
Ketiga orang itu masih lagi tertidur lelap saat Gao Li Liang terjaga pada dini hari. Sesaat dia tak tahu sedang berada dimana saat ini. Hal pertama yang dia lihat adalah langit-langit ruangan ini berwarna putih. Dimanakah ini? Apakah ini di surga?
Dia teringat kembali saat-saat terakhir sebelum dia kehilangan kesadaran di basement King Palace Hotel.
Malam tadi dia bersama empat orang kepercayaannya akan mengadakan jamuan makan malam di hotel itu dalam rangka perayaan ulang tahun putrinya Gao Mei Gui yang ke dua puluh dua tahun. Dia saat itu ingin memberikan sebuah kejutan kepada putri semata wayangnya, maka dia memesan sebuah ruangan restoran VIP khusus di hotel tersebut. Mereka sengaja datang satu jam lebih awal dari waktu yang telah disepakati dengan Gao Mei Gui untuk kejutan dan memesan hidangan mewah yang akan disantap nantinya.
Pada siang sebelumnya, dia memerintahkan Wei Chung untuk mengambil pesanan kalung mutiara yang telah dia pesan sebelumnya di toko perhiasan. Namun sayangnya hadiah kalung yang sudah diambil oleh Wei Chung tersebut malah ketinggalan di dalam mobilnya. Awalnya Wei Chung menyesal mengapa bisa melupakan hal penting seperti itu dan dia menawarkan diri untuk mengambil kalung dari dalam mobilnya di basemen hotel ini. Namun dengan karakternya, Gao Li Liang bersikeras mengambil sendiri ke lantai bawah, sementara dia mempersilahkan keempat orang kepercayaannya itu untuk mempersiapkan semua perlengkapan kejutan nanti.
Namun siapa yang akan menduga, baru saja dia memasukkan kotak kalung mutiara itu ke dalam saku jasnya dia menyadari ada beberapa sosok bayangan orang berdiri tepat di belakangnya. Sontak dia membalikkan tubuhnya dan menatap penasaran pada lima orang yang dari gelagatnya ingin mencari gara-gara dengannya.
Orang yang berdiri di hadapannya ini memiliki postur tubuh tinggi kurus dan bola matanya cekung. Tatapan matanya dingin seolah ingin menyihir orang menjadi sebongkah es hanya dengan tatapan matanya. Sementara di belakang pria itu berdiri empat orang yang sama-sama menatap tajam ke arah Gao Li Liang.
Dia tak pernah mengenal orang-orang ini sebelumnya, bahkan belum pernah melihat wajah mereka. Namun dia dapat menebak, di antara mereka, pria tinggi kurus itulah pimpinan gerombolan itu. Maka cepat dia menghardik mereka supaya menyingkir
"Cepat minggat dari hadapan ku!" hardiknya yang malah ditanggapi dengan ketawa oleh kelima orang itu.
"Sudah mau menghadap kematian masih berlagak di hadapan ku? Sampah!" kata pria tinggi kurus kembali diiringi gelak tawa oleh empat bawahannya.
"Siapa kamu? Apa maksud mu datang kesini?" Gao Li Liang berusaha mengorek identitas kelima orang ini.
"Orang mampus, kami tak ingin bertele-tele. Kedatangan kami kesini adalah untuk menghabisi nyawa tua mu. Sebelumnya, atasan kami Lu Meng dari perusahaan pengawalan Naga Laut telah meminta mu secara baik-baik mengaku tunduk dan menyerahkan kekuasaan kepada kami. Bahkan atasan kami menjanjikan keuntungan dua puluh persen untuk mu dan organisasi mh, tapi kamu menolak niat baik itu. Sebenarnya, dua puluh persen keuntungan untuk kelompok sampah mu ini sudah terlalu banyak," pria itu berkata meremehkan.
"Bapaknya! Dia datang ingin memeras kami dengan memberikan keuntungan dua puluh persen dan dia juga ingin memeras investor-investor di kota Nanping ini dengan memaksa mereka bekerja sama dengan perusahaannya begitu dia menguasai kota ini. Dan kamu menyebut itu niat baik? Perlu kalian ketahui, meski kami berkecimpung di dunia hitam, tapi kami selalu berupaya menjaga bisnis mereka, tak sekalipun kami mengganggu usaha mereka. Dan ini sudah kami lakukan secara turun temurun sejak puluhan tahun lalu. Sekarang kalian datang ingin menghancurkan citra baik antara penguasa bawah tanah dengan para pengusaha. Omong kosong macam apa itu?" Gao Li Liang mulai tersulut emosinya.
Memang sejak puluhan tahun lalu, sejak revolusi kebudayaan di Tiongkok, ketiga perkumpulan penguasa bawah tanah di kota Nanping, Hei Laohu, Xiongmeng de Shizi dan Bao selalu mengedepankan hubungan baik dengan pengusaha-pengusaha yang berinvestasi di kota Nanping. Mereka bekerjasama dengan perusahaan-perusahaan itu di bidang keamanan dan pengelolaan parkir. Selain itu mereka juga meminta kepada setiap usaha perhotelan agar diperbolehkan mengelola bidang usaha hiburan seperti karaoke dan diskotik serta arena perjudian. Biasanya disitulah mereka mengedarkan obat-obatan terlarang, sehingga mereka mendapatkan keuntungan lebih dari usaha mereka.
Bisa dikatakan, para investor dan pengusaha itulah yang menghidupi mereka selama ini, jadi mana mungkin mereka memaksa para investor untuk menyewa jasa mereka sebagai pengawal pribadi. Di kota Nanping ini belum pernah ada kejadian para pengusaha dirampok, karena adanya ketiga perkumpulan ini yang membuat pelaku kriminal tunggal takkan berani berbuat macam-macam disini. Kebanyakan dari pelaku kriminal tunggal lebih memilih untuk bergabung dengan salah satu kelompok itu dan bekerja sesuai yang instruksi atasan.
Kota ini benar-benar aman, takkan dibutuhkan sebuah perusahaan pengawalan disini, karena memang para pengusaha tak membutuhkan mereka, para pengusaha itu sudah memiliki pengawal yang lahir secara alami dengan menjalin kerja sama dengan perkumpulan-perkumpulan penguasa bawah tanah.
Saat ini pria tinggi kurus itu menimpali. "Disitulah kelemahan kalian para penguasa bawah tahan di Kota Nanping ini. Dengan sedikit kerja sama, kalian sudah menganggap mereka para pengusaha kaya itu sebagai pahlawan penyambung hidup di mata kalian. Bahkan kalau kalian memaksa mereka membayar lebih pun, mereka takkan keberatan, toh mereka pun bingung mau dikemanakan harta kekayaan mereka yang tak terhitung banyaknya itu. Jadi orang jangan berpikiran cetek begitu."
"Jangan menggurui ku!!" bentak Gao Li Liang.
__ADS_1
"Sudahkah kamu melihat di media sosial? Saat ini terlalu banyak orang kaya yang memamerkan harta kekayaan mereka di platform video media sosial. Apa kamu tak tau maksud mereka? Mereka sengaja pamer karena kebingungan mau menghabiskan kemana harta mereka. Atau kamu belum pernah menontonnya? Jangan-jangan kamu adalah tipe orang tua gaptek yang tak paham perkembangan jaman? Hahahaha!!" pria itu bersama keempat bawahannya menertawakan Gao Li Liang.
Memang Gao Li Liang ini sulit menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi modern. Baginya dunia internet sangat sulit dia pelajari, dia memang seorang yang menggunakan smartphone, tapi dia tak begitu paham mengenai fitur smartphonenya. Paling jauh dia biasanya hanya menggunakan fitur aplikasi pembayaran non tunai di aplikasi wechat dan kamera untuk berfoto mengabadikan momen pertemuan besar dengan beberapa tokoh orang-orang kaya.
Ditertawakan begitu tentu saja membuat amarah di hati Gao Li Liang memuncak. Selama ini dia tak pernah ditertawakan sedemikian rupa. "Bangsat! Cari mati!"
Sambil dia merangsek maju melayangkan pukulan ke wajah pria tinggi kurus itu.
Melihat pukulan itu, pria tinggi kurus tersebut melangkah mundur sementara keempat bawahannya langsung mengepung Gao Li Liang. Terjadilah perkelahian empat lawan satu di basement itu. Gao Li Liang yang sudah puluhan tahun berkecimpung di dunia hitam tentu saja memiliki sedikit keahlian bela diri. Namun keempat orang itu agaknya juga memiliki sedikit kepandaian. Dia sanggup mengimbangi keempat pengeroyoknya, meski kadang menerima bogem mentah dari para mereka, namun daya tahan tubuh Gao Li Liang sangat kuat sehingga pukulan yang dia terima tak terlalu berarti baginya. Sebaliknya, dia berhasil meninjau mulut seorang pengeroyoknya dan merontokkan giginya. Dan dengan tinjunya yang keras itu dia juga berhasil mematahkan hidung seorang lainnya.
Melihat jalannya pertempuran, pria tinggi kurus mencari kesempatan membokong Gao Li Liang. Terbukti, saat Gao Li Liang masih sibuk meladeni pengeroyoknya, pria tinggi kurus itu tiba-tiba melayangkan tendangan kilat yang keras ke arah kepala samping kirinya, menyebabkan Gao Li Liang sempoyongan ke arah kanan.
Keadaan itu dimanfaatkan oleh bawahannya dengan kembali melayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Gao Li Liang tentu saja tak sanggup menangkis semua serangan itu. Perlahan dirinya mulai ambruk tergolek di lantai, sementara empat pasang kaki masih terus memukulinya bertubi-tubi.
Dia bertekad meski dia mati kali ini, namun dia harus menyeret lawannya pergi bersamanya menghadap raja akhirat.
Maka di satu kesempatan dia berhasil menangkap sebuah kaki yang melayang ke arah kepalanya dan kemudian tiba-tiba bangkit duduk, tak melepaskan kaki lawan yang ada dalam cengkeramannya itu, lalu memutar kaki lawan yang menyebabkan empunya melolong kesakitan.
"Arrrrghhhh!!! Kaki ku..." erangnya.
Melihat hal ini, rekan-rekannya mendengus marah, mereka kembali melayangkan pukulan ke arah Gao Li Liang yang masih duduk itu. Kembali puluhan pukulan hinggap di tubuhnya, paling banyak di bagian kepalanya yang menyebabkan wajahnya bengkak.
Pada kesempatan lain, dia berhasil menangkap tangan orang yang memukulinya dan menyeret pria itu jatuh lalu menindihnya dan mematahkan satu lengan lawan.
"Krak!"terdengar suara tulang bergeser dari persendiannya.
"Aaarrgghh!! Jauhkan dia dari ku!" erang pria itu yang tentu saja diikuti oleh rekan-rekannya.
Masing-masing mereka berkutat memegangi kedua tangan Gao Li Liang supaya bisa lepas dari orang yang sedang dia cengkeraman. Namun usaha mereka tersebut tidak membuahkan hasil.
Pria tinggi kurus itu semakin gemas, dia kali ini memutuskan untuk mematahkan juga bagian tubuh orang ini sebelum mengirimnya ke akhirat. Maka dia menarik kaki kanan Gao Li Liang yang tak terlindungi dan mematahkannya.
"Krak!"
__ADS_1
Ini tentu saja membuat Gao Li Liang menjerit kesakitan dan melepaskan pria yang tadi dia cengkeram.
Setelah satu kakinya patah, maka tiada lagi perlawanan darinya. Dia saat ini hanya berbaring pasrah menerima setiap pukulan dari pengeroyoknya itu.
Bahkan tangan kirinya juga dipatahkan oleh pria tinggi kurus itu. Pria itu benar-benar keji, terus menyiksa lawan yang sudah tak berdaya. Kalau mau bunuh ya bunuh saja, tak perlu membuat orang tersiksa sedemikian rupa.
"Bangsat! Aku akan adu nyawa dengan kalian!" fia hanya bisa membentak meluapkan amarahnya.
"Hehehe... Sudahlah orang tua, masa mu sudah habis. Sudah saatnya kamu membubarkan Perkumpulan Hei Laohu mu. Biarkan kami orang-orang berkompeten yang memimpin Nanping ini. Kelak, Nanping hanya akan dipimpin oleh satu perkumpulan saja. Bukan perkumpulan mu, bukan pula Perkumpulan Xiongmeng de Shizi, apalagi Perkumpulan Bao. Hehehehe," sambil berbicara pria itu terus menendangnya bersama keempat bawahannya.
"Tidak sudi!" dia makin kalap, namun dia sudah tak lagi berdaya.
Jangankan untuk balas menyerang, bahkan untuk menangkis tendangan-tendangan mereka itu dia sudah tak memiliki tenaga lagi. Saat ini dia tak ubahnya seperti seonggok daging yang menjadi mangsa sekelompok hewan buas.
Entah sudah berapa lama dia terus-terusan menerima pukulan lawan, sampai pada suatu ketika tiba-tiba dia mendengar suara decit sepatu dari balik tiang basemen itu, tak jauh dari posisinya. Secara spontan pukulan-pukulan dari pengeroyoknya mendadak berhenti.
Dia melihat dua orang pengeroyoknya menghampiri seseorang di balik tiang itu, namun entah bagaimana caranya, hanya dalam sekejap mata kedua orang itu roboh, salah satu dibanting orang dari balik tiang itu, sementara yang lainnya terjengkang mundur sebelum akhirnya roboh tak mampu berdiri lagi.
Dia menduga seseorang di balik tiang itu pastilah salah satu bawahannya yang datang memberikan bantuan padanya, yang membuat dia merasa sedikit berlega hati.
Kemudian ketiga pengeroyok lainnya datang menyusul ke sana dan terdengar pria tinggi kurus itu menghardik. "Bocah, siapa kamu? Berani sekali berlagak di depan ku!"
"Menurut mu aku ini siapa?" terdengar lagi sahutan dari balik tiang itu yang kemudian dilanjutkan dengan kalimat terakhir. "Orang yang sedang kamu keroyok itu adalah mertua ku. Harusnya aku ini disebut apa?"
Dia seketika menjadi lebih bersemangat. Anaknya itu. Sudah sebesar itu, dan sudah memiliki kekasih, tapi tak pernah mengenalkan kepada dirinya. Kelak dia akan memarahi putrinya itu.
"Hahahaha...!! Ya, begitu!! Itu dia menantu ku yang hebat. Habisi mereka, menantu ku!!" dia bersorak.
"Hah? Sejak kapan Gao Li Liang punya menantu?" terdengar lagi suara salah seorang lawannya bertanya, namun kemudian hening, dan dia melihat mereka bertiga saling berbisik-bisik sebelum memisahkan diri. Dua diantaranya bergegas membopong rekan-rekannya dari situ. Sementara pria tinggi kurus itu terlihat mulai mengambil ancang-ancang bertarung dengan orang misterius itu.
Saat inilah baru dia dapat melihat orang yang bertarung dengan pria tinggi kurus itu. Pemuda itu terlihat tampan dengan balutan pakaian sederhana namun enerjik saat menghadapi pukulan-pukulan lawan, bahkan dia sempat membuat pria tinggi kurus itu kewalahan.
Dia menaksir pemuda itu paling tidak baru berumur dua puluh tiga tahun atau lebih, tak terpaut jauh dengan usia putrinya, hal ini semakin meyakinkan dia bahwa pemuda itu benar-benar merupakan kekasih putrinya.
__ADS_1
Tapi dia tak bisa lagi meneruskan pikiran-pikiran yang terlintas di benaknya, karna seseorang datang dari arah sampingnya dan dengan cepat menikamkan belati ke perutnya. Seketika dia pingsan....