
Sejak hari itu, mulailah Cia Yonggan menyibukkan diri kepada lahan yang telah tertidur selama lima tahun itu. Diawali dengan membersihkan semak belukar, semua rerumputan itu dia babat habis sampai ke akar-akarnya.
Lahan pertanian ayahnya ini hampir seluas tiga hektare. Orang tuanya semasa menjalani kegiatan bercocok tanam dulunya melengkapi beberapa peralatan mesin untuk mempermudah kegiatan mereka, mulai dari mesin pemangkas semak belukar, mesin penggembur tanah, mesin penyiang rumput dan mesin untuk memanen tanaman wortel yang tidak ikut terbakar saat kebakaran dulu. Sementara untuk menanam benih dan melakukan pemupukan sampai penyemprotan hama biasanya mereka lakukan secara manual.
Dengan kehadiran Gao Mei Gui di sisinya, serasa pekerjaan berat itu menjadi tiada arti bagi Cia Yonggan. Semangatnya menjadi terpacu dengan adanya Gao Mei Gui disini. Bagaimana tidak, gadis canri itu selalu bersorak menyemangati dia layaknya seorang cheerleader menyemangati tim pebasket. Tak jarang juga gadis itu tiba-tiba saja melompat ke punggungnya saat dia tengah sibuk dengan aktivitasnya yang tentu saja membuat dia kaget, namun dengan cepat dia memutar-mutar tubuhnya berkali-kali yang membuat mereka berdua tertawa bahagia. Ada saja akal gadis itu untuk menjahili Cia Yonggan yang akhirnya membuat mereka selalu tertawa bersama.
Gadis itu juga sering mengabadikan momen kebersamaan mereka dengan smartphonenya, entah itu video maupun foto-foto yang dia ambil sendiri atau selfie dengan pemuda itu dengan berlatar belakang perbukitan hijau.
Inilah awal masa-masa terindah bagi mereka yang takkan pernah bisa dilupakan. Bagi Cia Yonggan, Gao Mei Gui adalah penyemangat di hidupnya, sementara di mata Gao Mei Gui, Cia Yonggan adalah sosok tangguh yang dapat dia andalkan, seperti apa yang ayahnya harapkan. Saat ini mungkin pemuda itu terlihat sebagai seorang yang miskin, namun siapa yang tahu akan nasib seseorang di masa yang akan datang. Gadis itu percaya, ayahnya takkan salah menilai pemuda ini.
Cia Yonggan selalu berharap kebersamaan ini tiada akan pernah berakhir. Cara gadis itu memberikannya perhatian, gadis itu selalu memperhatikan nutrisi makanannya. Cara dia tersenyum, tertawa, segala hal yang ada pada Gao Mei Gui merupakan kebahagiaan bagi Cia Yonggan. Gao Mei Gui hadir bagai malaikat di hidupnya, berkat gadis ini dia akhirnya kembali ke kampung halamannya dan menjadi begitu bersemangat menghidupkan kembali lahan yang telah lama terabaikan. Gadis itu begitu tulus mau menerima dia apa adanya. Bahkan gadis yang terbiasa hidup ala modern perkotaan itu sanggup hidup dengan peralatan sederhana. Gadis seperti itu tiada duanya di dunia ini, maka hanya gadis ini yang dia inginkan menjadi pasangan hidupnya kelak.
Begitupun halnya dengan Gao Mei Gui, perlakuan lemah lembut yang dia dapatkan dari pemuda itu semakin membuat dia mencintai Cia Yonggan. Mungkin di dunia ini tiada lagi orang kedua yang akan mampu memperlakukan dia dengan penuh kelembutan, kasih sayang dan kesabaran. Serta pemuda ini benar-benar dapat dia percayai sebagai orang yang menjaga dia, tak sekalipun Cia Yonggan berusaha mengambil keuntungan darinya sejak mereka tinggal di bawah satu atap di daerah pelosok ini, apalagi mencoba menjerumuskan dia ke dalam lembah dosa. Setiap malam usai santap makan malam, dia akan selalu tertidur di bahu pemuda itu dan mendapati pada pagi hari dirinya sudah berada di ranjang kayu berkasur tipis di kamar Cia Yonggan, sementara pemuda itu selalu tidur di lantai beralaskan tikar.
Satu minggu sudah mereka berada disini, akhirnya lahan itu sudah siap untuk ditanami benih. Ada kepuasan tersendiri melihat hasil kerja kerasnya ini bagi Cia Yonggan, sementara Gao Mei Gui tersenyum bangga terhadap kekasihnya itu.
Oleh karena ini merupakan penanaman pertamanya, Cia Yonggan tak memiliki persiapan bibit, terpaksa dia harus membelinya. Dia berencana akan menanam kentang, jadi dia memutuskan membeli kentang dan melakukan pembibitan sampai kentangnya memiki dua tunas barulah bisa ditanami.
Namun terdapat sedikit masalah baginya. Untuk menanami seluruh lahan ini, dia harus membeli setidaknya empat setengah ton kentang, itu tentu membutuhkan biaya yang banyak. Kalau dia paksakan untuk mencukupi seluruh lahannya dengan bibit, takutnya tabungan yang dia miliki tak cukup untuk membiayai kebutuhan hidup mereka sehari-hari. Maka dia memutuskan hanya akan menanam sebagian lahannya terlebih dulu, dia berpikir nanti setelah panen, secara perlahan dia bisa mendapatkan bibit yang lebih banyak dari hasil panen kelak.
Maka pada malam itu, seusai mereka menyantap makan malam dia menyampaikan kepada Gao Mei Gui bahwa dia akan pergi ke pasar tradisional di Shangwa untuk membeli kentang.
"Mei Gui, besok aku akan pergi ke Shangwa untuk membeli kentang dan beberapa peralatan rumah tangga dan bahan makanan. Apakah kamu punya beberapa barang juga untuk dibeli?" kata Cia Yonggan
__ADS_1
Dalam kalimatnya secara tak langsung Cia Yonggan mengajak Gao Mei Gui ikut pergi bersamanya. Dia masih merasa agak canggung untuk mengajak gadis itu ikut bersamanya secara langsung.
Saat ini mereka hanya duduk selonjoran dan bersandar pada dinding rumah dengan beralaskan tikar yang biasa dijadikan alas tidur oleh Cia Yonggan.
Gao Mei Gui saat ini tengah memutar sebuah video pada smartphonenya yang di dalamnya terdapat Cia Yonggan tengah menggemburkan tanah dengan mesin bajak.
Mendengar perkataan Cia Yonggan, Gao Mei Gui buru-buru meletakkan smartphonenya ke lantai lalu menimpali. "Wah, bagus kalau begitu. Yonggan, aku sudah lama tak makan daging, selain daging, aku tak memiliki pesanan khusus. Aku yakin kamu pasti tau apa yang kita butuhkan di rumah."
Gao Mei Gui gembira mengingat sebentar lagi dia dapat memasak daging, dia sudah tak mengkonsumsi daging sejak seminggu ini.
"Baiklah, aku akan mengingatnya," kata Cia Yonggan sedikit kecewa.
Dia sebenarnya berharap gadis ini memintanya untuk membawa dia ikut serta ke pasar tradisional di Shangwa, tapi itu tak terjadi.
Gao Mei Gui mulai menyandarkan kepalanya di bahu Cia Yonggan sambil bertanya. "Oh ya, kamu membutuhkan berapa banyak kentang untuk seluruh lahan ini?"
Gadis itu terdiam sesaat. Sebenarnya dia memiliki tabungan yang cukup untuk membantu memodali pemuda ini. Sebagai seorang pemimpin perkumpulan bawah tanah, ayahnya terbilang royal memberikan dia uang bulanan, sebab itulah dia dapat membeli sebuah ruangan apartemen. Dia ingin membantu memodali pemuda ini, tapi dengan sifat yang dimiliki Cia Yonggan, dia tak yakin pemuda itu akan bersedia menerima niat baiknya.
Untuk itu dia berniat memancing pemuda itu.
Dengan menegakkan badan sambil menatap mata pemuda itu, Gao Mei Gui mengungkapkan. "Yonggan, menurut ku, kamu setidaknya membutuhkan empat ton atau lebih benih kentang untuk seluruh lahan ini."
Mendengar perkataan gadis itu, Cia Yonggan menjadi kaget. Sepertinya gadis ini tidak mudah untuk diakali.
__ADS_1
"Mei Gui, aku mengatakan... Untuk awal ini, aku akan membeli satu setengah ton dulu, nanti kalau aku membutuhkan lebih banyak bibit, aku akan membeli kentang lagi," jawab Cia Yonggan sedikit gugup.
Kegugupan Cia Yonggan itu dapat ditangkap jelas oleh Gao Mei Gui, bahwa pemuda ini memang mengalami masalah modal.
"Menanam sebagian bibit, lalu beberapa waktu berselang tanam lagi beberapa bibit? Mengapa kamu tak menanam bibit dalam satu waktu secara bersamaan agar waktu panen pun sama? Hmm.. Menurut ku itu bukan ide yang bagus," kata Gao Mei Gui lagi.
Cia Yonggan terdiam. Dia selalu tak berdaya setiap kali gadis ini memojokkan dia. Apapun tak bisa dia sembunyikan dari Gao Mei Gui, seperti gadis itu adalah cacing di dalam perutnya saja.
Gao Mei Gui sudah dapat mengerti, maka dia kembali menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu dan melanjutkan. "Yonggan, aku ingin berinvestasi pada usaha mu ini. Anggap saja ini adalah investasi jangka panjang yang ku lakukan. Aku tak ingin melewatkan kesempatan melakukan investasi yang nantinya tentu akan membawa keuntungan bagi ku..."
"Mei Gui, kamu tidak harus..." Cia Yonggan buru-buru ingin memotong.
"Yonggan, aku tidak sedang memberikan uang secara cuma-cuma padamu, aku ini ingin berinvestasi, menanamkan modal pada usahamu. Aku adalah investor mu. Itu artinya aku menginginkan keuntungan dari usaha mu dan kamu jangan coba-coba menipu ku saat mendapatkan hasil panen nanti, aku pasti tahu kalau kamu menipu ku. Pembagian hasil adalah lima puluh untuk ku, lima puluh untuk mu," Gao Mei Gui berkata tegas.
Kalau sudah begini, Cia Yonggan hanya bisa pasrah. Dia tak ingin lagi mendebat gadis itu. Cara gadis itu terlalu pintar sehingga dia tak dapat menolak lagi niat baiknya, bahkan sempat-sempatnya melontarkan ancaman untuk tidak menipunya saat menjual hasil panen nanti, perkataan macam apa itu?
"Mana? Kesinikan handphone mu, Yonggan aku akan mentransfer ke akun Alipay-mu sekarang juga." kata gadis itu lagi yang hanya bisa dituruti oleh Cia Yonggan.
Gao Mei Gui kemudian menscan akun Alipay Cia Yonggan dan mengirimkan uang sebanyak seratus ribu yuan lalu memasukkan pin transaksi di handphonenya. Tak lama kemudian terdengar sebuah notifikasi di handphone Cia Yonggan menandakan uang yang ditransfer oleh Gao Mei Gui telah berhasil masuk ke akun Alipay-nya.
Cia Yonggan memeriksa handphonenya dan terkejut melihat jumlah uang yang dikirimkan gadis itu. Selama ini jangankan seratus ribu yuan, bahkan dia tak pernah memiliki setengah dari jumlah uang yang ditransfer Gao Mei Gui ini.
"Mei Gui, apakah ini tidak terlalu banyak? Paling banyak kita akan membutuhkan dua puluh ribu yuan saja. Ini terlalu banyak, aku akan mengirimkan lagi sebagian pada mu," kata Cia Yonggan.
__ADS_1
Gao Mei Gui menatap serius kepada pemuda itu sambil berkata. "Yonggan, aku kan berinvestasi, terserah mau berapa. Lagian nantinya kamu kan juga harus membeli pupuk dan semprotan disinfektan, tentu butuh biaya lebih. Kalaupun ada kelebihan, anggap saja itu upah mu karena kamu yang bekerja sehari-hari menggarap lahan ini. Hihihi!!"
Ucapan gadis itu kontan saja mencairkan suasana kaku di hati Cia Yonggan.