas tubuh Arnold, sungguh Arnold ingin tertawa terbahak-bahak tapi ia di tahannya. Chami merasakan kepalanya pengap, air matanya tetap meluncur bahkan juga dengan air hidungnya. Chami memegang kepalanya yang sakit, Chami tak kuat ia malah tumbang di atas Arnold. Arnold langsung membuka mata ia kaget saat Chami pingsan, dengan cepat Arnold duduk dan membaringkan Chami yang tak sadarkan diri, bahkan air matanya masih membasahi pipi.


"Sayang," Arnold menepuk pipi Chami pelan.


"Sayang, bangunlah ini tidak lucu hey...,"


"Astaga, dia benar-benar pingsan."

__ADS_1


***


Rendra marah-marah di rumah, ia dengan brutal memporak-porandakan isi rumahnya. Rendra marah karena Chami tidak ada di rumah, bahkan jejak Chami sekalipun tidak di ketahui.


"Brengsek! Sial!" sumpah serapah di keluarkan Rendra, padahal tujuannya sedikit lagi, namun akan gagal karena telah kehilangan Chami.


Dira berdiam diri di kamar bersama Carli, ia tidak ingin mendekati Rendra karena takut dengan bayi di perutnya.


"Apa papa sudah tidak akan waras lagi?" tanya Carli tanpa melihat Dira, ia fokus dengan game onlinenya.


"Mungkin saja, entah bagaimana nanti kiranya jika dia benar-benar gila," jawab Dira sambil sibuk dengan kukunya.


Mereka tak menghiraukan Rendra yang berteriak seperti orang gila, mereka tahu jika Rendra mempunyai ambisi dan keinginan yang begitu kelewatan.


"Malam ini jadi pulang ke Indonesia?" tanya Carli.


"Hmm, ingat setelah lahiran nikahkan aku!" jawab Dira memperingatkan.


"Hmm... istirahatlah dulu, nanti malam kita akan berangkat."


"Iya,"


Barang-barang hancur di buat Rendra, matanya memerah karena amarah.


"Sialan, jika ini tidak bisa aku harus membunuh Gani. Hanya itu jalan keluarnya, aku akan memiliki mu sayang. Zira ku.... hahahaha."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2