The Investor

The Investor
Bab 37


__ADS_3

Jantung Cia Yonggan serasa mau copot demi melihat makhluk di depannya itu. Sekujur tubuhnya berkeringat dingin dan bergemetaran sama seperti Xiao Meilin yang berada di belakangnya. Lidahnya kelu, tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun.


Dia dapat melihat dengan jelas, makhluk itu begitu besar, dan matanya yang terlihat menyala terang seolah-olah bagaikan bara api, siap membakar apa saja yang ada di hadapannya.


Kehadiran makhluk ini mulai membuka matanya, dia mulai percaya desas desus yang mengabarkan bahwa kematian kedua orang tuanya beberapa tahun lalu, disebabkan oleh kemarahan naga yang membakar seluruh lahan pertaniannya, termasuk rumahnya dan kedua orang tuanya.


Agaknya benda bercahaya terang yang ada di tangannya inilah yang menjadi pemicu kemarahan sang naga kala itu. Dan benda ini pastilah memiliki ikatan erat dengan sang naga. Kemungkinan besar benda ini adalah kepunyaan sang naga! Kalau tidak, tak lantas antara benda ini dengan naga itu seperti memiliki energi saling menarik satu sama lain. Benda ini akan tertarik dengan sendirinya ke arah naga itu apabila dia memejamkan mata, atau melepaskan pandangannya dari benda bercahaya itu.


Hanya ada satu cara untuk membuktikan dugaannya. Dia tiba-tiba memejamkan matanya.


Alhasil, meski hanya beberapa detik dia memejamkan mata, benda itu seperti menariknya untuk mendekat ke arah naga itu, membuat tubuhnya dan Xiao Meilin tersentak beberapa langkah ke depan. Maka buru-buru dia membuka kembali matanya.


"Bugh!"


Tak terelakkan, Xiao Meilin di belakangnya kembali menubruk dia dengan kuat.


"Akh.." jerit Xiao Meilin yang tak menduga mendapatkan tarikan kuat begitu dari arah depan.


Melihat benda itu bergerak sedikit saja, sang naga bereaksi. "Hoarrrmmmhh.."


Tak jelas apakah itu geraman marah atau luapan kegembiraannya. Matanya tak pernah lepas dari benda bercahaya itu.


"Cici, benda ini sepertinya milik dia," kata Cia Yonggan mulai berani membuka suara.


"Hmmm," kata Xiao Meilin.


Dia kali ini lebih memilih untuk menempelkan tubuh bagian depannya dengan punggung Cia Yonggan, kedua tangannya berada di pundak pemuda itu dan kepalanya ia sembunyikan di balik punggung itu.


Bukannya apa-apa, Xiao Meilin tak ingin kejadian seperti yang barusan terulang kembali. Apabila dia kembali ditarik ke depan, maka dia tak harus bertubrukan dengan pemuda yang tak dapat ia lepaskan dari tubuhnya itu. Tubuh bagian depannya terasa sakit kalau itu terjadi lagi.


Kalau dipikir-pikir, sebenarnya dia merasa malu berada dengan posisi begini bersama Cia Yonggan. Selama ini tak pernah ada seorang lelaki pun yang berada sedekat ini dengannya. Namun pikirannya tak dapat menolak, berada sedekat ini dengan Cia Yonggan, memang membuat dia merasa nyaman. Tubuhnya yang tadinya menggigil akibat diguyur hujan terasa lebih menghangat dengan posisi begini.


"Cici, bagaimana menurut mu?" Cia Yonggan bertanya tanpa menyadari gadis yang sedang mendekap punggungnya itu sedang dilanda kegelisahan tersendiri.


"Apa?" dia balik bertanya.


Nada suaranya tak seperti biasa, kali ini sedikit berbeda. Biasanya gadis itu kalau berbicara penuh rasa percaya diri dan tegas, namun sekarang terdengar malas-malasan, seperti seseorang yang masih merasa mengantuk dan enggan meninggalkan pembaringan.


"Benda di tangan ku ini adalah punya naga itu, bagaimana menurut mu? Dia sepertinya menginginkan benda ini," Cia Yonggan mengulangi kalimatnya.


"Kalau begitu berikan saja kepadanya," Xiao Meilin seperti acuh tak acuh.

__ADS_1


"Bagaimana bisa? Benda ini melekat di tangan ku, tak bisa lepas, Cici. Kalau bisa, pasti sudah ku berikan kepadanya," jelas Cia Yonggan.


Xiao Meilin tak menjawab. Sebaliknya dia melingkarkan kedua tangannya ke perut Cia Yonggan yang membuat pemuda itu menjadi salah tingkah.


"Cici.. Cici.. Apa yang kamu lakukan ini?" Cia Yonggan seperti hendak menyadarkan Xiao Meilin.


Tepat saat itu, naga yang sedari tadi memandang takjub benda di tangan Cia Yonggan, tiba-tiba bergerak maju. Meski sedang hujan deras dan angin kencang disertai kilat di langit, tetap tak dapat meredam suara langkah naga itu. Tanah serasa sedikit berguncang kala dia melangkah.


Begitu sosoknya berada di depan cahaya itu, dia menjulurkan kepalanya lebih dekat ke arah benda tersebut.


Benda ini benar-benar seperti benda paling berharga baginya. Dan dia begitu bahagia ketika dipertemukan dengan benda kesayanganmya ini. Saking senangnya makhluk itu, sampai-sampai Cia Yonggan sendiri dapat melihat ekspresinya yang seperti sedang tersenyum.


Sebelumnya Cia Yonggan pernah mendengar mitos tentang naga lewat cerita maupun buku-buku dongeng. Naga suka akan benda-benda berkilauan, entah itu emas, tembaga, perak maupun batu permata, berlian. Namun yang paling dicintai naga adalah benda yang lahir dari dirinya sendiri, yang keluar dari perutnya sendiri dan ditempa oleh alam selama ribuan tahun. Benda itu adalah mustika naga. Mustika itu itulah yang dia jadikan mainan. Takkan bisa dia berpisah dengan mainan kesayangannya itu. Dan kemungkinan terbesar benda yang ada di tangannya ini adalah mustika naga!


Apabila ini memang mustika naga, sudah pasti ini adalah milik naga itu, maka yang paling berhak memiliki ini bukanlah dirinya, namun naga itu.


Pikirannya kembali melayang pada mimpinya saat bertemu kedua orang tuanya. Di dalam mimpinya, orang tuanya mengatakan dia harus menaklukkan sesuatu yang sedang menunggu dia di rumahnya. Apakah sesuatu itu adalah naga ini? Tapi bagaimana dia bisa menaklukkannya? Takutnya hanya dengan sekali gerakan naga itu saja sudah dapat merenggut selembar nyawanya.


Terakhir, orang tuanya juga berpesan agar dia jangan menjadi pembenci, tidak boleh dendam. Secara tak langsung, orang tuanya memberikan pesan agar dia tak membenci naga ini yang telah membunuh kedua orang tuanya.


Bagaimana dia bisa dendam kepada naga ini, sedangkan dia sendiri sadar bahwa kedua orang tuanya terbakar karena menyembunyikan benda berharga kepunyaan naga ini. Dengan artian, naga ini mengamuk dan membakar lahan pertaniannya waktu itu karena ingin merebut kembali miliknya.


Tak banyak orang yang dapat menanamkan rasa keikhlasan di dirinya. Ikhlas kehilangan orang yang dicintai, ikhlas menerima cobaan yang datang menghampiri. Juga tak banyak orang menyadari hanya keikhlasan yang mampu menenangkan jiwa dan raga. Bahwa hanya keikhlasan yang dapat menyadarkan seseorang, tak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan berlalu, semua akan tiba masanya untuk pergi dan digantikan dengan yang baru. Alam telah menetapkan demikian, maka tak layak apabila manusia masih memendam rasa kecewa berlebihan saat suatu cobaan datang menerpa.


Naga yang sedari tadi memandang mustika itu seperti baru terbangun. Agaknya dia baru menyadari ternyata ada makhluk lain yang berada di situ dan sedang memegang benda kesayangannya.


"Grrrrrrrrrrrrrrrrhhhhhh!!!" dia menggeram marah begitu sadar benda kesayangannya sedang berada di tangan orang lain.


Dia berdebar-debar, sepertinya nasib dirinya akan sama seperti nasib kedua orang tuanya, yaitu mati dibakar oleh naga ini.


"Ini, kamu ambillah!" dia berusaha menenangkan dirinya.


Tiba-tiba naga itu menjulurkan salah satu kaki depannya, seperti hendak menjangkau mustika itu dan mengambilnya. Dan sedetik kemudian dia kembali menggeram marah begitu disadari ternyata benda itu tak bisa dia ambil dari tangan Cia Yonggan.


"Roooooaaarrrrrrr!"


Secara tak terduga naga itu menyemburkan api yang dahsyat dari mulutnya. Tujuannya hanya satu, yaitu memusnahkan orang yang memegang benda kesayangannya itu. Hanya dengan begitu dia bisa mengambil benda kesayangannya.


Namun hal itu tak bisa terjadi. Sepertinya benda kesayanganmya tersebut melindungi orang itu. Tak hentinya semburan api dia keluarkan, tapi tetap tak dapat membakarnya juga.


Cia Yonggan juga heran. Tadinya dia sudah benar-benar pasrah saat tiba-tiba naga itu menyemburkan api kepadanya. Namun siapa sangka ternyata benda di tangannya ini seperti tameng yang melindungi dirinya dan Xiao Meilin dari semburan api yang dimuntahkan sang naga.

__ADS_1


Semburan api terus lewat ke sisi kiri dan kanan serta bagian atas. Sementara tubuhnya dan Xiao Meilin berada di dalam kurungan api tersebut. Tak sedikitpun lidah api yang berhasil menjilat tubuhnya.


Merasa serangannya tak membuahkan hasil, naga itu semakin marah. Dia kemudian mengepakkan sayapnya lalu terbang ke udara. Dan dari udara dia kembali menyemburkan api ke arah Cia Yonggan.


Namun Cia Yonggan yang menyadari bahwa mustika ini dapat menjadi tameng bagi dirinya dan Xiao Meilin dari serangan naga, mengarahkan mustika itu dari arah datangnya api. Kembali peristiwa seperti tadi terulang, api itu hanya lewat menyebar ke segala sisi tubuhnya.


Sementara naga terus berupaya menyerang pemuda itu dengan semburan apinya. Dia mencoba menyemburkan api dari berbagai sisi di awang-awang sana. Namun setiap kali dia merubah posisi semburannya, setiap kali itu pulalah Cia Yonggan memutar tubuhnya dan kembali mengarahkan mustika itu ke depannya.


Sang naga akhirnya berhenti menyemburkan api. Dia seperti putus asa. Dia terbang kesana kemari sambil mulutnya terus berteriak marah.


"Rrroaarrrrr... Roaaaarr... Rrroaaaarrr."


Suranya riuh bercampur dengan suara yang dihasilkan oleh kepalan sayapnya.


"Cici, benda ini ternyata dapat menagkis semburan api!" Cia Yonggan berkata takjub.


Namun kembali Xiao Meilin tak menggubrisnya. Sepertinya gadis itu benar-benar memasrahkan keselamatannya kepada Cia Yonggan. Kalaupun pemuda itu mati, dia juga tak akan dapat meloloskan diri. Api yang tadi lewat di sisi tubuhnya juga tak ia hiraukan, yang dia tahu saat ini tubuhnya terasa sangat nyaman dengan mendekap pemuda ini. Dia berharap dapat mati dengan rasa nyaman begini, selamanya ingin memeluk Cia Yonggan.


Cia Yonggan yang kegirangan kembali berteriak. "Ayo, kembalilah. Bukankah kamu sangat menginginkannya? Ini, ambil! Aku tak menginginkannnya! Sungguh aku tak ingin memilikinya. Cukup lepaskan saja....!"


Belum habis kalimat Cia Yonggan, benda di tangannya tiba-tiba berputar bagaikan gasing, berputar dengan sangat cepat, membuat Cia Yonggan merasa telapak tangannya seperti akan melepuh. Benda yang tadi terasa sedikit kenyal, tiba-tiba saja terasa menjadi sekeras batu dan itu berputar di kedua telapak tangannya dengan kecepatan tinggi tanpa bisa dia hentikan.


"Aaaaaaaarrrrrrggggghhhhh!!" Cia Yonggan menjerit kesakitan.


Mendengar Cia Yonggan menjerit, barulah Xiao Meilin menegakkan kepala di belakang punggung Cia Yonggan.


Dengan panik dia bertanya. "Kamu kenapa, Yonggan?"


Namun pemuda itu tak dapat menjawab. Dirinya masih berkutat dengan rasa sakit yang ditimbulkan akibat gesekan mustika dengan kedua telapak tangannya.


Lalu secara tak terduga mustika itu terlepas dari kedua tangannya dan melesat dengan sangat cepat menubruk perutnya.


"Blassssssss....!!!"


Begitu mustika itu menubruk perut Cia Yonggan, benda itu seperti meledak dan cahaya yang tadi berpusat pada mustika itu menyebar ke segala penjuru arah dengan sangat cepat.


Begitu ledakan usai, tempat itu tiba-tiba menjadi gelap gulita. Hanya sesekali daratan terlihat terang akibat kilat di langit yang tak kunjung berhenti. Bayangan naga sedang terbang di atas sana masih membayang terpantul dengan jelas setiap kali kilat menerangi tempat ini. Cahaya yang dihasilkan oleh kilat itu semakin membuat naga yang masih berputar-putar di angkasa menjadi terlihat semakin mengerikan.


Dimana saat ini sang naga terlihat dengan kekuatan penuh sedang terbang menukik ke daratan, bersiap-siap hendak menubruk Cia Yonggan dan Xiao Meilin yang tak lagi memiliki perisai mustika naga seperti tadi!


"Rrrroaaaaarrrrrrr...!!!"

__ADS_1


__ADS_2