
Tak lama berselang, ponsel Hao Zhao berbunyi, disitu tertera panggilan dari nomor Huang Po sang Kepala Kantor Manajemen Lalu Lintas Kota Nanping menghubungi.
"Halo Kepala Huang, apakah sudah ada informasi?" Hao Zhao langsung bertanya.
Huang Po dengan santai menjawab. "Direktur Hao, bawahan ku telah berhasil menemukannya. Memang dalam rekaman CCTV pada hari kemarin, mobil itu melintas di jalan raya Nanping sekitar pukul 12 siang."
Hao Zhao menjadi sedikit lega. Ternyata prediksinya benar, bahwa Cia Yonggan memang bergerak ke arah selatan. Namun, apa tujuan pemuda itu?
Maka dia segera bertanya. "Kepala Huang, kemana tujuan mobil itu?"
"Sayang sekali, Direktur Hao, kami kehilangan jejaknya di sekitar jalan raya Jinshan. Aku rasa mobil itu masih berada di sekitar Jinshan, karena tidak terpantau lagi di kamera CCTV, mobil itu meninggalkan jalan Jinshan," terdengar Huang Po memberikan keterangan.
"Ah, Jinshan," Hao Zhao tercenung sejenak.
Betapa tidak, sepengetahuan dia, kediaman Wei Chung, sang pemimpin Hei Laohu yang baru, juga berada di Jinshan. Ini tidak mungkin satu kebetulan semata, pasti ada kaitannya. Namun masih terlalu dini apabila dia menduga hal yang bukan-bukan.
Maka Hao Zhao berusaha mengorek keterangan lebih lanjut. "Apakah masih ada informasi lainnya? Seperti, mungkin saja mobil itu tak berjalan sendirian? Siapa tau ada kendaraan lain yang mengiringinya? Kamu mungkin tahu maksud ku."
Mendapati pertanyaan ambigu dari Hao Zhao, Huang Po kemudian meneruskan. "Oh, iya, Direktur Hao, mobil itu sejak awal memasuki kota Nanping ini terlihat beriringan dengan enam mobil lainnya. Sebentar, aku periksa nomor plat mobil-mobil itu. Ah, ini dia!"
Huang Po berseru girang, sementara Hao Zhao masih tetap menyimak keterangan Huang Po.
Terdengar di seberang sana Huang Po sibuk dengan keyboard di komputer, seperti sedang mengetik dengan cepat.
"Direktur Hao, anda masih disana?" Huang Po menyapa.
"Ya, Kepala Huang, aku masih menunggu," Hao Zhao menjawab singkat.
"Informasi lainnya, mobil yang anda tanyakan teridentifikasi atas milik Nona Gao Mei Gui. Kalau tidak salah dia adalah anak mendiang Gao Li Liang, dan keenam mobil yang mengiringi mobil itu terdaftar atas nama orang-orang perkumpulan Hei Laohu, Direktur Hao," Huang Po melanjutkan.
Hao Zhao menjadi murka mendengarnya. Tak dapat diragukan lagi, Wei Chung adalah dalang atas menghilangnya Cia Yonggan. Ingin dia langsung melabrak Wei Chung saat ini juga dan mematahkan salah satu lengan pria itu.
"Keparat!" Hao Zhao memaki.
"Direktur Hao, anda?" Huang Po tentu saja terkejut mendengar Hao Zhao memaki, dia mengira telah salah ucap dan menyinggung Hao Zhao.
Hao Zhao langsung tersadar, tidak seharusnya dia memaki saat berbicara dengan Huang Po yang telah memberikan dia informasi yang sangat penting seperti ini.
__ADS_1
"Ah, maaf Kepala Huang, aku sedang memarahi salah seorang bawahan, kerja tidak becus, membuat kekacauan saja," Hao Zhao berdalih dengan nada menyesal. Kemudian ia melanjutkan, "Kepala Hao, aku akan mengurus keributan disini dulu. Dan terima kasih atas informasi tadi. Kelak, aku akan mengingat jasa Kepala Hao ini."
"Ah, anda jangan terlalu sungkan, Direktur Hao. Ini memang merupakan pekerjaan ku," Huang Po berbasa-basi.
"Kalau begitu, aku tutup dulu, Kepala Hao."
Hao Zhao mematikan sambungan telepon.
Dia kembali termenung. Begitu banyak pikiran yang melintas di benaknya saat ini. Wei Chung dapat dipastikan sebagai orang yang layak dipersalahkan atas menghilangnya Cia Yonggan. Namun, apa yang dapat dia lakukan? Apakah dengan dia datang dan melabrak Wei Chung, dia dapat membawa pulang Cia Yonggan dengan selamat? Siapa yang tahu keadaan disana, apakah pemuda itu masih hidup ataukah Wei Chung telah menurunkan tangan jahat kepadanya? Dan bukankah dengan dia datang secara terang-terangan menghadap Wei Chung, akan membahayakan dirinya sendiri? Apakah mungkin Wei Chung dengan ratusan anak buahnya yang tersebar di kota ini, dapat dia hadapi hanya dengan seorang diri? Dan bukankah dengan rasa aman yang diberikan oleh perkumpulan bawah tanah selama ini atas kerjasama kedua belah pihak, membuat dia dan pengusaha-pengusaha lainnya tak memerlukan lagi pengawal pribadi? Selain itu, semua pekerja keamanan di King Palace Hotel ini juga merupakan anak buah perkumpulan Hei Laohu yang dipimpin oleh Wei Chung.
"Benar-benar sial!" Hao Zhao hanya mampu berteriak melampiaskan kekesalannya.
Namun bukan Hao Zhao namanya, jika dia sampai kehilangan akal. Setidaknya dia masih memiliki pilihan terakhir, yaitu memohon pertolongan kepada tuannya, Tuan Besar Shu di Kota Beijing! Dengan pengaruh dan harta kekayaan yang dimilikinya, tak heran apabila keluarga Shu memiliki pengawal bersenjata lengkap.
Cia Yonggan adalah orang titipan Asisten Jia Xiu, orang kepercayaan Tuan Besar Shu. Jika orang titipan Asisten Jia Xiu saja berani dicelakai oleh Wei Chung, bukankah juga tak tertutup kemungkinan, Wei Chung juga akan berani mencelakai dirinya?
Namun bagaimanapun, dia saat ini masih sekedar menduga-duga. Dia belum mengetahui dengan pasti kebenaran di balik ini semua. Dan dia harus benar-benar memastikan terlebih dahulu keberadaan Cia Yonggan sebelum meminta bantuan. Tapi bagaimana cara dia memastikannya?
Kembali dia teringat percakapan dengan Gao Mei Gui barusan, yang menerangkan Ou Julong adalah orang yang dipercayai oleh Gao Mei Gui dan memiliki hubungan dekat dengan Cia Yonggan. Apakah tidak sebaiknya dia meminta bantuan tenaga Ou Julong, orang yang telah membuat dia malu barusan?
Namun setelah dipikir-pikir kembali, hanya Ou Julong seorang yang benar-benar pantas untuk dia mintai tolong kali ini. Apabila dia menyuruh salah seorang pekerja di hotelnya, takutnya akan timbul permasalahan lainnya.
"Hhhhhhhh..."
Dengan pasrah Hao Zhao menghubungi nomor Ou Julong. Dia sebenarnya masih merasa malu terhadap Ou Julong ini.
Di lain tempat, Ou Julong masih setia menemani Gao Mei Gui berdiri terpaku di pekarangan belakang rumah itu, tak satu katapun yang mereka dapat keluarkan saat ini. Kedua orang itu sedang larut dengan pikiran masing-masing. Entah mengapa sosok Cia Yonggan begitu terasa berarti bagi mereka. Meski pemuda itu tak terlalu banyak bicara, namun saat pemuda itu tak ada kabar, mereka merasa begitu kehilangan.
Keheningan itu tiba-tiba terpecah oleh suara nada dering ponsel Ou Julong. Dia buru-buru mengeluarkan ponselnya, karena memang dirinya masih menunggu panggilan dari bawahan yang dia tugaskan mencari keberadaan mobil Gao Mei Gui.
Dengan mengernyit, dia pandangi saja layar smartphone itu sambil bergumam. "Ada apa lagi si tua bangka Hao Zhao ini menghubungi ku, masih belum cukup puas mencari gara-gara dengan ku?"
Namun gumaman itu direspon cepat oleh Gao Mei Gui. "Cepat angkat, Paman. Direktur Hao pasti sudah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Cia Yonggan."
Sejenak dia melirik ke arah Gao Mei Gui. Dan dengan ogah-ogahan menjawab panggilan Hao Zhao.
"Halo."
__ADS_1
Hao Zhao mendapati nada Ou Julong yang sangat datar itu menjadi serba salah. Dia tau Ou Julong pasti masih merasa kesal padanya. Maka mau tak mau dia yang harus meminta maaf dengan tulus. Bukankah dia saat ini sedang membutuhkan Ou Julong?
"Ou Julong, kau maafkanlah kesalahan ku tadi. Tidak seharusnya aku bersandiwara dan berkata yang tidak-tidak pada mu. Aku tadi hanya ingin melindungi orang ku, karena sebelumnya aku masih menyangsikan mu. Dan ternyata aku salah," kata Hao Zhao menyesali perbuatannya sebelumnya.
Ou Julong yang mendengar permintaan maaf dari Hao Zhao secara langsung, menjadi sedikit berbesar hati. Di dalam hatinya, dia merasa adalah orang yang paling benar, saat ini Ou Julong merasa berada di atas angin. Namun tentu saja dia tak ingin menunjukkan sikap berlebihan kepada Hao Zhao.
"Ah, Direktur Hao, apa yang kamu katakan ini, aku menjadi tak enak hati. Tadi itu aku yakin hanya kesalahpahaman saja. Dan aku tak pernah menganggap serius kesalahpahaman itu. Tidak apa-apa kok, tidak apa-apa," Ou Julong terlihat sumringah.
"Ou Julong, ku rasa kita memang harus bertemu secapat mungkin, ada hal-hal mendesak yang harus diselesaikan," Hao Zhao terdengar sangat serius kali ini.
"Mmmmm... Maksud mu, Direktur Hao?" Ou Julong menjadi gugup.
Tentu saja Ou Julong gugup, dipikirnya Hao Zhao mengajak untuk bertemu masih akan membahas kerjasama antara King Palace Hotel dengan perkumpulan Hei Laohu seperti yang diutarakan Hao Zhao sebelumnya.
Tapi Hao Zhao tak ingin lagi bertele-tele. Semakin cepat dia bertemu Ou Julong, semakin cepat pula dia mengetahui keadaan Cia Yonggan yang sebenarnya.
"Aku sudah mendapatkan informasi keberadaan mobil Nona Gao. Keadaan saat ini benar-benar rumit. Terus terang saja, aku sangat membutuhkan pertolongan mu. Kamu dan Nona Gao segeralah ke Nanping, datanglah ke King Palace Hotel, lebih cepat lebih baik," Hao Zhao berbicara ringkas dan tegas.
Mendengar Hao Zhao telah mendapatkan perkembangan berita tentang mobil yang dikendarai Cia Yonggan kemarin, Ou Julong menjadi senang.
Dengan tergesa-gesa dia menyetujui permintaan Hao Zhao. "Tentu, tentu, Direktur Hao. Aku segera kesana."
"Baik, aku tunggu," lalu Hao Zhao memutus panggilan.
"Paman, ada apa? Apakah sudah ada kabar baik dari Direktur Hao?" Gao Mei Gui langsung bertanya setelah panggilan itu terputus.
"Ah, Mei Gui, Direktur Hao telah berhasil mendapatkan informasi mengenai lokasi mobil mu kini, dan dia meminta kita untuk berbicara langsung dengan dia di kantornya, karena sepertinya ada hal penting dan mendesak, tapi dia tak menyinggung keberadaan Cia Yonggan. Ayo, kamu bersiap-siaplah, kita kembali ke Nanping," Ou Julong lantas mengayunkan kaki menuju ke halaman rumah.
Namun Gao Mei Gui tetap tak bergeming dari posisinya. Dia terlihat seperti tengah kebingungan.
Mendapati Gao Mei Gui yang masih berdiri di tempat semula, Ou Julong membalikkan badan dan berseru. "Mei Gui, ayo cepat. Kita tak punya banyak waktu!"
Gao Mei Gui dengan berat melangkahkan kakinya menyusul Ou Julong yang sudah membuka pintu mobilnya dan bersiap-siap menaiki mobilnya.
Saat Ou Julong sudah duduk di belakang kemudi, Gao Mei Gui datang menyusul. Namun bukannya gadis itu menuju kursi penumpang, sebaliknya dia berdiri di samping pintu pengemudi kemudian membungkukkan badannya dan menjulurkan kepalanya ke dalam.
"Paman Ou, terima kasih sudah datang, kamu pergilah. Terus kabari aku. Aku tak bisa pergi, karena sudah berjanji pada dia untuk selalu menunggunya disini," Gao Mei Gui berbicara dengan mantap yang tak bisa dibantah oleh Ou Julong.
__ADS_1