The Investor

The Investor
Bab 14 : Berbicaralah Seperti Orang Dekat


__ADS_3

Petang ini Cia Yonggan masih berada di apartemen Gao Mei Gui. Kedua muda-mudi itu sedang menikmati panorama menjelang senja di tengah hiruk pikuk kota dari balkon lantai 10 apartemen ini.


Kota Nanping ini dikelilingi perbukitan sehingga tak memungkinkan bagi mereka untuk menikmati indahnya detik-detik matahari terbenam di ufuk barat. Meski demikian, dari sini mereka masih dapat memandang ke tempat bertemunya dua sungai yang membelah kota ini menjadi tiga bagian, yaitu Sungai Minjiang dan Sungai Jianxi.


Cia Yonggan pada malam ini akan masuk bekerja shift malam, artinya dia tak bisa terlalu berlama-lama disini. Dia ingin membuka percakapan sedari tadi, tapi dia melihat gadis itu masih tenggelam dalam lamunan panjang, matanya menerawang jauh seakan mencari tahu muara Sungai Minjiang melalui penerawangan matanya.


Hingga akhirnya Cia Yonggan yang gelisah sendiri, mengingat waktu yang dia miliki tak banyak lagi, sebentar lagi dia harus pergi, dia tak ingin melalaikan pekerjaannya.


"Nona Gao..." dia menoleh ke samping kirinya dimana gadis itu sedang berdiri sambil berpegangan pada pagar pembatas balkon.


Gao Mei Gui balas menatap pemuda itu. "Ada apa?"


"Nona Gao, aku tak bisa terlalu lama di sini, sebentar lagi aku harus berangkat bekerja," jawab Cia Yonggan mengutarakan alasannya.


"Katakan pada ku, dimana kamu bekerja? Aku belum pernah melihat mu selama ini," Gao Mei Gui berusaha mengorek informasi mengenai pemuda ini.


Cia Yonggan tak ingin menutupi keadaan dirinya yang hanyalah sebagai room service di hotel.


"Saya sudah bekerja sebagai room service selama empat tahun lebih di King Palace Hotel, Nona Gao," kata Cia Yonggan.


Belum habis ucapannya, Gao Mei Gui lantas saja menyela.


"Kamu tidak bisakah memanggil ku dengan sebutan nama saja? Apakah aku ini terlihat seperti seorang majikan bagi mu? Hmmm.. Dari penglihatan ku, kamu seharusnya lebih tua daripada aku, benar tidak?" kata Gao Mei Gui lagi sambil memperhatikan sosok Cia Yonggan dari atas hingga ke bawah


"Nona... Aku..." lidah Cia Yonggan serasa kelu jadinya.

__ADS_1


"Dan kamu berbicara terlalu formal pada ku, apakah tidak bisa berbicara sedikit lebih akrab. Aku ini masih orang muda, bukan seorang tua, tak perlu berbicara secara formal begitu," katanya kemudian pergi begitu saja meninggalkan Cia Yonggan.


Cia Yonggan yang mendapati sikap Gao Mei Gui menjadi bingung sendiri, entah apa maunya gadis ini, padahal mereka baru saja kenal, dan dia meminta Cia Yonggan untuk berbicara selayaknya orang dekat. Cia Yonggan berpikir sepertinya gadis itu lebih suka menghadapi lawan bicara yang intim.


Kemungkinan mereka takkan bisa membicarakan banyak hal dengan waktu yang semakin mendesak ini.


Setelah Gao Mei Gui pergi, dia berinisiatif untuk menelepon Hao Zhao, bermaksud menerangkan keadaannya saat ini dan meminta izin untuk masuk kerja sedikit terlambat malam ini.


"Halo Direktur Hao, ini Cia Yonggan," katanya menyapa orang di seberang telepon.


"Cia Yonggan, apakah kamu masih ada urusan dengan mendiang putri Gao Li Liang itu?" Hao Zhao langsung saja menebak keadaan Cia Yonggan saat ini.


Cia Yonggan yang keadaannya telah diketahui orang menjadi gugup. "Benar, Direktur Hao, maaf aku masih belum menghadap padamu sejak semalam. Dan...".


"Direktur Hao, bagaimana kamu bisa tahu?" Cia Yonggan balik bertanya.


"Hahaha.. Kamu takkan menghubungi aku kalau tidak ada masalah, benar tidak?" ujar Hao Zhao.


Ucapan Hao Zhao sontak membuat Cia Yonggan malu, karna isi hatinya dapat ditebak begitu saja, memang selama ini dia tidak pernah menghubungi Hao Zhao.


"Direktur Hao, maaf, aku tak bermaksud demikian," jawab Cia Yonggan.


Hao Zhao hanya menanggapi dengan tertawa kecil dan berkata. "Cia Yonggan, begini saja, mengingat hubungan baik ku dengan mendiang Gao Li Liang selama ini, kamu orang terdekat dengan putrinya saat ini sudah seharusnya menghibur dia. Sebenarnya aku sedikit mengkhawatirkan keadaan kalian berdua setelah peristiwa semalam. Kalau boleh aku menyarankan, kamu ambillah cuti selama beberapa waktu, bawalah dia ke kampung halaman mu. Ku pikir dia akan menemukan kedamaian di sana untuk sementara waktu ini."


"Direktur Hao, aku tidak..." Cia Yonggan masih mencoba berkilah mengenai kedekatan hubungan dia dengan Gao Mei Gui.

__ADS_1


"Cia Yonggan, aku ini bukan anak-anak. Siapa pun bisa menilai kamu memiliki hubungan dekat dengan putri Gao Li Liang itu. Ingat, aku ini sudah hidup puluhan tahun sebelum kamu lahir, jadi tidak perlu bersandiwara denganku tentang ini," kata Hao Zhao lantang.


Merasa kalah berdebat, Cia Yonggan terpaksa menuruti perkataan orang itu saja, toh tak ada gunanya juga dia berkilah. "Maafkan aku, Direktur Hao. Kalau begitu aku akan menuruti arahan mu saja."


"Nah, begitu baru benar," katanya dengan puas. Lalu dia menambahkan. "Dengarkan aku, kalian besok pagi-pagi sekali harus sudah meninggalkan kota ini. Ini demi kebaikan kalian berdua. Biar aku yang mengurus urusan disini, termasuk berbicara kepada dosen Gao Mei Gui dan memintanya merahasiakan hal ini. Aku akan terus memantau situasi di sini, apabila dirasa aman, maka berarti kekhawatiran ku tak beralasan. Dari pengamatan ku, mereka orang-orang Hei Laohu pasti akan mencari gara-gara dengan mu, sebab tak lama setelah kejadian itu, beberapa orang datang meminta ku untuk menghapus rekaman CCTV di lokasi kejadian. Aku menduga pasti ada trik busuk di balik kematian Gao Li Liang ini."


Cia Yonggan tercekat. Dia tak menduga, seorang direktur hotel seperti Hao Zhao ini memiliki nalar yang cukup bagus dalam menganalisa suatu kejadian, tak heran dia bisa mengungkapkan kedekatan hubungan dia dengan Gao Mei Gui. Hanya saja saat ini dia tak ingin memberitahukan kepada Hao Zhao apa yang telah dia ketahui. Dia tak ingin memberitahukan bahwa Wei Chung memiliki andil yang besar sebagai penyebab kematian Gao Li Liang.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan menyampaikan pada dia supaya besok pagi-pagi sekali berangkat ke Gunung Mangdang, semoga saja dia tak keberatan dan menuruti saran mu ini, Direktur Hao," kata Cia Yonggan.


Dia pasti setuju," kata Hao Zhao percaya diri.


"Baiklah, kalau begitu sampai disini dulu, Direktur Hao," kata Cia Yonggan buru-buru ingin mengakhiri pembicaraan.


"Ya, kamu jangan lupa terus berkabar dengan ku," Hao Zhao mengingatkan.


"Baik, Direktur Hao," pungkasnya.


Lalu memutuskan sambungan telepon.


Begitu pembicaraan berakhir, Cia Yonggan tertegun. Dia tak habis pikir, ada apa dengan para orang tua ini? Pertama, ayah Gao Mei Gui, sebelum meninggal dunia tiba-tiba saja menitipkan anak gadisnya pada dia. Kedua, Ou Julong itu, secara gamblang menebak isi hati gadis itu dan menyampaikannya kepada Cia Yonggan bahwa gadis itu sedang jatuh cinta. Lalu Hao Zhao ini, malah meminta dia membawa gadis itu pulang ke kampung halamannya di lereng Gunung Mangdang sana.


Yang tak diketahui Cia Yonggan adalah saat ini Gao Mei Gui sedang tersenyum manis dari balik dinding balkon. Dia tak dapat mendengarkan apa yang dikatakan oleh Direktur Hao yang merupakan bos besar di tempat Cia Yonggan bekerja itu, namun dia dapat menyimak suara Cia Yonggan yang gugup lalu menyebut-nyebut akan berangkat ke Gunung Mangdang besok pagi.


Sedikit banyaknya dia sudah bisa menebak garis besar pembicaraan mereka. Hal itulah yang kemudian membuat Gao Mei Gui tersenyum senang sebelum kemudian dengan berjinjit pergi dari situ.

__ADS_1


__ADS_2