TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Menikahlah denganku


__ADS_3

Zira dari kemarin sibuk mencari Chami menyusuri kota sendirian menggunakan mobil, saat Chami pulang ke rumah ia sangat senang dan ia akan membujuk Gani untuk berubah. Zira seharian tidak makan dan minum sampai pagi ini, tubuhnya lemas dan pikirannya selalu ke Chami. Zira ingat betul saat Chami menangis di dalam kamar, hatinya sangat perih mendengar itu dan ia memutuskan untuk tidak membandingkan kedua anaknya lagi.


Badan Zira panas dan ia menggigil di atas kasur, Gani sudah pergi bekerja sedangkan Chasi pun sudah pergi kuliah. Untunglah ada pembantunya yang datang dan mendapati Zira yang sedang sekarat di atas tempat tidur, dengan cepat Ani menelpon Gani agar segera pulang.


Gani kaget mendengar itu, malam tadi ia memang tidak tidur di kamarnya melainkan tidur di kamar Chami yang masih berserakan. Gani segera pulang dan langsung membawa Zira ke rumah sakit dengan kondisi yang sudah tidak sadarkan diri lagi.


Gani melihat wajah istrinya yang pucat, ia menyesal karena membiarkan Zira tidak makan dan mencari Chami sendirian. Walaupun Gani belum bisa menerima Chami, tetapi ada rasa aneh di hatinya saat ia bermimpi tentang masa kecil anaknya itu.


"Bertahanlah sayang, sus tolong istri saya!" Gani menggendong Zira karena ia sangat khawatir dengan keadaan istrinya.


Gani menunggu dengan gelisah, Gani juga tidak ingin memberitahu Chasi karena takut anaknya tidak konsen untuk belajar.


"Dok, bagaimana dengan keadaan istri saya?", Tanya Gani saat dokter sudah keluar dari ruang UGD.


"Istri Anda hanya mengalami kecapean saja, juga maaghnya kambuh itu membuat badannya lemas. Istri Anda akan kami rawat satu hari di sini untuk di infus, saya harap ia jangan terlalu banyak pikiran saja."


Gani mengangguk mengerti apa yang di katakan dokter yang bernama Bima itu, Gani menyesali perbuatannya karena menyebabkan maagh Zira kambuh dan ia tetap menyalahkan Chami sebab gara-gara mencari Chami lah Zira sampai sakit.


"Kenapa selalu anak itu?!"


***


Chami sudah berpakaian rapi dan ia sudah menyusun pembalut yang di beli Arnold tadi ke dalam lemari kamar Arnold bagian bawah, sedangkan Arnold sedang menunggu Chami keluar kamar sambil menyiapkan sarapan untuk mereka walaupun agak telat. Arnold sedikit merutuki sepasang kekasih yang berada di rumah itu karena belum kembali dari pasar, Arnold mengoleskan roti tawar dengan selai cokelat untuk Chami ia yakin dengan sarapan roti dan minum susu membuat Chami segar.


"Kau membuat roti, Super?" Tanya Chami yang memasang wajah menahan malu karena kejadian tadi.


"Apanya yang sakit? Apa kau perlu ke rumah sakit?" Arnold khawatir dengan keadaan Chami, ia masih belum tahu kondisi Chami sebenarnya.


"Tidak perlu ke rumah sakit, Super! Maafkan aku merepotkan mu tadi, aku hanya sedang menstruasi." Chami menunduk dan perlahan ia duduk di meja makan dan mengambil roti yang di pegang Arnold dan langsung melahapnya tanpa melihat wajah Arnold.


Arnold merasa bodoh karena tidak tahu tentang wanita, Arnold ingin memukul kepalanya sendiri agar pikiran kotornya pergi.


"Astaga, ternyata dia sedang menstruasi! Lalu kenapa pikiran bodohku ini berkata jika aku telah mengambil perawannya." Arnold menjauhkan semua pikiran bodohnya itu, ia akan malu nanti jika Chami tahu isi pikirannya.


"Makan pelan-pelan, sayang."

__ADS_1


Chami melihat Arnold ia baru sadar jika Arnold memanggilnya dengan panggilan sayang, tetapi Chami tidak menghiraukannya karena ia sedang ingin makan dengan banyak.


"Super, aku melupakan sesuatu!"


Arnold melihat Chami yang sedang melihatnya, Chami tampak biasa sedangkan Arnold terfokus dengan bibir Chami.


"Kau melupakan apa, sayang?"


"Aku lupa membelikan teman untuk Bubu?"


Arnold lupa siapa Bubu, ia ingat jika Chami pernah menyebut nama itu dan saat ini Arnold sangat lupa siapa Bubu.


"Maafkan aku, tapi aku lupa siapa Bubu."


Chami melihat Arnold dengan tatapan yang membuat Arnold yakin jika ia sedang berbuat kesalahan. Chami akui jika ia terlupa, sedangkan Arnold sang pemilik tidak menghiraukan sama sekali.


"Bubu, ikan koi yang di dalam aquarium!"


"Oh ikan, biarkan saja ikan itu!"


"Huuuaaaaa... aku sungguh kejam, hiks.. maafkan aku Bubu."


"Ada apa sayang?" Arnold kaget mendengar Chami berteriak, ia langsung segera menyusul Chami dan mendapati Chami menangis di depan aquarium yang di dalamnya terdapat ikan koi yang sudah mengambang karena mati.


"Sudah-sudah jangan menangis nanti kita beli yang baru." Arnold ingin memeluk Chami dari belakang untuk menguatkan dengan merentangkan tangan siap untuk memeluk, tetapi Chami sudah membalikkan badan dan langsung memukul dada Arnold pelan.


"Cepat kita kubur dia, Super"


Arnold membulatkan matanya karena mendengar kata kubur, selama ini ia memelihara ikan dan semuanya pada mati ia hanya membuang di tong sampah. Arnold melihat Chami menyeka air matanya lalu melihat lagi ke arah Bubu yang sudah mengambang, hati Arnold tersentuh melihat Chami yang begitu menyayangi ikan yang hanya di anggapnya hiasan.


"Iya sayang, kita akan menguburnya di halaman belakang."


Mereka menguburkan Bubu di halaman depan, Chami yang menginginkan itu. Arnold menggali lubang cukup dalam untuk Bubu karena Chami terus memperhatikannya, setelah Bubu terkubur Arnold langsung bernafas lega sedangkan Chami terus menatap kuburan Bubu.


"Arnold aku belum pernah merasa kehilangan, apa kehilangan itu sangat menyakitkan seperti ini atau akan lebih menyakitkan lagi."

__ADS_1


"Jika kau menyayangi orang tersebut, maka kehilangannya adalah sesuatu yang menyakitkan bagimu. Kau merasa hampa dan kau akan merasa tidak ingin lagi untuk hidup."


"Aku tidak pernah merasakan kehilangan, tetapi aku merasa terus kehilangan."


Arnold melihat Chami yang sekarang menatap kuburan Bubu dengan tatapan kosong.


"Kau merasa hampa?"


"Setiap hari, setiap hari aku merasa hampa!"


"Chami Melania, maukah kau menikah denganku?"


Chami langsung melihat Arnold ia langsung menggeleng cepat, Arnold kecewa mendapatkan penolakan dari Chami.


"Kenapa kau tidak menerimaku, Chami?"


"Kau akan mengerti nanti, Super." Chami melangkah hendak pergi dari sana, tetapi Arnold mencekal tangannya.


"Cobalah untuk jujur, aku akan mendengarkan semuanya."


"Tolong Super, aku ingin pergi."


"Kenapa susah sekali untuk jujur, Chami."


Chami menunduk lalu ia melihat Arnold dengan senyum, Chami belum siap untuk mengatakan kejujuran. Chami akan jujur jika Chasi sudah menikah dengan orang yang di sukainya dan Chami pun akan pergi jauh setelah itu dan mengatakan kejujuran dengan Arnold. Chami melepaskan tangannya dari Arnold dan langsung berjalan meninggalkan Arnold.


"Aku tahu semuanya Chami, aku tahu jika kau kembaran Chasi." Langkah kaki Chami berhenti, ia ingin memutar balikkan badannya untuk melihat Arnold tetapi Arnold sudah memeluknya dari belakang.


"Aku tahu semuanya, aku mencintaimu. Aku mohon Chami menikahlah denganku, aku benar-benar mencintaimu!"


Chami tertegun mendengar semua itu, yang di katakan Arnold membuat Chami ingin menangis. Chami akui jika ia mulai ada rasa dengan Arnold, tetapi ia yakin jika menikah dengan Arnold akan membuat Gani semakin membencinya.


"Aku tidak bisa, aku tidak akan menikah menikah denganmu!"


"Kau bisa Chami, kau akan menikah dengan caraku!"

__ADS_1


๐ŸŒบMohon dukungannya dengan like, coment, vote dan rate 5 ya๐ŸŒบ


__ADS_2