
Chasi sedang berdiri di balkon apartemen Chariq, tubuhnya kedinginan karena angin malam tapi ia tidak peduli. Tatapan matanya kosong ke depan, ingin sekali dia terjun dari lantai 20 itu agar segera mati, tapi di urungkannya. Chariq mengatakan bahwa Chasi dapat menebus dosanya kepada Chami dengan berubah menjadi Chami, bagaimana mungkin dia membohongi dirinya sendiri untuk menjadi orang lain. Perasaan Chasi tak menentu karena Chariq sudah baik kepadanya, tapi harus memanggil, menganggap dan menjadikan dia Chaminya. Chasi merasakan angin malam menghantam kulitnya yang putih, rambut panjang yang di gerai dan tak lupa kehampaan di hati.
Chariq mendekati Chasi, di peluknya Chasi dari belakang dan di lingkarkan tangannya di perut Chasi. Hangat sekali, sampai ia benamkan wajahnya di tengkuk Chasi, sungguh Chasi ingin menangis saat itu juga tapi ia mencoba menahan.
"Chami, kenapa belum masuk? Ini sangat dingin, apa kamu tidak merasakannya?" Chasi hanya diam mendengar itu.
"Sebentar lagi kita akan menikah, kamu harus tampil cantik nanti dengan gaun pernikahan. Tidak, Chami ku memang selalu cantik dan sangat menawan, memakai apapun akan tetap cantik di mataku." Ucap Chariq membayangkan jika Chami lah yang akan menjadi pengantinnya nanti.
Chasi melepaskan tangan Chariq yang melingkar di perutnya, ia berbalik melihat wajah Chariq yang dewasa tapi tampan itu. Chariq sangat tinggi membuat ia sedikit mendongak demi untuk melihat wajah Chariq, baru kali ini Chasi melihat wajah Chariq cukup lama. Chariq tersenyum melihat Chasi yang melihat wajahnya dengan detail, Chariq seperti melihat anak kecil yang melihat orang baru yang ingin memberikan sesuatu kepadanya.
"Bagaimana dengan luka di tanganmu?" tanya Chasi, tetapi ia tetap memandang wajah Chariq.
"Apa luka akibat cakaranmu? luka itu tidak sebanding dengan rasa bahagiaku jika dapat bersanding denganmu!" jawab Chariq sambil membenarkan rambut Chasi yang berantakan di tiup angin.
"Boleh aku meminta sesuatu?" Chasi mengambil tangan kekar Chariq dan di kecupnya punggung tangan Chariq.
Chariq tersenyum Chasi mencium tangannya, "apa yang kamu minta, Sayang?" tanya Chariq dengan lembut.
"Aku akan belajar mencintaimu, tapi tolong panggil aku, anggap aku, dan sayangi aku sebagai diriku sendiri Chasi bukan Chami." Chariq melepaskan tangannya dari genggaman Chasi, ia membelai pipi Chasi lembut dan perlahan beralih naik menelusuri rambut Chasi dan di remasnya pelan, Chasi sudah menyiapkan diri ia yakin jika Chariq akan menjambak rambutnya lagi. Apa yang di pikirkan Chasi tidak menjadi kenyataan, nyatanya Chariq menariknya pelan kemudian di peluknya Chasi penuh dengan sayang.
"Ayo kita masuk, ini sangat dingin dan tidak baik untuk kesehatanmu." Ucap Chariq lalu melepaskan pelukannya dan menarik tangan Chasi untuk masuk ke dalam kamar.
Chariq menduduki Chasi di tepi ranjang, ia merasakan jika tangan Chasi sangat dingin bahkan wajah Chasi sedikit merah karena dingin. Chariq menggosok pelan tangan Chasi agar hangat, Chasi hanya diam saat Chariq melakukan itu.
__ADS_1
"Apa kamu memang tidak kuat dingin, hmm?" tanya Chariq tetap dengan aksinya.
Chasi menganggukkan kepalanya, ia memang tak kuat dingin apalagi Chami. Ia ingat betul jika kembarannya itu jarang mandi pagi waktu sekolah karena tak kuat dingin, entahlah menurutnya Chami terlalu berlebihan, mungkin saja Chami malas untuk mandi pagi pikirnya.
"Kamu ini ya, jika tidak kuat dingin jangan di luar malam-malam nanti kamu bisa sakit." Chariq mengambil tangan Chasi dan di tangkupnya kedua telapak tangan itu ke pipinya.
"Aku berpanas-panasan siang hari, jadi tidak salahkan jika aku ingin merasakan dingin di malam hari." Chasi menjawab sambil tersenyum melihat wajah Chariq.
Chariq terdiam, tak lama itu ia tersenyum, "ini belum terlalu malam, apa kamu mau makan lagi yang hangat-hangat? tadi kamu makan terlalu sedikit!" ucap Chariq yang teringat jika Chasi makan sangat sedikit bahkan hanya beberapa suap.
Chasi menggelengkan kepalanya, "aku tidak lapar, tapi aku sedang haus. Berdirilah, aku mau mengambil air dulu!" Chariq langsung berdiri dengan cepat setelah Chasi mengatakan itu, tapi ia menahan Chasi agar tidak berdiri.
"Tunggulah di sini biar aku yang mengambilnya!" setelah berucap Chariq langsung keluar dan mengambil air, sedangkan Chaos hanya melihat kepergian Chariq.
Chariq mengambil gelas dan menuangkan air dari teko ke gelas, kemudian ia duduk di meja makan sejenak. Pikirannya melayang ke wajah Chasi yang menatapnya lekat tadi, ia sadar jika dia sudah dewasa karena umurnya akan memasuki 33 tahun, tapi tak di pungkiri jika ia terpesona akan wajah itu.
"Gadis itu, apa dia akan bertahan dengan egoku dengan waktu yang lama? Apa dia sanggup dengan kegilaanku yang menganggapnya kembarannya? bahkan apa dia sanggup dengan aku yang seorang pembunuh tak berhati?" Chariq bergumam sendiri, ia tak yakin dengan dirinya sendiri. Ia sadar egonya terlalu besar, tapi ia juga bingung harus bagaimana setelah ini.
Chariq menghembuskan nafasnya berat, merasa sudah cukup lama ia duduk di situ akhirnya ia mengambil gelas yang penuh dengan air putih dan kembali ke kamar, ia melihat Chasi yang kini berubah posisi bahkan terlihat bahkan terlihat aneh. Chasi berloncat-loncatan di atas tempat tidur seperti anak kecil, melihat Chariq datang ia langsung berhenti dan kembali duduk di posisi tadi.
Chariq tertawa pelan melihat kelakuan Chasi, ia mendekati Chasi dan memberikan gelas yang berisi air tadi. Kali ini ia duduk di samping Chasi, ia melihat Chasi minum bahkan dengan Chasi menghabiskan air minum dengan cepat.
"Mau lagi?" tanya Chariq setelah mengambil gelas kosong dari tangan Chasi.
__ADS_1
"Tidak, terimakasih. Aku mau tidur dulu, mataku sudah ngantuk."
"Sudah ngantuk? bukannya... Ah sudahlah, ini sudah malam dan sebaiknya kamu tidur." Chariq berdiri hendak meletakkan gelas ke atas meja, ia menoleh sebentar ke belakang melihat Chasi yang baru baring.
"Dia tadi meloncat di atas tempat tidur sangat bersemangat, tapi sekarang sudah mengantuk," gumam Chariq, tapi ia tak menghiraukannya lagi ia meletakkan gelas di atas meja dan berjalan ke atas tempat tidur dan berbaring di samping Chasi.
"Selamat tidur, semoga mimpi indah." Ucap Chariq sambil melihat Chasi yang memejamkan mata mengahadap dengan wajah mengahadap ke atas.
"Selamat tidur, Penjahat." Balas Chasi tanpa membuka mata, Chariq terkekeh mendengar itu, ia melihat Chasi dengan lekat sambil tersenyum.
"Cantik," gumam Chariq pelan.
Chasi mendengar itu samar-samar ia langsung membuka mata dan melihat Chariq cepat.
"Bilang apa tadi?" tanya Chasi cepat.
"Apanya?" Chariq menjawab pura-pura tidak tahu, padahal ia yakin jika gumaman kecilnya terdengar oleh Chasi.
"Yang kamu bilang tadi?" tanya Chasi menuntut jawaban, ia kini mengenyampingkan badannya melihat Chariq.
"Bilang apanya? Aku diam membisu sedari tadi, memangnya kamu mendengar apa?"
"Itu, aku mendengar anu.. ah sudahlah aku mau tidur." Chasi malu karena ia pikir ia salah dengar tadi, sedangkan Chariq menahan tawa melihat Chasi yang kini membelakanginya.
__ADS_1
Bersambung