TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Satu Selimut


__ADS_3

Setelah pemakaman selesai Gani berjalan dengan gontai meninggalkan pemakaman sang istri, Chasi tengah meraung di kuburan ibunya. Mereka sangat berduka, apalagi Gani yang beberapa bulan ini tidak memperhatikan istrinya sama sekali.


Mendengar jika anaknya sudah meninggal membuat Zira langsung tumbang, semalam ia di bawa ke rumah sakit dengan keadaan yang sekarat. Gani sudah pasrah karena tubuh Zira yang sudah dingin, sedangkan Chasi terus menangis takut di tinggalkan oleh ibunya. Malangnya nyawa Zira tidak dapat di selamatkan saat sudah sampai di rumah sakit, ia tidak dapat bertahan karena kondisinya yang lemah dan di tambah mendengar kabar Chami meninggal membuat ia terkena serangan jantung.


Beni dan Ayu juga ikut ke rumah sakit, mereka berdua juga turut berdukacita atas meninggalnya Zira. Chasi tambah menangis histeris setelah melihat foto Chami yang sedang ada di dalam peti mati yabg di tunjukkan Beni sebagai bukti dari perkataannya, padahal itu semua rekayasa dari Arnold dan juga ia bekerja sama dengan Beni. Chasi tidak kuat sampai ia jatuh pingsan, sedangkan Gani sang kepala keluarga hanya diam melihat tubuh istrinya yang tidak bernyawa dan foto Chami yang berbaring di dalam peti dengan wajah pucat.


***


Gani sudah seminggu mengurungkan diri di dalam kamar Chami, ia seperti mayat hidup yang tidak dapat melakukan apa-apa. Setiap harinya ia selalu di mimpikan dengan jeritan Chami yang kesakitan dan Zira yang terus memohon agar mencari anaknya. Kepala Gani serasa pengap, tetapi ia tidak tahu harus bagaimana.


Chasi tampak sangat kusut bahkan ia tidak mengurus penampilannya lagi, setiap malam Chasi keluar masuk klub malam hanya untuk mencari hiburan diri. Chasi setiap hari mengedor kuat-kuat pintu kamar Chami, tetapi ayahnya tetap memilih mengurung diri.


Malam ini Chasi tengah berada di klub malam, ia sudah tidak masuk kuliah lagi dan memutuskan untuk berhenti. Setiap malam pula Chasi berganti pasangan ia sudah melupakan Carli yang tidak kembali-kembali lagi, Chasi sudah banyak berhubungan dengan para lelaki hidung belang, tetapi mereka melakukannya tetap memakai pengaman.


"Cantik." Bisik pria yang lumayan dewasa di telinga Chasi yang sedang duduk di meja bar sendirian sambil mabuk.


Chasi menoleh ke arah pria itu, Chasi tersenyum saat mengetahui jika pria di sampingnya kini sangat tampan dan berkharisma. Chasi menarik kerah baju pria itu dan berbisik mesra kepadanya.


"Mau bermalam denganku, Tampan?" tanya Chasi dengan nada sensualnya membuat pria itu menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Of course, Young Lady!" Chasi langsung bangkit dengan kesadaran yang masih tersisa ia ingin mengajak pria itu bermalam bersamanya di kamar yang sudah tersedia di klub malam itu, tetapi pria itu menolak ia malah mengajak Chasi menuju hotel dan tentu saja Chasi menyutujuinya.


***


Arnold terbangun dari tidurnya, ia melihat ke sampingnya dan melihat Chami yang tengah berselubung di balik selimut. Arnold menarik selimut itu agar wajah Chami tidak tertutup ia takut jika Chami tidak dapat bernafas nantinya.


"Jangan di buka, aku kedinginan," selimut tebal itu kembali di tarik Chami untuk menutupi seluruh tubuhnya yang masih tidak memakai apapun gara-gara semalam.


Arnold ikut masuk ke dalam selimut ia hanya melihat kegelapan di dalam selimut dan ia hanya merasakan hembusan nafas Chami yang begitu berat.


"Kamu benar-benar kedinginan, Sayang?" tanya Arnold yang cukup khawatir dengan kondisi Chami sebab di Australia baru memasuki musim dingin.


"Ini baru masuk musim dingin sayang, belum lagi nanti jika turun salju." Kata Arnold sambil merapatkan tubuhnya agar dapat memeluk Chami.


"Jika begini setiap hari aku bisa beku dong?" tanya Chami lagi sambil membayangkan ia membeku dan akan menjadi manusia es.


"Tapikan kita bisa memakai penghangat ruangan, kamu tenang saja suamimu ini tidak akan membuatmu terus kedinginan. Kamu akan ku beri kehangatan dan kenikmatan setiap waktu, Bagaimana?" Arnold berkata sambil menggosok-gosok tangannya di belakang punggung Chami agar istrinya mendapatkan kehangatan.


Chami tahu jika Arnold sedang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, "aku mau ke Indonesia saja!" kata Chami dengan mantap membuat tangan Arnold berhenti menggosokkan punggung belakang Chami.

__ADS_1


"Mom dan Dad pasti tidak mengizinkannya, lagian untuk apa kesana malahan enak di sini." Arnold berusaha agar Chami tidak ingin kembali ke negara itu karena ia takut Chami kembali ke masa lalunya.


"Kalau kamu gak mau biar aku aja yang sendiri pergi, orang pisah ranjang saja tapi kita bahkan nanti pisah negara." Chami berkata sambil cemberut, walaupun Arnold tidak dapat melihat wajah istrinya dengan jelas, tetapi ia tahu saat ini Chami tengah merajuk dan akan terus menuntut sampai ke inginnya tercapai.


"Tidurlah kembali, nanti kita akan membicarakannya sama Mom dan Dad!" Arnold sangat takut jika kembali ke Indonesia, ia sangat takut jika Chami bakalan teringat lagi sebab kata dokter Irwan dulu, Chami tidak boleh mengingat lagi atau di paksa ingat karena akan berbahaya untuknya.


"Jika kita ke Indonesia nanti, apakah kita akan tinggal di rumah yang besar itu?" tanya Chami mengingat rumah Arnold yang sudah di berikannya untuk Beni, Chami masih saja menyebut rumah itu besar, padahal rumah orang tua Arnold lebih besar dari rumah itu bahkan jauh lebih besar dari rumah milik Gani.


"Kita tidak punya rumah lagi di Indonesia, makanya kita tidak bisa kembali kesana!" Arnold sengaja mengatakan itu agar Chami berubah pikiran, ia ingin membawa Chami ke negara mana saja, tetapi tidak dengan Indonesia.


"Jadi, rumah yang besar itu bukan punya suamiku? Hmm... padahal aku senang sekali memiliki rumah seindah itu, apa lagi ada anak-anak dan hewan peliharaan." Chami tampak sedih mengatakan itu, padahal saat ia tidur semalam di rumah Arnold dulu sebelum berangkat ke Australia ia sangat senang dapat tinggal di rumah itu, apalagi di kamar Arnold yang sangat nyaman.


"Eh, suamimu ini kaya dan banyak uang, rumah sekecil itu bagiku hanya kedipan mataku saja sayang. Jadi, jangan meremehkan suamimu ini, istana pun akan aku berikan untuk istri tercintaku." Arnold berbicara dengan sombongnya membuat Chami mendengar apa yang di katakan suaminya malas.


"Istana pun akan di beri! Istri kedinginan saja di biarin aja malah banyak ngelesnya agar kita tidak kembali ke Indonesia, bilang aja kalau tidak ada uang. Toh, kita juga masih numpang di rumah orangtuamu. Hmmm!" Chami ingin membuka selimut agar tidak satu selimut dengan Arnold, tetapi langsung di tahan Arnold dengan cepat.


"Tadi kamu bilang apa, Sayang? Suamimu ini adalah suami yang terbaik di seluruh dunia ini dan suamimu ini memiliki banyak uang, besok kita akan ke Indonesia dan membeli rumah yang paling mahal di sana agar kamu tau siapa Arnold Schwarzenegger."


"Yess, besok ke Indonesia. Terimakasih suamiku sayang." Chami memeluk Arnold dengan hangat, ia sekarang tidak malu lagi karena mereka sudah tahu sama tahu sejak kejadian itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2