TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Selesai mandi, Chariq mendapat kabar dari orang suruhannya yang bekerja di rumah Gani sebagai tukang kebun, melihat video itu Chariq tidak tahu siapa pria yang di ikat dan di bakar oleh Gani. Chariq masih memakai handuk, ia langsung mematikan handphonenya saat Chasi masuk ke dalam kamar.


"Izinkan aku pulang sebentar, aku mau mengambil barang-barang ku lalu kembali lagi kesini," kata Chasi sambil berjalan dan duduk di tepi ranjang.


Chariq diam sejenak, ia bingung untuk mengizinkan Chasi pergi atau tidak. Melihat Gani yang sudah menggila membuatnya tak yakin membiarkan Chasi pulang sendiri.


"Aku hanya pulang sebentar, setelah mengambil foto mami dan barang-barang ku yang lainnya aku akan kembali ke sini lagi, aku janji." Chasi mengatakannya dengan bersungguh-sungguh.


"Aku akan ikut," jawab Chariq setelah berpikir keras.


"Jangan, nanti papi pasti marah. Papi tidak akan memukulku, tapi aku yakin dia akan memukulmu karena mengira ia kamu yang menculik ku," sanggah Chasi dengan cepat.


"Hm, baiklah. Janji hanya sebentar saja?" tanya Chariq meyakinkan.


"Iya, aku janji," jawab Chasi kemudian tersenyum, Chariq juga ikut tersenyum. Chariq berjalan ke arah Chasi dan mengecup kening Chasi dengan lembut.


"Aku bahagia," kata Chasi dalam hati.


Chariq mengelus kepala Chasi dengan sayang, Chasi tersenyum mendongak melihat Chariq yang berdiri dengan rambut yang masih agak basah.


"Kamu wangi," kata Chasi setelah mencium perut Chariq yang bagaikan roti sobek itu, kotak-kotak.


"Jelaslah! tidak seperti dirimu, busuk." Chariq tertawa keras setelah mengatakan itu.


Wajah Chasi cemberut, ia memang belum mandi karena ia sarapan terlebih dahulu tadi. Chasi langsung berdiri, sementara Chariq masih setia dengan tawanya. Chasi melihat pintu kamar mandi terbuka, kemudian ia tersenyum usil.


"Aku mau mandi," kata Chasi mendongakkan kepalanya melihat Chariq yang lebih tinggi darinya.


"Ya sudah, mandi aja sana."


"Tapi, aku membutuhkan ini,"


"Hey....," Chariq berteriak, ia sudah bugil gara-gara Chasi menarik handuknya sampai terlepas. Chasi langsung berlari dengan kencang menuju kamar mandi, tak lupa dengan handuk yang di pakai Chariq tadi juga di bawanya.


"Mau menggoda, hem...," Chariq berjalan menuju pintu dan mengetoknya.


Chasi cekikikan di dalam kamar mandi, "dia pasti marah," gumam Chasi.


Satu jam kemudian, tangan Chasi di ikat ke belakang. Chasi duduk di sofa menghadap Chariq yang bersuka ria dengan wajahnya, Chariq sedang mendandani Chasi.


Chasi menghela nafas, "darimana kamu mendapatkan alat make up ini?" tanya Chasi yang tak mengira jika Chariq memiliki alat make up dan semuanya sangat mahal-mahal.


"Aku menyuruh orang ku membelinya tadi," jawab Chariq sambil sibuk dengan menggambar alis untuk Chasi.


"Aku tak yakin jika ini akan baik, pasti akan terlihat seperti binatang." Chasi bermuka masam, sedangkan Chariq hanya menyunggingkan bibirnya.

__ADS_1


"Seperti sapi," ucap Chariq santai.


"Kamu mengataiku, Sapi?" tanya Chasi tak suka, siapa juga yang suka di bilang sapi.


"Jadi harus apa? kalian memang mirip."


"Baiklah, kalau begitu jika aku pulang nanti ke rumah, aku tidak akan kembali lagi ke sini lagi."


"Cobalah, kemana pun kamu pergi kamu akan tetap di sampingku."


"Ishh... kalau begitu jangan samakan aku dengan ****!"


Chariq memperhatikan wajah Chasi dengan seksama, ia menelusuri setiap inci dan wajah Chasi. Chariq memegang dagunya seraya berpikir, sedangkan Chasi hanya melihat Chariq dengan malas.


"Ck.. kalian memang mirip, bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya selama ini." Chariq mengatakannya dengan serius.


"Kalau sudah tua itu memang begitu, semua yang di lihatnya jadi aneh. Manusia jadi hewan, hewan jadi manusia. Nggak tau lah nanti yang di nikahkannya sapi atau manusia!" bibir Chasi bergerak dengan lincah, Chariq hanya tertawa mendengarnya.


Chariq jongkok dan meletakkan kepalanya bersandar di paha Chasi yang menggunakan celana jeans panjang berwarna hitam. Kemudian Chariq mengangkat kepalanya dan mendongak melihat Chasi yang tengah melihatnya, tatapan mereka kini beradu.


"Kamu marah?" tanya Chariq lembut.


"Tidak," jawab Chasi singkat tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Chariq.


"Jadi, masih mau menikah denganku?"


"Kapan kamu siap?"


"Aku sudah menjadi milikmu seutuhnya sebelum ini, jadi?"


Chariq tersenyum, "jadi benar-benar mau?" tanyanya memastikan.


Chasi diam sejenak, "entahlah aku tak yakin," jawaban Chasi membuat Chariq mengatur nafasnya.


"Kenapa?" tanya Chariq lagi dengan lembut.


"Kamu sudah tua, bagaimana aku menjadikan suami yang menganggap wanitanya, Sapi!"


"Tapi begitu mirip, harus bagaimana lagi?"


"Setidaknya cari yang imut dan lucu-lucu, misalnya kucing atau panda."


"Kalau, Koala?"


"Kenapa, Koala?" tanya Chasi sambil membayangkan Koala.

__ADS_1


"Ya, karena koala itu pemalas, sama seperti dirimu."


"Bukannya hewan pemalas itu, Kukang?" Chasi ingat betul dengan hewan itu.


"Kukang itu lamban, sama juga seperti dirimu. Tapi, Koala lah yang pemalas."


"Chariq Arsena," panggil Chasi dengan memelas.


Chariq menaikkan satu alisnya ke atas, "ada apa?" tanyanya.


"Lepaskan ikatan gila mu ini, tanganku kesakitan," Chasi menjawab sambil merengek.


"Jadi, mau di panggil apa dulu?" tanya Chariq sebelum melepaskan ikatannya di tangan Chasi.


"SAYANG" Chasi menjawab dengan suara yang lantang, bahkan menggema di seluruh ruangan.


"Hahaha... baiklah Sayang, sini aku lepasin. Maaf ya jika alismu hanya sebelah," Chariq melepaskan ikatannya dari tangan Chasi.


Chasi merentangkan kedua tangannya yang pegal, ia menatap sinis ke Chariq.


"Panggil apa tadi?" tanya Chasi lagi, ia meletakkan kedua tangannya di atas paha sambil meremasnya sedikit.


"Sap... eh, Sayang." Chariq mengambil kedua tangan Chasi dan di kecupnya dengan sayang.


"Sekarang minggirlah, aku mau mencuci wajahku dulu," ucap Chasi setelah Chariq mengecup tangannya.


"Hmm," Chariq berdiri, Chasi langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar mandi.


"Dia sangat lucu," batin Chariq.


Chasi kaget melihat wajahnya di kaca, alisnya berbentuk cicak. Ia mengeram di dalam kamar mandi, tak lama itu ia tertawa sendiri mengingat tadi.


"Sayang," ucap Chasi senyum-senyum sendiri di kamar mandi.


Chariq menghubungi orang suruhannya yang bekerja di rumah Gani, ia ingin meminta informasi dengan cepat. Chariq juga menyuruh anak buahnya itu merekam Chasi saat pulang ke rumah, ia ingin tahu apa yang akan di lakukan Gani kepada wanitanya.


"Lakukan sebaik mungkin, laporkan semuanya kepadaku secepatnya!"


"Baik, Bos."


Chariq langsung mematikan handphonenya, ia mendengar suara air di kamar mandi dan ia tersenyum sendiri.


"Sayang," gumamnya pelan.


Chariq berjalan menuju kamar mandi yang tidak di tutup, ia melihat Chasi membasuh wajah di wastafel. Chariq senyum-senyum sendiri melihat Chasi yang tampak kesusahan membersihkan alis, ia ingin membantu tapi di urungkannya. Chariq suka dengan pemandangan ini, inilah yang ia rasakan saat ini, jatuh cinta.

__ADS_1


"Aku mencintaimu."


Bersambung.


__ADS_2