
Chariq dan Chasi berada di dalam perjalanan menuju rumah Gani, hari sudah menunjukkan pukul 13:15 dan itu membuat wajah Chasi masam. Setelah mandi pagi Chasi langsung ingin pergi, namun Chariq terus menahannya jadi ia baru pergi sekarang.
Chariq senyum-senyum sendiri melihat Chasi cemberut, ia sedang mengemudi tapi matanya sesekali melihat Chasi.
"Jangan cemberut dong, nanti keriput tuh muka," ucapan Chariq malah makin membuat Chasi makin cemberut, Chasi memonyongkan bibirnya panjang.
"Olo... Olo... liat tuh muncungnya, kayak muncungnya mujair aja," ujar Chariq kemudian ia tertawa.
"Gak lucu!" jawab Chasi ketus.
"Hahaha jangan marah terus dong, nanti Dedek bayi di perut ikutan ngambek loh," kata Chariq sambil cekikikan.
Chasi melihat Chariq dengan wajah kesal, "Dedek Bayi apanya? aku belum hamil!" jawab Chasi ketus.
"Kalau belum, yah biar aku bikin hamil," balas Chariq sambil menyunggingkan senyumnya.
"Enak aja, kita belum nikah. Jadi jangan harap gitu-gituan lagi sebelum nikah,"
"Wah, kalau kita udah nikah boleh dong langsung bikin kamu hamil?"
"Apaan sih?"
"Kita gak ke apotek dulu?" tanya Chariq karena akan ada lewati apotek.
"Untuk apa?"
"Siapa tahu kamu mau beli untuk tes kehamilan itu," jawab Chariq sambil menyentuh perut Chasi sebentar.
Chasi hanya diam, ada getaran saat Chariq menyentuh perutnya. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu membukanya dan langsung melihat Chariq yang tengah tersenyum sambil menyetir.
"Nikahkan aku segera." Chasi mengucapkan dengan mantap membuat Chariq langsung menoleh.
"Kamu yakin?" tanya Chariq sambil menahan senyum.
"Kita akan memiliki anak yang banyak, tapi janji jangan pernah memukul anak kita nanti." Chasi mengatakannya dengan semangat, sungguh saat ini ia masih ragu sebenarnya. Chasi takut jika Chariq seperti Gani yang memukul kembarannya.
__ADS_1
"Mana mungkin aku memukul darah daging ku sendiri, mana ada seorang ayah memukul anaknya."
"Papi memukul, jangan lupa itu!"
Chariq diam, ia lupa. Chariq lupa jika wanita yang di cintainya dulu selalu di siksa oleh ayahnya sendiri, Chasi mengerti akan diamnya Chariq.
"Bagaimana nanti jika kau sudah menikahiku? apakah kau bisa memberi hatimu seutuhnya untukku? aku takut, aku takut nanti aku akan kecewa. Namun, aku tak bisa lari karena aku sudah mulai ada rasa." Batin Chasi.
"Kita sudah sampai!" ucap Chariq berada di depan pagar rumah Gani yang besar.
"Pulanglah dulu, aku akan ke apartemen sendiri nanti," balas Chasi sambil melepaskan sabuk pengaman.
"Yakin jika aku tidak masuk?" tanya Chariq memastikan.
"Pulanglah,"
Chasi keluar dari mobil Chariq, ia berjalan menuju pagar dan tak lupa Chasi melambaikan tangan ke Chariq dan menyuruhnya pulang.
"Jika terjadi apa-apa denganmu, maka jangan salahkan aku jika aku menyiksanya!" kata Chariq dalam hati dan berlalu pergi.
Semua orang yang bekerja di rumah itu kaget saat Chasi pulang, kecuali tukang kebun suruhan Chariq. Mereka ingin menyapa Chasi, namun Chasi hanya berwajah datar dan langsung berjalan menuju kamarnya. Sebelum ke kamar Chasi melihat foto keluarga yang masih terpajang di dinding, foto mereka bertiga tanpa Chami. Chasi juga melihat pintu kamar Chami yang masih tertutup, ia yakin jika ayahnya ada di kamar itu.
"Kau sudah menjadi pelac*r! ada hati kau kembali ke rumah ini lagi, hah!" Gani berteriak kencang, ia memandang marah ke arah Chasi.
Chasi kembali menutup pintu, ia langsung berlari ke lantai bawah. Ia tahu tatapan itu, tatapan saat hendak memukul Chami. Gani mengejarnya, Chasi berlari dengan cepat menuruni tangga. Malangnya, kaki Chasi tersandung dengan kakinya sendiri ia terjatuh saat menuruni anak tangga yang ketiga dari bawah. Dengkulnya sakit dan ia terduduk di sana sambil mengelus dengkulnya.
Gani menyeringai melihat anak gadisnya itu, tak butuh waktu lama ia sudah di belakang Chasi dan langsung menarik rambut Chasi dengan kasar.
PLAK
Tamparan mendarat di pipi Chasi, Gani tertawa setelah menampar anaknya. Tak lepas dengan cengkraman rambut Chasi ia malah menampar lagi pipi Chasi berulang kembali.
"Dasar anak tidak tahu diri!" Gani mengatakannya dengan lantang sampai semua pekerja di rumah itu melihat ia menyiksa Chasi.
"Lepasin aku brengsek!!" teriak Chasi sambil memegang tangan ayahnya agar terlepas dengan kuat.
__ADS_1
"Akhh..." Gani melepaskan cengkraman tangannya, tapi ia menendang Chasi sampai anaknya tersungkur ke lantai.
Dengan rambut yang berantakan, Chasi langsung bangkit dan mendorong Gani sampai terjengkang ke belakang.
"Anak kurang hajar!!" Gani memandang Chasi dengan penuh amarah.
"Kau pembunuh!! kau membunuh Mami dan Chami, kau tak pantas hidup, brengsek!!"
Chasi ingin mengambil sesuatu di kantong celananya, namun sayang ia di dorong Gani dengan kuat sampai kepalanya terbentur dengan meja. Chasi merasakan kepalanya pusing, ia merasakan ada yang mengalir di keningnya.
"Aku memang pembunuh dan kau lah yang akan menjadi korban selanjutnya hahaha..." Gani menarik rambut Chasi kembali, ia menghempaskan Chasi ke tengah lantai. Para pelayan hanya menyaksikan saja, mereka takut untuk bertindak.
"Aku yang akan duluan membunuhmu!!" ucap Chasi kuat walaupun penglihatannya sudah berkunang-kunang.
"Semenjak jadi pelac*r kau sudah banyak berubah hemm.." Gani mendekat ke arah Chasi ia memegang leher Chasi dan menyekiknya.
Chasi menatap ayahnya penuh dengan kebencian, ia meludah tepat di wajah Gani.
PLAK
Gani menampar Chasi dengan kuat sampai mulut Chasi mengeluarkan banyak darah, Gani mengelap wajahnya dengan baju yang di pakainya.
Chasi tergeletak lemah di lantai, ia menahan dirinya agar terus sadar. Chasi melihat Gani pergi dan tak lama kembali lagi, matanya terbuka lebar saat Gani kembali membawa pentungan besi.
Gani bagaikan iblis mendekati Chasi, di depan matanya sekarang bukan melihat anaknya tapi melihat musuhnya. Gani mengangkat pentungan itu tinggi-tinggi siap untuk menghantam Chasi.
"Mati kau pelac*r!!"
Dooorrrrr
Hening. Hanya ada suara pentungan besi yang jatuh kelantai dan bergelinding, Gani terjatuh terkapar sambil memandang anaknya. Gani masih sadar namun ia lemah, tembakkan tepat di dada kirinya membuat ia bertahan dalam waktu yang tidak cukup lama.
"Akkhhhh... hahahaha hiks.. hiks.."
Chasi memekik, tertawa kemudian menangis. Mata Gani perlahan menutup, pistol di tangan Chasi kini sudah terjatuh ke lantai. Chasi sudah membunuh ayah kandungnya sendiri, tubuhnya bergetar hebat dan menangis sesenggukan. Pistol yang di ambil Chasi saat Chariq mandi pagi tadi sudah menjadi alat untuk membunuh ayahnya sendiri, Chasi baring di lantai dan menghadap langit-langit rumah.
__ADS_1
"Kematian memang yang terbaik untuk Papi, maafkan aku yang merenggut nyawa mu. Aku kecewa memiliki ayah seperti Papi. Pergilah yang jauh, pergilah sampai aku tak bisa melihatmu lagi. Aku hanya berdoa pada Tuhan, semoga jika kau di lahirkan kembali kau menjadi ayah yang terbaik untuk anak-anak mu. Selamat tinggal, pergilah menjauh ayah yang selalu memberiku kasih dan juga ayah yang selalu memberi saudaraku kesengsaraan."
Bersambung