
"Cepat singkirkan mobil mu dan pergi dari sini, jangan menghalangi orang lagi," balas gadis itu memaksa untuk bersikap jutek kepada pemuda itu.
Dia tak berniat menolong Cia Yonggan, dia hanya merasa perlu segera menyingkirkan mobil yang menghalangi jalannya ini. Ayahnya sendiri tengah terbaring di dalam rumah sakit, dia harus cepat-cepat masuk ke dalam.
Di sisi lain, Ou Julong malah terbelalak begitu sadar orang yang telah berselisih dengannya barusan adalah sama dengan orang yang dia temui di basement tadi. Dia telah mengetahui pemuda inilah yang telah menyelamatkan pimpinannya saat dikeroyok oleh kelima orang tak dikenal dari rekaman CCTV yang dia dapatkan berkat bantuan dari Direktur King Palace Hotel, Hao Zhao. Dia merasa sebagai bawahan Gao Li Liang, harus mengucapkan terima kasih kepada pemuda ini, bukan sebaliknya, malah mencari gara-gara dengan penyelamat ketua perkumpulan nya. Maka dia buru-buru menjura dengan tulus.
"Tuan penyelamat, terima kasih atas bantuan mu hari ini. Aku telah bersalah pada mu. Maafkan aku yang memiliki mata namun tak melihat ini," katanya sambil menampar wajahnya.
Gadis muda itu menghentikan langkahnya dan memutar tubuh menatap ke arah Ou Julong. Dia heran ada apa dengan orang ini, mengapa tiba-tiba bertingkah seperti seorang penjilat?
Maka dia buru-buru menegur. "Paman Ou, apa yang kamu lakukan?"
Ou Julong segera menjawab dengan penuh penyesalan. "Nona, jangan biarkan orang itu pergi. Dia adalah pahlawan. Dia orang yang telah menyelamatkan ayah mu dari keroyokan musuh. Tadi aku dan Kakak Wei Chung mendapati dia sedang bertarung dengan pengeroyok itu sebelum mereka kabur. Dan aku yang buta ini malah telah menyalahkan dia yang ku kira sedang mencari ribut di daerah kekuasaan Hei Laohu. Saat ini pun aku masih berusaha mencari perkara dengan dia. Betapa berdosanya aku."
Gadis itu melirik ke arah Cia Yonggan dan bertanya dengan penasaran. "Apakah benar demikian?"
Cia Yonggan menanggapi dengan acuh tak acuh. "Sudahlah, tadi itu aku hanya kebetulan lewat, tak berniat menolong orang, aku bukan pahlawan seperti yang dikatakan si botak ini."
"Apakah kamu akan pergi begitu saja? Tidakkah kamu ingin menunjukkan ciri-ciri orang-orang yang telah berani mengeroyok ayah ku itu?" tanya gadis itu lagi dengan penuh selidik.
"Tentu saja aku akan pergi. Pergi ya pergi, siapa yang bisa menghalangi aku?" kata Cia Yonggan lagi dengan masih berlagak cuek.
Mendengar ini, Ou Julong langsung berteriak marah. "Kamu hanya bisa pergi setelah melangkahi mayat ku!"
Belum hilang kalimatnya, dia langsung menerjang ke arah Cia Yonggan dan menangkap lengan kirinya yang tadi dipergunakan mengempit leher Ou Julong. Berhasil menangkap lengan pemuda itu, maka dia tak melepaskannya lagi, dirinya seolah-olah melekat erat dengan pemuda itu meskipun Cia Yonggan telah berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman kedua tangan Ou Julong.
"Lepaskan. Apa-apaan kamu ini!" hardik Cia Yonggan kesal.
__ADS_1
Ou Julong tak peduli, sebaliknya dia berteriak ke arah gadis yang diketahui sebagai putri Gao Li Liang. "Nona, cepat tangkap tangannya yang satu lagi, ayo kita bawa dia ke hadapan ayah mu. Aku yakin, ayah mu akan sangat senang melihat penolongnya berada disini."
Tentu saja Cia Yonggan menjadi gugup mendengar perkataan Ou Julong ini. Dia tak bisa membayangkan, dua lengan gadis itu akan mengempit satu lengannya. Belum lagi pria tambun ini yang juga tak melepaskannya. Berjalan dikempit dua orang sekaligus. Mungkin tak masalah kalau seorang gadis mengempit lengan seorang pemuda, akan terlihat mesra seperti seorang gadis yang bermanjaan kepada kekasihnya, namun masalahnya pada sisi lengan yang lain juga akan menggelayut seorang pria tua gemuk dan botak, pasti akan menjadi bahan tertawaan orang-orang.
Dia berharap semoga gadis itu tak menuruti perkataan pria gemuk ini.
Sementara bagi Gao Mei Gui, pertemuan dengan pemuda ini yang tadinya dirasa sangat singkat, membuka peluangnya untuk bisa berlama-lama ada di samping pemuda itu.
Gao Mei Gui bukanlah tipe gadis yang mudah untuk jatuh cinta. Namun terhadap pemuda yang tampak acuh tak acuh ini, dia memiliki perhatian lebih, apalagi dia itu telah bertarung dengan orang lain demi menyelamatkan ayahnya. Tak baik mengabaikan kebaikan orang, begitu pikirnya.
"Baiklah, paman Ou," dengan sedikit tersenyum dia menuruti Ou Julong.
Gadis itu melangkah gontai ke arah Cia Yonggan kemudian menggamit lengan kanannya dan mulai menarik kedua orang itu untuk berjalan masuk ke rumah sakit.
"Kalian, bereskan urusan disini!" kata Ou Julong memberikan perintah kepada dua puluhan anggotanya yang masih terbengong di tempat.
Mereka dituntun oleh seorang pria berjas hitam memasuki ruang rawat inap Gao Li Liang. Saat ini Gao Li Liang telah melewati masa kritis dan dipindahkan ke dalam ruang rawat inap.
Mereka hampir sampai di depan pintu ruang rawat inap Gao Li Liang. Koridor rumah sakit menuju ruang rawat inap Gao Li Liang ini hampir tak cukup menampung banyaknya orang-orang yang hadir disitu.
Di ujung sana, mereka dapat melihat seorang dokter dan perawat baru saja keluar dari ruangan itu dan sedang menjelaskan keadaan Gao Li Liang kepada Wei Chung dan puluhan anak buahnya yang bersiaga disitu.
"Tuan Gao sudah berhasil melewati masa kritisnya dan dia membutuhkan istirahat. Harap tak terlalu menimbulkan suara gaduh, ini demi kenyamanan pasien, terima kasih," kata dokter itu sambil berlalu dari situ.
Wei Chung dengan sigap langsung memberikan isyarat kepada orang-orangnya untuk meninggalkan koridor ini. Tanpa menimbulkan suara, mereka semua perlahan meninggalkan tempat itu dengan teratur. Saat berpapasan dengan rombongan Cia Yonggan bertiga, mereka sedikit membungkuk, lalu terus melangkah keluar.
Di depan ruang rawat inap itu hanya tersisa Wei Chung dan dua orang pria sebaya dengan dia. Saat ini dia melihat kedatangan putri Gao Li Liang, Gao Mei Gui. Dia datang tak sendirian, dia datang bersama Ou Julong. Kedua orang ini terlihat sedang bergelayut kepada seorang pemuda tampan. Ya, pemuda itu sudah pernah dilihat oleh Wei Chung di basement King Palace Hotel. Dia adalah pemuda yang telah berani bergebrak langsung dengan Master Mo itu!
__ADS_1
Sejenak kedua pasang mata Cia Yonggan dan Wei Chung bertemu. Ada rasa tak suka di mata Wei Chung saat melihat pemuda itu datang kemari dengan bergandengan tangan bersama Gao Mei Gui dan Ou Julong.
Sementara bagi Cia Yonggan, dia merasa sedikit bergidik apabila mengingat trik licik yang sedang diperankan oleh Wei Chung, bertingkah setia di hadapan orang banyak, tapi dia juga berkomplot dengan pihak lain untuk menyerang ketua perkumpulannya sendiri.
"Mei Gui, Julong, kalian sudah datang. Syukurlah," kata pria itu memperlihatkan ekspresi lega.
"Paman Wei, Paman Guan dan Paman Po, bagaimana keadaan ayah?" Gao Mei Gui langsung menanyakan ayahnya sambil menyapa ketiga orang itu.
"Ayah mu sudah melewati masa kritis. Dan saat ini membutuhkan istirahat total. Untuk sementara waktu kita tak diperkenankan untuk memasuki ruangannya sampai dia sadarkan diri. Takutnya kalau kita memaksa masuk, akan mengganggu istirahat Kakak Gao," jawab Wei Chung kembali menatap pemuda yang diapit oleh kedua orang itu.
Dia bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa kedua orang ini terus melekat erat kepada pemuda ini? Namun tentu saja dia tak berani menanyakan langsung.
Gao Mei Gui menoleh ke arah Ou Julong yang berada di sebelah kiri Cia Yonggan. "Paman Ou, bagaimana ini?"
Siapa sangka, Ou Julong yang sudah terbiasa berbicara dengan nada keras ini langsung merandek marah. "Kentut! Ingin ku lihat, di dunia ini siapa yang berani melarang seorang anak menemui ayahnya? Dan mana ada cerita seorang adik dilarang menemui kakaknya yang sakit? Seret kesini dokter itu, ingin ku patahan tubuhnya menjadi sembilan bagian! Mei Gui, ayo cepat masuk!"
Gao Li Liang memiliki empat orang bawahan kepercayaan, dua diantaranya yaitu Ou Julong dan Wei Chung, sementara dua lainnya yang turut hadir disini adalah Guan Zheng dan Po Yang. Keempat orang ini, sudah terbiasa memanggil Gao Mei Gui dengan sebutan nama saat tak ada seorang pun bawahan di sekitar, sebaliknya apabila di hadapan bawahannya, mereka akan memanggil Gao Mei Gui dengan sebutan "Nona".
Ini mereka lakukan agar tak menjatuhkan wibawa Gao Mei Gui di hadapan para bawahan. Apabila mereka memanggil Gao Mei Gui dengan sebutan nama di depan bawahan, dikhawatirkan para bawahan juga turut mengikuti mereka, sehingga wibawa Gao Mei Gui sebagai putri seorang ketua perkumpulan akan jatuh.
Hal ini sudah mereka sepakati sejak lama dan Gao Mei Gui sudah sangat mengerti, meski sebenarnya dia agak risih ketika empat orang paman ini bersikap menunduk kepadanya apabila di hadapan orang banyak. Bagaimanapun, dia adalah seorang gadis muda modern, pasti akan merasa risih menghadapi sikap menunduk-nunduk dari para angkatan tua ini.
Gao Mei Gui yang memiliki paras cantik itu langsung mengangguk menyetujui ucapan Ou Julong. Bersama Ou Julong dia melangkahkan kakinya dengan tetap menarik Cia Yonggan memasuki ruang rawat inap tempat ayahnya dirawat.
"Paman-paman, kami masuk dulu," katanya.
Ketiga orang itu hanya bisa terbengong. Mereka sedari tadi berada disini dan tak sekali pun diberikan kesempatan untuk menemui sang pimpinan, sementara orang-orang ini baru datang, langsung menerobos begitu saja, bahkan membawa seorang pemuda yang tidak dikenal.
__ADS_1