
Chasi terbangun dari tidurnya, ia sangat kelelahan di buat pria yang kini berbaring di sampingnya dan sedang menatapnya dengan senyuman devil. Chami menyerngitkan dahinya saat pria itu tiba-tiba duduk dan menatapnya tajam, kemudian ia kaget bukan main saat pria itu mencekik leher Chasi.
"Kau tidak tahu siapa aku, Jal*ng?" tanya laki-laki itu sambil mencekik leher Chasi sampai Chasi susah bernafas. Saat Chasi mulai melemah pria itu melepaskan cekikannya, ia menatap Chasi dengan kebencian.
Chasi terengah-engah sambil memegang lehernya yang sakit, ia ketakutan melihat pria yang di depannya itu. Chasi menjerit kesakitan saat pria itu menarik rambutnya dengan kasar, Chasi makin menjerit keras saat pria itu memaksanya untuk turun dari tempat tidur sambil menarik rambutnya dengan keras menuju ke kamar mandi.
"Hiks... jangan sakiti aku, aku tidak mengenalmu!" Chasi di dudukkan di bawah shower, ia melototkan matanya saat pria itu hendak menghidupkan air panas untuk menyiram tubuhnya.
"Jangan-jangan, aku mohon ampuni aku. Aku tidak mengenalmu sama sekali." Chasi bersujud di kaki pria itu, ia benar-benar memohon ampun jika ada kesalahan.
Pria itu kembali menarik rambut Chasi membuat Chasi berdiri karena pria itu menariknya ke atas, pria itu sangat tinggi di banding Chasi membuat wajah Chasi menengadah sambil menangis di hadapannya.
"Kau sangat cantik sama seperti kembaranmu, tapi kau jal*ng yang tak punya hati nurani sama seperti ayahmu, Gani!" Tetap dengan kelakuannya pria itu malah membelai pipi Chasi dengan tangan besarnya, sungguh ia sangat rindu dengan gadis kecil yang penuh dengan ambisi menurutnya siapa lagi kalau bukan, Chami Melania.
"Aku Chariq Arsena, pria terkejam di kota ini. Aku kaki tangan mafia yang terkuat di negara ini, kau tahu mengapa aku menyakitimu, jal*ng kecil?!" Chariq melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Chasi, ia membiarkan Chasi terduduk sambil menangis ketakutan.
Chasi menangis di bawah kaki Chariq, ia tidak kenal dengan pria jahat di depannya kini. Chasi sangat menyesal karena bertemu dengan pria sejahat Chariq, ia ingin kabur tapi ia terlalu takut untuk beranjak.
Chariq menarik Chasi kembali untuk berdiri, Chasi mengikutinya karena Chariq menggenggam lengan atasnya dengan kasar. Chariq kembali membawa Chasi ke atas kasur ia menghempaskan tubuh Chasi yang tidak mengenakan pakaian satupun.
"Pakai bajumu dengan cepat ada hal yang harus kau lakukan setelah ini!" Chariq meninggalkan Chasi sendiri yang sedang menangis sambil memakai baju dengan tubuh bergetar ketakutan.
"Papi, tolong Chasi," gumam Chasi dengan bibir bergetar, ia merasakan kepalanya amat sakit karena rambutnya di tarik oleh Chariq tadi.
Selesai memakai baju pintu langsung terbuka, wajah kejam Chariq membuat Chasi benar-benar ketakutan.
"Cepat keluar, kau harus bekerja mulai hari ini!" Chasi menurut ia mendekati pintu dan saat di depan Chariq ia langsung di tarik Chariq agar berjalan dengan cepat.
Chasi ketakutan di jalan ia takut jika Chariq membunuhnya saat ini juga, Chasi melihat sekeliling ia melihat ada lampu merah di depan.
__ADS_1
Chariq menghentikan mobilnya ia mengambil sesuatu di kursi belakang, ada satu tas rokok yang berbagai macam merk. Chasi belum mengerti apa yang di lakukan Chariq, ia terus memperhatikan sampai Chariq memberikan tas yang penuh dengan rokok itu kepadanya.
"Kau harus menjual ini sampai habis, kau tahu kembaranmu yang sudah mati itu hidup terlantar dengan berjualan rokok dan kau harus sama sepertinya. Ingat jal*ng, jika kau mencoba kabur maka pistol ini lah yang akan membuatmu berhenti." Chariq menunjukkan pistol yang berada di kantong celananya, Chasi melihat itu menelan air ludah yang terasa pahit.
"Cepat keluar! aku akan memantau dari sini, jika kau tidak menjual habis maka tubuhmu yang akan jadi jaminannya. Bukan aku yang mau, tapi anak buah ku hahaha."
Chasi hanya menurut ia ingin menjual habis rokok yang di dalam tas yang penuh di tangannya, ia takut jika akan menjadi pemuas dari anjing-anjing yang lapar.
Chariq menyunggingkan bibirnya saat Chasi keluar dari mobil, ia melihat Chasi berjalan dengan agak pincang. Mungkin akibat permainannya semalam, pikirnya.
"Kenapa pergi tanpa memberitahu? kenapa sakit tanpa memberitahu? dan kenapa kau pergi untuk selamanya tanpa pamit kepadaku, gadis kecilku?" Chariq melihat foto Chami yang sedang berjualan rokok dengan senang, ia mengambilnya saat Chami bekerja untuk pertama kalinya.
Flashback on
Saat pengusiran itu hidup Chami sangat susah, ia sering menahan rasa lapar yang teramat. Ia tidak memiliki apapun untuk di jual apalagi uang untuk membeli makan, Chami menyusuri gang kecil malam itu ia sangat kelaparan sampai mencari makan di tong sampah. Chami ingin mencuri, tetapi di urungkannya karena takut di pukul masa.
"Hei.. kau tidak apa-apa?" Chami melihat dengan pandangan kabur, belum menjawab kesadarannya hilang.
Chariq awalnya ingin meninggalkan Chami yang pingsan, tetapi di urungkannya saat ia tersentuh melihat wajah Chami yang penuh dengan kesedihan. Akhirnya, Chariq membawa Chami pulang ke apartemennya dan memanggil dokter kepercayaannya untuk datang.
"Bagaimana keadaan dia, dok?" tanya Chariq saya dokter itu selesai memeriksa Chami.
"Tubuhnya sangat lemah, bahkan ia tidak makan berhari-hari. Jadi, saya akan menginfusnya agar ia kembali pulih. Jika ia terbangun nanti silahkan beri ia makan yang banyak dan bergizi, saya akan memberikan obat untuknya dan di minum 3 kali sehari." Jelas dokter itu, Chariq melihat kasihan ke arah Chami yang tengah terbaring tak sadarkan diri.
Chariq merawat Chami dengan baik, bahkan ia juga mulai ada rasa dengan gadis yang di temukannya. Chariq memang telah menikah, tetapi istrinya telah meninggal akibat di tembak oleh musuhnya dan ia tidak memiliki anak.
"Kamu sudah bangun, gadis?" tanya Chariq duduk di samping Chami yang baru bangun dari tidurnya.
Chami melihat sekeliling, ia pikir dirinya sudah meninggal nyatanya ia baru sadar ternyata ada orang yang menemukannya.
__ADS_1
"Kamu mau makan, hmm?" tanya Chariq dengan lembut, ia mengelus kepala Chami dengan sayang.
Chami mengangguk karena ia sangat lapar karena tidak makan berhari-hari, Chariq memberikan makanan yang banyak untuk Chami. Chariq melihat Chami dengan kasihan karena Chami makan terlalu terburu-buru, seperti orang yang tak makan bertahun-tahun.
Chami seminggu di apartemen Chariq, ia sangat tidak enak hati karena merasa merepotkan Chariq.
"Bang, aku sudah menyusahkan mu. Jadi, biarkan aku pergi dari sini ya?" Chami tidak ingin merepotkan orang lain, apalagi hanya untuk sekedar menumpang hidup.
Chariq mendesah berat, besok adalah keberangkatannya ke luar negeri karena ada tugas dari bosnya selama sebulan. Ia ingin mengajak Chami pergi, tetapi di urungkannya karena takut Chami tertembak ataupun terbunuh nanti.
"Aku besok akan pergi ke luar negeri, kamu bisa tinggal di sini sepuas mu. Aku akan meninggalkan uang yang banyak untukmu, jadi aku mohon tetaplah tinggal di sini sampai aku kembali."
Chami tampak berpikir, ia melihat Chariq yang menunggu jawaban darinya.
"Aku ingin bekerja, Bang. Aku ingin mencari uang sendiri, aku tidak ingin merepotkan orang lain." Ucap Chami jujur, ia tidak ingin merepotkan siapapun.
"Tapi, kamu mau kerja apa? Kamu akan aku beri uang Cham jadi tidak perlu bekerja lagi." Jujur saja, Chariq tidak ingin Chami jauh dari sisinya.
"Percayakan padaku, Bang. Aku bisa kok berjualan rokok di lampu merah, tapi aku minjam modal ya bang!" Chami berkata sambil memohon memegang tangan Chariq membuat Chariq tersentuh.
"Hmm.. baiklah, tapi janji tinggallah disini sampai aku kembali nanti."
"Aku janji, Bang." Chami berseru senang.
Chariq pergi berangkat setelah mengantarkan Chami ke lampu merah, ia tidak sanggup melihat gadis kecilnya itu berjualan panas-panasan di lampu merah. Chariq yakin jika Chami bukan wanita kelas rendahan, sebab dari kebiasaan dan apa yang Chami lakukan ia tampak seperti orang kaya. Chariq berjanji akan mencari tahu semua tentang Chami nanti, setelah itu ia berjanji akan menikahi Chami.
Flashback off
Bersambung
__ADS_1