
Chami sedang duduk menonton TV sambil ngemil, ia kaget karena ada orang yang menepuk pundaknya tiba-tiba. Rendra dan Dira pagi tadi berpamitan keluar untuk berbelanja untuk menyiapkan segala keberangkatan malam nanti. Chami menoleh kebelakang karena penasaran, ia tahu betul siapa yang tinggal di rumah selain dia dan anak Rendra, tapi Chami tak pernah bertemu Carli karena laki-laki itu tidak pernah keluar kamar.
Chami kaget melihat Carli yang tampak kusut dan bahkan kurus, ia melihat jika ada linangan air mata saat Carli melihatnya.
"Apa kabar, Chami?" tanya Carli memaksakan senyumnya, ia duduk di samping Chami dan melihat TV yang sedang yang sedang menyala dan memutar film kartun Tom and Jerry.
"Saya baik, kak," jawab Chami gugup, ia tak kenal dengan orang di sampingnya.
"Aku dengar kamu lupa ingatan, aku Carli. Kamu pasti tidak ingatkan? jika ingat nantipun aku bukan siapa-siapa. Silahkan menikmati harimu terakhir di disini, aku mau kembali ke kekamar. Bye." Carli bangkit dan langsung pergi meninggalkan Chami yang menatapnya aneh.
"Kenapa di aneh sekali!" gumam Chami, ia bahkan baru melihat manusia seperti Carli.
Chami tak menghiraukannya ia malah sibuk dengan tontonannya yang tertunda.
Arnold gelisah sendiri di dalam kamar, ia terus mengunjungi Chami tapi tidak pernah di jawab Chami padahal nomor istrinya itu aktif. Orangtua Arnold juga khawatir karena menantunya pergi entah kemana, seharian Arnold di marahi karena tidak becus menjaga istri. Arnold yakin jika Chami benar-benar marah padanya karena masalah itu, tapi yang di khawatirkannya adalah dimana Chami sekarang? Arnold sangat takut jika Chami meninggalkannya, ia tak bisa hidup tanpa Chami.
__ADS_1
Arnold mengambil handphonenya dan mengirim pesan untuk istrinya.
Arnold : "Sayang, kamu dimana sebenarnya? Maafkan suamimu ini yang bersalah padamu."
Arnold menunggu balasan dengan tak sabar, walaupun semua pesan terbaca ia hanya ingin Chami membalasnya setidaknya satu huruf.
Chami mendengar handphonenya berbunyi, ia mengambil handphone yang di letakkannya di atas meja dan melihat pesan yang masuk. Dengan malas Chami membuka pesan dari suaminya itu, ia hanya berdecih tanpa membalas.
"Cih.. sudah pergi baru mencari!" Chami meletakkan handphone tadi di samping tempat duduknya, ia sama sekali tidak ada niatan untuk membalas pesan dari Arnold.
Arnold melihat jika pesan sudah terbaca oleh Chami dan ia makin gelisah, ia ingin marah tapi ia sadar jika ia bersalah. Arnold bingung harus bagaimana, ia mencari cara agar Chami kembali lagi tapi ia malah makin stress. Arnold membaringkan diri di atas kasur, ia melihat handphonenya sejenak lalu meletakkan di atas kasur. Pikirannya sangat kacau, ia memutar lagu galau dan mendengarnya sampai terbawa suasana, perlahan mata Arnold terpejam gara-gara senandung lagu.
"Jangan tinggalkan aku, aku mencintaimu hiks..."
Itulah kata-kata yang di dengar Arnold saat ia sudah terbujur kaku di dalam mimpi, istrinya menangis meratapi, tetapi tak lama itu Arnold melihat dalam mimpinya jika ada pria tampan dan kaya yang mendekati Chami. Arnold ingin bangun dari tidurnya agar Chami tidak bertemu dengan pria itu, tapi ia tak terbangun malahan di dalam mimpinya laki-laki itu mengambil Chami dalam pelukannya dan mengatakan sesuatu yang benar-benar membuat Arnold terbangun.
__ADS_1
"Menikahlah denganku, suamimu itu sudah mati." Kata-kata itulah yang di dengar Arnold di dalam mimpi, ia terbangun dengan nafas yang tak beraturan.
"Tidak, Chami milikku dan selamanya menjadi milikku," Arnold langsung bangkit dan keluar dari kamar, kepalanya agak pusing gara-gara mimpi tadi, tapi tak di hiraukannya ia sibuk ke dapur mengambil pisau yang paling tajam, kemudian ia ke gudang dan mengambil tali yang panjang dan agak besar. Dengan cepat Arnold kembali ke kamar, ia fokus dengan apa yang ia ingin lakukan. Tiba-tiba mimpi itu membuat ia ingin melakukan hal yang sangat luar biasa yang tak pernah ia lakukan sebelumnya dan mungkin akan menjadi terakhir kalinya, mungkin saja.
Arnold masuk ke dalam kamar dan langsung membuka pintu balkon kamar yang terbuat dari kaca itu, Arnold mengikat tali yang di bawanya tadi di pagar balkon. Ia juga menelan ludah saat melihat ke bawah, walaupun kamarnya di lantai dua tapi kalau lah jatuh kebawah membuat nyawanya melayang, jikapun tidak mungkin dia akan cacat.
Setelah berpikiran yang buruk Arnold langsung menyadarkan diri, ia mengikat ujung tali berbentuk lingkaran dan mengetes ikatan itu di lehernya. Setelah di rasa cukup pas Arnold langsung mengambil handphonenya di atas tempat tidur, ia langsung memotret pisau yang seolah-olah ingin memutuskan urat nadinya. Tidak cukup dengan foto itu, Arnold juga memotret dirinya yang mengikat lehernya sendiri dengan tali yang di ikatnya tadi. Setelah berselfi ria, Arnold merekam video dirinya sendiri, tak lupa dengan tali dan pisau tadi juga ikut di rekamnya.
"Sayang, lihat ini apa yang suamimu lakukan. Aku minta maaf soal kemarin, aku tahu aku salah jadi mohon maafkan aku. Jika kamu pergi lebih baik aku mati, aku tidak bisa hidup tanpamu. Jika kamu melihat di berita nanti ada pria yang bunuh diri karena menyesal telah menyakiti istrinya, berarti pria itu adalah suamimu ini. Sayang, jika aku mati nanti tolong doakan aku, jangan sumpahkan aku karena aku akan bersedih nanti. Sayang, kamu adalah istri yang tercantik dan yang terbaik yang aku cintai, terimakasih telah hadir di sisiku walaupun hanya sementara aku akan mengingat itu sebagai kenangan yang terindah. Aku akan pergi, selamat bahagia istriku sayang."
Arnold langsung tertawa setelah merekam aksinya itu, ia langsung mengirim video serta foto-foto tadi ke Chami, ia yakin jika Chami melihat itu maka istrinya akan langsung pulang. Setelah mengirim pesan tadi, Arnold langsung melepaskan ikatan tali di lehernya dan meletakkan pisau di lantai. Ia berjingkrak senang karena ia akan bertemu dengan Chami sebentar lagi.
Chami tidak menghiraukan pesan yang masuk, ia sibuk dengan film kartun yang di tontonnya. Ia tertawa saat melihat Tom di kerjai Jerry, Tom sampai lari terbirit-birit karena ia mengira ada hantu yang mengejarnya di sebuah rumah tua. Jerry tertawa terpingkal-pingkal melihat Tom yang ketakutan, namun sesaat itu Jerry kaget karena Tom tertimpa lemari besi dan mati. Jerry menangis karena mengira Tom telah mati, Chami pun ikut menangis menontonnya. Melihat Tom yang tidak jadi mati karena badannya elastis membuat Jerry langsung memeluk Tom yang gepeng. Chami menyeka air matanya, ia beralih ke handphonenya karena tiba-tiba iklan.
Chami melototkan matanya melihat foto-foto yang di kirim Arnold, ia makin melototkan matanya saat memutar video yang di kirim Arnold kepadanya. Chami menjerit tertahan mendengar apa yang di katakan Arnold, suaminya itu benar-benar akan bunuh diri. Chami menggelengkan kepalanya cepat, ia tak ingin Arnold mati dengan cara yang bodoh, setidaknya mati dengan cara yang baik-baik.
__ADS_1
"Tidak, aku harus pulang. Jika aku tidak pulang dia akan benar-benar bunuh diri." Chami bergegas pergi tanpa memberitahu Carli atau tanpa meninggalkan pesan untuk Rendra atau Dira. Chami berlari ke rumah dengan cepat, walaupun salju tidak turun tapi di luar sangat dingin. Tanpa memakai baju yang hangat dan hanya memakai sendal rumah Chami berlarian pulang kerumah demi mencegah suaminya yang bertingkah bodoh.
Bersambung