
Chariq ketakutan saat melihat Chasi kesakitan, Chariq berteriak memanggil dokter dan suster dan tak lama itu Chasi segera di bawa ke ICU. Arnold tidak ikut mengantar karena ia ingin menunggu istrinya. Chariq berdiri di depan pintu ICU, ia khawatir dengan keadaan Chasi.
"Ada apa dengan mu, Sayang? maafkan aku karena tidak becus menjadi seorang pria." Chariq gusar di depan pintu ICU, ia meremas rambutnya kuat.
Sedangkan di di tempat lain dokter baru keluar bersama para perawat, perawat itu langsung pergi sedangkan sang dokter berbicara dulu dengan Arnold dan kedua orangtuanya Arnold. Dokter itu tampak kelelahan karena berjuang.
"Bagaimana dengan kondisi istri saya, Dokter?" tanya Arnold dengan cepat, ia sangat terburu-buru karena tak sabar mengetahui kondisi istrinya.
Dokter mengelap peluh di dahinya sekejap, kemudian ia tersenyum melihat Arnold.
"Istri Anda sudah melewati masa kritis, untung saja kami masih menyediakan banyak stok darah untuk istri Anda jadi itu dapat membantu,"
Arnold bernafas lega mendengar itu, artinya istrinya bisa di selamatkan.
"Istri Anda akan di pindahkan ke ruang inap nanti, sebelum itu mohon doa untuk istri Anda agar dapat cepat sadar karena jika tidak maka janinnya tidak akan selamat da..."
"Menantuku hamil, Dokter?" tanya Zeroun tak percaya.
Arnold bergetar mendengar itu ia ingin melompat kegirangan, tapi ia langsung ingat kondisi istrinya yang belum pulih.
"Dokter, tolong bantu istri saya. Semua biaya akan saya bayar, tolong beri perawatan yang terbaik di sini. Tolong juga anak saya, tapi kenapa cepat sekali istri saya hamil? padahal kami baru seminggu ini melakukanya dan itupun baru beberapa kali." Angel menjelingkan matanya melihat Arnold, begitupun dengan Zeroun. Mereka tidak menyangka jika anaknya itu terlalu polos untuk urusan ini padahal umur Arnold sudah dua puluh delapan.
"Umur kehamilannya baru beberapa hari, karena kondisi istri Anda yang lemah dan belum sadarkan diri saya mengkhawatirkan jika janinnya tidak akan selamat. Tapi kami akan melakukan sebaik mungkin, mohon doa dan kerjasamanya."
"Saya akan berdoa, Dok. Saya terus berdoa dari tadi agar istri saya selamat, dokter tenang saja saya akan berdoa terus untuk istri dan anak saya nanti." Arnold berbicara sungguh-sungguh, dokter itu ingin tertawa melihat Arnold tapi di tahannya.
"Dokter, beri menantu saya kamar VIP dan peralatan VIP. Saya tidak ingin menantu saya kenapa-kenapa apalagi dengan cucu saya, keduanya harus di perlakukan baik di sini. Kami akan membayar semuanya, dokter tidak perlu khawatir soal uang." Zeroun begitu serius mengatakan itu sampai Angel tersenyum melihatnya.
"Kami akan melakukan yang terbaik, kalau begitu saya pamit dulu. Kalian bisa melihat pasien saat pasien sudah di pindahkan ke ruangan VIP dan itupun hanya bisa satu orang!"
"Baik, terimakasih dok," jawab Angel.
Dokter itu pamit pergi, melihat dokter itu pergi Arnold langsung melihat kedua orangtuanya dengan wajah yang sumringah.
__ADS_1
"Kenapa kamu?!" tanya Angel dengan wajah yang kesal.
"Wajah Mom kenapa begitu?" Arnold melihat ibunya sambil mengkerutkan dahinya.
"Makanya jagain istri itu dengan baik, untung saja menantuku bisa selamat kalau tidak pasti kau sudah gila."
Tak hanya Angel tetapi Zeroun juga melihat Arnold dengan kesal.
"Tapi, Mom ak..."
"Tidak ada tapi-tapian, kamu harus menjaga istrimu dengan baik. Tak hanya istri, sekarang kamu juga akan punya anak. Arnold kamu itu sudah akan menjadi seorang ayah, jadi Daddy mohon tolong untuk bisa bertanggungjawab dalam hal apapun!!"
Arnold hanya menundukkan kepalanya mendengar itu, ia ingin membalas perkataan Zeroun tapi ia juga tahu jika Isa bersalah.
"Maaf!" ucap Arnold lirih.
***
"Apa dia istri Anda, Tuan?" tanya dokter itu, ia melihat aura yang tak sedap yang di keluarkan Chariq.
"Iya, dia istri saya. Ada apa dengannya, Dok?"
Chariq sadar jika ia belum menikahi Chasi, namun ia tetap ingin mengakui Chasi sebagai istrinya walaupun wanita yang di cintainya masih hidup.
"Baiklah, istri Anda hanya sedikit stress dan memiliki fisik yang lemah. Sebaiknya jangan ada kekerasan fisik yang di terima oleh istri Anda apalagi di bagian perut karena akan membuat janinnya tidak selamat. Mungkin Anda tidak tahu jika istri Anda hamil karena memang masih baru yaitu tiga hari, janinnya sangat kuat dan saya lihat jika istri Anda hamil anak kembar. Untuk saat ini istri Anda akan kami infus dulu agar kondisinya stabil, setelah ini mohon bermanja-manja lah dengan istri Anda agar tidak membuatnya stress."
Chariq terdiam, ia merasakan ada yang hendak meledak di dalam dirinya karena mendengar jika Chasi hamil. Chariq ingin segera masuk ke dalam karena tak sabar ingin bertemu Chasi, namun di urungkannya karena dokter itu masih berdiri di depannya.
"Terimakasih, Dok."
Dokter itu hanya tersenyum, ia segera pamit untuk mempersilahkan Chariq menemui Chasi. Melihat punggung dokter yang sudah cukup jauh dengan senyuman terindahnya Chariq membuka pintu.
Ceklek..
__ADS_1
Hal yang pertama di lihat Chariq adalah Chasi tengah membelakanginya, sebenarnya saat awal masuk Chariq sangat bahagia namun sekarang ia jadi kecewa setelah melihat Chasi. Chariq masuk ke dalam kamar dan berjalan mendekati Chasi yang terbaring di atas ranjang, saat sudah sampai di dekat Chasi ia mendengar Chasi sedang menangis.
"Sayang."
Panggil Chariq lembut, tapi Chasi enggan untuk menoleh ia masih setia dengan tangisnya.
"Chasi."
Panggil Chariq lagi, namun Chariq malah makin mendengar suara tangis itu semakin besar.
"Maafkan aku jika aku mengganggu, aku akan keluar dulu." ucap Chariq dengan kecewa, ia memilih untuk keluar agar bisa membuat Chasi tenang dulu.
"Pergi saja menjauh dari hidupku, sepertinya kita memang tidak di takdir kan untuk bersama. Pergi saja sana! aku bisa mengurus diriku dan anakku sendiri."
Chariq yang hendak melangkahkan kakinya kini tak jadi, ia memejamkan matanya sejenak lalu mengambil nafas dan di hembuskannya pelan.
"Kamu mengandung anakku, aku akan bertanggungjawab atas semuanya."
"Tidak perlu! ini kesempatan mu untuk pergi, jangan pernah melihatku lagi apalagi anak ini."
"Tapi kenapa?! aku tahu aku ini ********, aku tahu aku ini pecundang, lelaki brengsek, dan semua yang terburuk itu adalah aku. Aku minta maaf atas semua yang terjadi, aku tahu aku sangat bersalah dan itu tak termaafkan. Tapi tolonglah, aku bahagia karena akan memiliki anak. Aku sangat bahagia saat mendengar mu hamil, aku bahagia atas semua itu. Aku mohon, jangan seperti ini dan tolong biarkan aku bertanggungjawab."
Chasi memejamkan matanya mendengar itu, air matanya tak berhenti mengalir. Ada yang mengusik pikirannya, Chasi ragu akan satu hal.
"Apa kau mencintaiku?"
"Aku mencintaimu!"
"Kembaran ku masih hidup."
"Aku tetap mencintaimu!"
Bersambung
__ADS_1