TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Tidak bisa jauh darimu


__ADS_3

Chariq berjalan kembali mendekati Chasi, ia memegang bahu Chasi dan mengecup kening Chasi lembut. Tak lupa Chariq juga membelai perut Chasi yang masih rata, mendapatkan dua anak sekaligus membuat Chariq sangat bahagia.


"Aku mencintaimu, Chasi. Menikahlah denganku!" ucap Chariq lembut dan mengecup kening Chasi kembali.


Chasi memejamkan matanya, ia merasa nyaman mendapatkan perlakuan itu. Dengan perlahan ia membalikkan badan menghadap Chariq yang tersenyum kepadanya, Chasi hanya berwajah datar.


"Maafkan aku!" ucap Chariq lirih, ia merasa sangat bersalah.


Chasi hanya memandang wajah Chariq, setiap inci dari wajah itu di perhatikannya. Sampai ia jatuh ke bibir tipis Chariq, dengan perlahan Chasi mengangkat tangannya dan menyentuh bibir itu dengan telunjuknya. Chariq memejamkan mata mendapatkan sentuhan itu, ia resapi sampai ia mengatur nafasnya dengan teratur. Tak cukup di bibir tangan Chasi berjalan menyelusuri pipi Chariq yang di tumbuhi bulu-bulu pendek di rahangnya. Chariq mengambil tangan itu dan menyesap dalam tangan Chasi dengan sayang.


"Aku bingung!"


Chasi menarik kembali tangannya setelah mengucapkan itu, Chariq langsung membuka matanya dan melihat Chasi yang melihatnya dengan tatapan yang tidak di mengerti.


"Kamu sedang gundah?" tanya Chariq sambil membelai rambut Chasi, mendengar pertanyaan itu Chasi hanya mengangguk.


Chariq menggigit bibirnya pelan, kemudian menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Chami masih hidupkan?" Chasi mengeluarkan air matanya setelah bertanya itu.


"Aku belum mendapatkan kabar."


Chasi makin menangis, ia segera duduk dan hendak beranjak dari ranjang namun ia di tahan oleh Chariq.


"Tenanglah dulu,"


Chariq memegang bahu Chasi namun dengan cepat di tepis, Chasi ingin menemui Chami dan ingin melihat langsung kondisi Chami sekarang. Chasi terus memberontak sampai Chariq harus sedikit kasar kepadanya, Chariq membaringkan Chasi dengan cara paksa. Saat Chasi mulai hendak bicara dengan cepat ia ******* bibir itu, karena Chasi masih terus memberontak tangan Chariq mulai menjelajahi tubuh Chasi. Chariq melakukan itu sampai Chasi melemah dan ia baru menyudahinya, nafas Chasi terengah-engah begitupun dengan Chariq.


Cukup lama diam akhirnya Chariq membuka suara.


"Tenanglah dulu, kamu sedang hamil dan tolong jangan memaksakan diri. Aku akan mencari tahu nanti perihal keadaan Chami."


"Aku baik-baik saja, aku hanya ingin melihat kembaran ku. Aku ingin tahu keadaannya sekarang, aku ingin menemaninya. Apa aku salah?"


"Kamu tidak salah, tapi fisik kamu sedang lemah. Ingat, kamu ini sedang hamil. Chasi, tenanglah dulu aku yakin dia tidak kenapa-kenapa. Kalau begitu kamu tunggu di sini sebentar, aku mau cari tahu keadaannya dulu."


Chasi mengangguk, ia ingin segera tahu keadaan Chami. Sedangkan Chariq ia masih enggan untuk berjauhan dengan Chasi, ia merasa bodoh karena ******* bibir Chasi yang terluka itu.


"Kamu tidak apa-apa kan aku tinggal sendiri?" tanya Chariq, sebenarnya ia yang tak yakin.


"Iya!"


Chariq mendesah pelan, kakinya terasa berat untuk melangkah ke luar. Ia masih setia menatap mata Chasi.


"Aku tidak bisa pergi."


"Kenapa?" tanya Chasi mengkerutkan dahinya.


"Aku tak bisa jauh darimu."


"Pfffttt..."

__ADS_1


Chariq tersenyum malu, tapi jujur ia benar-benar ingin terus berdekatan dengan Chasi.


Tok Tok Tok


Chasi dan Chariq kompak melihat pintu, dengan cepat Chariq membukanya. Chariq melihat ada Angel dan Zeroun di depan pintu.


"Ada apa?" tanya Chariq menaikkan satu alisnya.


Zeroun melihat Chariq tak suka, ia melihat ke dalam dan melihat Chasi yang sedang memperhatikan mereka. Chariq melihat kedua orang tua Arnold yang sedang melihat Chasi.


"Maaf, istri saya tidak bisa di ganggu." Chariq mengatakannya sambil memegang handle pintu bersiap untuk menutup pintu.


"Ada apa, Om dan Tante kemari?" tanya Chasi membuka suara, ia sangat kesal dengan Chariq yang tidak bersikap baik dengan mereka.


"Kami hanya mau melihat keadaan kamu," jawab Angel sambil tersenyum ramah.


"Masuklah!" Chariq mempersilahkan Angel dan Zeroun masuk setelah melihat Chasi yang menatapnya tajam.


Angel dan Zeroun masuk dan berjalan mendekati Chasi, Angel tersenyum karena melihat Chasi yang begitu mirip dengan menantunya.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Angel lembut.


"Saya baik-baik saja Tante, cuma saya baru tahu jika saya hamil jadi saya agak terkejut sedikit."


"Kamu juga hamil?" tanya Zeroun.


"Iya saya hamil, di perkirakan masih baru beberapa hari."


"Kenapa kalian begitu kompak, Chami juga sedang hamil beberapa hari." Angel menjawab sambil melihat perut Chasi yang datar.


Chariq makin merasa bersalah, bisa-bisanya ia menyakiti Chami yang sedang mengandung.


"Syukurlah Chami sekarang sudah melewati masa kritis, apa kamu masih merasakan sakit di perut mu?" tanya Angel lagi karena ia melihat Chasi yang begitu kesakitan tadi.


"Sekarang tidak lagi, syukurlah jika Chami tidak apa-apa. Maafkan saya ya, saya tidak bisa menjaga kembaran saya dengan baik." kata Chasi yang penuh rasa bersalah.


"Tenanglah, Nak. Semua sudah terjadi, jangan pikirkan macam-macam yang penting kandungan mu baik-baik saja."


"Terimakasih, Tante. Maaf merepotkan sampai kalian harus kemari."


"Tidak apa-apa, kami hanya ingin melihat keadaanmu saja. Sebaiknya kamu istirahat dulu, kami akan keluar dan melihat menantu kami dulu."


Chasi tersenyum dan menganggukkan kepala, ia senang melihat Angel dan Zeroun. Senang rasanya memiliki orangtua seperti mereka, beruntungnya Chami yang memiliki mertua seperti Angel dan Zeroun.


Setelah Angel dan Zeroun keluar, Chasi langsung memasang wajah kesal kepada Chariq.


"Bagaimana mau jadi ayah jika memperlakukan orang lain saja masih begitu, apa kamu tidak sadar dengan kesalahan kamu yang sudah-sudah?"


Chariq mendekati Chasi sambil menundukkan kepala.


"Ada yang ingin kamu makan?" tanya Chariq dengan polosnya.

__ADS_1


"Ck.. aku ingin memakan jantungmu dan otakmu!" jawab Chasi kesal.


Chariq terkekeh pelan, ia tahu betul kalau Chasi sedang kesal dengannya. Dengan cepat Chariq memeluk Chasi yang masih terbaring, Chasi kaget dan ia langsung memberontak.


"Hey... kau sudah gila,"


"Aku sudah gila, Sayang. Aku gila karena tidak ingin berjauhan darimu."


Chasi tertawa keras karena ia di gelitik oleh Chariq.


"Hahaha... cukup."


"Aku mencintaimu." Chariq menyudahi kelakuannya, ia melihat wajah Chasi intens dan Chasi pun begitu.


"Tua!"


Kata-kata itu terucap dengan cepat dari mulut Chasi.


"Kamu mengatai aku tua?" tanya Chariq, Chasi mengangguk semangat.


"Kalau aku tua, kenapa kamu bisa hamil begini, hmm?"


Chasi menelan ludahnya karena wajah Chariq makin dekat dengan wajahnya.


"Tampan!"


Chariq langsung tertawa keras, ia tak tahan melihat wajah lucu Chasi.


"Gila!"


"Kamu benar-benar menggoda ku ya, Sayang."


"Kau memang gila, apanya yang harus ku goda. Dasar, sudah tua gila pula."


"Sayang kamu memancingku?"


"Kamu bukan ikan!"


"Memang bukan ikan, tapi yang di bawahku."


Chasi melototkan matanya, bisa-bisanya Chariq berpikiran seperti itu.


"Aku sedang hamil, kamu tidak dapat jatah selama setahun."


"Astaga! Oke, aku akan cari pelarian." Chariq menjawab dengan santai.


Chasi menatap Chariq dengan kesal, dengan cepat ia membalikkan badan dan menghadap tembok. Chariq awalnya tadi senang karena menggoda Chasi, sekarang malah harus membujuk Chasi.


"Hey, tadi itu aku hanya bercanda. Aku mencintaimu mana mungkin aku mencari pelarian. Sayang, ayolah jangan merajuk seperti ini, aku cuma anu.. aku tidak bisa kalau tidak melakukannya, apalagi selama satu tahun. Setidaknya beri aku beberapa kali saja, aku janji aku akan melakukannya dengan lembut. Sayang, jangan ngambek dong."


"Berisik!"

__ADS_1


Chariq menghela nafas panjang, ia menyesal telah menggoda Chasi seperti itu. Akhirnya ia yang akan bersusah payah membujuk Chasi.


Bersambung


__ADS_2