
Chami menunggu di meja makan ia sudah menyiapkan dua mangkuk untuknya dan satu mangkuk untuk Arnold, Chami yakin jika Arnold akan membeli untuk dirinya juga. Hampir satu jam Arnold belum pulang membuat perut Chami bergemuruh hebat, ia seperti sedang berpuasa dan menunggu adzan tiba.
"Super mesum itu kenapa belum tiba juga? Ishh.. inilah laki-laki kalau di suruh belanja atau membeli sesuatu pasti lambat dan bodoh." Chami ingin menelpon Arnold tetapi ia ingat jika tidak memiliki handphone.
Chami berjalan keluar rumah di teras ia ingin menunggu Arnold pulang karena ia benar-benar tidak sabar ingin makan bakso, entah kenapa ia seperti ngidam ingin makan sesuai keinginannya. Ayu dan Beni seperti biasa mereka sedang sibuk bermesraan di dapur sampai tidak peduli dengan Chami yang sedang gelisah karena lapar.
"Akhirnya kau pulang Super mesum!" Chami senang tetapi ia memasamkan wajahnya melihat Super yang menenteng kantong plastik yang berwarna biru putih garis-garis.
"Kenapa wajahmu seperti itu Dekil, kau mau marah karena aku lambat?" Arnold seperti tahu apa yang di pikirkan Chami.
"Iya aku marah Super, kau begitu lambat seperti siput gatal" Arnold sangat bersabar di dalam hatinya, ia ingin marah tetapi takut jika Chami kambuh maka ia yang akan menyesal nantinya.
__ADS_1
"Bebeb sayang tadi orang sangat banyak yang beli, untung aku bayar lebih mahal makanya babang ganteng mu ini bisa pulang jika tidak mungkin tengah malam nanti babang ganteng mu ini pulang dan kau pasti mati kelaparan bebeb sayang." Chami bukannya jijik mendengar cara bicara Arnold tetapi ia malah tertawa, sungguh Chami sebenarnya sangat malu.
"Panggilan apa itu? Kau tetap Super mesum bagiku!"
"Iya.. iya aku akan terus berbuat mesum dengan mu." Wajah Chami memerah ia teringat bentuk badan Arnold yang membuatnya ngiler.
"Kau sudah tergoda, Dekil?" Arnold ingin tertawa melihat wajah Chami yang memerah seperti tomat.
Arnold tersenyum saat melihat meja makan yang tersajikan mangkuk kosong untuk tiga orang dan juga air putih dua gelas, Arnold juga paham jika dua mangkuk untuk Chami dan satu mangkuk untuknya. Chami menyajikan bakso itu dengan cepat ia sungguh tergoda karena mencium bau bakso yang sangat mengunggah selera, Arnold menggelengkan kepala melihat kelakuan Chami yang begitu rakus saat makan.
"Bagaimana jika kau hamil nanti aku yakin kau pasti gendut, Dekil." Chami hampir tersedak mendengar apa yang di katakan Arnold, dengan sigap ia mengambil air yang sudah di siapkannya tadi dan langsung meminumnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan gendut!!"
"Jika cara makan mu itu seperti itu terus kau akan benar-benar gendut nantinya." Chami langsung berdiri dan meninggalkan Arnold sendirian, moodnya begitu buruk dan sangat cepat tersinggung. Bakso yang hanya di makannya beberapa suap tadi sudah menyisahkan kenangan, Arnold merasa bersalah ia memukul mulutnya pelan dan langsung mengejar Chami yang hendak ke lantai dua.
"Dekil, tunggu!" Chami tidak menghiraukan Arnold yang memanggilnya ia berlari masuk ke dalam kamar dan langsung berbaring di ranjang dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Arnold benar-benar merasa bersalah, tetapi ia merasa apa yang dikatakan katakannya tadi tidak menyakitkan hati. Arnold yakin jika Chami jarang tersinggung bahkan tidak menghiraukan apa yang dikatakan orang lain, tapi ia sangat frustasi sebab Chami saat ini sedang merajuk.
"Dekil, maafkan aku jika aku salah bicara." Arnold duduk di tepi ranjang ia menatap Chami yang berdiam diri di balik selimut.
"Hey, Chami Melania jangan merajuk dong."
__ADS_1
πΊπΊπΊπΊ