
Saat Cia Yonggan memasuki ruang tengah, dia mendapati Gao Mei Gui sedang duduk di sofa dan sibuk dengan smartphonenya, seperti sesuatu yang ada di layar smartphone itu sangat menarik perhatiannya.
Dia mendekat ke sofa yang ada disana dan menyapa Gao Mei Gui. "Mei Gui, maaf tadi aku bersikap terlalu kaku pada mu."
Gao Mei Gui lantas meletakkan telepon genggam itu ke atas meja yang ada di depannya. Dia menoleh dan tersenyum kepada Cia Yonggan.
"Ayo sini duduk, Yonggan," katanya sambil mengisyaratkan Cia Yonggan untuk duduk di sofa bersamanya.
Kali ini dia pun merubah sebutannya kepada Cia Yonggan tanpa menyebutkan nama marganya lagi. Ini menandakan hubungan mereka sedikit ada kemajuan.
Cia Yonggan pun menuruti kemauan gadis itu.
Begitu dia baru saja duduk, terdengar Gao Mei Gui berkomentar. "Tidak sulit bukan?"
"Ya," kedua muda-mudi ini pun tersenyum bersama.
Ada bunga-bunga yang sedang bermekaran di hati mereka. Ada debaran jantung yang berdegup semakin kencang dan tak dapat mereka kendalikan. Ada rasa bahagia saat menatap satu sama lain.
"Yonggan, katakan pada ku, bagaimana pendapat mu mengenai apa yang dikatakan ayah ku pagi ini?" Gao Mei Gui tiba-tiba membuka topik.
Cia Yonggan terdiam sejenak. Dia tidak pernah memikirkan bagaimana dia akan memenuhi permintaan Gao Li Liang terkait perkumpulan dunia bawah tanah, yang menjadi fokus dia saat ini adalah memenuhi saran Hao Zhao, membawa gadis ini dari sini serta mengamankan dirinya sendiri sambil melihat perkembangan situasi perkumpulan bawah tanah Kota Nanping.
Seandainya dia bisa selamanya untuk tak berada lagi di Kota Nanping ini, maka dia akan menetap di kampung halamannya saja dan menggarap kembali lahan pertanian ayahnya yang sampai saat ini terbengkalai semenjak kematian kedua orang tuanya lima tahun lalu.
Tapi dia selalu ingat akan janji dengan seseorang yang telah berjasa padanya empat tahun berselang, orang yang telah menyelamatkan dia sehingga tak lagi bergaul dengan orang-orang perkumpulan bawah tanah dan memotivasi dirinya kembali melanjutkan pendidikannya. Empat tahun sudah lewat sejak perpisahannya dengan Jia Xiu waktu itu, namun penantian satu tahun terakhir ini terasa sangat panjang bagi dia.
Memang sudah sifat bawaan manusia yang apabila sudah mengalami sedikit peningkatan taraf hidup, akan merasakan pola hidupnya yang sekarang pun harus ditingkatkan. Begitupun Cia Yonggan, dia yang awalnya hanya bekerja sebagai room service untuk menyambung hidup sekaligus membiayai pendidikannya, namun semenjak dia dinobatkan lulus sarjana pertanian, dia mulai merasa tidak seharusnya lagi dia bertahan disini. Namun bagaimanapun, dia tak bisa menghilangkan jasa orang lain dengan mengingkari janji begitu saja. Apabila dia pergi dari kota ini, apakah mungkin Jia Xiu akan bisa menemukannya kembali? Makanya dia masih bertahan menantikan pertemuannya kembali dengan Jia Xiu.
__ADS_1
"Mei Gui, aku tak punya niatan untuk menggantikan posisi ayah mu di Hei Laohu. Aku sudah berjanji dengan seseorang untuk tak bergaul dengan perkumpulan bawah tanah," katanya.
Mendengar itu, Gao Mei Gui menjadi gusar. Yang dia tanyakan bukanlah persoalan perkumpulan bawah tanah, tapi tentu saja persoalan hubungan mereka berdua.
Maka sambil memelototi pemuda itu, dia meluruskan. "Yonggan, aku tak meminta pendapat mu bagaimana kamu akan menggantikan posisi ayah ku, tapi aku meminta pendapat mu mengenai yang dikatakan ayah ku soal yang satu lagi..."
Dia hendak mengatakan persoalan ayahnya yang mempercayakan dirinya kepada pemuda ini, namun dia merasa malu sehingga terpaksa menundukkan muka saja. Mukanya menjadi memerah bagai kepiting rebus.
Menghadapi pertanyaan ambigu begitu, Cia Yonggan juga menjadi malu. Wajahnya bersemu merah tak kalah ketimbang Gao Mei Gui.
"Mei Gui, mengenai ini... Aku.. Aku tidak tahu," jawabnya gugup.
Dengan masih menundukkan muka, Gao Mei Gui kembali bertanya. "Kenapa? Bukankah kamu sudah mengatakan kepada ayah ku kamu tidak akan keberatan?"
"Iya, tapi.. Tapi aku..." kembali dia terbata.
Kali ini dia mumutuskan harus mendesak pemuda ini, kalau tidak persoalan ini tidak akan terang. Gao Mei Gui memang selama ini belum pernah menjalin hubungan asmara, tak heran kalau dia bersikap malu-malu. Tapi Cia Yonggan ini, sebagai laki-laki, mengapa juga bersikap malu-malu seperti dia?
"Bukan begitu, Mei Gui. Aku hanya merasa belum siap," dia benar-benar merasa terpojok kali ini.
"Apa maksud mu dengan belum siap?" kembali Gao Mei Gui mengejarnya dengan pernyataan.
"Mei Gui, tadi aku sudah mengatakan tentang pekerjaan ku pada mu.." katanya menggantung.
"Lalu?" Gao Mei Gui terus memburu.
Merasa terpojok, akhirnya Cia Yonggan balas menatap gadis itu dan mengungkapkan isi hati yang sebenarnya. "Aku ini belum mapan secara ekonomi, Mei Gui. Bagaimana aku bisa menghidupi mu kelak? Bagaimana tanggungjawab ku sebagai suami mu, sementara aku tak punya pekerjaan yang bagus? Apakah nanti kamu tidak akan dicibir oleh orang banyak?"
__ADS_1
Gao Mei Gui memutar-mutar bola matanya memandang wajah tampan itu, seperti hendak mencari tahu lebih banyak apa yang menjadi beban pikiran pemuda itu.
"Apakah hanya itu?" tanyanya.
"Ya," jawab Cia Yonggan singkat.
Sontak Gao Mei Gui tertawa terkikik-kikik. Dia melihat pemuda di dekatnya ini begitu lugu dan sama sekali tak mengetahui perhubungan antara laki-laki dan perempuan. Coba apabila permasalahan seperti ini dihadapi oleh pemuda kebanyakan, tentu akan dengan senang hati langsung menyambut peluang yang ada, tanpa berpikir dua kali, apalagi Gao Mei Gui ini begitu cantik.
"Hikhikhik... Yonggan.. Yonggan. Mengapa kamu terlalu lugu? Apakah kamu berpikir menjalin hubungan antara laki-laki dan perempuan itu hanya dengan mengikat pernikahan saja? Apakah tidak bisa kita mulai dulu dari berpacaran, kemudian bertunangan. Nanti kalau kita sudah benar-benar merasa cocok, barulah menikah," Gao Mei Gui masih terkikik karena merasa geli.
"Berpacaran... Apakah kita berpacaran?" pemuda itu bertanya seperti orang bodoh.
"Hihihi... Menurut mu?" Gao Mei Gui meraih tangan pemuda itu dan menyandarkan kepalanya pada bahu Cia Yonggan, persis seperti saat mereka berada di sofa ruangan rumah sakit semalam, bedanya saat ini tak ada Ou Julong di sisi satunya lagi.
Cia Yonggan tak berani lagi menjawab. Dia merasa semakin menjawab pertanyaan gadis ini, dia semakin terlihat seperti seorang bodoh di mata orang. Maka dia hanya menikmati saja momen ini, toh tak ada ruginya juga. Siapa yang bisa menolak pesona seorang Gao Mei Gui yang cantik ini? Bukankah dia juga tak punya kekasih? Dan Gao Mei Gui ini adalah perempuan satu-satunya dan pertama yang pernah sebegini akrab dengan dia bahkan sempat membicarakan soal pernikahan.
Bukannya Cia Yonggan ini tak memiliki daya tarik bagi perempuan. Tapi sejak kecil dia diajarkan ayah dan ibunya untuk fokus pada pendidikannya saja dan menjauhi urusan percintaan di masa sekolah, menurut mereka, percintaan di masa sekolah hanya akan mengurangi kualitas belajar anaknya kelak sehingga mempengaruhi nilai sekolah.
Semasa kuliah, banyak gadis-gadis entah itu gadis sesama jurusan atau yang berbeda jurusan yang menaksir dia karena ketampanannya. Tapi dia tak sekalipun mengacuhkan gadis-gadis itu, sering dia menghindari mereka. Bagaimana tidak, dia sepulang kuliah selalu terburu-buru menuju ke tempat kerjanya. Sementara sedikit sisa waktu dia luangkan untuk belajar di rumah dan mengasah kembali seni bela diri yang sempat dia pelajari dari ayahnya saat dia masih tinggal di kampung halamannya. Tak ada waktu baginya untuk menjalin kedekatan dengan gadis-gadis di kampus kala itu, tapi sekarang tentu keadaannya berbeda, dia sudah menamatkan pendidikannya.
"Yonggan, kita ikuti saja, ya, kemana ini akan bermuara. Aku belum pernah memiliki kekasih, dan aku tak tau apa itu yang disebut orang dengan jatuh cinta, yang aku tahu saat ini, aku merasa nyaman bersama mu," gadis itu bergumam lirih sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Cia Yonggan.
Suaranya serasa sangat dekat di telinga Cia Yonggan, membuat dia serasa terbang melayang ke awan.
"Baiklah, Mei Gui," dia mulai berani balas meremas lembut jari-jari halus gadis itu.
Ada dua hati yang sedang dimabuk asmara, tapi mereka hanya mampu menikmati momen kebersamaan itu dalam diam. Cia Yonggan bukan pemuda cabul yang akan dengan mudah memanfaatkan kesempatan di saat wanita sedang dilambung pesona asmara. Sementara Gao Mei Gui juga bukanlah perempuan murahan yang dengan mudah memberikan tubuhnya kepada sembarang lelaki.
__ADS_1