TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Pura-pura


__ADS_3

Angel dan Zeroun baru membuka pintu karena mereka akan ke kantor polisi untuk melaporkan membantunya yang hilang, tapi mereka kaget karena tiba-tiba Chami masuk langsung menerobos masuk dengan wajah yang serius. Chami langsung berlari dan menaiki tangga menuju lantai dua di mana letak kamar Aenod, Angel dam Zeroun saling pandang melihat Chami berlari di kejar setan.


Brakk..


Arnold terperanjat karena pintu tiba-tiba terbuka dengan kuat, ia sedang berselfi ria dan bergaya manis benar-benar kaget karena tanpa angin dan badai pintu tiba-tiba terbuka. Chami bagaikan singa betina yang sedang marah karena makanannya di ambil, ia melihat Arnorld dengan mata yang memerah karena marah. Dengan cepat Chami berlari dan menendang perut Arnold membuat suaminya itu terbentur dinding karena Chami menendang cukup kuat.


"Kau membohongiku, brengsek! Ku kira kau akan mati, nyatanya kau sedang bersuka ria di sini hah!" Chami berbicara dengan kuat dan lantang.


"Uhuk.. uhuk.." Arnorld terbatuk karena serangan tiba-tiba, perutnya sakit akibat tendangan Chami dan tubuh belakangnya juga sakit akibat terbentur dinding.


Angel dan Zeroun yang panik karena melihat Chami berlari dengan tergesa-gesa langsung menyusul Chami tadi, jadi ia melihat semua apa yang terjadi. Mereka hanya menaikkan bahu serentak, karena tidak ingin mencampuri masalah anaknya jadi mereka memilih pergi.


"Sayang, kau datang," ucap Arnold sambil memegang perutnya yang masih terasa sakit.


"Sayang kepalamu! Kenapa tidak mati sekalian hah, dasar laki-laki brengsek!" Chami memaki Arnold karena dia benar-benar kesal dengan kelakuan Arnold.


Arnold berjalan dengan gontai, tak lupa ia memegang perutnya. Ia berjalan mendekati Chami yang masih dengan wajah marah.


"Aku minta maaf, Sayang." Arnold tumbang di hadapan Chami, ia terjatuh di lantai dan pingsan.

__ADS_1


Chami kaget melihat Arnold yang pingsan tepat di depannya, dengan cepat Chami membangunkan Arnold.


"Arnold, bangun! Hey, kau kenapa? Arnold bangunlah!" Chami menggoyang-goyangkan tubuh Arnold agar segera sadar, tapi Anrold tak kunjung sadar. Chami khawatir dengan keadaan Arnold, ia berteriak kencang meminta tolong sambil mengeluarkan air mata karena merasa bersalah.


"Tolong... Mom, Dad. Tolong Arnold," teriak Chami sambil menggoyangkan tubuh Arnold.


Angel dan Zeroun mendengar teriakan Chami langsung kaget, dengan cepat mereka kembali lagi ke atas dan betapa kagetnya setelah melihat anaknya sudah pingsan.


"Mom, Dad. Tolong hiks... Chami yang bersalah, maafkan Chami.. hu..hu.. tolong panggil dokter Mom." Chami menangis karena takut jika Arnold benar-benar mati.


Angel dan Zeroun saling pandang, kemudian dengan cepat Angel menelpon adiknya yang bernama Melly yang menjadi dokter di Australia. Setelah menelpon Zeroun berbisik sebentar ke telinga Angel.


"Arnold hanya pura-pura, Sayang." Angel yang mendengar itu hanya mengangguk, ia langsung mengirim pesan agar Melly ikut bersandiwara mengikuti drama Arnold.


Zeroun membual mengada-ada membuat Arnold yang mendengar itu ingin memarahi ayahnya, tapi ia tetap ingin bersandiwara agar Chami tak lari kemana-mana lagi.


Chami menangis mendengar itu, walaupun ia merasa ada yang aneh dengan yang di katakan ayah mertuanya tapi mendengar kata-kata Arnold mati membuat ia makin meraung menangis, Arnold ingin tertawa mendengar istrinya menangis tetapi di tetap di tahannya.


Angel melihat menantunya hanya senyum-senyum sendiri, ia tahu jika Chami mencintai Arnold hanya saja anaknya yang membuat masalah sampai Chami jadi merajuk dan pergi dari rumah. Arnold di tarik ke atas kasur dengan susah payah oleh orangtuanya dan istrinya, ia merasakan badannya sakit-sakit akibat ulah mereka yang tak kuat mengangkat tubuh Arnold.

__ADS_1


Setelah mengangkat Arnold dengan susah payah dan hanya menunggu tak sampai setengah jam Melly datang, ia hanya melihat malas keluarga kakaknya yang di anggapnya gila. Karena ia di beri peran oleh kakaknya untuk berakting, jadi Melly melakukan semuanya karena ia akan di bayar dua kali lipat.


"Apa perutnya tertendang lagi?" tanya Melly serius, jantung Chami berdebar kencang ia menelan ludahnya saat Melly menanyakan itu.


"Iya, Dok," jawab Chami pelan, bahkan suaranya begitu parau, sedangkan Angel dan Zeroun hanya saling memberi kode.


"Nyawanya dalam bahaya, setelah dia sadar nanti tolong layani dia dengan baik. Arnold tidak bisa merasakan kekerasan sedikitpun pada tubuhnya, jika itu terjadi maka nyawanya akan melayang."


Chami mendengar penjelasan dokter itu langsung meluncurkan air matanya, ia tidak menyangka jika tubuh Arnold yang tegap dan kekar memiliki fisik yang begitu lemah.


"Baik dok, saya mengerti." Chami menjawab dengan suara pelan, ia sedih melihat Arnold yang terbaring di atas kasur tak sadarkan diri.


Setelah semuanya selesai dan Melly pun sudah pergi, begitupun dengan Angel dan Zeroun yang telah mengantar Melly keluar dan tak kembali lagi ke kamar anaknya. Hanya Chami yang sedang menemani Arnold yang masih pura-pura dengan pingsannya, semuanya terasa hening. Chami melihat Arnold dengan wajah sendu, ia sedih melihat suaminya yang kini terbaring tak sadarkan diri. Perlahan Chami naik ke atas ranjang dan duduk di samping Arnold, ia mengecup kening suaminya dengan sayang dan mencium pipi Arnold lembut.


"Maafkan aku sayang, apakah perutmu begitu sakit?" Chami mengelus perut Arnold dengan lembut, sedangkan Arnold menahan geli di perutnya karena di elus pelan Chami, tapi ia sungguh senang karena Chami memanggilnya sayang tadi.


"Cup.. jangan berfikir untuk bunuh diri ataupun pergi menjauh karena aku yang akan menyusul mu nanti, aku memang marah sayang, tapi beri aku waktu untuk meredam amarahku. Aku marah sampai ingin pulang ke Indonesia malam ini, tapi itu mungkin hanya angan ku. Kamu tahu aku begitu sakit hati dan begitu terluka karena tangan mu yang kekar dan hangat ini menampar pipiku hanya karena aku ingin mengatakan jika aku akan menjual handphone. Rasanya tidak begitu sakit di pipi, tapi hatiku yang sakit. Andai kamu tahu malam itu membuat aku benar-benar hancur saat kamu mau aku melayani hasratmu, apakah tidak cukup dengan wanita itu? apa sebenarnya hubungan kalian? apa anak yang di kandungnya itu anakmu?" Chami berbicara sendiri sambil membaringkan kepalanya di dada Arnorld, ia juga mengelus dan mengenggam tangan suaminya, Arnold yang mendengar itu hanya menahan tangis, ia sedih mendengar apa yang di katakan istrinya tadi. Ia sadar telah menyakiti istrinya, tapi ia bingung saat Chami mengatakan wanita lain, apalagi tentang mengandung.


Chami menghembuskan nafasnya sebentar lalu melanjutkan bicaranya lagi, "kamu tahu semalam aku bertemu dengan orang yang mengenalku, dia dari Indonesia dan dia mengenal baik aku dan keluargaku. Namanya om Rendra, aku heran dengan dirinya yang mengatakan jika orangtuaku suka menyiksaku, menurutku mana ada orangtua yang menyiksa anaknya sendiri. Dia juga mengatakan jika aku memiliki kembaran dan namanya adalah Chasi, aku ingin melihat wajahnya apakah dia sangat mirip denganku. Tapi, yang menyakitkan hatiku adalah Dira. Wanita itu pernah mengatakan jika dia kemarin malam melakukan hubungan dengan pria blasteran dan pria itu baru menikah dua bulan, sama seperti kita. Kenapa aku bilang Dira yang lebih menyakitkan, sebab dia memakai parfum vanilla sama seperti bau yang melekat di tubuhmu saat kau memaksakan hasratmu itu. Hmm.. sudahlah, semoga saja kamu cepat sembuh ya, aku akan menemanimu."

__ADS_1


Chami memejamkan matanya, tak lupa ia sudah berpindah posisi berada di sebelah Arnold. Chami ingin istirahat sejenak, mengistirahatkan hati dengan perasaan yang bercampur aduk.


Bersambung


__ADS_2