TERPIKAT GADIS ANEH

TERPIKAT GADIS ANEH
Handphone vs Harga Diri


__ADS_3

Chami merasa di bohongi, sudah seminggu yang lalu saat ia meminta kembali ke Indonesia tapi Arnold hanya berkata-kata saja. Seharian Chami tidak menegur Arnold, ia bahkan seharian berselubung di dalam selimut sambil bermain handphone. Melihat wajah Arnold membuatnya muak, bahkan saat Arnold mencoba membujuknya ia langsung menutup selimut rapat-rapat.


Arnold dari pagi pusing sendiri, ia menyesal mengatakan jika mereka akan kembali ke Indonesia. Sejak mengatakan itu, Chami selalu menagih apa yang ia katakan itu. Istrinya itu bahkan tidak keluar kamar seharian, orangtua Arnold bertanya-tanya mengapa Chami tidak keluar kamar. Arnold hanya menjawab jika Chami kelelahan karena pertempuran mereka semalam, padahal menyentuh kulit Chami sedikit saja belum dari semalam.


Arnold membawa makanan untuk Chami, ia memasak sop ayam untuk istri tercintanya itu. Arnold meletakkan nampan yang berisi sop ayam dan segelas air putih di atas meja, setelah itu ia mendekati Chami yang berselubung di balik selimut.


"Sayang, makan dulu yuk! Suamimu ini sudah membuatkan sop ayam yang enak untukmu, ayo bangun!" Ucap Arnold yang sudah duduk di tepi tempat tidur.


Chami yang mendengar itu tidak menghiraukan suaminya, ia malah sibuk dengan handphonenya sendiri. Arnold menghela nafas, ia menarik pelan selimut agar terbuka, tetapi malah di tahan Chami.


"Kamu tidak makan seharian nanti kamu bisa sakit, Sayang." Arnold mengatakan itu takut jika istrinya benar-benar sakit.


"Jangan ganggu, aku lagi sibuk!" Chami menjawab dengan ketus.


"Kok ngomongnya gitu sih? gak baik sayang bicara seperti itu sama suami, gak mau kan jadi istri durhaka!" Ucap Arnold pelan, Chami yang mendengar itu langsung membuka selimut dan duduk di hadapan Arnold.


Chami menatap Arnold tak suka, "kenapa memangnya kalau aku bicara seperti tadi? apa kamu gak suka sama aku lagi?" Chami kesal, ia ingin di bujuk dengan sayang tapi malah di bilang seperti itu.


"Bukannya begitu, coba deh kamu menurut jangan ngambek terus. Kamu itu belum makan seharian, kalau kamu sakit gimana?" Arnold memperjelas ucapannya agar Chami mengerti.

__ADS_1


"Aku makan gak makan tetap aja sakit, tubuhku ini semuanya dingin. Aku gak bisa kedinginan, kamu yang gak ngertiin aku. Apa susahnya sih kita ke Indonesia, itukan juga tempat lahir aku, walaupun aku gak ingat apa-apa!" Chami tak mau kalah, ia resah karena terus memakai baju yang tebal-tebal membuat kepalanya pusing.


"Kenapa harus Indonesia? kita bisa ke negara lain, Malaysia, Singapura, atau Thailand. Ada banyak negara di dunia ini, kenapa kamu memilih di sana?!" Arnold berbicara dengan cepat dan lantang.


"Karena itu negara dimana aku di lahirkan! memangnya ada apa di sana sampai kamu gak mau kesana lagi? Lagian kan kalau aku di sana kan lebih baik, aku bisa mengingat siapa aku dan dimana orang tua aku. Kamu menutup semuanya dari aku, seperti aku ini anak yang terbuang." Balas Chami tak kalah lantang.


"Kamu memang anak yang terbuang, kamu tidak akan ke sana lagi. Apapun itu kamu tidak akan ke sana lagi, kamu akan di sini selamanya!" Arnold berdiri ia tidak ingin melanjutkan percakapan itu, tapi tangannya di tahan oleh Chami agar tidak pergi.


"Jika aku anak yang terbuang, tolong beritahu semuanya tentangku. Aku ingin mengingatnya, aku ingin tahu siapa aku sebenarnya!" Ucap Chami memohon.


Arnold menatap Chami dengan nafas yang tak teratur, "kamu adalah istriku, jangan tanya apa-apa lagi. Kamu tidak pantas di sana!" Arnold ingin melepaskannya tapi Chami terus menahannya.


"Apa kamu tidak dengar tadi apa yang aku bilang, kamu akan di sini selamanya!" Arnold melepaskan tangannya, ia ingin melangkah keluar tapi langkahnya terhenti.


"Aku akan pergi kesana dengan atau tanpa dirimu, asal kamu tahu kepalaku sakit karena tidak mengingat apapun. Tolong pinjamkan aku uang, aku akan pergi sendiri dan aku akan mengingat semuanya." Chami ikut beranjak dan berdiri di belakang Arnold.


"Tidak! kamu tidak akan kesana lagi. Tidak ada yang akan meminjamkan kamu uang, sekalipun orangtuaku!" Arnold menjawab dengan tegas.


"Baiklah, aku akan menjual ha..."

__ADS_1


PLAK!


Chami kaget karena Arnold menampar pipinya, ia tidak menyangka jika suaminya akan menampar dan itu membuat hatinya sangat pedih. Ia meneteskan air matanya karena tidak kuat menahan sakit hati, tangan yang biasa mengelus lembut pipinya kini yang membuat hatinya luka.


Arnold memegang tangannya, ia menyesal telah melayangkan tangannya dengan mudah ke pipi istrinya.


"Baiklah, pergilah keluar! Aku akan memakan sop nya." Ucap Chami pelan tanpa melihat Arnold, Chami berjalan menuju meja di mana sop ayam tadi di letakkan Arnold. Ia mengambil nampan itu, dan duduk di sofa. Chami membelakangi Arnold, ia makan dengan paksa. Sop ayam yang enak itu terasa asin di mulutnya, tetapi ia makan dengan paksa agar terlihat lahap.


Arnold ingin meminta maaf, tapi di urungkannya dan ia memilih keluar dari kamar. Setelah Arnold keluar Chami langsung menangis dengan kuat, hatinya sangat sakit. Ia ingin mengatakan menjual handphone, tetapi yang di terimanya adalah tamparan.


"Apa harta sangat berarti bagimu? apakah kamu takut mengeluarkan uang untuk aku kembali ke Indonesia?" Chami menangis sendirian, ia tidak tahu harus mengadu ke siapa. Suami yang ia kira mencintainya, ternyata telah menyakiti hatinya.


Arnold keluar dari rumah ia melajukan mobilnya kencang, ia tak habis pikir dengan istrinya yang ia pikir akan menjual harga diri. Tangannya tidak bisa terkontrol lagi ia langsung melayangkan tangannya ke pipi Chami, melihat Chami tadi membuat hatinya sakit karena telah membuat istrinya kecewa, tetapi ia merasa lebih kecewa karena ia berfikir jika Chami hendak menjual diri.


Arnold melajukan mobilnya menembus jalan kota yang cukup sepi, ia menepikan mobilnya dan keluar karena ia merasa sesak di dalam mobil. Ia bersandar di pintu mobil sambil mendongakkan kepalanya ke langit-langit malam tanpa bintang, tak lama itu ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipinya.


"Salju," ucap Arnold sambil tersenyum, ia sudah lama tidak merasakan dinginnya salju karena ia sudah bertahun-tahun tinggal di Indonesia. Menyentuh salju mengingatkan ia masa kecilnya, Arnold tertawa sendiri karena salju turun makin banyak dan menyentuh kulit wajahnya. Hatinya terasa tenang bahkan ia sangat bahagia saat ini, dengan cepat Arnold melupakan masalah tadi karena ia terlampau senang.


"Sepertinya dia hanya berpura-pura mencintai ku, aku yakin pasti dia hanya ingin menolongku saja. Apa namaku benar-benar Chami? Ya Tuhan, kenapa aku tidak ingat apa-apa." Chami berdiri di balkon kamar, ia merasakan salju yang dingin menyentuh kulitnya. Ia ingin masuk karena kedinginan, tapi di urungkannya karena kedinginan lebih baik daripada mendapat perlakuan yang menyakitkan dari sang suami.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2