TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Cobalah


__ADS_3

Chami sedang mengepel lantai kamar, ia memasang wajah datar. Marah, malu semuanya bercampur aduk, sedangkan suaminya Arnold menyilangkan kaki sambil berbaring dan bersandar di tempat tidur dan bermain handphone. Arnold cekikikan sendiri, waktu keluar kamar mandi istrinya sudah berbalut dengan handuk. Kini Chami sudah mengganti pakaian tidur, Chami mengepel lantai sesekali menjelingkan matanya ke Arnold.


Selesai mengepel Chami menghela nafas panjang, bahkan sedikit kasar. Chami mengepel seperti tak ikhlas, semua gara-gara suaminya. Chami keluar kamar dan meletakkan mop di dapur, setelah itu dia kembali lagi ke kamar untuk membereskan pakaian.


Chami hendak mengambil koper di atas lemari, tetapi karena badannya pendek ia tak sampai.


"Handphone teruuuusss, memang suami tak berguna. Semuanya nyusahin orang, tak ada lagi kerjaannya. Kalau tidak berbohong, ya apalagi selain handphone teruuuusss." Chami merepet sendiri, ia mengambil kursi dan meletakkannya di dekat lemari.


"Turunlah, biar suamimu yang tak berguna ini yang mengambilnya." Arnold menjawab dengan sabar.


"Isshhh...," Chami turun dan meletakkan kursi kembali ke tempat semula dengan kasar, Arnold hanya diam mendengar keluhan istrinya.


"Mukanya jangan masam terus, nanti kalau cepat tua hayoo, gimana?" Arnold membuka koper, ia juga membuka lemari. Saat hendak memasukkan sembarang baju Chami langsung menolaknya ke samping.


"Bukan baju itu, Indonesia tidak dingin kenapa bawa yang tebal-tebal!"


Arnold menyunggingkan senyumnya, melihat Chami seperti ini terlihat lucu.


"Besok aja siap-siapnya, hari sudah malam. Ayo, sebaiknya kita tidur," Arnold menutup kembali koper dan langsung mengendong istrinya membuat Chami terpekik pelan karena kaget.


"Turunin! besok takut terlambat, cepat turunin!"


"Ssstt, kita tidak perlu membawa baju ya? kita beli saja di Indonesia nanti," ucap Arnold dan menurunkan Chami dengan lembut ke atas kasur.


Chami melihat Arnold masam, Arnorld membaringkan Chami, tapi dengan cepat istrinya itu duduk.


"Semuanya di beli, semuanya ngandalin orangtua. Kalau uang Mom dan Dad habis gimana? kamu gak ada kerjaan, coba deh cari kerja, jadi kita bisa tinggal di rumah sendiri." Chami melihat Arnold yang sudah naik ke atas kasur dan duduk di sampingnya.


"Kalau uang Mom dan Dad habis, baru aku cari kerja. Lagian untuk apa kerja kalau kita bisa menikmati uang orangtua," jawab Arnold dengan santai, Chami geram melihat suaminya.


"Aku gak mau nyusahin orangtuamu, kalau kamu gak mau kerja biar aku aja," ucap Chami, Arnold hanya tersenyum tipis mendengarnya.


"Sayang, kita pulang ke Indonesia nanti aku bakalan kerja kok. Dad sudah lama bikin perusahaan baru di Indonesia, jadi aku yang akan mengurusnya. Bulan depan bakalan opening, jadi kamu gak usah takut nyusahin Mom dan Dad, kami sudah merencanakan semuanya," Arnold menjelaskan dengan lembut, ia menyentuh pundak istrinya.


"Apa aku harus percaya?" tanya Chami melihat Arnold tak yakin.


"Iyalah, maafkan aku jika menjadi suami yang tak berguna. Aku belum berpengalaman jadi suami, hanya dengan dirimu saja dan itupun yang pertama kali. Sayang, walaupun kamu anggap aku tidak berguna, tapi aku sangat mencintaimu. Maafkan aku yang membuatmu ngompol tadi, aku kira kamu hanya bercanda," Arnold memasang wajah sedih, sedangkan Chami bersemu merah karena ingat ia ngompol tadi, sangat malu.


"Hmm..," Chami hanya berdeham, ia tak tahu harus bicara apa.

__ADS_1


"Kamu mau makan gak? biar aku yang masak, enak loh."


"Gak mau, nanti aku gendut," jawab Chami sambil geleng kepala.


"Aku suka loh yang montok-montok," jawab Arnold ingin menggoda istrinya.


"Aku gak suka loh pria mesum, wekkk.." Chami langsung berbaring, ia masuk ke dalam selimut dan hilang dari pandangan Arnold.


"Sayang, kita tidak anu..."


"Tidurlah, aku ngantuk!"


Arnold menghela nafasnya, dengan berat hati ia berbaring dan memasuki tubuhnya ke bawah selimut dan gelap.


****


Chasi bangun dari tidurnya, hari sudah subuh. Ia beranjak dari kasur, ia melihat Chariq tidur dengan lelapnya. Chasi berjalan menuju dapur, ia merasa sangat haus.


Chasi menuangkan air ke gelas, ia melihat-lihat ruangan. Apartemen Chariq cukup besar, setelah minum ia pergi ke satu pintu yang tak pernah di buka. Dengan pelan ia berjalan menuju pintu itu, ada kunci yang tergantung di sana dan Chasi segera membukanya.


Ruangan yang gelap karena lampunya tak hidup, Chasi langsung menghidupkan lampu yang berada di dekat dinding sebelum masuk, sebelumnya ia susah mencari saklar lampu. Setelah hidup Chasi hanya di suguhkan dengan banyak lemari, karena penasaran Chasi berjalan dan menuju ke satu lemari. Saat membukanya, ia benar-benar kaget karena melihat banyak senapan panjang di dalam lemari. Chasi juga melihat lemari satunya ia makin kaget saat melihat banyak alat-alat tajam dan pistol-pistol dengan beragam macam jenis.


"Ehemm..."


Chasi kaget mendengar suara Chariq tepat di belakangnya, ia berbalik dan melihat tubuh Chariq yang tinggi dan besar tepat di hadapannya. Chaos menelan ludah sambil mendongakkan kepala melihat Chariq, lidahnya keluar untuk mengeluarkan kata-kata.


"Apa ada yang mau kau ambil, Sayang?" tanya Chariq datar.


"A.... aa..,"


Chariq menyunggingkan senyumnya, dia berjalan menuju lemari dan mengambil satu pisau lipat kecil yang bermotif dragon.


"Aku suka menggunakan ini untuk orang yang suka mencampuri urusanku, cara gunanya..,"


Buggghhh


Kaki Chasi lemas, ia tak kuat menahan tubuhnya dan dia langsung terduduk. Dengkulnya tak merasa sakit saat terbentuk lantai, yang ia takutkan hanya dengan pisau itu. Chasi takut tiba-tiba psikopat ini akan menyayat kulitnya, mati secara langsung tak apa-apa baginya, tapi kalau secara perlahan dan menyakitkan sungguh ia tak sanggup.


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Chariq jongkok di depan Chasi, ia tahu jika gadis di depannya ini ketakutan.

__ADS_1


"Aku hanya ingin memberitahu saja tadi, mana mungkin aku menyakitimu. Ayo berdiri, kita kembali ke kamar. Tempat ini tidak baik untukmu," Chariq menarik lengan Chasi ke atas, namun Chasi tak bereaksi dia tetap dengan posisinya.


Karena tak ingin menunggu lama, Chariq langsung mengendong tubuh Chasi dan membawanya kembali ke kamar. Chariq mendudukkan Chasi di atas tempat tidur, ia merasakan tangan Chasi yang dingin.


"Hey, kamu tidak apa-apa kan? Cham, kalau takut jangan kesana lagi ya," ucap Chariq lembut ia mengelus pundak tangan Chasi.


"Apa kamu sudah banyak membunuh orang?" tanya Chasi tanpa melihat wajah Chariq yang kini duduk di sampingnya.


Chariq diam sejenak, lalu menjawab, "aku sudah banyak membunuh, tak terhitung lagi jumlahnya."


Chasi menoleh melihat Chariq, ia menggeser tubuhnya sedikit menjauh dari Chariq.


"Bagaimana jika aku hamil nanti, kita berhubungan dan pasti aku akan hamil. Lalu, bagaimana dengan anak kita nanti, aku tidak mau anakku mengikuti dirimu menjadi seorang pembunuh."


Chariq diam mendengar apa yang di katakan Chasi, benar kata Chasi. Bagaimana jika anaknya mengikutinya, ia yakin pasti gen itu akan menurunkan nantinya.


"Aku akan berhenti dari pekerjaan ini, tapi apa kamu siap untuk hidup susah jika uangku sedikit?"


"Uang papi tak habis-habis, perusahaannya berjalan lancar. Jadi jangan khawatirkan soal uang, yang harus di perhatikan nanti jika aku hamil dan anak kita nanti."


"Jadi kamu sudah menerimaku?" tanya Chariq dengan senyuman.


"Sudah terlanjur, asal kamu menganggap diriku sendiri bukan kembaranku lagi. Kita akan menikah sebentar lagi, aku tahu kamu masih mencintai Chami, tapi tolonglah kamu yang memaksaku untuk bersamamu, setidaknya hargai aku yang mau bersamamu. Kamu jauh lebih dewasa daripada aku, aku mohon dewasalah. Jika kamu mau bahagia aku akan siap, aku siap menikah denganmu dan memiliki keluarga yang bahagia."


"Aku bingung," gumam Chariq.


"Aku tahu kamu bingung, tapi cobalah dulu. Aku mohon panggil aku dengan namaku, tidak akan sulit jika kamu sudah terbiasa nanti,"


Chariq melihat Chasi dengan tatapan dalam, ia melihat ada kesungguhan dalam diri Chasi saat mengatakan itu. Chariq memejamkan matanya sejenak dan membukanya.


"Chasi," ucap Chariq pelan.


Chasi tersenyum mendengar itu, ia langsung memeluk Chariq dengan erat.


"Cobalah, semua akan berjalan dengan baik jika kamu mau menerima."


Chariq membalas pelukan Chasi, walaupun ada yang aneh dalam benaknya tapi ia ingin mencoba, mencintai Chasi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2