
Hari sudah pukul sembilan malam, Arnold baru siap mandi dan masih memakai handuk. Sedari tadi ia menunggu Chami sadar, tapi tidak juga sadar-sadar. Arnold berdiri di samping ranjang, ia melihat Chami yang seperti orang tidur dengan nyenyak. Arnold menghela nafas sebentar, kemudian ia merentangkan tangan kanannya dan meletakkan ketiaknya tepat di hidung Chami.
"Apanya yang masam? wangi begini di bilang masam. Cium nih, pasti wangikan?" Arnold makin mendekatkan ketiaknya ke hidung Chami, sampai bulu ketiaknya masuk ke lubang hidung istrinya.
Chami merasakan sesak, ia ingin bersin. Arnold langsung memberhentikan aksinya saat Chami sedikit bergerak, tak lama itu Chami langsung bersin.
"Hachimm... ah.. hidungku gatal," Chami menggaruk hidungnya pelan, matanya melihat Arnold yang tengah tersenyum lebar kepadanya.
"Apa aku sudah mati? Apa kita di ciptakan bersama lagi di akhirat?" tanya Chami yang melihat Arnold kini berwajah datar bahkan tampak menyeramkan di matanya.
"Kau Jin? Kau Setan? Kau Iblis? Laknat!!" Chami langsung bangkit dan berdiri siap menerjang Arnold, wajah Arnold kini di buat seperti Joker membuat Chami makin siap untuk menerjang.
"Pergi kau Jahanam!!! Hyiaakkk.... Aaakkkhhhh.."
Meleset, tendangan Chami di tangkis Arnold. Kini Chami sudah terbaring di bawah suaminya. Mata Chami melotot saat melihat handuk Arnold terbuka.
"Pergi kau setaaann!! jangan macam-macam denganku, nanti ku potong anu mu,"
Arnold tertawa mendengar itu, ia tak menyangka jika istrinya akan segila ini.
"Rasain dulu, pasti enak," Chami makin melototkan matanya, ia melihat bibir Arnold yang sedang di jilat dengan lidahnya sendiri.
"Dasar biadab, aku akan membu... emmmmmhhhh,"
Seperti biasa, jika wanita terus mengoceh harus di bungkam dengan mulut.
"Sudah tenang, Sayangku?" Arnold menyunggingkan senyumnya melihat Chami yang yang ngos-ngosan karena perbuatannya.
"Kau masih hidup?" tanya Chami yang meneliti wajah Arnold.
"Aku belum puas bermain dengan istriku, bagaimana mungkin aku cepat mati," Arnorld mengedipkan sebelah matanya, Chami mengerutkan keningnya mendengar itu.
"Apa kamu mau bermain sekarang?" bisik Arnold di telinga Chami.
Jantung Chami berdegup kencang sampai terdengar oleh Arnorld.
"Ber.. ma..in a..pa..?" tanya Chami tergagap.
Tangan Arnold bermain di milik Chami, ia begitu menginginkan istrinya. Chami menolak, ia menahan Arnold untuk berbuat jauh.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Arnold yang kecewa, ia bangkit dari tubuh Chami dan berdiri sambil membenarkan handuk.
Chami melihat Arnold yang memandangnya, ia kemudian duduk mengahadap Arnold yang masih berdiri.
"Aku tidak bisa!" Chami menjawab dengan mengalihkan pandangannya ke samping.
Arnold menghela nafas berat, ia memejamkan matanya sejenak.
"Kenapa?" tanya Arnold lembut, kini ia duduk di samping Chami.
Chami melihat wajah suaminya dari dekat, ia menatap mata Arnold sekejap membuat darahnya bersedir, tapi tak lama karena ia langsung melihat ke depan.
"Aku tidak bisa berbagi dengan wanita lain,"
"Maksudnya?" tanya Arnold tak mengerti.
"Apa kamu menikahiku hanya karena tubuhku, tapi kenapa? aku ini kurus bahkan tidak cantik, wanita itu lebih cantik dariku. Jadi, aku tidak bisa. Jika kamu terus begini, sebaiknya kita pisah saja. Pulangkan saja aku ke Indonesia, walaupun aku tidak ingat apa-apa tapi aku bisa mandiri. Aku bisa bekerja apapun, di jalanan pun aku akan hidup," Chami menghela nafas.
"Wanita yang mana? katakan padaku! soal aku menikahimu itu karena aku mencintaimu, dari awal kita bertemu aku sudah menyukaimu. Soal kamu cantik atau tidak, kamu itu sangat cantik bahkan tidak ada wanita yang lebih cantik di mataku selain dirimu. Jadi jangan berpikiran untuk berpisah, soal masalah kemarin itu aku benar-benar minta maaf telah melukai hatimu. Aku tidak ingin berpisah, sampai kapanpun itu, karena aku mencintaimu Chami Melania."
"Jadi bagaimana dengan wanita itu?"
"Wanita yang mana?"
"Dira? wanita itu bertemu denganmu di mana? apa yang di rumah Rendra itu?"
"Iya, dia di rumah om Rendra."
"Sayang, kemarin itu aku di jebak olehnya. Dia menyempatkan parfum aneh di dalam mobil, entah mengapa aku merasa ada yang aneh menjalar di tubuhku. Kami tidak melakukan apa-apa, aku langsung pulang dan melampiaskan kepadamu. Maafkan aku yang melakukannya secara paksa, aku tak kuat menahan soalnya."
"Jadi kamu tidak melakukannya?"
"Ya enggaklah lah, mana mungkin aku melakukannya selain dengan istriku,"
Chami melihat Arnorld masih tidak percaya, ia ingin percaya tetapi ia mengusulkan dengan dirinya untuk tidak usah percaya.
"Jangan melihatku begitu, kita akan ke Indonesia besok. Jika kamu tidak percaya maka kita tidak perlu ke Indonesia."
Chami senang mendengar kata Indonesia, tapi ia yakin jika Arnold hanya berbicara saja seperti waktu itu.
__ADS_1
"Bagaimana aku percaya kalau kita mau ke Indonesia?"
"Aku sudah membeli tiketnya, Sayang. Kalau kamu gak percaya tunggu sebentar ya, aku mau ambil handphone dulu."
Chami hanya melihat Arnold berdiri dan mengambil handphone di atas meja, kemudian Arnold menunjukkan kepada Chami bahwa ia sudah memesan tiket pesawat untuk empat orang.
"Kok empat orang?" tanya Chami.
"Mom sama Dad mau ikut, sekalian lihat rumah yang baru di beli di sana nanti,"
"Harus membeli rumah? tapi apa itu tidak menghabiskan uang, kita bisa ngontrak ataupun menyewa rumah,"
"Jangan menyusahkan diri, Mom dan Dad sudah menyiapkan semuanya, kita tinggal santai nanti," Arnold menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa aku mempunyai suami yang tidak berguna, taunya hanya menyusahkan orangtua saja," gumam Chami pelan, tapi Arnold memasang telinganya dengan lebar jadi ia bisa mendengar apa yang di katakan istrinya.
"Kamu bilang apa hmm...," Arnold menolak pelan bahu Chami membuat Chami terbaring, Chami menggigit bibirnya karena takut ketahuan jika ia mengatakan yang tadi.
"Pergi dari atasku, Arnold. Aku.. aku ke kamar mandi dulu, aku sudah tidak tahan,"
"Mau aku yang mengeluarkannya?"
"Ka...u gi..la?"
"Aku gila karena mu, Sayang."
"Cepatlah pergi, aku mau ngompol nih..."
"Bohongkan?"
"Serius, tidak tahan lagi," Chami memelas ia tak tahan lagi untuk buang air kecil.
Arnold menyeringai, ia ingin mengerjai istrinya.
"Aku tidak percaya, pasti alasanmu sajakan?"
Chami geram dengan suaminya, ia mendorong tubuh Arnold dan dengan cepat ia berlari masuk ke kamar mandi. Arnold hanya melihat Chami berlari bagaikan Naruto, sangat cepat mungkin di atas kecepatan rata-rata.
Mata Arnold melotot melihat air di lantai yang memanjang sampai ke kamar mandi, ia melihat tubuhnya sendiri. Arnold takut jika ia yang membasahi lantai karena ia habis mandi tadi, tapi ia ingat jika istrinya tidak tahan menahan buang air kecil.
__ADS_1
"Dia terkencing?"
Bersambung