The Investor

The Investor
Bab 10 : CCTV King Palace Hotel Rusak?


__ADS_3

Suasana duka menyelimuti para hadirin di pemakaman umum Nanping siang itu. Hampir seribu orang menghadiri pemakaman Gao Li Liang yang menyebabkan pemakaman itu penuh sesak. Kebanyakan dari orang-orang yang hadir adalah anggota Perkumpulan Hei Laohu, Perkumpulan Xiongmeng de Shizi dan Perkumpulan Bao. Ketiga organisasi bawah tanah ini meski di permukaan terlihat seperti tidak akur, namun mereka memiliki rasa saling menghormati satu sama lain.


Di antara para hadirin ini terdapat juga orang-orang kaya Kota Nanping, termasuk Hao Zhao. Hubungan antara penguasa bawah tanah dan pengusaha kaya tak dapat dipisahkan, mereka selama ini telah saling melengkapi, maka pada kesempatan ini mereka turut memberikan penghormatan terakhir di acara pemakaman Gao Li Liang.


Semua orang tau penyebab kematian Gao Li Liang karena dibunuh oleh orang, tapi takkan ada yang akan mengangkat fakta ini ke permukaan. Mereka para kelompok bawah tanah ini tak suka urusan mereka dicampuri oleh pihak kepolisian. Apabila penyebab kematian Gao Li Liang yang sebenarnya terendus kepolisian, maka mereka tak bisa lagi membalaskan dendam kepada pelakunya. Mereka punya cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah, mereka punya hukum sendiri, yaitu hutang nyawa dibayar nyawa.


Sejak kemarin malam hingga kini tak pernah sekalipun Cia Yonggan beranjak dari sisi Gao Mei Gui. Gadis itu memang terlihat tegar, tapi Cia Yonggan menyadari, saat ini gadis itu tengah merasakan luka mendalam. Meski sebelumnya dia tak mengenali Gao Mei Gui, namun dia bisa menebak gadis ini sekarang merupakan yatim piatu seperti dirinya, karena sedari kemarin malam dia tak pernah melihat Gao Mei Gui ditemani oleh seorang ibu. Mereka pastilah senasib.


Air mata itu sudah tak lagi mengalir, hanya menyisakan mata yang sembab. Duka itu bisa hilang, namun lukanya takkan bisa terhapus.


Saat ini satu persatu para pelayat sudah mulai beranjak meninggalkan pemakaman, namun ratusan anggota dari ketiga perkumpulan bawah tanah itu masih berjaga-jaga disitu.


Hong Gan, Ketua Perkumpulan Bao dan Kang Fang Ketua Perkumpulan Xiongmeng de Shizi menghampiri Wei Chung, Ou Julong, Guan Zheng dan Po yang.


Hong Gan melirik sekejap ke arah Gao Mei Gui yang masih berdiri di depan makam ayahnya bersama pemuda yang dari tadi tak pernah beranjak dari sisinya. Dia menebak, pemuda tersebut pasti merupakan pacar dari anak mendiang Gao Li Liang ini.


Hong Gan bertanya kepada orang-orang kepercayaan Gao Li Liang ini. "Apakah kalian sudah menemukan petunjuk mengenai dalang di balik semua ini?"


"Ketua Hong, kami masih berupaya mencari tahu, tapi belum menemukan satu pun petunjuk siapa pelakunya. Sementara pada saat kejadian, CCTV di King Palace Hotel saat itu mengalami gangguan," Wei Chung buru-buru menjelaskan.


Ou Julong yang mendengarkan ini melirik ke arah Wei Chung. Apa maksud Wei Chung mengatakan CCTV di King Palace sedang mengalami gangguan saat peristiwa itu? Jelas-jelas dia sudah melihat rekaman itu bersama Hao Zhao.


Namun ketika dia hendak protes, dia melihat Cia Yonggan memberikan isyarat untuk diam. Maka dia menahan diri. Ada baiknya dia mengikuti isyarat Cia Yonggan, takutnya akan menyebabkan acara berkabung ini menjadi ribut.


"Kalau Perkumpulan Hei Laohu membutuhkan bantuan, kami orang-orang Bao bersedia membantu agar teka-teki ini segera terungkap," kata Hong Gan berbasa-basi.


Wei Chung menanggapi dengan buru-buru. "Ketua Hong jangan terlalu sungkan. Nanti kalau kami membutuhkan bantuan mu, kami pasti mengatakannya."


"Baiklah, begitu kami pergi dulu. Sampai jumpa semuanya," kata Hong Gan sedikit membungkukkan badan lalu berjalan meninggalkan pemakaman diikuti oleh puluhan anggotanya.


Setelahnya Ketua Perkumpulan Xiongmeng de Shizi, Kang Fang datang mendekat sambil berkata. "Hidup tak ada yang abadi. Namun cara kepergian saudara Gao menimbulkan luka di hatiku. Aku bersumpah untuk mengadili pelakunya, meskipun kalian orang-orang Hei Laohu tak memintanya. Aku dan saudara Gao pernah saling berdarah sebelum pernyataan damai pembagian wilayah."


"Ketua Kang..." Wei Chung ingin menanggapi, tapi tak tau mesti berkata apa.

__ADS_1


"Wei Chung, dan saudara sekalian, jaga diri kalian baik-baik, pembunuhnya masih berkeliaran di luar sana. Kita semua belum aman sebelum pembunuh itu ditemukan," katanya lalu mengisyaratkan anggotanya untuk berlalu dari situ.


Setelah mereka pergi, Po Yang membubarkan dan memerintahkan anggotanya untuk kembali mengurusi pekerjaan masing-masing.


Sementara Guan Zheng datang menghampiri Gao Mei Gui dan mengeluarkan sebuah kotak perhiasan.


"Mei Gui, ini adalah hadiah ulang tahun dari ayahmu yang telah dia persiapkan dan belum sempat dia berikan pada mu. Aku sebagai paman mu mewakili beliau untuk memberikan kepada mu," kata Guan Zheng.


Guan Zheng ini berperawakan tinggi besar dan terlihat kalem.


Gao Mei Gui melirik sejenak pada kotak perhiasan berwarna merah itu. Dia sebenarnya tak tertarik untuk menerima hadiah saat seperti ini, tapi bagaimanapun itu adalah hadiah ulang tahunnya, hadiah terakhir dari ayahnya, maka dia mengulurkan tangan untuk menerima kotak perhiasan itu.


"Paman Guan, terima kasih. Aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan," Gao Mei Gui menyimpan kotak itu ke dalam saku bajunya.


"Apakah kamu tak ingin membuka kotak itu disini?" kata Guan Zheng lagi.


"Tidak paman, aku akan membukanya nanti," Gao Mei Gui menimpali dengan tegas.


Saat ini Wei Chung membuka suara. "Mei Gui, kamu jangan terlalu larut bersedih. Sebentar lagi kamu dan Wei Heng akan segera lulus dari universitas. Kamu sebaiknya fokus pada tugas akhir mu."


"Baik paman, aku mendengarkan nasehatmu," jawab Gao Mei Gui.


"Julong, kamu antarkan Mei Gui pulang setelah ini," kata Wei Chung lagi. Lalu dia menambahkan. "Nanti malam kami berkumpul di markas untuk membicarakan kalau-kalau ada petunjuk siapa orang-orang yang telah berani membuat keributan disini. Kalau kamu bersedia, kamu bisa datang, Mei Gui."


Gao Mei Gui lantas menjawab.


"Paman-paman sekalian, aku paham inilah resiko yang harus diambil oleh ayah ku. Sebagai anak, sudah sepantasnya aku juga turut mencari tahu siapa pelakunya, tapi aku hanya seorang wanita, dan urusan perkumpulan bawah tanah ayah ku bukanlah urusan ku. Jadi aku menyerahkan semua kepada paman. Aku yakin kalian pasti akan berupaya sebaik mungkin," kata Gao Mei Gui sambil menatap wajah orang-orang itu.


"Baiklah, kamu percayakan saja kepada kami urusan ini. Nanti kalau pelakunya sudah ditemukan, aku berjanji akan menghadapkan orang itu kepadamu," kata Wei Chung meyakinkan.


Ou Julong sedari tadi hanya diam. Dia masih tak habis pikir mengapa Cia Yonggan mengisyaratkan dia untuk menutup mulut. Maka dia perlahan beringsut mendekat ke sisi pemuda itu, mencari kesempatan untuk menanyakannya langsung.


Sementara Cia Yonggan hanya sedikit mengangguk padanya saat dia sadar pria tambun itu datang mendekatinya.

__ADS_1


"Mei Gui, kamu belum memperkenalkan pemuda ini kepada kami," Wei Chung menanyakan pemuda itu sambil menatapnya tajam.


"Paman, dia..." Gao Mei Gui yang ditanya secara tiba-tiba menjadi gugup, dia bingung harus memperkenalkan pemuda ini, sebab memang pemuda itu tak ada hubungannya sama sekali dengannya maupun ayahnya.


Melihat Gao Mei Gui yang gugup, Cia Yonggan lantas mengambil alih.


"Nama ku Cia Yonggan. Aku sempat mengenal mendiang walau hanya sesaat sebelum beliau meninggal," kata Cia Yonggan tak menutup-nutupi.


Memang dia sempat berkenalan dengan Gao Li Liang sebelum dia meninggal dunia.


"Semalam aku dan Ou Julong sempat melihat mu bertarung dengan seseorang di tempat ditemukannya mendiang ketua kami, apakah kamu mengenal orang itu, dan mengapa kamu bertarung dengan dia?" Wei Chung berusaha menggali informasi apakah pemuda ini mengenali orang yang dia sebut sebagai Master Mo itu.


Kalau pemuda ini mengetahui identitas Master Mo, maka kemungkinan besar trik kotor yang telah dia susun akan segera terbongkar di tangan pemuda ini.


Cia Yonggan yang mengetahui maksud Wei Chung malah sengaja bermain-main. "Aku tak mengenaki mereka. Aku datang saat Paman Gao sudah tak berdaya. Aku pun tak tau apa alasan kelima orang itu menyerang ku. Dan... Oh ya, kalau aku tak salah ingat, seseorang menyebut pemimpinnya itu sebagai Master Mo, tapi aku tak tau namanya. Entah Mo apa."


Dan ucapannya ini sukses membuat wajah Wei Chung berubah menjadi hijau membesi, sementara Ou Julong, Guan Zheng dan Po Yang terlihat kaget. Mereka belum pernah mendengar seseorang bernama Master Mo selama ini.


"Sialan, pemuda ini sudah mengetahui marga Master Mo," bisiknya dalam hati. Tapi dia buru-buru berkata di permukaan. "Ah, ini merupakan sebuah petunjuk, kelak kami akan mencari tahu siapa orang bermarga Mo itu sebenarnya. Terima kasih atas informasi ini,"


Wei Chung mengepalkan tangan, seperti benar-benar ingin memperlihatkan bahwa informasi yang dia dapatkan itu merupakan sebuah petunjuk penting.


Kedua orang ini sama-sama memiliki kesan buruk terhadap satu sama lain. Wei Chung yang tak ingin pemuda ini terlalu mengekspos keberadaan Master Mo, berniat mengakhiri pembicaraan.


"Kalau begitu kami pamit dulu, setelah ini masih banyak urusan yang harus diselesaikan. Mei Gui, kamu jaga diri baik-baik," katanya tanpa menunggu jawaban langsung berlalu dari situ


Kemudian Po Yang dan Guan Zheng juga berpamitan kepada Gao Mei Gui.


Dari kejauhan, seorang pemuda sepantaran Gao Mei Gui terus melihat ke arah pemuda yang berdiri diapit Gao Mei Gui dan Ou Julong. Matanya menyiratkan cemburu buta kepada Cia Yonggan, dia terlihat tak suka akan kehadiran pemuda itu di samping Gao Mei Gui.


Melihat Wei Chung yang perlahan berjalan mendekat ke arahnya, dia segera menyusul pria itu sambil berseru. "Ayah, siapa pemuda yang bersama Mei Gui itu?"


Sambil tetap berjalan, Wei Chung memberikan isyarat kepada pemuda yang ternyata anaknya itu. "Sttt... Wei Heng, kamu jangan banyak tanya dulu, ayah punya tugas untuk mu, nanti kita bicarakan lagi. Ayo pulang."

__ADS_1


__ADS_2