
πΊ Selamat Membaca πΊ
Like, Coment dan Vote jangan lupa ya π
πΊπΊπΊ
Pagi-pagi Chami sudah berjalan kaki menyusuri jalanan komplek, jalanan agak licin karena salju, pohon-pohon di tutupi salju apalagi mobil-mobil yang terparkir di depan di penuhi dengan salju. Chami pagi ini memakai long jhon, jaket cokelat muda, celana jeans hitam panjang, sepatu boat kulit, sarung tangan dan tak lupa pula syal yang melingkar di lehernya.
Chami sengaja pergi keluar walaupun dingin, ia tidak ingin melihat wajah Arnold yang sudah terbebas dari hasrat. Chami sakit hati, Arnold telah memukulnya dan pulang hanya untuk tubuhnya, di tambah dengan aroma parfum wanita yang membuat Chami makin sakit hati.
Tampak ada laki-laki paruh baya baru keluar dari rumah, ia membersihkan mobil dulu dari salju sebelum pergi. Melihat ada orang pribumi membuat Chami tersenyum kepadanya, ia ramah karena ia ingin mempunyai teman ngobrol di sekitar komplek. Laki-laki itu terpaku melihat Chami, walaupun ia sudah lama tidak bertemu dengan wanita yang tersenyum kepadanya, tetapi ia ia ingat betul siapa wanita muda di depannya itu.
"Chami." Panggil laki-laki paruh baya itu dan langsung berjalan cepat menuju Chami.
Chami kaget karena orang itu mengenalnya, ia juga kaget karena tiba-tiba pria itu memeluknya. Chami mendorong pelan tubuh laki-laki itu, ia tidak tahu siapa laki-laki itu.
"Maaf, saya tidak mengenal Anda. Apa Anda mengenal saya?" tanya Chami dengan sopan.
Laki-laki itu kaget karena Chami tidak mengenalnya, "apa dia benar-benar tidak ingat denganku?" tanya laki-laki itu di dalam hati.
"Hei, aku om Rendra. Apa kamu sudah lupa dengan om mu ini?" tanya Rendra sambil memainkan pipinya untuk mengingatkan siapa dia.
Chami menggelengkan kepalanya karena ia benar-benar tidak ingat, tetapi setelah itu dengan cepat Chami menggapai tangan Rendra dan memegangnya erat. Menurutnya, ini adalah kesempatan untuknya karena dapat mengetahui tentang dirinya.
"Om, saya lupa ingatan! Tapi, tolong bantu saya om, saya ingin ingat semuanya tentang saya. Om kan kenal dengan saya otomatis om tahu kan siapa saya? tolong om, saya tidak ingat apa-apa." Chami memegang erat tangan Rendra, ia memohon dengan wajah yang memelas.
Rendra menyunggingkan bibirnya, "ini adalah kesempatan untukku, kali ini aku yakin jika keluarga mereka akan benar-benar hancur!" kata Rendra dalam hati.
"Baiklah Nak, kamu masuk dulu ke dalam rumah om! di sini sangat dingin sekali." Ajak Rendra, Chami mengangguk semangat.
Mereka masuk ke dalam rumah, Chami merasa hangat di dalam rumah itu. Ia pun menanggalkan jaket coklat muda yang di pakainya tadi dan sepatu boat kulit, tak lupa ia juga melepaskan sarung tangan dan di gantungkan di tempat pengantungan yang tersedia di balik pintu. Rendra memberi sendal rumah berbulu yang hangat untuk Chami, ia sangat senang jika Chami akan kembali membuat rencananya berhasil.
"Ayo duduk dulu ya, om mau bikinin coklat hangat untukmu. Apa kamu suka, Chami?" tanya Rendra sambil menunjukkan sofa untuk di duduki Chami.
"Iya saya suka, Om!" jawab Chami dengan semangat, dingin-dingin memang paling enak minum coklat hangat.
"Oke, kamu tunggu ya!" Chami mengangguk cepat, ia tersenyum dan Rendra pergi menuju dapur.
Chami menunggu sambil melihat-lihat isi ruangan, ia sambil duduk karena ia segan untuk berjalan-jalan di rumah orang tanpa izin. Chami tidak melihat foto apapun yang terpajang di dinding ataupun yang di atas meja, Chami hanya melihat banyak bunga plastik dengan pot yang berjejer di dinding rumah.
Setelah cukup lama menunggu, Rendra datang dengan membawa dua cangkir coklat panas. Chami tersenyum karena ia sudah mencium aroma coklat yang sangat menggiurkan.
"Maaf menunggu lama, jangan di minum dulu ya, soalnya masih panas sekali!" Rendra meletakkan di atas meja tepat di depan Chami, aroma coklat itu benar-benar telah mengoda Chami untuk segera di cicipi, tentu saja Chami mengurungkan niatnya setelah mendengar apa yang di katakan Rendra tadi.
"Jadi, bagaimana kamu bisa sampai kesini?" tanya Rendra sambil duduk di depan Chami, ia ingin tahu segalanya agar ia bisa membuat rencana yang sempurna.
"Sekitar dua bulan yang lalu, om. Saya di bawa oleh orang yang menolong saya dan saya sudah menikah dengannya!" jawab Chami dengan jujur.
__ADS_1
"Oh, kamu sudah menikah. Apa kamu tahu penyebab kamu lupa ingatan?" Rendra bertanya karena ia benar-benar ingin tahu semuanya.
"Saya tidak tahu, Om. Tidak ada yang menceritakan tentangku, termasuk suamiku!" jawab Chami dengan sendu, ia mengenang Arnold sejenak.
"Siapa suamimu? kenapa dia tidak mengajakmu pulang ke rumahmu?" Chami mendengar pertanyaan itu, ia tersenyum sebentar agar orang melihatnya tidak memilih masalah.
"Namanya Arnold, dia bungkam, Om. Tak ada satupun orang yang memberitahu tentang diriku, saya mohon om tolong beritahu siapa saya sebenarnya?" Chami begitu berharap agar Rendra memberitahu tentang dirinya.
"Arnold? siapa dia? apa dia mempunyai rencana juga? atau hanya sekedar membantu. Biarlah, yang sedang penting wanita bodoh ini ada dalam genggamanku." Rendra berucap dalam hati, ia sangat senang karena Chami akan dalam genggamannya.
"Sebenarnya, kita di Indonesia adalah tetangga dan orangtuamu adalah teman baik om. Mereka sangat kaya, ayahmu mempunyai perusahaan sendiri dan ibumu adalah wanita yang sangat cantik. Kamu mempunyai kembaran, namanya Chasi. Kalian berdua sangat mirip, tetapi nasib kalian berbeda..."
"Maksudnya, Om." Sanggah Chami cepat, padahal Rendra belum selesai bicara. "Eh maaf, Om. Ayo di lanjutkan!" Chami tersenyum sebentar karena telah memotong pembicaraan.
"Maksudnya, kasih sayang yang di berikan orangtuamu sangat beda. Chasi adalah anak kesayangan mereka, sedangkan kamu bagi mereka adalah anak sial." Chami menelan ludahnya, ia tidak menyangka jika ia memiliki masa lalu yang buruk.
"Tapi Om, kenapa mereka menganggap ku sebagai anak yang sial, padahal kan anak adalah anugerah dari Tuhan." Chami tidak mengerti, bahkan ia juga tidak percaya apa yang di katakan Rendra. Mana mungkin anak adalah sial, pikir Chami.
"Ayahmu kaya karena guna-guna, jadi yang di korbankannya adalah kamu. Jika mereka tidak menyiksamu maka mereka akan bangkrut." Jelas Rendra bohong.
"Maksudnya, saya dulu sering di siksa, Om? Tapi kenapa orangtuaku begitu tega menyiksa anak sendiri." Chami meremas tangannya pelan.
"Sedari kecil kamu sering di siksa, buktinya mungkin ada bekas luka di tubuhmu. Demi uang, orangtuamu rela menyiksamu, apalagi kamu kembar jadi mereka pikir tidak apa-apa menyiksa satu anak." Rendra begitu senang, ia ingin Chami membalas orangtuanya.
Chami diam sebentar sambil memejamkan matanya, ia sadar banyak bekas luka di tubuhnya. Bahkan tampak jelas karena tubuhnya yang putih, tapi ia benar-benar tidak menyangka jika yang meninggalkan bekas luka di tubuhnya adalah orangtuanya sendiri.
"Apa kamu mau pulang ke Indonesia?" tanya Rendra.
"Saya mau ke Indonesia, tapi apakah orangtua saya mau menerima saya, Om?" Chami bertanya karena khawatir orangtuanya tidak mau menerimanya.
"Orangtuamu sudah sangat keterlaluan, Chami. Mereka sudah menikmati harta di atas tempat penderitan mu. Ingat, semua itu adalah milikmu, kamu harus mengambilnya kembali!" Chami terdiam mendengar itu, ia melihat Rendra sejenak.
"Saya akan pulang dan saya akan merebut apa yang harusnya jadi milik saya, om." Chami menjawab dengan cepat.
"Bagus gadis bodoh, buat keluargamu benar-benar hancur sampai orangtuamu bercerai. Setelah itu, Zira akan menjadi milikku, dia akan memohon untuk kembali kepadaku dan dia akan menyesal karena telah memilih Gani yang menjadi suaminya." Rendra tertawa di dalam hati, rencananya kini harus di buat sematang mungkin agar berhasil. Rendra tidak mau gagal lagi, sebelumnya ia sangat memaki anaknya karena tidak becus.
"Bagaimana mungkin aku ingin membalas orangtuaku sendiri, jika itu benar akan aku perbaiki semuanya. Aku ingin memiliki keluarga yang bahagia." Ujar Chami di dalam hati.
"Wah ada tamu ya, nama kamu siapa?" tanya wanita yang memakai baju tidur seksi, ia melenggang berjalan turun tangga mendekati Chami.
"Saya Chami," jawab Chami ramah, saat wanita itu semakin dekat dengannya ia tercium aroma vanilla seperti wangi dari tubuh Arnold semalam. Chami tertegun sejenak, tetapi ia langsung sadar sekaligus kaget karena wanita itu memeluknya tiba-tiba dan ia merasakan tonjolan di perutnya karena perut wanita itu.
"Salam kenal, Chami. Perkenalkan, saya Dira." Dira melepaskan pelukannya, ia melihat Chami sambil tersenyum sedangkan Chami memasang senyum paksa. Ia benar-benar yakin jika aroma parfum itu sama dengan yang tercium di badan Arnold semalam.
"Jangan gugup, ayo duduk. Eh kok minumannya gak di minum?" Dira menuntun Chami untuk duduk di sampingnya tempat Chami duduk tadi, ia juga menyodorkan gelas berisi coklat panas tadi yang kini sudah mulai sejuk. Chami mengambilnya dengan hati-hati takut tumpah, tapi perasaannya saat ini benar-benar campur aduk.
"Papa dapat darimana ABG cantik begini?" pertanyaan Dira membuat Chami hampir tersedak karena ia sedang minum, sedangkan Rendra melihat Dira tak suka, ia sangat tidak suka calon menantu jal*ngnya itu memanggilnya papa.
__ADS_1
"Dia adalah anak temanku, dimana Carli? apa dia belum bangun?" tanya Rendra dengan ketus.
"Oh, papa pura-pura gak tau atau apa sih? semalamkan dingin ya jelaslah Carli kelelahan, papa sih yang sok naif!" Dira mengedipkan matanya ke Rendra, Chami yang mendengar dan melihat itu hanya berpura-pura bodoh. Ia tidak menyangka jika dua orang di dekatnya ini melakukan skandal.
"Diamlah!" jawab Rendra sambil berdeham, ia melihat ke arah Chami sejenak yang tengah menyeruput coklat panas yang sudah sejuk. Kemudian ia melihat ke Dira sambil melototkan matanya sedangkan Dira hanya mengedipkan sebelah matanya saja tidak menghiraukan Rendra yang tengah marah kepadanya.
"Kamu tinggal di mana, Chami?" Dira melihat Chami dari atas sampai kebawah, ia kagum dengan kecantikan Chami.
"Tinggal di dekat sini, kak." Chami menjawab dengan gugup karena Dira sedang memainkan bahunya di balik long jhon yang di pakainya, jari telunjuk Dira bermain di sana.
"Oh.. apa kamu sudah menikah?" tanya Dira tetap memainkan jarinya di bahu Chami membuat Chami merinding.
"Iya, saya sudah menikah dua bulan yang lalu," jawab Chami sambil menggeser posisi duduknya sedikit, ia tidak ingin berdekatan dengan Dira.
"Wah, pengantin baru dong." Chami hanya mengangguk.
Dira mendekatkan tubuhnya kembali dan berbisik di telinga Chami, "kau tahu, semalam aku bertemu dengan lelaki tampan dan dia blasteran. Dia sangat pandai dalam bermain, aku ingin sekali bermain dengannya lagi. Katanya, dia juga baru menikah sekitar dua bulan." Kata Dira yang melebihi cerita.
Chami meremas tangannya kuat sampai memerah, jadi benar aroma vanilla di ditubuh wanita inilah yang menempel di tubuh suaminya. Chami ingin menangis tapi di tahannya, ia sangat malu tiba-tiba menangis di rumah orang lain.
"Dira, sebaiknya kamu naik ke atas. Tinggalkan kami berdua!" Rendra kesal karena Dira telah membuat Chami seperti itu, ia tidak tahu apa yang di bisik Dira sampai Chami meremas tangannya kuat.
Dira melihat Rendra dengan tatapan tak suka, ia berdiri dengan malas. Dira berjalan naik ke lantai dua sambil memegang perutnya. Sedangkan Rendra yang melihat Chami langsung membuka suara.
"Jangan di hiraukan apa yang di katakan wanita gila itu, oh iya.. bagaimana dengan Indonesia, kapan kamu mau berangkat?" tanya Rendra lagi, ia khawatir jika Chami berubah pikiran.
"Secepatnya saja, Om. Tapi bagaimana dengan uang, pasport dan lain sebaginya, saya tidak memiliki uang, Om. Saya hanya punya handphone ini." Chami menunjukkan handphone yang mahal pemberian Angel untuknya.
"Bagus, urusan uang dan segalanya jangan khawatir. Om akan tanggung semuanya, kamu tinggal berangkat saja nanti. Oh iya, kita akan berangkat bersama lusa nanti bersama Dira dan anak saya." Jelas Rendra dengan cepat, kesempatan ini tidak ingin ia lewatkan.
"Terimakasih, Om. Tapi izinkan saya tinggal di sini sampai kita pulang ke Indonesia ya!" Chami meminta izin karena ia tidak ingin lagi kembali ke rumah Arnold.
"Jadi, bagaimana dengan suamimu?" Rendra menyerngitkan keningnya karena ia masih belum tahu siapa Arnold sebenarnya, dan bagaimana pernikahan Chami.
"Saya tidak ingin dia tahu jika saya kembali ke Indonesia, Om." Chami menjawab dengan pelan ia menggigit bibirnya pelan karena khawatir jika Rendra tidak mengizinkannya.
"Oh. Baiklah, tapi jangan sampai nanti sampai membuat masalah dan kamu tidak bisa kembali ke Indonesia." Ucap Rendra mengingatkan agar Chami tidak membuat masalah nanti.
"Saya akan berusaha tidak ketahuan, Om. Saya juga tidak akan keluar dari rumah ini sampai kita berangkat nanti agar suami saya tidak dapat mencari saya." Chami mengatakan dengan yakin, ia sudah terlanjur sakit hati dengan Arnold apalagi setelah mendengar apa yang Dira katakan tadi.
"Bagus, sebaiknya begitu. Kamu tinggallah di sini sampai kita berangkat nanti, semua persiapan keberangkatan mu nanti akan om urus, kamu tinggal mempersiapkan diri saja." Jelas Rendra lagi agar Chami tak menanyakan tentang persiapan keberangkatan.
"Terimakasih banyak om atas bantuannya, saya janji akan membalasnya nanti."
"Balas saja ke orangtuamu, itu yang harus kamu lakukan nanti." Ucap Rendra cepat, ia tidak ingin jika Chami lupa dengan pembalasan ke orangtuanya.
"Iya, om." Jawab Chami cepat, sejujurnya ia tidak menginginkan itu.
__ADS_1
Sedangkan di rumah Arnold, tepatnya di kamarnya. Arnold baru saja terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan mata lalu melihat sekeliling ia tidak melihat Chami di sekitar ruangan. Arnold pikir Jiak Chami sedang sarapan di bawah dan ia memilih untuk melanjutkan tidurnya.
Bersambung