TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Vanilla


__ADS_3

Hari sudah mulai tengah malam, Chami tidak mendengar apa-apa di dalam kamar berarti suaminya belum pulang pikirnya. Chami masuk ke dalam karena ia mau mengantuk, duduk di balkon membuat badannya mati rasa karena kedinginan. Chami menutup rapat pintu balkon agar tidak ada angin malam yang masuk, ia mengganti baju dulu sebelum naik ke tempat tidur. Chami menggunakan sweater rajut yang tebal malam ini agar tubuhnya terasa hangat, ia naik ke atas tempat tidur dan langsung menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan dengan cepat ia tertidur.


Setelah puas dengan salju yang turun makin lebat, Arnold kembali ke rumah karena ia khawatir jalanan akan licin. Arnold membawa mobil dengan kecepatan sedang, saat di perjalanan ia melihat ada mobil yang mogok. Karena merasa kasihan dengan wanita yang sibuk dengan mesin mobil Arnold langsung menepikan mobilnya di depan mobil yang mogok itu, Arnold langsung keluar untuk membantu.


"Excuse me, can i help you?" tanya Arnold menghampiri wanita yang berpakaian seksi, padahal hari sedang turun salju.


"Yeah.. My car broke down and I need some help," wanita itu membalikkan badannya, ia ingin melihat orang yang berbicara, namun ia kaget saat melihat siapa yang ada di belakangnya. "Pak Arnold, Anda ada di sini? sejak kapan?" tanya wanita itu tidak menyangka bertemu dengan atasannya waktu bekerja di perusahaan Gani.


"Dira, aku baru 2 bulan di sini. Kamu kenapa bisa sampai di sini? dan kamu hamil? kapan nikah?" tanya Arnold yang juga kaget setelah melihat perut Dira yang lumayan besar.


"Sejak berhenti dari perusahaan saya langsung ke sini, Pak. Niatnya sih cari kerja baru, tapi sudah kebablasan hehehe." Dira menjawab sambil sambil cengengesan, sedangkan Arnold tidak mengerti apa yang di katakan Dira tadi.


"Eh, kenapa dengan mobilmu? kamu gak kedinginan apa pake baju tipis gitu." Arnold melihat baju yang di gunakan Dira sangat tipis, dan menurutnya sangat seksi karena Dira tengah berbadan dua dan tampak berisi.


"Ya dinginlah, mobil saya mogok nih. Sudah setengah jam saya menunggu orang lewat tapi tidak ada yang lewat-lewat, mana batre handphone habis lagi." Dira ngoceh sendiri sambil, Arnold melihat itu ia malah tertawa karena yang ia tahu jika Dira adalah wanita yang pendiam, nyatanya mantan bawahannya itu tukang ngoceh.


"Tinggalkan saja mobilmu dulu, besok pagi baru di derek. Ayo ikut dengan saya, malam ini sangat dingin dan gak baik buat bayi di perutmu." Ucap Arnold, ia merasa kedinginan apalagi Dira yang hanya memakai baju tipis.


"Memangnya bapak mau mengantar saya ke rumah?" tanya Dira memastikan.


"Iyalah, ayo cepat cuaca makin dingin!" Ajak Arnold, ia masuk dulu ke mobil dan di ikuti dengan Dira, tapi sebelum itu Dira mengambil tasnya di dalam mobil dulu.


Arnold mengantar Dira ke alamat rumah yang berdekatan dengan komplek rumah orangtuanya. Ia tidak menyangka jika akan bertemu dengan Dira di Australia, sesekali Arnold melirik perut Dira dan Dira mengetahui itu.


"Pak, jangan di lihat terus dong perutnya. Kalau mau pegang bilang dong, biar gak ngiler hehehe." Dira tertawa melihat wajah Arnold yang malu-malu.


"Aku pegang ya? Aku pengen banget punya bayi, semoga aja cepat terkabul." Arnold memegang perut Dira dengan lembut, sesekali ia mengelus perut yang membuncit itu.

__ADS_1


"Tinggal bikin aja repot banget sih, Pak." Dira memegang tangan Arnold yang berada di atas perutnya, Arnold kaget dan langsung menarik tangannya memegang setir.


"Kamu sudah berapa bulan hamil?" tanya Arnold yang sedang grogi.


"Baru masuk enam bulan, Pak." Dira menjawab sambil tersenyum centil.


"Oh, jadi kamu tinggal dengan suamimu di sini?" Arnold bertanya sambil menatap serius ke arah jalan, ia tidak ingin ketahuan jika ia sedang gugup saat ini.


"Tidak, aku belum menikah, tapi aku sekarang tinggal dengan orang yang menghamili ku!" jawab Dira santai, sedangkan Arnold kaget mendengar itu.


"Jadi kamu terima jika tidak di nikahi? terus bagaimana dengan anak di dalam perutmu nanti?" Arnold bertanya karena ia benar-benar ingin tahu.


"Kami akan menikah di Indonesia setelah anak ini lahir, lagian bulan depan kami juga akan ke Indonesia."


"Kekasihmu orang mana?" tanya Arnold serius.


"Huh, saya sudah menikah dan saya tidak akan tergoda. Setelah lahiran segeralah menikah, kasihan dengan anakmu nanti!" Arnold kembali fokus ke arah jalan.


Dira mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, kemudian ia menyemprotkan parfum di sekeliling mobil. Aroma vanilla langsung menyeruak di dalam mobil, Arnold melihat kembali ke arah Dira yang tersenyum kepadanya. Belum Arnold mengatakan sesuatu, mulut Dira yang duluan bicara.


"Ini efek hamil, Pak. Saya sangat suka dengan wangi vanilla, apa bapak suka?" tanya Dira sambil memasukkan parfum miliknya kembali ke dalam tas.


"Tapi, kenapa baunya tidak seperti biasanya?" tanya Arnold yang merasakan ada rasa yang aneh menjalar di seluruh tubuhnya.


"Namanya juga usaha, Pak."


"Hah? maksudnya?" tanya Arnold tidak mengerti.

__ADS_1


Badan Arnold terasa panas, ia merasakan jika tubuhnya ada yang aneh. Dengan cepat Arnold melajukan mobilnya agar cepat mengantar Dira, saat di depan rumah yang di tunjukkan Dira ia langsung memberhentikan mobilnya.


"Ini sudah sampai, sekarang keluarlah!" Arnold menyuruh Dira keluar dengan wajah yang sudah memerah.


"Apa kita tidak bersenang-senang dulu, Pak?" Dira melepaskan sabuk pengaman dan mendekatkan tubuhnya ke Arnold, ia langsung membungkam mulut Arnold yang hendak berbicara dengan bibirnya.


Arnold menolak tubuh Dira pelan, ia masih ingat bayi yang di dalam perut Dira. Arnold berhenti karena mendengar suara ketukan dari luar mobilnya.


"Cepatlah keluar, aku ingin pulang!"


Dengan kesal Dira keluar dari mobil, ia melihat laki-laki yang menghamilinya mengetuk pintu mobil Arnold dengan masam. Arnold langsung melajukan mobilnya dengan cepat, ia sudah tidak tahan menahan hasrat akibat perbuatan Dira tadi.


Arnold sampai ke rumah dengan cepat karena jarak rumah Dira dan orangtuanya cukup dekat, dengan tubuh yang membara Arnold berlari naik ke lantai dua dan langsung masuk ke kamarnya. Arnold melihat ke atas kasur dan ia sangat tahu jika istrinya sedang tidur di sana, ia seakan melupakan kejadian tadi dan langsung menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh Chami.


Chami kaget karena selimutnya tiba-tiba tertarik dengan kasar, ia yang bangun tiba-tiba masih mencerna apa yang terjadi. Ia sangat kaget saat Arnold tiba-tiba menindih tubuhnya, dan yang membuat ia kaget lagi ia mencium parfum wanita.


"Apa yang terjadi?" tanya Chami yang menahan tubuh Arnold di atasnya.


"Aku menginginkanmu!" Arnold menjawab tanpa rasa bersalah.


"Pergi dari atasku, kau bau parfum wanita! Apa tak cukup dengan wanita yang di luar sana, sampai kamu mau dengan aku yang hanya pura-pura kamu cintai." Chami mendorong Arnold cukup kuat sampai tubuh Arnold tumbang ke sampingnya, Arnold tidak peduli apa yang di katakan istrinya, baginya menyalurkan hasrat yang dari tadi menganggu tubuhnya adalah yang paling penting, ia pun melakukan secara paksa dengan Chami.


"Lakukanlah sepuasnya, jangan salahkan aku jika aku pergi!"


**Bersambung


Mohon dukungannya dengan Like, Coment, dan Vote πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—**

__ADS_1


__ADS_2