TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Super dan Dekil


__ADS_3

Arnold pura-pura tidak dengar apa yang di katakan Chami, ia malah beralasan sakit perut dan pergi ke kamar mandi. Chami hanya menghela nafas, ia tidak tahu harus bagaimana lagi membujuk Arnold.


Sekitar pukul delapan Arnold menyuapi Chami makan bubur dalam diam, Arnold dan Chami duduk berhadapan. Chami di atas ranjang sedangkan Arnold duduk di kursi mengahadap Chami, mereka sama-sama diam karena tidak ingin membahas masalah tadi.


Tok Tok Tok


Chami dan Arnold menoleh bersamaan ke arah pintu karena tanpa di suruh masuk pintu itu terbuka. Mata Chami membulat melihat Chasi berlari ke arahnya dan langsung memeluknya, ia dengan cepat menelan bubur yang ada di dalam mulutnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Chasi sambil tersenyum menyusuri wajah Chami.


"Aku baik-baik saja, kamu tidak marah sama aku?" tanya Chami, ia ingat sekali pertemuan terakhirnya dengan Chasi.


Chasi terdiam sejenak, mengenang masa lalu membuat ia sedih.


"Maafkan aku, aku tau aku yang bersalah." lirih Chasi.


Chami tersenyum melihat kembarannya, "Aku selalu menyayangimu, Chasi." ucapnya lembut.


"Aku juga menyayangimu, kembaran ku." kata Chasi di tambah dengan pelukan lagi, dengan senang hati Chami membalasnya. Mata Chami tertuju ke Arnold dan beralih dengan pria di belakang Arnold, Chariq.


"Bang Chariq." gumam Chami.


Chasi langsung melepaskan pelukannya mendengar yang di gumamkan Chami. Ia menoleh melihat Chariq yang memasang wajah bersalah.


"Abang, apa kabar?" tanya Chami dengan senyuman. "Abang, kenapa bisa kemari?" tanya Chami lagi.


Chariq menatap mata Chami dalam, Chasi yang melihat itu merasa cemburu. Chasi khawatir jika Chariq tidak ingin bersamanya lagi.


"Aku akan menikah dengan Chasi dan saat ini Chasi sedang hamil, kami akan melangsungkan pernikahan setelah kamu keluar dari rumah sakit." jelas Chariq, ia tidak ingin Chasi salah sangka terhadapnya.


"Kamu hamil, Chasi?" tanya Chami kaget.


"Iya aku hamil, kita sama bukan?" jawab Chasi sambil mengelus perutnya.


"Wah... aku yakin jika mami tahu pasti dia akan senang, bagaimana tidak. Anak kembarnya hamil bersamaan." ucap Chami dengan ceria.


Semua yang di sana hanya terdiam, Chasi menundukkan kepalanya menyembunyikan genangan air mata yang hendak jatuh. Ia terus menahannya, di rasa hendak jatuh dengan cepat di sekanya air mata itu. Chasi tersenyum melihat Chami, ia tahu jika kembarannya itu harus tahu.


"Chami." panggil Chasi pelan.


Chami menoleh melihat Chasi ia melihat wajah kembarannya yang tak tampak biasa langsung merasa khawatir.


"Mami dan Papi sudah meninggal, maafkan aku. Aku sudah membiarkan Mami sakit-sakitan sampai meninggal dan juga maafkan aku karena telah membunuh Papi."


Chariq langsung menghampiri Chasi dan memeluk kekasihnya itu, Chami kaget mendengar apa yang di katakan Chasi. Berita yang di dapatkannya itu terlalu mendadak dan membuatnya bersedih.


"Mami, Papi." gumam Chami dengan tatapan kosong.

__ADS_1


Chami membayangkan kenangan yang dulu pernah ia alami, semuanya membuat Chami terluka.


"Tidak apa-apa, Sayang. Semuanya sudah tenang di sana. Sekarang, kamu fokus ya sama kesehatan kamu dan anak kita. Ingat kamu juga akan menjadi seorang ibu nantinya, jadi jangan menjadi beban buat kamu. Orang hidup pasti akan meninggal, begitu juga dengan adik aku. Sayang, aku mohon terima ini semua dengan hati yang ikhlas."


Arnold memeluk Chami dengan hangat dan membisikkan kata-kata yang menenangkan untuk Chami, anak mana yang tak bersedih jika orangtuanya meninggal? Chami membalas pelukan hangat dari Arnold, ia memeluk dengan rasa sayang ke suaminya itu.


"Terimakasih, selalu ada dan terus mencintaiku. Aku mencintaimu, suamiku." ucap Chami dengan lembut, tak lupa ia meneteskan air matanya.


"Aku juga mencintaimu, istriku."


Arnold melepaskan pelukannya ia mengecup kening Chami dengan mesra, Chasi dan Chariq juga mengikuti tingkah mereka.


"Chasi, ayo segera menikahlah." kata Chami dengan mantap.


"Laksanakan, Kembaran!" ucap Chasi sambil memberi hormat.


Gelak tawa terdengar dari kamar itu, semuanya bersuka ria walaupun terselip duka di sana.


***


Satu minggu setelah kepulangan Chami, akhirnya Chasi dan Chariq melangsungkan pernikahan di gereja. Chariq ingin mengadakan pesta besar-besaran, tapi Chasi tidak menginginkannya. Baginya sudah terikat janji suci dengan pria yang pernah kasar padanya adalah yang terbaik.


Gaun pengantin yang di gunakan Chasi melekat membentuk tubuh langsingnya, ia sangat cantik pada hari itu. Chariq sangat tampan dengan tuxedo berwarna hitamnya, keduanya tampak sempurna. Walaupun Chariq tampak dewasa, tetapi karena menikah atas dasar cinta merasa seperti pasangan serasi.


Selesai acara berlangsung Chasi, Chariq dan yang lainnya pulang ke rumah Gani. Walaupun banyak bekas luka di rumah itu, tetapi mereka tetap kembali ke sana.


"Maldives mungkin?" jawab Chariq tak yakin, ia ingin persetujuan dari Chasi.


"Kok mungkin sih?" Chasi merengut mendengar itu.


"Jadi beneran mau, Maldives?" tanya Chariq melihat Chasi yang makin cantik dengan make up di wajahnya.


"Iyalah!" jawab Chasi sambil menyinggung senyumnya.


Semuanya langsung tertawa, melihat pengantin baru itu Chami langsung menyenggol lengan Arnold.


"Ada apa, Sayang?" bisik Arnold di telinga Chami.


"Kamu gak mau bulan madu lagi?" tanya Chami agak kuat, Chasi dan Chariq langsung menoleh ke arah mereka.


"Bulan madu? maksudnya sama istri baru lagi?" goda Arnorld.


"Ihhh... dasar Playboy cap gayung, kalau mau istri baru lagi tunggu aku sudah mati nanti!" jawab Chami ketus.


"Kok ngomongnya gitu, aku gak akan nikah lagi kok. Kamu selalu ada di hatiku, sudah setengah nih." Arnold menunjuk dadanya.


"Tuh kan, cuma setengah." balas Chami mulai merajuk.

__ADS_1


"Separuh lagi untuk anak kita, Sayang." Arnold mengucapkannya dengan lembut.


"Hadehhh... yuk sayang kita ke kamar."


"Akkhhhh.."


Chasi berteriak kecil karena Chariq tiba-tiba menggendongnya, Chami melihat itu juga ingin. Chami melihat Arnorld dengan sedikit manja.


"Kamu mau?" tanya Arnold, ia yakin jika istrinya mau.


Chami mengangguk, ia sudah bersiap diri untuk di gendong Arnorld.


"Kamu berat, weeekkk...."


"Iiihhh.... awas ya, aku cari pengganti dirimu nanti!" ancam Chami, Arnold yang tengah menjulurkan lidah langsung memasukkan lidahnya kembali.


"Baiklah, baiklah. Sini suamimu yang tampan ini gendong."


Chami langsung tersenyum lebar saat Arnold ingin menggendongnya, ia langsung menahan tangannya di tengkuk Arnold agar tidak terjatuh saat di gendong.


"Kamu tahu artinya apa, saat wanita minta gendong?" tanya Arnold saat ia sudah menggendong Chami ala bridal style.


"Apa?" tanya Chami menatap dalam mata Arnold.


"Ya, mau enak-enakan lah!"


"Dasar, Super Mesum!"


"Aku suka kau memanggilku begitu, Dekil."


"Super Mesum."


"Dekil Manja."


"Super Mesum."


"Dekil Manja."


"Super Mesum."


"Bersiap untuk bertempur, Dekil."


"Hati-hati. Aku sedang hamil, Mesum."


"Siap, Manja."


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


TAMAT


__ADS_2